CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
29. BANGKIT DARI KETERPURUKAN


__ADS_3

Hidup harus terus berjalan, meski aku tidak tahu berapa lama lagi aku masih bisa bernapas dan menghirup udara di dunia ini. Namun, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Selagi diri ini mampu untuk berikhtiar, aku akan mengupayakan segala cara untuk melawan penyakit yang sudah mengancam nyawaku. Aku percaya, Allah selalu bersamaku dan memberikan pertolongan-Nya dengan perantara tim dokter yang akan menangani proses penyembuhanku.


***


“Dia pergi lagi? Mau pindah ke mana?”


“Mas Gen itu manusia apa bukan, sih? Aku jadi geregetan sendiri melihat kelakuannya pada Egidia!”


Biarpun profesinya sebagai konsultan dan sebentar lagi akan menyandang gelar psikolog, Tiara tetap menjadi pribadi yang selalu tidak bisa diam bila melihat ketidakwajaran di sekitarnya. Apalagi jika menyangkut perasaan dan hubungan seseorang yang dinilai tidak semestinya.


“Kita lihat saja, bagaimana takdir akan menyadarkan Genio!”


Mutia menjauh dari kaca bagian depan rumah mereka, setelah melihat mobil tetangganya keluar usai memasukkan koper dan tas ke dalam bagasi.


Kakak-beradik itu juga terbangun karena mendengar suara pagar rumah Genio yang dibuka, juga deru mobil yang masuk, lalu tak lama berselang kembali keluar dan melaju meninggalkan rumah itu setelah memastikan pagar tertutup rapat.


Tiara mengikuti dan berdiri dari kursi tamu. Mereka masih terus membicarakan Egidia sambil mulai mengerjakan rutinitas pagi sebelum menunaikan kewajiban yang akan ditandai dengan terdengarnya suara azan sebentar lagi.


“Kasihan Egidia! Dalam kondisi sakit parah seperti sekarang, suaminya malah pergi dan tidak mau peduli.”


“Ini pasti ada hubungannya dengan wanita yang dulu sering dibawa Mas Gen ke rumah.”


“Apakah Egidia menceritakan sesuatu tentang itu?” Tiara akhirnya terpancing untuk ikut tahu juga.

__ADS_1


“Ya. Tadi siang dia datang kemari dan melakukan konsultasi lagi.”


“Karena itu, aku bertanya padamu tentang apa yang terjadi di rumah sakit.”


Jika tidak ditanya, Tiara memang tidak menceritakan apa pun tentang kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya Demikian pula halnya dengan Mutia. Sumpah jabatan membuat wanita berhijab itu tidak pernah membahas tentang tugas mulianya yang menangani rupa-rupa pasien dan keluarganya.


Hanya tentang Egidia dia bersedia untuk berbagi sedikit informasi dengan adiknya. Itu pun hanya sebatas apa yang diketahui dari sumbernya langsung, yaitu Dokter Kaivan, dokter yang menangani penyakit yang diderita tetangga barunya tersebut.


“Dokter Kai mengatakan jika Egidia akan memberikan keputusannya pada jadwal pemeriksaan berikutnya.”


“Aku harap dia mau berjuang untuk melawan penyakitnya. Meskipun sudah stadium lanjut, tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.”


“Aku hanya bisa mendoakan semoga masalah rumah tangga mereka tidak mempengaruhi keputusan Egidia untuk mengutamakan kesehatan dan kesembuhannya!”


Kamu pasti bisa, Egi! Kamu pasti sembuh!


***


Sejak kepergian Genio, Egidia terus mengurung diri di dalam kamar. Tidak ada yang dilakukan kecuali menangis dan mengadu pada Yang Maha Kuasa. Air matanya terus mengalir tiada henti, hingga wajahnya memerah dan sepasang matanya tampak sembab.


Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku sanggup menjalani semua ini seorang diri? Tanpa suami, tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang bisa kuandalkan. Aku seperti orang hilang di sini. Sendiri, tanpa tahu arah dan tujuan.


Wanita itu melepas mukena saat merasakan perutnya kembali bergejolak dan ingin mengeluarkan sesuatu. Bergegas dia masuk ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening dan pahit yang tidak banyak.

__ADS_1


Memaksakan diri keluar dan menuju dapur, dia bermaksud untuk membuat minuman hangat dan sarapan seadanya. Tanpa sadar, di luar langit sudah mulai terang dengan warna keemasan yang menandai terbitnya sang mentari. Dia melihat penanda waktu yang sengaja dipasang di bagian atas dinding dapur untuk membantunya menghitung durasi saat membuat sesuatu.


Sudah jam enam rupanya! Aku sampai lupa waktu karena meratapi kepergian mas Gen yang tidak peduli padaku sama sekali.


Sambil menunggu air mendidih, dia duduk di lantai dan bersandar pada laci bawah. Dia baru saja menutupnya kembali setelah mengambil beras untuk dimasak dengan alat penanak nasi elektronik.


Memejamkan mata dan lagi-lagi membayangkan langkah-langkah terakhir suaminya saat meninggalkan kamar usai berpamitan, sehingga memancing reaksi sedihnya lagi yang kembali terisak dengan sedu-sedan yang tidak lagi di tahan. Toh, tidak akan orang lain di sana yang akan melihatnya.


Maafkan aku, ya Allah! Maafkan segala salah dan khilafku, yang mungkin tanpa sengaja kulakukan dan membuat Engkau menambahkan ujian besar dalam hidupku!


Setelah puas menuntaskan tangisan, Egidia berdiri lagi dan menyiapkan teko untuk menyeduh teh. Melupakan sejenak segala beban batin, dan memanjakan diri dengan secangkir teh hangat dan semangkuk bubur ala-kadarnya sebagai menu sarapan.


Aku tidak boleh menjadi lemah seperti ini! Aku harus bangkit dari keterpurukan dan berani berjuang sendirian. Aku ingin sembuh! Aku pasti sembuh!


Meski ragu dengan keyakinannya sendiri, Egidia akhirnya sudah memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan dan menjalani serangkaian pengobatan yang kemarin sudah dijelaskan oleh dokternya.


Jika ajalnya sudah dekat karena penyakitnya tak bisa disembuhkan, setidaknya dia sudah berusaha semampunya untuk berjuang melawan.


Namun sebaliknya, bila Allah masih berkenan memberikan kesembuhan, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memperjuangkannya hingga membuahkan hasil terbaik.


Dia teringat ucapan Dokter Kaivan yang membuatnya merasa optimis di antara kenyataan pahit datang menguji dirinya.


“Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Hanya mereka yang terpilih dan kuat melewati ujian, yang akan menikmati hasil terbaiknya pada suatu saat nanti.”

__ADS_1


__ADS_2