
Kali ini, aku benar-benar merasa kesepian dan seorang diri di tempat asing yang membuatku merasa tidak nyaman. Selain tidak nyaman di dalam hati, juga tidak nyaman dengan kondisi tubuhku yang terasa kian lemah dan mudah lelah. Hatiku pun mulai merasa kecewa karena dia tega mengabaikan bukan hanya diriku dalam wujud yang nyata, tapi juga mengabaikan diriku yang masih berusaha untuk menjaga komunikasi di antara kami berdua.
***
“Selamat pagi, Ibu Egidia! Kita akan memulai pemeriksaan dengan tanya-jawab seputar gejala yang Anda rasakan.”
Suara berat Dokter Kai membuat Egidia menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan seputar keluhan yang dirasakan selama beberapa hari terakhir. Meski takut pada awalnya, namun pendekatan sang dokter yang dilakukan dengan sabar dan selalu mengumbar senyuman, membuat wanita itu mulai merasa rileks dan berani menceritakan semua rasa sakit yang dialami secara terus-menerus.
Sesekali membenarkan posisi kacamata dengan jari telunjuk, Dokter Kai terus menyimak apa yang disampaikan pasiennya lalu mencatat hal-hal yang paling penting ke dalam berkas yang disediakan. Setelah Egidia selesai berkeluh-kesah tentang kondisi kesehatannya yang dirasa menurun, kondisi fisiknya juga diperiksa di bilik yang sudah disediakan pembaringan.
Pada tahapan yang terakhir, sang dokter menuliskan sebuah resep yang harus ditebus di bagian farmasi di lantai yang sama. Selain itu, dia juga memberikan surat pengantar yang ditujukan kepada laboratorium setempat sebagai permohonan supaya dilakukan pemeriksaan terhadap Egidia sesuai dengan poin-poin yang sudah ditulis di dalamnya.
“Apakah saya mengidap penyakit serius, Dok?” tanya Egidia dengan ragu. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya.
“Untuk saat ini, kami baru bisa menegakkan diagnosa awal terlebih dahulu. Sambil menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium nanti keluar, silakan Anda minum obat yang sudah diresepkan secara teratur sampai habis!”
“Kita akan bertemu tiga hari lagi di sini, untuk membahas hasil yang sudah keluar dan menentukan diagnosa lanjutannya.”
Egidia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia berdiri dengan membawa resep dan surat pengantar dari sang dokter. Perawat mengantarnya sampai pintu dan memberikan petunjuk di mana bagian farmasi berada dan ke arah mana dia harus pergi ke laboratorium yang terletak di lantai dasar.
Sesuai saran dokter, dia meninggalkan resepnya di daftar antrean, kemudian pergi ke laboratorium untuk mempersingkat waktu, sebab di kedua tempat tersebut sama-sama harus menunggu giliran.
__ADS_1
Karena tubuhnya mulai terasa lelah dan kepalanya kembali berdenyut hebat, Egidia memutuskan untuk menggunakan lift. Dia tidak mau merepotkan orang lain jika tiba-tiba pingsan karena memaksakan diri untuk menggunakan tangga biasa.
Sampai di lantar dasar, dia keluar melalui pintu samping, setelah bertanya pada petugas keamanan yang berjaga di sana. Ternyata, laboratorium yang dimaksud berada di sebuah bangunan khusus di samping gedung megah rumah sakit tersebut.
Setelah melewati jalan penghubung yang dilengkapi dengan atap pelindung, dia disambut oleh petugas yang menyapa di pintu masuk. Karena masih awam dengan situasi rumah sakit karena dirinya memang tidak pernah menderita penyakit apa pun sebelumnya, Egidia menyerahkan surat pengantar dari Dokter Kai.
Petugas tersebut langsung membantunya menuju loket yang seharusnya, kemudian diminta menunggu di depan salah satu pintu. Karena rekomendasi dari dokter hanya pemeriksaan tahap awal, maka dia menunggu di antrean pengambilan darah.
Sambil menunggu, Egidia mencoba menghubungi suaminya. Namun, Genio tidak mengangkatnya walaupun panggilan tersambung. Akhirnya, setelah tiga kali mencoba dengan hasil yang sama, dia mengirimkan pesan untuk menceritakan perihal pemeriksaannya hari ini. Wanita itu juga mengatakan jika dia bertemu dengan Mutia yang membantunya sehingga lebih cepat diperiksa oleh dokter.
Sama seperti panggilan yang tidak diterima, pesannya pun hanya terkirim tanpa dibaca oleh sang suami. Egidia mencoba berpikiran positif bila saat ini Genio sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian, Egidia berdiri karena namanya sudah dipanggil. Disimpan ponselnya di dalam tas lalu mengikuti seorang perawat yang memandunya masuk diambil darahnya. Prosesnya hanya sebentar dan dia pun dipersilakan keluar. Untuk hasilnya, petugas laboratorium akan langsung menyerahkan kepada Dokter Kaivan sesuai permintaan yang tertera di dalam surat pengantar.
Egidia kembali ke lantai dua untuk mengambil obatnya. Ternyata, resep atas namanya belum selesai dikerjakan sehingga dia masih harus menunggu. Dengan wajah yang terlihat semakin pucat, dikeluarkan lagi ponselnya dan berujung rasa kecewa, karena tidak ada panggilan balik dari suaminya. Pesannya pun belum dibaca, apalagi dibalas.
Apakah istrimu ini sama sekali tidak berarti bagimu? Apakah kamu masih merasa hidup sendiri dan menginginkan kebebasan seperti dulu, saat kita belum menikah dan tinggal bersama?
Cairan bening nan hangat menetes tanpa disadari, hingga mengalir membasahi pipi. Pikiran Egidia semakin kacau dan tidak bisa tenang karena memikirkan nasib rumah tangganya yang belum genap dua minggu, tapi sudah dipenuhi banyak masalah yang bersumber dari suaminya sendiri.
Sampai kapan aku harus menunggu hatimu terbuka dan bisa menerimaku seutuhnya sebagai teman hidupmu? Jika kehadiranku di sisimu tidak ada artinya sama sekali, mengapa kamu membawaku kemari, Mas? Seharusnya, kamu tinggalkan saja aku di sana, supaya kamu bisa menjalani hari-harimu seperti sebelumnya. Anggap saja pernikahan kita sedang dipisahkan oleh jarak karena tugas.
__ADS_1
Lamunan wanita malang itu buyar saat mendengar namanya dipanggil. Segera dia membersihkan air mata cepat-cepat lalu melangkah menuju bagian kasir untuk membayar terlebih dahulu, baru kemudian bergeser ke bilik sebelahnya untuk menerima obat yang sudah disiapkan.
Mengikuti pesan Mutia, dia melangkah pelan-pelan menuju ke depan ruang pemeriksaan dokter kandungan. Sejumlah pasien masih duduk menunggu di sana dan sepertinya sang dokter belum kembali dari ruang operasi.
Seorang perawat yang baru saja keluar melihatnya yang masih berdiri dan mencari-cari tempat yang masih kosong. Dengan santun wanita berseragam putih-putih itu menghampiri dan menyapanya untuk memastikan.
“Maaf, dengan Ibu Egidia?” Dia mengangguk dan tersenyum.
“Dokter Mutia berpesan pada saya dengan menyertakan ciri-ciri pakaian yang Ibu kenakan.” Sebelum terjadi kesalahpahaman, perawat tersebut memberikan penjelasan supaya Egidia tidak menaruh curiga.
“Ibu diminta untuk menunggu di kantin yang berada di ujung sebelah sana.” Tangannya menunjuk ke arah kanan.
“Dokter Mutia masih berada di ruang operasi dan beliau berpesan supaya Ibu tetap menunggu dan tidak pulang sendirian.”
Karena merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak, Egidia pun mengangguk tanda mengerti. Dia diantarkan menuju ke sebuah ruangan berdinding kaca yang cukup luas dan tampak lengang. Hanya sedikit orang yang duduk di sana menikmati makanan atau minumannya, sementara beberapa pengunjung lainnya terlihat membeli sesuatu untuk dibawa keluar.
Wanita berhijab sahaja itu masuk seorang diri setelah sang perawat berpamitan dan kembali ke ruang kerja Mutia. Setelah memesan minuman hangat dan beberapa potong kue basah, dia duduk di salah satu sudut yang sepi untuk menenangkan diri.
Diam-diam, tanpa disadari oleh Egidia, seseorang sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Cukup jauh dan tidak terlihat karena berada di luar kantin yang terhalang kaca tembus pandang. Sosok tersebut merasakan jantungnya berdebar-debar dan tidak ingin mengalihkan pandangan dengan segera.
Cantik dan salihah!
__ADS_1