
Aku ingin menyerah, tapi teringat pesan kedua orang tua kami, membuatku tak mau mengecewakan mereka. Selain berbakti pada lelaki yang sekarang sudah menjadi suamiku, wajib bagiku untuk terus berbakti pada orang tua. Namun, mengapa rasanya kian sulit setelah aku mencoba untuk terus bertahan dan berharap dalam kehampaan? Dia tidak pernah berubah. Tidak menjadi lebih buruk, tapi juga tidak menjadi lebih baik seperti yang aku tunggu dalam diam.
***
“Maafkan aku, Mas, karena semalam aku tidak terbangun saat kamu pulang.”
Egidia menyesal karena tidak bisa menyambut kepulangan suaminya. Rasa sakit yang sudah dirasakan sejak pagi, membuat dirinya menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Hanya minum obat lalu berbaring di kamar hingga akhirnya tertidur lelap sampai waktu subuh tiba.
“Tidak apa-apa. Aku juga kecapaian dan langsung tidur.”
Komunikasi di antara mereka masih saja sebatas itu. Hanya percakapan kaku dan basa-basi seperlunya. Egidia sudah bersikap sewajarnya, tapi Genio yang sengaja menciptakan batasan yang tidak ingin dilanggar oleh dirinya sendiri.
Lelaki itu benar-benar tidak ingin mencoba untuk membuka hati demi sang istri. Secara material, dia memang sangat bertanggung jawab, tapi tidak dengan sikap dan perlakuannya sehari-hari. Egidia sama sekali tidak merasakan perhatian yang tulus dari suaminya. Semua dilakukan hanya sebatas keharusan, bukan keinginan apalagi kebutuhan.
Apakah selamanya pernikahan kami akan berlangsung seperti ini? Kaku dalam jarak dan saling sungkan untuk berinteraksi. Dingin, tanpa sedikit pun kehangatan, yang seharusnya bisa memberikan ketenangan dan rasa nyaman di dalam biduk rumah tangga yang dibangun berdua dan bersama.
Selanjutnya, suami-istri itu menyelesaikan sarapan dengan hening. Hanya Egidia yang sesekali menawarkan tambahan nasi dan lainnya untuk lelaki yang duduk di hadapannya. Itu pun dijawab seperlunya oleh Genio dengan anggukan atau gelengan kepala.
Bahkan dia sama sekali tidak peduli aku sakit atau sehat, aku kesepian atau tidak di rumah ini saat dia pergi bekerja hingga larut malam.
Mereka memang jarang saling memandang. Mungkin karena itulah Genio tidak menyadari sama sekali jika istrinya sedang pucat dan menahan rasa nyeri yang ditutupi dengan senyuman tulusnya untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
Padahal, sama seperti Tiara kemarin yang langsung melihat gelagat sakitnya, Genio seharusnya juga bisa mengetahui dari gerak-gerik sang istri. Sayang, selain tidak pernah memperhatikan, lelaki itu juga tidak peka sama sekali pada Egidia dan cenderung tidak mau tahu.
Setelah menghabiskan teh manisnya, Genio berdiri dan kembali ke kamar untuk mengambil tas kerja berikut ponsel dan kunci mobil. Dia kembali keluar dan menghampiri istrinya yang sudah mencuci peralatan makan di dapur.
__ADS_1
“Hari ini aku masih lembur. Mungkin selama sepekan ini akan seperti itu, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk.”
Egidia menoleh dan tersenyum. Dia mengangguk lalu membalas pemberitahuan suaminya.
“Ya, Mas. Jaga kesehatanmu. Jangan terlambat makan dan luangkan waktu untuk beristirahat barang sejenak.”
Sebelum Genio beranjak dari posisi berdirinya di ambang dapur, Egidia mencuci tangan lalu mengeringkan dengan lap bersih yang tergantung di samping wastafel. Dia menghampiri suaminya untuk mengantarkan sampai depan.
Sambil berjalan mengikuti langkah lebar lelaki tercintanya, Egidia menceritakan pertemuannya dengan sang tetangga tanpa mengatakan tentang kondisi fisiknya yang melemah dan sempat pingsan.
“Oya, Mas. Kemarin aku berkenalan dengan tetangga depan rumah. Tiara dan Mbak Mutia.”
Genio yang jarang bersosialisasi karena kesibukannya dan memang tidak banyak rumah di klaster tersebut yang dihuni dan menjadi rumah tetap, hanya mengenal nama-nama mereka namun tidak pernah terlibat interaksi yang intens.
Sang suami hanya mengangguk dan berpesan pada Egidia supaya pandai membawa diri dengan siapa pun dia berteman. Dia juga merasa lega karena setidaknya, istrinya tidak akan terlalu kesepian dan merasa sendiri.
Mereka sudah sampai di ujung teras. Untuk membiasakan diri sendiri, Egidia tak lupa mengulurkan tangan dan mengambil tangan suaminya untuk dicium dengan takzim.
“Selamat bekerja, Mas. Semoga kerja kerasmu selalu berbuah berkah.”
Genio mengangguk dan hanya mengaminkan dalam hati. Mau tak mau, dia pun membalas kebiasaan wajar istrinya dengan mencium keningnya sekilas, kemudian langsung melanjutkan langkah untuk masuk ke mobil.
Sementara Genio baru mulai menyalakan mobil, Egidia berjalan mendahului dan menunggu tak jauh dari pagar. Kendaraan roda empat yang dikemudikan suaminya keluar melewati dirinya dengan membunyikan satu kali suara klakson untuk berpamitan.
Tanpa sungkan Egidia melambaikan tangan, entah dilihat atau diabaikan oleh suaminya yang sudah menambah kecepatan mobilnya setelah melaju lurus mendekati gerbang perumahan.
__ADS_1
Dari dalam rumah yang berseberangan, Tiara memperhatikan interaksi pasangan pengantin baru itu sejak keduanya terlihat di teras rumah. Walaupun tidak bermaksud ikut campur apalagi ingin tahu lebih dalam, tapi dia bisa menilai dari pandangan keilmuan yang dikuasainya.
Dari gestur tubuh dan mimik muka keduanya, aku yakin jika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Wanita berambut sebahu itu masih memperhatikan Egidia yang sudah menutup dan mengunci pagar, lalu berjalan kembali ke rumah dengan tangan kanan memegang kepala bagian belakang.
Sepertinya dia masih sakit. Apakah aku perlu membujuknya supaya dia mau memeriksakan diri ke dokter?
Tiara berencana untuk menghubungi sang tetangga. Kemarin, saat dirinya menemani di sana, mereka sudah bertukar nomor kontak. Selain itu, dari cerita singkat Egidia yang sangat tertutup, diketahui jika wanita itu baru sekali diajak suaminya keluar rumah dan berkeliling kota.
Tepukan pelan di bahu kanan membuat Tiara tersentak meskipun dia sudah tahu siapa yang melakukan. Dia juga tidak menoleh untuk memastikan karena hanya tinggal berdua dengan sang kakak di rumah itu.
“Jangan suka mengintip! Apalagi mengintip tetangga!”
Mutia yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke rumah sakit, mengingatkan adiknya yang kadang kala masih suka bertingkah seperti anak kecil. Selalu antusias dengan orang-orang baru dan selalu ingin mengetahui tentang segala hal.
“Mbak, aku kok kasihan sama Egidia, ya. Dari sorotan matanya sangat terlihat jika dia hanya berpura-pura supaya terlihat baik dan sewajarnya.”
“Jangan sok tahu, mentang-mentang kamu ahlinya!”
Karena sang tetangga sudah masuk ke rumah dan tak terlihat lagi, Tiara kembali berdiri berhadapan dengan kakaknya.
“Aku memang tahu dan yakin!”
“Pasti ini ada hubungannya dengan teman wanita Mas Genio yang selama ini sering datang ke rumahnya!"
__ADS_1