
Aku tidak punya pilihan lain. Lebih baik sendiri dengan satu tujuan, daripada bersama tapi tak sejalan. Aku lebih menyayangi diriku, meskipun tak dipungkiri cintaku padanya masih tetap ada. Aku tidak akan menyerah dengan penyakitku, kendati harus pasrah dengan nasib rumah tanggaku. Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban, apa yang akan terjadi di saat dirinya tak lagi bisa berkelit dari apa yang sudah kulihat dengan mata kepala sendiri.
***
“Tia, apakah aku bisa membuat janji denganmu untuk berkonsultasi?”
Akhirnya, demi menjaga kewarasan jiwanya yang tengah lemah dan begitu rapuh, Egidia memutuskan untuk meminta bantuan seseorang yang paling dipercaya saat ini. Walau tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, tapi setidaknya dirinya akan merasa jauh lebih lega dan tenang setelah berbagi beban pada orang yang tepat dan tidak memihak.
“Tentu saja! Kapan pun, Egi. Kebetulan hari ini aku tidak ada agenda dan berada di rumah sepanjang hari.”
Tiara meminta sang tetangga datang ke rumahnya. Mengetahui prahara dalam rumah tangga teman barunya yang baik hati tersebut, dia tidak akan tinggal diam meski hanya bisa membantu sebagai pendengar bagi Egidia.
Setidaknya, wanita sahaja itu sudah berani bertindak dan mencari solusi. Tidak lagi memendam semuanya seorang diri dan berujung pada rasa frustrasi yang akan lebih menyulitkan mentalnya untuk bertahan dan berjuang.
“Aku baru pulang dari rumah sakit dan ingin beristirahat lebih dulu.”
“Apakah kamu keberatan bila aku akan datang selepas Zuhur nanti?”
“Tidak masalah, Egi! Datanglah setelah kamu merasa bugar kembali.”
Dari cerita sang kakak minggu lalu, Tiara mengetahui diagnosa awal dari penyakit yang mungkin diderita Egidia. Ketika itu, Mutia memang diminta datang ke ruangan Dokter Kaivan untuk menenangkan Egidia yang sedang menangis seorang diri. Namun, untuk hasil pastinya hari ini, mereka masih belum mengetahui karena sang tetangga juga baru saja kembali ke rumah.
Setelah bersepakat dan saling mengucap salam, sambungan telepon diakhiri lebih dulu oleh Egidia. Tiara yang sendirian di rumah, mengirim pesan pada Mutia yang masih bertugas di rumah sakit yang sama di mana istri Genio tersebut memeriksakan diri.
__ADS_1
Jiwa keingintahuannya yang besar memang kadang kala melampaui batasan seharusnya. Entah akan membuahkan hasil atau tidak, karena Mutia sangat profesional dan setia dengan sumpah profesinya.
Meskipun tahu jika seorang dokter harus menjunjung tinggi kode etik untuk menjaga kerahasiaan data dan riwayat kesehatan pasiennya, dia ingin meminta bantuan sang kakak untuk mencari tahu penyakit apa yang diderita Egidia.
Semoga Mbak Mutia bisa membantuku! Semua ini demi Egidia karena aku merasa sangat kasihan dengan wanita salihah itu.
***
“Aku sakit, Tia! Sakit parah dan mungkin akan sulit untuk disembuhkan!”
Di pelukan Tiara, untuk pertama kalinya Egidia menangis tersedu-sedu dan berkisah tentang kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, bisa dibilang sekarat.
Cerita yang seharusnya disampaikan lebih dulu kepada sang suami, nyatanya tak bisa dilakukan karena lelaki yang dicintainya mengabaikan dirinya dan lebih memilih bersenang-senang bersama wanita lain.
Tiba-tiba Egidia baru mengingatnya, bahwa wanita yang dicintai suaminya tersebut sudah bertunangan dengan lelaki lain. Lalu, mengapa dia menghabiskan waktu bersama Genio, seolah-olah keduanya memang sengaja berselingkuh di belakang pasangan masing-masing?
“Mas Gen ... Mas Gen juga ....”
Dengan suara terbata-bata di tengah isak tangisnya, Egidia menceritakan apa yang dilihatnya saat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
“Dia ... dan wanita itu ... mereka ... bersikap sangat mesra dan ....”
“Mereka ... masuk ke dalam sebuah ... apartemen.”
__ADS_1
Walaupun sangat terkejut dengan cerita wanita berhijab sahaja yang basah oleh air mata tersebut, Tiara menahan diri dan mengontrol emosinya supaya tetap bisa bersikap profesional. Saat ini, Egidia adalah klien yang membutuhkan bantuan atau pendampingan dari dirinya.
Calon psikolog itu membiarkan Egidia menuntaskan tangisannya, sebelum melanjutkan bercerita. Dia pun membiarkan pelukan dan usapan darinya terus dirasakan sang klien sebagai penenang dan pereda rasa sakit yang tengah menggempur jiwa dan raganya.
Lima belas menit kemudian, Egidia mulai bisa menguasai diri dan menyudahi tangisannya. Menarik tubuhnya dari dekapan tetangga baik yang membuatnya merasa mempunyai teman, walau jauh dari orang tua dan keluarga.
“Maaf, aku terlalu berlebihan.”
“Tidak apa-apa, Egi. Semua orang melakukannya saat sedang sedih dan terluka!”
Tiara menggeleng sambil memindahkan kotak tisu dari atas meja ke pangkuan wanita berwajah basah dengan mata merah sembab tersebut. Memberi waktu untuk membersihkan air mata yang tersisa, sebelum melanjutkan ceritanya tentang kelakuan sang suami di belakang dirinya.
“Aku tidak tahu sudah sejauh mana hubungan mereka selama ini. Padahal, Monita juga sudah mempunyai tunangan dan mereka akan segera menikah setelah calon suaminya menyelesaikan pendidikannya di luar kota.”
“Aku takut semua ini hanya pikiran burukku saja dan ternyata dugaanku selama ini salah. Aku takut bila akulah yang sudah terlampau takut hingga selalu berpikiran negatif tentang Mas Gen.”
Dalam hati, Tiara benar-benar kagum dengan kepolosan dan ketulusan Egidia, yang masih saja berharap hal yang salah tentang perilaku tidak benar suaminya yang sudah jelas-jelas dilihat sendiri secara nyata.
Mungkin karena wanita itu masih berharap bisa memperbaiki hubungan dan mempertahankan rumah tangganya yang sebenarnya sudah dipaksakan sejak awal, hanya demi mengikuti keinginan orang tua.
Setelah berkonsultasi mengenai prahara pernikahannya, Egidia kembali bercerita tentang vonis dokter yang sudah disampaikan kepadanya. Dia yang pada awalnya ingin berkata jujur dan meminta dukungan dari sang suami, akhirnya memutuskan untuk tidak memberi tahu Genio usai melihat kebersamaan lelaki itu bersama wanita yang telah diakui sebagai sosok yang sangat dicintai.
“Aku akan berjuang sendiri untuk melawan penyakit ini! Aku ingin sembuh dan menunjukkan pada semua orang bahwa seorang wanita lemah seperti aku masih bisa bertahan dalam hubungan yang tak nyaman dan tidak pernah dianggap sama sekali!”
__ADS_1
“Aku melakukannya bukan karena aku bodoh atau merasa terkucil, tapi sebaliknya. Aku ingin membuktikan bahwa aku masih bisa hidup dan baik-baik saja meskipun harus menjalani hubungan yang mati rasa dan tidak baik-baik saja.”