
Akhirnya, yang kutakutkan terjadi juga. Untuk pertama kalinya aku dan suamiku beradu pendapat, lebih tepatnya bertengkar meski aku tidak menanggapinya. Aku sudah tidak bisa menggambarkan lagi seperti apa perasaanku saat ini. Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku tanpa peduli pada kesendirianku dan penyakit yang memang sengaja kusembunyikan darinya.
***
“Aku sudah tahu, Mas. Kamu tidak perlu mengulanginya lagi.”
Egidia tetap bersuara lembut dengan ketenangan yang terus dijaga untuk menyembunyikan sisi lemahnya yang sebenarnya sangat rapuh dan sudah ingin menyerah, Namun, demi kehormatan diri sendiri, dia berusaha untuk tetap terlihat kuat di hadapan lelaki yang sudah menghancurkan hatinya.
“Aku sudah menuruti kemauanmu untuk diam dan tidak pernah membicarakan masalah perasaan kita masing-masing. Akan tetapi, kamu yang lebih dulu membuka pembicaraan ini dan kamu yang selalu berbicara tentang wanita lain dalam rumah tangga kita.”
“Maaf, maksudku rumah tangga pura-pura kita.” Wanita itu sengaja meralatnya, membuat Genio semakin tersudut.
Namun, bukannya diam dan menyudahi, lelaki itu malah menambah kisruh dengan menuduh istrinya melakukan sesuatu untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
“Egi! Mengapa sekarang kamu pandai bersilat lidah? Kamu mulai berani membantah kepada suamimu?”
“Suami di atas kertas, Mas!” Lagi-lagi Egidia terus mengingatkan batasan hubungan di antara mereka, yang sejak awal diminta oleh Genio untuk disepakati bersama.
“Terserah kamu!”
Akhirnya lelaki itu menyerah karena tidak bisa memperpanjang perdebatan yang selalu dipatahkan dengan pernyataan Egidia yang ringan tapi mengandung kebenaran.
Genio keluar dan menutup pintu dengan keras meski tidak sampai membantingnya, setelah mengusap wajah penuh amarahnya dengan kasar lalu menyambar ponsel dan kunci mobil.
Egidia beralih dari posisi berbaring untuk duduk bersandar. Dia menghela napas panjang hingga akhirnya tangisannya tumpah tak terbendung lagi. Air matanya mengalir kian deras saat mendengar suara pintu garasi dan pintu depan dibuka, lalu mesin mobil dinyalakan dengan deru yang terkesan buru-buru, setelah menutup kembali kedua pintu tersebut.
Wanita itu sudah bisa menebak ke mana suaminya pergi dengan mudah tanpa berpikir panjang. Genio memiliki tempat tinggal yang lain yang disembunyikan darinya. Sudah pasti dia akan pergi dan mungkin bermalam di sana.
Kamu tidak berniat menyelesaikan masalah, Mas! Padahal, aku berharap kita bisa bicara baik-baik dan membuat kesepakatan yang lebih baik untuk ke depannya.
__ADS_1
Egidia tidak sepenuhnya menyalahkan sang suami, karena mereka memang membuat kesepakatan bersama, walau tetap saja dirinya hanya mengikuti apa keinginan Genio. Jika saat ini lelaki itu bertindak melewati batas, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah perasaan adalah ranah pribadi suaminya.
Hanya saja, wanita yang sudah divonis dokter dengan penyakit parah itu menyesalkan sikap Genio yang tidak bisa menjaga ketenangan di dalam rumah yang mereka tempati bersama.
Mengapa harus berbicara dengan kekasihmu di rumah ini, Mas? Bukankah itu artinya kamu yang sudah melanggar kesepakatan yang kamu buat sendiri?
Belum reda air matanya yang masih berderai membasahi wajah dan juga pakaian bagian depan, Egidia dikejutkan dengan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Awalnya dia enggan mengambil benda pipih berlayar terang itu dari atas meja.
Namun, karena deringnya masih terus berbunyi selama beberapa kali, akhirnya wanita malang itu meraihnya dengan tangan yang terentang lurus untuk menyudahi suara tersebut.
Tiara? Dia pasti melihat kepergian Mas Gen!
Egidia membuka dan membaca dua pesan baru yang dikirimkan sang tetangga. Walau sebenarnya merasa malu karena masalah rumah tangga mereka terpaksa harus diketahui orang lain, walau dengan kapasitas sebatas profesi untuk mencari solusi, tak dipungkiri bila bantuan dari calon psikolog itu sangat membantunya.
“Egi, apakah kamu baik-baik saja?”
“Maaf jika aku mengganggumu malam-malam begini.”
Sekarang, setelah merasa kisah cinta rahasianya terbongkar padahal dia sendiri yang tanpa sengaja melakukannya, lelaki itu berubah dan menunjukkan wajah juga tabiat aslinya. Sejujurnya, Egidia merasa terkejut dan tidak percaya, jika dia adalah orang yang sama yang dulu dikenalkan oleh orang tuanya sebagai sosok yang santun, sabar, patuh dan religius.
Setelah hatinya tenang dan kepala tidak pening, wanita rapuh itu membalas pesan dari Tiara. Masih berusaha untuk menutupi keadaan, sebab dirinya belum siap untuk kembali bercerita dan berkonsultasi untuk saat ini. Lebih baik diam sampai emosinya benar-benar sirna.
“Aku baik-baik saja, Tia. Terima kasih atas perhatianmu!”
“Maaf jika ada sesuatu dari aku atau Mas Gen yang membuat kamu dan Mbak Mutia merasa terganggu. Selamat malam!”
Setelah memastikan pesan terkirim dan dibaca oleh tetangga baiknya, Egidia lekas mematikan daya ponsel dan meletakkan kembali di atas meja.
Aku memang mencintaimu, Mas! Aku yang telah berbohong dari awal dan menyulitkan diriku sendiri. Namun, apa bedanya jika kamu mengetahui perasaanku? Kamu tidak akan peduli apalagi menerimanya. Kamu tidak mungkin berpaling dari wanita yang selama ini sudah menguasai seluruh hati dan jiwamu, serta menempati ruang cinta terindah di lubuk hatimu.
__ADS_1
***
Menjelang subuh, Egidia sudah terbangun karena merasakan mual hebat di perutnya. Ditambah lagi dengan sakit kepala yang kembali menyerang dengan dahsyat. Tanpa peduli keseimbangan tubuhnya yang belum sepenuhnya utuh, wanita itu berlari ke kamar mandi dan menumpahkan seluruh isi perut.
Setelah merasa lega dan lebih baik, dia berkumur sekaligus bersuci untuk bersiap-siap menunaikan kewajibannya. Keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan kedatangan Genio yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat kepergiannya.
Entah apakah lelaki itu mendengarkan suara muntahan istrinya atau datang setelahnya, yang dilakukan di kamar adalah mengambil koper besar di atas lemari. Egidia semakin tercengang mengetahui bahwa kepulangan suaminya hanya untuk mengemasi sejumlah pakaian dan keperluan pribadinya.
Setelah selesai dengan kotak besar berisi baju dan sepatu, Genio beralih ke meja kerjanya. Dia mengambil beberapa dokumen pekerjaan yang tertinggal di sana, lalu memasukkan ke dalam tas jinjing yang sudah berisi perangkat kerjanya.
Egidia bergeming di tempatnya. Tidak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Hanya diam memperhatikan tingkah laku suaminya, dengan hati yang kembali teriris perih.
Genio menurunkan koper dari atas tempat tidur lalu lalu mengeluarkan pegangannya. Kemudian dia menyampirkan tali tas kerjanya di bahu kiri dan menarik koper besar dengan tangan kanan.
Melihat sang istri yang mematung di depan pintu kamar mandi, lelaki itu berhenti sejenak dengan tatapan yang masih sama seperti semalam. Tajam, arogan dan penuh amarah.
“Aku akan keluar dari rumah ini. Aku tidak mau membuatmu sakit hati jika tanpa sengaja melihat atau mendengar aku berhubungan dengan Monita.”
“Kamu bebas melakukan apa saja di sini dan di luar rumah. Anggap saja aku sudah memberikan semua izinku kepadamu.”
“Uang bulanan akan aku berikan seperti biasa dan terkirim langsung ke rekeningmu setiap kali aku menerima gaji.”
Tanpa memberi kesempatan pada Egidia untuk bertanya atau sekadar mencerna setiap kalimatnya dengan perlahan, Genio melanjutkan ucapannya hingga akhirnya berpamitan.
“Untuk sementara waktu, lebih baik kita tinggal terpisah daripada terjadi pertengkaran lagi seperti semalam.”
“Aku butuh waktu untuk menyendiri. Mungkin kamu juga menginginkan demikian.”
“Aku pergi. Jaga dirimu!”
__ADS_1
Egidia pasrah dalam kebisuan yang sengaja dipertahankan. Karena jika dia bersuara, sudah pasti kali ini dirinya juga akan mengeluarkan air mata.
Kamu benar-benar tidak peduli padaku, Mas! Tidak pernah dan tidak ingin peduli sedikit pun!