CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
18. MELIHAT LUKA


__ADS_3

Aku tidak tahu, harus bercerita pada siapa tentang nestapa yang kualami dan harus kujalani dalam pernikahan ini? Di saat diriku masih berusaha untuk menata hati yang mudah goyah karena ulah suamiku, satu kenyataan lain harus aku terima dengan lapang dada. Aku ingin jujur kepadanya, tapi aku takut hatiku akan lebih hancur saat mendapatkan reaksi yang tidak kuharapkan.


***


Tiga hari kemudian, saat Egidia harus kembali ke rumah sakit untuk mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan sebelumnya, Genio justru pergi ke kantor lebih awal dengan alasan akan ada kunjungan dari jajaran pimpinan di kantor pusat.


"Maaf, aku harus berangkat sekarang dan tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit."


Genio sarapan dengan terburu-buru dan tidak sampai dihabiskan seperti biasanya. Dia bahkan tidak memberi kesempatan pada istrinya untuk mencium tangan, karena keduanya memegang tas dan dokumen yang semalam dibawa pulang tapi tidak diapa-apakan. Egidia tetap mengantarkan dengan senyuman, walaupun sang suami juga tidak meninggalkan ciuman di keningnya.


Lelaki itu memintanya untuk memesan taksi daring dan berangkat jika sudah mendekati jadwal praktik dokter yang akan dikunjungi. Tanpa bantahan dan hanya mengangguk patuh, Egidia melepas kepergian suaminya dengan iringan doa kesehatan dan keselamatan untuk sang imam.


Setelah mobil Genio menghilang di ujung gerbang perumahan, dia mengunci pagar dan segera masuk ke rumah. Tanpa disadari olehnya, sedari tadi dua pasang mata sudah memperhatikan dari balik tirai jendela rumah di depannya.


“Genio benar-benar keterlaluan!”


Mutia yang awalnya tidak ingin banyak berkomentar, akhirnya terbawa emosi seperti adiknya. Melihat Egidia selalu diabaikan oleh suaminya dan dibiarkan pergi seorang diri di saat kondisinya sedang tidak sehat, membuat dokter kandungan itu kesal sekaligus marah kepada tetangga mereka yang dikenal tidak pernah bersosialisasi tersebut.


“Egidia sangat sabar menghadapi Mas Genio. Padahal, batinnya begitu tertekan dan sangat tersiksa. Cinta tanpa balasan, bahkan keberadaannya tidak pernah dianggap sama sekali.”


“Entah sampai kapan dia sanggup bertahan menghadapi lelaki tak berperasaan itu!”


Tiara yang mampu menilai hubungan mereka yang jelas terlihat tidak harmonis dan hanya sebatas status semata, meminta saran kakaknya.

__ADS_1


“Mbak, apakah aku berlebihan, bila ingin mengajak Egidia berbicara dari hati ke hati?”


“Aku ingin memberi dukungan dan menguatkan dirinya.”


“Jika aku yang menjadi dia, aku sudah minta dipulangkan kepada orang tuaku, daripada harus hidup bersama tapi tidak dihargai, bahkan dianggap tidak ada dan selalu diabaikan!”


Mutia menggeleng sembari berjalan menjauh dari jendela. Dia melarang adiknya untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain, kecuali jika yang bersangkutan sendiri yang bercerita dan meminta pendapat.


“Jangan! Kita tidak tahu bagaimana dan seperti apa latar belakang pernikahan mereka.”


“Lagi pula, mereka juga baru saja menikah, belum genap satu bulan. Mungkin keduanya masih perlu waktu untuk beradaptasi dan melakukan penyesuaian satu sama lain.”


Sifat Tiara memang bertolak belakang dengan kakaknya. Jika Mutia adalah sosok yang dewasa dan pendiam, dia cenderung kekanakan dan tidak bisa diam. Meski begitu, mereka selalu bisa menempatkan diri dan menyesuaikan keadaan.


“Berikan aku nomor kontak Egidia! Aku akan mengajaknya berangkat bersamaku.”


***


Dokter Kaivan menyapa ramah pasien pertamanya. Egidia menjawab singkat dan membalas dengan senyuman kecil, sekadar tanda kesopanan.


“Baiklah. Saya akan langsung menyampaikan hasil dari pemeriksaan di laboratorium sebelumnya.”


Karena Dokter Kai merekomendasikan tes darah secara menyeluruh untuk mendeteksi sejumlah kelainan yang menjurus pada penyakit serius, maka hasil yang didapat pun bisa dijadikan sebagai acuan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya, jika diperlukan.

__ADS_1


“Kami sudah mempelajari hasil yang ada dan dengan berat hati harus disampaikan kepada Anda bahwa ....”


Mimik muka dokter tampan berkacamata itu berubah tegang dan sangat serius. Dia sudah mempelajari hasil tersebut dan menemukan kelainan yang menjadi dugaannya sejak awal.


Dari cerita Egidia tentang beberapa gejala yang dirasakan, yaitu tentang sakit kepala yang tidak biasa dan terus berulang, disertai mual dan muntah, bahkan sampai pingsan, dokter ahli tersebut harus menyampaikan diagnosa sementara yang akan dipertegas dengan melakukan pemeriksaan selanjutnya.


“Ada kelainan di bagian otak yang masih harus dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk penegakan diagnosa.”


Wajah pucat Egidia berubah kian pias mendengar dokter menyebutkan gangguan pada bagian otaknya. Pikirannya langsung tertuju pada beragam penyakit parah yang biasanya disebabkan karena kelainan atau gangguan pada bagian otak.


“Apakah penyakit saya parah, Dok?”


Suaranya bahkan terdengar bergetar karena ketakutan yang tidak tahu harus ditahan atau dilepaskan, sementara dirinya hanya datang seorang diri tanpa didampingi sang suami yang seharusnya menjadi tempat bersandar dan penenang hati.


“Kami belum berani memastikannya, karena Anda baru melakukan pemeriksaan awal. Untuk itu, dengan persetujuan Anda dan pihak keluarga, kami akan melakukan pemeriksaan neurologis dan beberapa jenis tes lain untuk mengetahuinya.”


Melihat kondisi sang pasien yang cukup mengkhawatirkan, diam-diam Dokter Kai menghubungi Mutia melalui pesan singkat dan meminta untuk datang ke ruangannya. Lelaki berkacamata itu juga menjelaskan sedikit tentang hasil pemeriksaan awal yang baru saja disampaikan kepada pasien yang bersangkutan.


Karena waktu praktik memang belum dimulai, Mutia pun segera datang tanpa menunda waktu. Sebagai tetangga yang mengetahui kondisi rumah tangga dan hubungan Egidia dengan suaminya, dia bisa menebak bagaimana keadaan wanita itu saat ini.


Kedatangan dokter kandungan tersebut sangat tepat, karena begitu melihatnya Egidia langsung memeluknya dan menumpahkan tangisannya. Sementara Mutia berusaha menenangkan dengan dekapan hangat dan usapan lembut, Dokter Kai memperhatikan pasiennya dengan tatapan iba yang sangat lekat.


Dia sudah terbiasa menghadapi pasien dengan keluhan dan kondisi serupa, bahkan yang lebih parah dan kronis pun seringkali dijumpai. Namun, melihat kerapuhan pasien barunya tersebut, hati kecilnya merasakan hal yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Berulang kali dia mengatur napas yang terasa sesak dan membuat pandangannya sedikit kabur, hingga sesekali harus mengerjap dan membetulkan letak kacamata yang dikenakan.


Tidak biasanya aku terbawa suasana yang berhubungan dengan pasienku. Akan tetapi, di balik tatapan mata beningnya yang hampa dan sarat ketakutan, aku seperti melihat luka yang begitu dalam tersembunyi di sana.


__ADS_2