
Penasaran melihat wajah si cowok…
Mau kutanya juga, apakah dia yang
kemarin ke rumah…
Seketika, aku sudah sampai di
belakang cowok itu.
Tangaku ku ulurkan ingin menyentuh
bahu si cowok.
Tiba – tiba…
Sebelum aku sempat meletakkan tanganku ke bahu cowok itu,
tiba – tiba saja cowok itu segera berbalik melihat ke belakang.
Sepertinya, aku bakal melihat wajah cowok itu…
Sepersekian detik kemudian, malah bahuku yang mengalami
tepukan.
Segera ku alihkan badanku ke belakang, melihat siapa yang
menepuk pundakku.
Ketika aku berbalik, cowok itu juga melihat ke belakang,
sehingga kami tidak sempat saling bertemu pandang.
“Oo… Helen, sudah lama sampai?” tanyaku sambil segera
memeluk Helen.
Niat awalku untuk melihat cowok tersebut seketika sirna,
setelah kedatangan Helen.
Tetapi aku tidak menyadari bahwa cowok itu juga memperhatikan
__ADS_1
diriku.
Memang, cowok tersebut adalah teman Bang Tama.
Dia datang ke kafe, sebenarnya memiliki niat untuk melihat
siapa cewek yang akan di jodohkan kepadanya. Tapi itu niat tersembunyi nya.
Niat aslinya adalah ingin membawa cewek di depannya untuk makan bareng di luar.
Setelah sekian lama mengajak makan, akhirnya baru ada kesempatan yang pas untuk
mereka berdua makan di luar, dan berakhirlah dengan kejadian ini.
Teman bang Tama itu tidak lain adalah Arkan.
Memang dia tidak setuju juga dengan perjodohan, makanya
ketika di rumah ku kemarin, Arkan refleks menolak perjodohan dengan suara
nyaring. Tapi, bang Tama sendiri tidak menceritakan tentang temannya itu kepada
Papa dan Mama juga diriku, sehingga sampai sekarang, kami belum mengetahui rupa
sebenarnya dari Arkan. Anehnya, bang Tama juga tidak bertanya sama Arkan
Yahh, baiklah, itu cerita di kemudian hari.
Kembali di kondisi Helen datang.
Sambil menggandeng Helen, aku menuju meja yang ku pesan.
Helen mengajakku duduk di kursi yang membelakangi Arkan tadi. Sehingga walaupun
Arkan memandangiku, dia tetap tidak bisa melihat wajahku.
“Haiii… bestie bestie… kangen kaliannn…” Tika langsung
berteriak ketika tiba di kafe. Langsung menuju ke tempat duduk, Tika dengan
hebohnya memeluk Helen dan diriku. Sikap Tika ini sangat bertolak belakang
dengan sikap nya yang serius dan dingin pada saat menjalani profesinya.
__ADS_1
Alasannya, kalau menjadi dokter, kita harus serius, karena berhubungan dengan
kehidupan pasien. Aku sendiri merasa salut dengan pribadi Tika, yang bisa
membedakan kapan saat nya serius dan kapan saatnya bermain – main.
Tak lama kemudian, satu per satu datang semua personel Geng
Princess. Aku langsung menyuruh pegawai restoran untuk menyajikan makanan
sesuai yang sudah ku pesan sebelumnya.
Perhatianku terhadap cowok tadi pun sudah teralihkan.
Langsung terdengar Haha.. Hihi.. Hoho dari meja kami…
“Nah, Kayla… Why u very senang hari ini?” kata Helen membuka
percakapan setelah makan.
“Iya, aku pun pengen tahu…” sambung personel Geng Princess
yang lain.
“Oh iya, sebenarnya masalah pribadi ini… Cuma biar aku
sampaikan… Lagi senang lah pokoknya,” jawabku.
“AYoo … ayooo, kasi tau yaa…”
“Gini ya guys…” jelasku. Aku lalu menceritakan kepada geng
Princess bagaimana permulaan kisah aku di jodohkan, kemudian bagaimana aku
mencoba menelepon Arkan. Aku berpikiran bahwa Arkan sendiri memiliki pasangan,
dan artinya, aku bakal batal menikah dengan Arkan.
“Wahhh… kacau u bestie…” sahut salah satu personel Geng
Princess.
“Kenapa dirimu menolak? Tajir lho pastinya anaknya…”
__ADS_1
lanjutnya
Yang lain pada menimpali juga.