Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 6


__ADS_3

Kalau nantinya kami tidak cocok,


masa kami memilih untuk berpisah... Sementara kedua orang tua ku saja, sampai


saat ini aman damai saja hubungannya, karena memang menikah berdasarkan cinta.


Dulu Papa yang memilih mama sebagai pasangan hidupnya.


Aku menundukkan kepalaku menatap


lantai sambil terus memikirkan banyak hal yang muncul di hatiku. Banyak


pertanyaan yang muncul tetapi tidak ada jawabannya saat ini..


“Tasya, …” akhirnya Mama berbicara


setelah sekian lama. Suara Mama sangat lembut, mungkin untuk tidak menyinggung


perasaanku. Padahal bagaimanapun mama berbicara, aku tidak ada sedikitpun


berpikir negatif.


Aku mengangkat kepala memandang


mama. Tatapan ku masih sedikit memelas.


“Tasya, pernikahan ini kan sudah


disetujui oleh kedua belah pihak. Sungguh tidak mungkin dan tidak etis untuk


dibatalkan. Mama kalau lah ditanya, Mama pun akan menyerahkan semuanya masalah


pernikahan kepada Tasya, karena Tasya yang menjalaninya. Tetapi ini sudah


terjadi nak.”


"Pak Sukarta dengan jelas


mendengar bahwa Tasya menyetujui nya. Papa pun kemarin terkejut, secepat itu


Tasya setuju", Papa ikut menimpali.

__ADS_1


"Pada dan Mama juga baru sekali


bertemu dengan anak Pak Sukarta. Tetapi itu pun saat anak Pak Sukarta masih


kecil. Jadi Papa dan Mama belum bisa menjelaskan bagaimana sosok anak Pak


Sukarta kepada Tasya." lanjut Mama menjelaskan.


“Begini saja ya nak. Masih ada waktu


untuk pernikahan sebulan lagi. Pernikahannya kan akan dilakukan pada tanggal 13


Mei.  Mungkin Tasya bisa mencoba berkenalan dengan anak Pak Sukarta dalam


sebulan ini. Siapa namanya Pa?” tanya Mama kepada Papa.


“Hmm.. siapa ya.. Ooo..Arkan...,


iya, Arkan.. ” sahut Papa.


“Nah iya, Arkan. Sya, coba dulu ya


coba makan bersama. Siapa tahu Tasya dan Arkan cocok. Jadinya pas kalian


menikah, kalian sudah tidak lagi merasa tidak saling mengenal…” jelas Mama


dengan lembut. Mama memilih menyampaikan kata – kata dengan hati – hati, agar


bisa kuterima dengan baik penjelasan Mama.


Aku terdiam lama memikirkan hal


tersebut. Yang dikatakan Mama bukan tidak termasuk dalam pemikiranku, cuma


memang saat ini, aku lagi galau lah bahasanya. Aku merasa ini seperti kejutan


ulang tahun yang tidak di inginkan. Kan memang ulang tahunku hanya berjarak 3


hari dari tanggal pernikahan. Ulang tahunku jatuh pada 10 Mei. 3 hari setelah


aku berusia 25 tahun, aku harus melepas status lajangku, dan berganti jadi

__ADS_1


istri Pak Arkan. Sedih... sedih ku memikirkan...


“Baiklah, Ma.. akan Tasya coba.


Tasya terima….” Aku akhirnya menjawab setelah sekian lama jeda.


Ucapanku yang seharusnya “Tasya


terima perjodohan ini”, terpotong oleh keributan yang datang di belakang.


“Gak ada itu pernikahan pernikahan.


Apaan. Aku tidak terima…” terdengar suara kelas dari pintu masuk..


Aku, Papa dan Mama melihat ke arah


datang nya suara tersebut.


Suara keras itu berasal dari seorang


pemuda yang membelakangi diriku. Badannya tinggi. Yang pasti lebih tinggi dari


dirikuku. Sambil menghadap ke pintu, ada juga orang lain yang sudah ku kenal


sebelumnya dari kecil. Akeyla Pratama Jabura. Abangku, dan anak pertama


keluarga Jabura. Aku memangil abg ku selama ini dengan nama Bang Tama.


Bang Tama sepertinya juga terkejut


melihat reaksi temannya itu. Dia dan temannya baru saja sampai di rumah.


Memasuki pintu depan, temannya itu mendapatkan telepon dari ayahnya. Dan


begitulah, dia tidak tahu apa yang dibicarakan ayahnya dan temannya, tapi akhir


kejadian dia mengetahui. Dia sedikit terkejut, dengan teriakan temannya.


Sedikit yang dia dengar adalah tentang perjodohan. Terlintas dipikirannya,


zaman apa ini? Masih ada rupanya perjodohan untuk zaman sekarang ini?

__ADS_1


__ADS_2