
Kalau nantinya kami tidak cocok,
masa kami memilih untuk berpisah... Sementara kedua orang tua ku saja, sampai
saat ini aman damai saja hubungannya, karena memang menikah berdasarkan cinta.
Dulu Papa yang memilih mama sebagai pasangan hidupnya.
Aku menundukkan kepalaku menatap
lantai sambil terus memikirkan banyak hal yang muncul di hatiku. Banyak
pertanyaan yang muncul tetapi tidak ada jawabannya saat ini..
“Tasya, …” akhirnya Mama berbicara
setelah sekian lama. Suara Mama sangat lembut, mungkin untuk tidak menyinggung
perasaanku. Padahal bagaimanapun mama berbicara, aku tidak ada sedikitpun
berpikir negatif.
Aku mengangkat kepala memandang
mama. Tatapan ku masih sedikit memelas.
“Tasya, pernikahan ini kan sudah
disetujui oleh kedua belah pihak. Sungguh tidak mungkin dan tidak etis untuk
dibatalkan. Mama kalau lah ditanya, Mama pun akan menyerahkan semuanya masalah
pernikahan kepada Tasya, karena Tasya yang menjalaninya. Tetapi ini sudah
terjadi nak.”
"Pak Sukarta dengan jelas
mendengar bahwa Tasya menyetujui nya. Papa pun kemarin terkejut, secepat itu
Tasya setuju", Papa ikut menimpali.
__ADS_1
"Pada dan Mama juga baru sekali
bertemu dengan anak Pak Sukarta. Tetapi itu pun saat anak Pak Sukarta masih
kecil. Jadi Papa dan Mama belum bisa menjelaskan bagaimana sosok anak Pak
Sukarta kepada Tasya." lanjut Mama menjelaskan.
“Begini saja ya nak. Masih ada waktu
untuk pernikahan sebulan lagi. Pernikahannya kan akan dilakukan pada tanggal 13
Mei. Mungkin Tasya bisa mencoba berkenalan dengan anak Pak Sukarta dalam
sebulan ini. Siapa namanya Pa?” tanya Mama kepada Papa.
“Hmm.. siapa ya.. Ooo..Arkan...,
iya, Arkan.. ” sahut Papa.
“Nah iya, Arkan. Sya, coba dulu ya
coba makan bersama. Siapa tahu Tasya dan Arkan cocok. Jadinya pas kalian
menikah, kalian sudah tidak lagi merasa tidak saling mengenal…” jelas Mama
dengan lembut. Mama memilih menyampaikan kata – kata dengan hati – hati, agar
bisa kuterima dengan baik penjelasan Mama.
Aku terdiam lama memikirkan hal
tersebut. Yang dikatakan Mama bukan tidak termasuk dalam pemikiranku, cuma
memang saat ini, aku lagi galau lah bahasanya. Aku merasa ini seperti kejutan
ulang tahun yang tidak di inginkan. Kan memang ulang tahunku hanya berjarak 3
hari dari tanggal pernikahan. Ulang tahunku jatuh pada 10 Mei. 3 hari setelah
aku berusia 25 tahun, aku harus melepas status lajangku, dan berganti jadi
__ADS_1
istri Pak Arkan. Sedih... sedih ku memikirkan...
“Baiklah, Ma.. akan Tasya coba.
Tasya terima….” Aku akhirnya menjawab setelah sekian lama jeda.
Ucapanku yang seharusnya “Tasya
terima perjodohan ini”, terpotong oleh keributan yang datang di belakang.
“Gak ada itu pernikahan pernikahan.
Apaan. Aku tidak terima…” terdengar suara kelas dari pintu masuk..
Aku, Papa dan Mama melihat ke arah
datang nya suara tersebut.
Suara keras itu berasal dari seorang
pemuda yang membelakangi diriku. Badannya tinggi. Yang pasti lebih tinggi dari
dirikuku. Sambil menghadap ke pintu, ada juga orang lain yang sudah ku kenal
sebelumnya dari kecil. Akeyla Pratama Jabura. Abangku, dan anak pertama
keluarga Jabura. Aku memangil abg ku selama ini dengan nama Bang Tama.
Bang Tama sepertinya juga terkejut
melihat reaksi temannya itu. Dia dan temannya baru saja sampai di rumah.
Memasuki pintu depan, temannya itu mendapatkan telepon dari ayahnya. Dan
begitulah, dia tidak tahu apa yang dibicarakan ayahnya dan temannya, tapi akhir
kejadian dia mengetahui. Dia sedikit terkejut, dengan teriakan temannya.
Sedikit yang dia dengar adalah tentang perjodohan. Terlintas dipikirannya,
zaman apa ini? Masih ada rupanya perjodohan untuk zaman sekarang ini?
__ADS_1