Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 18


__ADS_3

Lelaki yang duduk di kursi penumpang di samping pak Sukarta, masih muda.


Apakah itu si Arkan?


Pernah lihat dimana ya… Koq macam kenal wajahnya…


Ah sudahlah, nanti juga bisa dikenalkan ulang…


Masalah Dion ini yang terpenting…


Aku segera memacu mobilku menuju kafe.


Jarak antar rumah ke kafe ku memang cukup membutuhkan waktu


lama. Bukan karena jarak ya, tapi karena lalu lintas di siang hari yang memang


sangat padat. Aku membutuhkan hampir 1 jam untuk tiba di kafe. Dalam


perjalanan, aku sudah bisa membayangkan berapa banyak barang di kafe aku yang


sudah di rusak Dion.


‘Hahhh… trouble apa sih… kenapa Dion sampai merusak kafe ku…


Ada masalah apa ya kira kira?’ pikirku dalam hati mengingat kira – kira


kejadian apa yang menyebabkan Dion marah kepadaku.


Lima menit setelahnya, aku tiba di kafe ku.


Kuperhatikan, Susan sudah dengan gelisah mengunggu di


parkiran mobil. Susan segera bergegas menuju mobilku setelah dilihatnya aku


sampai di kafe.


Aku segera turun, bertanya dengan jelas kepada Susan tentang

__ADS_1


apa yang terjadi.


Susan terbengong melihatku. Dari raut wajahnya, sepertinya


aka nada masalah lebih melihat diriku. Aku bisa memperhatikan mata Susan


memandangku dari atas sampai ke bawah walau wajahnya tidak ikut bergerak.


Aku tidak terpengaruh. Anggapan ku dia mungkin melihatku


makin cantik… Kepedean ya kan…


“Ada ada sih Susan…? Kenapa gelisah begitu? Apa yang


dilakukan Dion?” tanyaku melihat Susan yang tetap terdiam memandangku.


“Ibu cantik… eh…” Susan keceplosan bicara. Aku tersenyum


“Iya, sudah tahu koq.. hihi… masalah nya apa sebenarnya?”


tanyaku lagi.


dalam, makin heboh la pak Dion itu…” jawab Susan segera. Aku tidak mengerti


maksudnya.


“Ya sudah, coba kita pergi ke dalam, biar saya liat ada


masalah apa si Dion ini…” akhirnya aku berkata seraya mau meninggalkan lokasi


parkir.


“Ibu, ibu…” panggil Susan sambil menahan tanganku.


“Ibu, gak ada baju ganti apa? Jangan masuk ke dalam dengan


pakaian begitu bu… Susan takut…” lanjut Susan tanpa menyelesaikan kata –

__ADS_1


katanya.


Aku mengernyit bingung.


‘Emang ada masalah apa dengan pakaianku, sehingga aku harus


berganti pakaian…’ batinku tidak mengerti.


“Sudah, abaikan saja pakaian saya. Yuk ke dalam, biar saya


yang selesaikan urusan saya dengan Dion…” jawabku akhirnya, sambil menarik


tangan Susan untuk mengikuti.


Kulihat Susan jadi menunduk, dan tetap diam. Walaupun


begitu, dia tetap mengikuti langkah ku karena tangannya ku pegang. Mungkin dia


memberanikan diri. Aku yakin, tujuan Susan adalah menjauhkan diriku dari


masalah, tapi aku tidak yakin, masalah apa yang bisa terjadi dengan


penampilanku hari ini. Kan aku cukup cantik…


Dalam sekejap saja, aku sudah berada di depan kafe.


Dari kaca kafe, ku perhatikan ada beberapa tamu, yang duduk


di pojokan, sepertinya tidak terpengaruh dengan kelakuan Dion yang terlihat


masih saja merepet di depan meja kasir. Aku menghela nafas, sebelum


memberanikan diri untuk membuka pintu.


Dion juga merupakan penerus kaya di Kota J, tetapi bukan


berarti dia bisa berlaku sesukanya di kafe ku. Dalam hal kekuatan finansial, keluarga

__ADS_1


Dion, hampir seimbang dengan keluarga Jabura. Jadi kenapa dia berani berbuat


masalah di kafe ku. Apa Dion sangat ingin memicu pertengkaran keluarga kami.


__ADS_2