
Lelaki yang duduk di kursi penumpang di samping pak Sukarta, masih muda.
Apakah itu si Arkan?
Pernah lihat dimana ya… Koq macam kenal wajahnya…
Ah sudahlah, nanti juga bisa dikenalkan ulang…
Masalah Dion ini yang terpenting…
Aku segera memacu mobilku menuju kafe.
Jarak antar rumah ke kafe ku memang cukup membutuhkan waktu
lama. Bukan karena jarak ya, tapi karena lalu lintas di siang hari yang memang
sangat padat. Aku membutuhkan hampir 1 jam untuk tiba di kafe. Dalam
perjalanan, aku sudah bisa membayangkan berapa banyak barang di kafe aku yang
sudah di rusak Dion.
‘Hahhh… trouble apa sih… kenapa Dion sampai merusak kafe ku…
Ada masalah apa ya kira kira?’ pikirku dalam hati mengingat kira – kira
kejadian apa yang menyebabkan Dion marah kepadaku.
Lima menit setelahnya, aku tiba di kafe ku.
Kuperhatikan, Susan sudah dengan gelisah mengunggu di
parkiran mobil. Susan segera bergegas menuju mobilku setelah dilihatnya aku
sampai di kafe.
Aku segera turun, bertanya dengan jelas kepada Susan tentang
__ADS_1
apa yang terjadi.
Susan terbengong melihatku. Dari raut wajahnya, sepertinya
aka nada masalah lebih melihat diriku. Aku bisa memperhatikan mata Susan
memandangku dari atas sampai ke bawah walau wajahnya tidak ikut bergerak.
Aku tidak terpengaruh. Anggapan ku dia mungkin melihatku
makin cantik… Kepedean ya kan…
“Ada ada sih Susan…? Kenapa gelisah begitu? Apa yang
dilakukan Dion?” tanyaku melihat Susan yang tetap terdiam memandangku.
“Ibu cantik… eh…” Susan keceplosan bicara. Aku tersenyum
“Iya, sudah tahu koq.. hihi… masalah nya apa sebenarnya?”
tanyaku lagi.
dalam, makin heboh la pak Dion itu…” jawab Susan segera. Aku tidak mengerti
maksudnya.
“Ya sudah, coba kita pergi ke dalam, biar saya liat ada
masalah apa si Dion ini…” akhirnya aku berkata seraya mau meninggalkan lokasi
parkir.
“Ibu, ibu…” panggil Susan sambil menahan tanganku.
“Ibu, gak ada baju ganti apa? Jangan masuk ke dalam dengan
pakaian begitu bu… Susan takut…” lanjut Susan tanpa menyelesaikan kata –
__ADS_1
katanya.
Aku mengernyit bingung.
‘Emang ada masalah apa dengan pakaianku, sehingga aku harus
berganti pakaian…’ batinku tidak mengerti.
“Sudah, abaikan saja pakaian saya. Yuk ke dalam, biar saya
yang selesaikan urusan saya dengan Dion…” jawabku akhirnya, sambil menarik
tangan Susan untuk mengikuti.
Kulihat Susan jadi menunduk, dan tetap diam. Walaupun
begitu, dia tetap mengikuti langkah ku karena tangannya ku pegang. Mungkin dia
memberanikan diri. Aku yakin, tujuan Susan adalah menjauhkan diriku dari
masalah, tapi aku tidak yakin, masalah apa yang bisa terjadi dengan
penampilanku hari ini. Kan aku cukup cantik…
Dalam sekejap saja, aku sudah berada di depan kafe.
Dari kaca kafe, ku perhatikan ada beberapa tamu, yang duduk
di pojokan, sepertinya tidak terpengaruh dengan kelakuan Dion yang terlihat
masih saja merepet di depan meja kasir. Aku menghela nafas, sebelum
memberanikan diri untuk membuka pintu.
Dion juga merupakan penerus kaya di Kota J, tetapi bukan
berarti dia bisa berlaku sesukanya di kafe ku. Dalam hal kekuatan finansial, keluarga
__ADS_1
Dion, hampir seimbang dengan keluarga Jabura. Jadi kenapa dia berani berbuat
masalah di kafe ku. Apa Dion sangat ingin memicu pertengkaran keluarga kami.