
Kembali ke saat ini...
Seketika aku terduduk lemas, merosot
ke lantai, ketika mengingat hal tersebut.
“Pa, pembicaraan kemarin itu
membahas tentang pernikahan ya, Pa..?” tanyaku tidak percaya, “Dan Tasya setuju
untuk menikah?”
“Iya, sya… kenapa?” Papa terkejut
mendengar pertanyaanku, dan balik bertanya tetapi tetap dengan senyumnya.
“Tasya kemarin khilaf, Pa. Tasya gak
mau menikah lho Pa. Bukan tak mau, belum mau sekarang.” rengekku sambil menatap
lantai. Membayangkan aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal, sangat
sangat membuat depresi seketika. Kena mental jadinya..
“Lho, kemarin kan Tasya yang setuju.
Pernikahannya sebulan lagi lho. Bagaimana Papa dan Mama harus berbuat ini..,”
Mama menjadi bingung karena reaksi ku. Papa dan Mama bingung kenapa diriku
kemarin mau, tapi sekarang sudah cepat sekali berubah pikiran.
“Kemarin Tasya gak fokus, Ma. Ada
pembahasan perluasan kafe di Grup WA, jadi Tasya hanya fokus ke ponsel saja,
Tasya gak sadar malah papa bertanya tentang masalah apa. Jadi Tasya jawab
seadanya saja lah Ma..” jawabku sambil sedikit meratap tapi tidak menangis
__ADS_1
ya...
Papa dan Mama menunjukkan ekspresi
bingung. Mereka berdua tidak tahu untuk berbicara apa saat ini. Dilema juga
pastinya. Hal yang dahulu ditakutkan Papa terjadi juga akhirnya. Aku menolak
dengan sangat tegas dan jelas tentang perjodohan diriku. Tetapi bagaimana lagi,
pihak lelaki sudah mendengar dengan jelas kata setuju dari ku tentang
perjodohan itu.
Aku merasa kesal akan diriku saat
ini. Aku sangat mengerti perasaan Papa dan Mama sekarang. Tidak mungkin lah
pernihakan dibatalkan, apalagi ini menyangkut dua buah perusahaan besar di
Negara I. Jika diketahui bahwa terjadi skandal pernikahan pada kedua
perusahaan, maka kredibilitas kedua perusahaan bisa saja turun. Apalagi kedua
kedua pimpinan merupakan sahabat dari lama, menimbulkan asumsi kokohnya akan
kedua perusahaan tersebut. Kalau skandal terjadi, bisa - bisa menjadi trending
topik oleh netizen negara I. Pertunangan putra dan putri dari dua pengusaha
besar di Negara I, dibatalkan karena pihak perempuan kurang fokus. Wkwkwk..
judul yang agak lucu juga..
Tetapi aku tidak mau menikah…
Jujur, belum mau menikah..
Terutama untuk saat ini..
__ADS_1
Aku merasa diriku saat ini sedang
bergerak perlahan mendekati puncak karir ku sebagai usahawan muda. Tidak
mungkin aku mengizinkan diriku turun kembali karena statusku sudah menikah.
Apalagi menikah dan menjalani rumah
tangga dengan orang yang tidak dikenal.
Aku juga penasaran sebenarnya.
Apakah anak Pak Sukarta ganteng? Jelekkah? Tinggi kah? Pendekkah? Dan lain
sebagainya pikiran pikiran seperti itu. Mengingat fisikku yang terbilang
memenuhi standar wanita idaman, seharusnya suami ku nantinya juga harus di atas
standar umumnya. Aku tidak membahas masalah dana ya, karena jelas anak Pak
Sukarta, pewaris tunggal perusahaan orang tuanya. Tajir pastinya donk..
Aku menyesali yang sudah terjadi.
Sumpah menyesal..
Istilah, "Mulutmu,
Harimaumu..." akhirnya kena kepada diriku.
Sebenarnya bukan musibah lho.
Menikah itu sebuah hal yang istimewa. Hal yang sakral. Apalagi untuk wanita
sepertiku yang seharusnya memang sudah memasuki usia menikah. Kalau kendala
masalah fisik, fisik itu bisa dimodifikasi kalau memiliki dana yang cukup,
seperti yang plastik - plastik itu. Tapi karena aku memang belum mau menikah...
__ADS_1
Apalagi, seharusnya menikah itu cuma
sekali..