Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 2


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 9 malam, saat aku kembali memakirkan


mobilku di garasi rumah sepulang dari nonton Film Trending di bioskop. Apa itu


judulnya, oh iya, KKN di kafe Kayla..


“Tasya pulang…” ucapku sesaat memasuki rumah.


Walaupun diriku sudah menghasilkan, dan sebenarnya bisa memiliki rumah atau


apartemen dari tabungan dan hasil usaha selama ini, tetapi aturan keluarga


Jabura sangat jelas dan ketat. Bagi anak yang belum menikah, harus tinggal


bersama orang tua, selain agar orang tua tidak kesepian, dikarenakan nantinya


juga setelah menikah, anak anak dalam keluarga Jabura harus bisa hidup terpisah


dari orang tua, baik itu anak laki - laki, maupun anak perempuan. Tinggal


terpisah dari orang tua juga bisa dikatakan sebagai pembelajaran untuk dewasa


dan menuju sukses, karena nantinya, kami akan menjadi pewaris di Jabura Grup.


Oh iya, di luar aku dipanggil Kayla sama teman - teman dan guru semasa


sekolah dan kuliah, tetapi di rumah, kedua orang tua ku, suka memanggilku


dengan nama Tasya, karena itu merupakan singkatan nama mereka berdua. Ratasya,


Ratman dan Nasya. Hehe..

__ADS_1


“Oh, sudah pulang nak. Mandi gih, siap tu datang kemari ya, ada yang mau


papa dan mama bicarakan,” sahut mama dari ruang keluarga.


Aku terdiam mendengar jawaban mama dan sejenak menghentikan langkahku menuju


kamar.


Tumben ada yang mau dibicarakan, biasanya tidak pernah ada apa – apa.


“Baik ma..” sahutku kembali setelah beberapa saat. Aku segera bergegas ke


kamarku untuk mandi. Berberes. Menggunakan pakaian tidur, aku segera menuju


ruang keluarga. Disitu, aku melihat papa dan mama sedang asik membahas sesuatu


sambil mata mereka tetap menatap televisi.


“Ada apa pa, ma?” kataku langsung seraya menjatuhkan badan ke sofa empuk


rileks gitu. Papa dan Mama langsung mengalihkan mata mereka dari televisi,


menatapku dan merubah ekspresi mereka menjadi senyuman sambil berpegangan


tangan.


“Apaan sih pa, ma. Koq senyum senyum gitu? Ada yang salah sama Tasya?”


tanyaku sambil memperhatikan pakaianku. Siapa tahu ada yang salah. Soalnya Papa


dan Mama tersenyum setelah melihatku. Gemas sekali melihat mereka seperti itu.

__ADS_1


“Oh.. tidak apa – apa nak. Papa dan Mama tadi cerita - cerita. Dan kami juga


tadi sedang membayangkan cantiknya Tasya menggunakan baju pengantin..” jawab


Papa sambil tetap tersenyum.


“Kan Tasya memang cantik pa..” jawabku ceplos aja. Memang itu lah kebiasaan


burukku. Asik menjawab tanpa mencerna kalimat dengan benar. Hal ini yang


menjadikan perubahan akhirnya pada hidupku. “Apa lagi pakai baju pe….” Aku


berhenti pada kalimatku. Tidak ku resapi sebelumnya kata – kata Papa. Baju


pengantin apaan. Siapa mau nikah? Aku? Kapan pula aku punya pacar. Mau nikah


sama siapa.


“Baju pengantian apa pa? Siapa yang mau nikah?” tanyaku dengan terjekut


kepada Papa.


“Ya dirimu lho, sya? Masak Mama.. ” sahut Mama juga dengan tetap tersenyum.


Bisa kulihat ada ekspresi bingung di wajah Papa dan Mama. Walau mereka


nampaknya tersenyum, tetapi tetap bisa kulihat keraguan di mata Papa dan Mama.


Mungkin mereka terkejut juga dengan reaksi diriku.


“Koq bisa?” aku kembali terkejut. Punya pacar pun tidak.

__ADS_1


“Lho koq... Koq bisa ma?” ulang ku sekali lagi untuk memastikan bahwa kupingku tidak


salah dengar.


__ADS_2