
Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 9 malam, saat aku kembali memakirkan
mobilku di garasi rumah sepulang dari nonton Film Trending di bioskop. Apa itu
judulnya, oh iya, KKN di kafe Kayla..
“Tasya pulang…” ucapku sesaat memasuki rumah.
Walaupun diriku sudah menghasilkan, dan sebenarnya bisa memiliki rumah atau
apartemen dari tabungan dan hasil usaha selama ini, tetapi aturan keluarga
Jabura sangat jelas dan ketat. Bagi anak yang belum menikah, harus tinggal
bersama orang tua, selain agar orang tua tidak kesepian, dikarenakan nantinya
juga setelah menikah, anak anak dalam keluarga Jabura harus bisa hidup terpisah
dari orang tua, baik itu anak laki - laki, maupun anak perempuan. Tinggal
terpisah dari orang tua juga bisa dikatakan sebagai pembelajaran untuk dewasa
dan menuju sukses, karena nantinya, kami akan menjadi pewaris di Jabura Grup.
Oh iya, di luar aku dipanggil Kayla sama teman - teman dan guru semasa
sekolah dan kuliah, tetapi di rumah, kedua orang tua ku, suka memanggilku
dengan nama Tasya, karena itu merupakan singkatan nama mereka berdua. Ratasya,
Ratman dan Nasya. Hehe..
__ADS_1
“Oh, sudah pulang nak. Mandi gih, siap tu datang kemari ya, ada yang mau
papa dan mama bicarakan,” sahut mama dari ruang keluarga.
Aku terdiam mendengar jawaban mama dan sejenak menghentikan langkahku menuju
kamar.
Tumben ada yang mau dibicarakan, biasanya tidak pernah ada apa – apa.
“Baik ma..” sahutku kembali setelah beberapa saat. Aku segera bergegas ke
kamarku untuk mandi. Berberes. Menggunakan pakaian tidur, aku segera menuju
ruang keluarga. Disitu, aku melihat papa dan mama sedang asik membahas sesuatu
sambil mata mereka tetap menatap televisi.
“Ada apa pa, ma?” kataku langsung seraya menjatuhkan badan ke sofa empuk
rileks gitu. Papa dan Mama langsung mengalihkan mata mereka dari televisi,
menatapku dan merubah ekspresi mereka menjadi senyuman sambil berpegangan
tangan.
“Apaan sih pa, ma. Koq senyum senyum gitu? Ada yang salah sama Tasya?”
tanyaku sambil memperhatikan pakaianku. Siapa tahu ada yang salah. Soalnya Papa
dan Mama tersenyum setelah melihatku. Gemas sekali melihat mereka seperti itu.
__ADS_1
“Oh.. tidak apa – apa nak. Papa dan Mama tadi cerita - cerita. Dan kami juga
tadi sedang membayangkan cantiknya Tasya menggunakan baju pengantin..” jawab
Papa sambil tetap tersenyum.
“Kan Tasya memang cantik pa..” jawabku ceplos aja. Memang itu lah kebiasaan
burukku. Asik menjawab tanpa mencerna kalimat dengan benar. Hal ini yang
menjadikan perubahan akhirnya pada hidupku. “Apa lagi pakai baju pe….” Aku
berhenti pada kalimatku. Tidak ku resapi sebelumnya kata – kata Papa. Baju
pengantin apaan. Siapa mau nikah? Aku? Kapan pula aku punya pacar. Mau nikah
sama siapa.
“Baju pengantian apa pa? Siapa yang mau nikah?” tanyaku dengan terjekut
kepada Papa.
“Ya dirimu lho, sya? Masak Mama.. ” sahut Mama juga dengan tetap tersenyum.
Bisa kulihat ada ekspresi bingung di wajah Papa dan Mama. Walau mereka
nampaknya tersenyum, tetapi tetap bisa kulihat keraguan di mata Papa dan Mama.
Mungkin mereka terkejut juga dengan reaksi diriku.
“Koq bisa?” aku kembali terkejut. Punya pacar pun tidak.
__ADS_1
“Lho koq... Koq bisa ma?” ulang ku sekali lagi untuk memastikan bahwa kupingku tidak
salah dengar.