
Saat ini, aku memiliki sedikit perhatian terhadap pria yang
memeluk diriku pada saat terjadi insiden di restoran mall, karena pria itu
adalah pria yang pertama memelukku. Juga aku memiliki sedikit rasa kepada pria
yang menabrakku di mall saat menemani Mama belanja. Pria itu membantu ku dan
memegang tanganku. Yang paling mendebarkannya, Pria itu sangat tampannn…
‘Hehhhh….’ Aku menghela nafas lagi dalam perjalanan
pulangku. Entah kenapalah aku melamun saat sedang menyetir mobil. Bisa terjadi
penyesalan kalau sempat terjadi kecelakaan.
Aku segera memfokuskan kembali diriku saat menyetir. Dengan
tetap mempertahankan kecepatan yang aman, aku terus melaju menuju rumah.
Sekitar hampir satu jam di perjalanan, aku tiba juga di rumah. Segera aku
memakirkan mobilku di tempat biasanya.
Aku menuju pintu masuk
“Tasya pulang…” ucapku setelah mengucapkan salam sebelumnya.
Aku memperhatikan ruang tamu sudah benar – benar bersih.
Berarti Pak Sukarta dan Arkan sudah lama pulang. Aku tidak melihat Papa dan
Mama di ruang tamu. Aku berpendapat mereka sedang menonton tivi lagi. Aku
segera menuju kesana.
__ADS_1
Aku melihat mereka sedang bergosip, sambil bergandengan
tangan dan mata mereka tetap melihat tivi. Ini lah hebatnya Papa dan Mama ku.
Bisa mereka melakukan multi tasking seperti itu. Mengikuti perkembangan sambil
menonton tivi dan tetap romantis. Aku sendiri jadi kepingin membentuk rumah
tangga seperti Papa dan Mama. Iri ini boss..
“ehmmm…” aku berdehem.
“Eh Tasya… sini, duduk sini…” Mama segera melepaskan
pegangan tangannya dengan Papa setelah melihatku. Mama yang semula duduknya
rapat dengan papa, bergeser menjauhi Papa, sehingga menyisakan satu ruang untuk
duduk antara Papa dan Mama. Untuk diriku duduk.
berarti bukan karena malu bertingkah romantis di depan anak mereka, tetapi ada
yang mau Mama sampaikan. Biasanya Mama akan menyuruh aku untuk berganti pakaian
dahulu, malah mandi terlebih dahulu sebelum meminta bergabung dengan mereka. Tapi
kali ini, Papa dan Mama langsung meminta diriku untuk duduk di samping mereka.
Aku segera berjalan menuju mereka, dan duduk di samping Papa
dan Mama. Aku langsung merasakan tangan
Mama menggenggam tanganku. Aku menatap Mama, dan Mama membalas menatap diriku
dengan tersenyum. Sekilas kulihat Papa, Papa juga tersenyum. Aku jadi penisirin
__ADS_1
begini jadinya.
“Tasya… tadi Papa dan Mama sudah bertemu dengan anak pak
Sukarta. Si Arkan itu… Mau tau pendapat Papa dan Mama tak?” ucap Mama sambil
tersenyum. Sepertinya Mama sangat senang.
‘Ya iyalah Papa dan Mama sudah bertemu Arkan. Kalau tidak,
siapa yang bertemu mereka tadi di rumah ini…’ batinku tak penting.
“Hmm… Tasya tidak mau tahu bagaimana fisiknya saat ini Ma.
Juga bagaimana sikap Arkan. Nanti Tasya akan mencoba berkenalan kembali dengan
Arkan. Yang mau Tasya tahu Ma, cuma satu pertanyaan.” jawabku kepada Mama. Aku
berhenti berkata sejenak. Setelah sekian detik, aku kembali bertanya ke Mama.
“Menurut Mama, apakah Arkan nantinya bisa menjadi suami yang
baik untuk Tasya?” tanyaku akhirnya. Aku tidak peduli fisik nya untuk
sementara. Bagaimanapun, tidak ada orang tua yang akan mencelakakan anaknya
demi uang, apalagi keluarga Jabura saat ini tidak kekurangan uang. Aku hanya
ingin tahu pendapat Mama. Kalau Mama menyatakan bisa, maka aku yakin pasti akan
bisa.
“Nah, itu yang mau Mama sampaikan, Sya.” ucap Mama sambil
menguatkan genggaman tangannya. Mama sepertinya sangat bergairah untuk
__ADS_1
bercerita, sehingga merasa gemas ingin cepat cepat menyampaikan ceritanya.