Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 23


__ADS_3

Saat ini, aku memiliki sedikit perhatian terhadap pria yang


memeluk diriku pada saat terjadi insiden di restoran mall, karena pria itu


adalah pria yang pertama memelukku. Juga aku memiliki sedikit rasa kepada pria


yang menabrakku di mall saat menemani Mama belanja. Pria itu membantu ku dan


memegang tanganku. Yang paling mendebarkannya, Pria itu sangat tampannn…


‘Hehhhh….’ Aku menghela nafas lagi dalam perjalanan


pulangku. Entah kenapalah aku melamun saat sedang menyetir mobil. Bisa terjadi


penyesalan kalau sempat terjadi kecelakaan.


Aku segera memfokuskan kembali diriku saat menyetir. Dengan


tetap mempertahankan kecepatan yang aman, aku terus melaju menuju rumah.


Sekitar hampir satu jam di perjalanan, aku tiba juga di rumah. Segera aku


memakirkan mobilku di tempat biasanya.


Aku menuju pintu masuk


“Tasya pulang…” ucapku setelah mengucapkan salam sebelumnya.


Aku memperhatikan ruang tamu sudah benar – benar bersih.


Berarti Pak Sukarta dan Arkan sudah lama pulang. Aku tidak melihat Papa dan


Mama di ruang tamu. Aku berpendapat mereka sedang menonton tivi lagi. Aku


segera menuju kesana.

__ADS_1


Aku melihat mereka sedang bergosip, sambil bergandengan


tangan dan mata mereka tetap melihat tivi. Ini lah hebatnya Papa dan Mama ku.


Bisa mereka melakukan multi tasking seperti itu. Mengikuti perkembangan sambil


menonton tivi dan tetap romantis. Aku sendiri jadi kepingin membentuk rumah


tangga seperti Papa dan Mama. Iri ini boss..


“ehmmm…” aku berdehem.


“Eh Tasya… sini, duduk sini…” Mama segera melepaskan


pegangan tangannya dengan Papa setelah melihatku. Mama yang semula duduknya


rapat dengan papa, bergeser menjauhi Papa, sehingga menyisakan satu ruang untuk


duduk antara Papa dan Mama. Untuk diriku duduk.


berarti bukan karena malu bertingkah romantis di depan anak mereka, tetapi ada


yang mau Mama sampaikan. Biasanya Mama akan menyuruh aku untuk berganti pakaian


dahulu, malah mandi terlebih dahulu sebelum meminta bergabung dengan mereka. Tapi


kali ini, Papa dan Mama langsung meminta diriku untuk duduk di samping mereka.


Aku segera berjalan menuju mereka, dan duduk di samping Papa


dan Mama.  Aku langsung merasakan tangan


Mama menggenggam tanganku. Aku menatap Mama, dan Mama membalas menatap diriku


dengan tersenyum. Sekilas kulihat Papa, Papa juga tersenyum. Aku jadi penisirin

__ADS_1


begini jadinya.


“Tasya… tadi Papa dan Mama sudah bertemu dengan anak pak


Sukarta. Si Arkan itu… Mau tau pendapat Papa dan Mama tak?” ucap Mama sambil


tersenyum. Sepertinya Mama sangat senang.


‘Ya iyalah Papa dan Mama sudah bertemu Arkan. Kalau tidak,


siapa yang bertemu mereka tadi di rumah ini…’ batinku tak penting.


“Hmm… Tasya tidak mau tahu bagaimana fisiknya saat ini Ma.


Juga bagaimana sikap Arkan. Nanti Tasya akan mencoba berkenalan kembali dengan


Arkan. Yang mau Tasya tahu Ma, cuma satu pertanyaan.” jawabku kepada Mama. Aku


berhenti berkata sejenak. Setelah sekian detik, aku kembali bertanya ke Mama.


“Menurut Mama, apakah Arkan nantinya bisa menjadi suami yang


baik untuk Tasya?” tanyaku akhirnya. Aku tidak peduli fisik nya untuk


sementara. Bagaimanapun, tidak ada orang tua yang akan mencelakakan anaknya


demi uang, apalagi keluarga Jabura saat ini tidak kekurangan uang. Aku hanya


ingin tahu pendapat Mama. Kalau Mama menyatakan bisa, maka aku yakin pasti akan


bisa.


“Nah, itu yang mau Mama sampaikan, Sya.” ucap Mama sambil


menguatkan genggaman tangannya. Mama sepertinya sangat bergairah untuk

__ADS_1


bercerita, sehingga merasa gemas ingin cepat cepat menyampaikan ceritanya.


__ADS_2