
‘Kenapa lah aku tidak bawa troli barang
tadi ya…’ sesal ku sambil terus berjalan. Aku melihat mama memasuki toko pakaian. Sepertinya mama mau belanja pakaian ini. Padahal di lemari baju mama saja, masih banyak baju yang sekedar sebagai penghias lemari baju.
Mama memasuki toko, tanpa menyadari
aku masih kesusahan membawa barang belanjaan. Karena aku sudah hampir tidak
bisa melihat, aku tiba – tiba menabrak seseorang di depan. Barang yang ku
pegang jadi jatuh berhamburan. Untung bukan barang pecah belah. Aku terkejut.
Semua barang berserakan di lantai. Mama sudah di dalam toko, jadi mama tidak
melihat kejadian itu. Aku pun melupakan untuk melihat siapa yang menabrakku.
‘Yah sudahlah, mungkin aku yang
salah, biarlah aku yang kutip ini semua.’ batinku sambil terus mengambil barang
yang jatuh di lantai.
Aku terus mengutip satu persatu
barang yang terjatuh, sampai akhirnya tinggal satu barang lagi tersisa. Aku
menunduk untuk mengambil barang tersebut, dan tanpa sadar, yang menabarak tadi
juga menunduk untuk mengambil barang itu.
Tangan kami akhirnya bersentuhan
saat sudah dekat lagi dengan barang di lantai.
Aku kesal. Kemarin badanku, sekarang
ada yang menyentuh tanganku.
Aku segera melihat ke depan, ke arah
orang yang menyentuh tanganku.
Kebetulan dia juga melihat kepadaku.
Rupanya itu tangan seorang laki –
__ADS_1
laki.
Kupandangi laki – laki itu.
Hanya satu kata terpikirkan...
Sangat Tampan….
Aku tertegun memandang wajah pria tampan di hadapanku.
Kalau aku bisa kasi nilai, 9 dari 10 lah…
Memang ganteng banget…
Seketika hati ku dug dug dug…
Duh, mana dia juga memandang wajahku.
Terpesona dia juga ya memandangku…
Wwahh, sebegitu bucin kah diriku…
Dalam beberapa hari ini, sudah berapa laki – laki yang
merasuk ke dalam pikiranku.
lelaki tampannnn sekali, yang memegang tanganku, saat kami saling berpandangan…
Macam iklan – iklan di tivi gitu…
“Ehhmmm…” ucapku sedikit berdehem…
“Eh, maaf mbak…” ucap pria di depan ku dengan gugup.
Suaranya itu. Laki banget…
Aku jadi kesengsem melihatnya…
Tapi malah yang kudapatkan berikutnya adalah hal yang
berkebalikan.
Aku melihat pria itu menunduk, tidak berani menatap wajahku…
Bisa ku ikuti gerak bibirnya pada saat menunduk…
__ADS_1
Dia ber-istighfar…
What, aku setan kah? Sampai – sampai si kawan ber-istighfar
melihatku…
Aku tidak terima…
Wajah cantik begini di anggap setan penggoda…
Seketika, hampir saja aku meledak marah, sebelum ku lihat
pria tersebut, segera berdiri, dan menyodorkan sebuah keranjang.
“Pakai ini saja mbak…” ujarnya sambil menyerahkan keranjang
tangan yang entah kenapa ada bersamanya, dan kemudian dia berlalu.
Aku belum sempat bertanya tentang namanya. Tapi pria
tersebut dengan cepat berlalu.
Pria tampan itu, menggunakan baju gamis warna biru.
Warna kesukaanku. Biru…
Dengan celana panjang berwarna hitam.
Wah, andai saja aku memiliki nomor kontaknya….
‘Hadehh…’ batinku menyesal…
Lho, kenapa aku menyesal…
Apa aku jatuh cinta…?
‘Kayla… dirimu sudah di jodohkan lho sama si Arkan… kenapa
pula malah memikirkan cowok lain…’ batinku.
‘Ahhhh… kenapa sih aku tidak bisa menikmati hidupku sendiri…
kenapa aku tidak bisa menemukan cintaku sendiri…’ sesalku dalam hati. Pikiranku
terhenti ketika mendengar suara mama. Mama kebingungan tidak menemukanku di
__ADS_1
dalam toko. Dilihat mama aku sedang berada di luar, dan mama memanggil.
“Siap ma, Tasya kesana…” sahutku.