
Nada yang konstan dari pergerakan jarum jam dinding, seakan
seperti alunan musik bagi ku. Ku hayati bunyi dentang jam, dan terasa semakin
keras suaranya terdengar di telingaku. Malah kemudian rasanya seperti mendengar
musik Marron 6.
Eh, musik Marron 6…
Itu kan nada dering di ponselku jika ada yang menelepon dari
kafe.
Ponselku memang ku stel sedemikian sehingga, jika ada yang
menelepon, maka dari nada deringnya aku langsung tahu siapa yang menelepon.
Misalnya Mama, aku pasang nada dering si Mellow, “Bunda”.
Misalkan Papa yang menelepon, aku pasang nada dering “Papaku
Yang Terhebat”
Misalkan Kafe yang menelepon, aku pasang nada dering Maroon
6.
Kalau personel Geng Princess yang menelepon, juga ada nada
deringnya khusus.
Bahkan si My Hell, mendapat nada dering khusus, yakni “Ku
Menangissss….. membayangkan…”
Dan juga ada nada dering khusus, jika yang menelepon orang
yang tidak di kenal.
Nah, yang saat ini bordering adalah nada Marron 6.
__ADS_1
Berarti ada hal yang penting di kafe yang terjadi.
Biasanya aku menyuruh para pegawai kafe, hanya menggunakan
telepon kafe, jika ada kendala darurat. Jika tidak ada, harusnya bisa
menggunakan pesan tulisan saja.
“Iya halo, ada apa san?” balasku setelah di ujung telepon
sana, seorang wanita yang bernama Susan mengucapkan halo.
“Bu, ada terjadi sesuatu di sini bu. Ibu mending segera
kemari ya bu….” Ucap Susan dengan cemas. Di latar belakang, aku mendengar ada
pecahan gelas. Wah, ada apa yang terjadi di kafe ku. Siapa berani buat
keributan di Kota J ini? Adakah yang berani melawan Jabura Grup?
Kemudian, Susan menyebutkan satu nama si pembuat onar.
Aku seperti tersambar petir. Walaupun petir yang tidak
segera bisa memahami situasi.
“Baik san, aku segera kesana…” kataku sambil mematikan
telepon.
Aku segera bangkit dari kursi, yang mengejutkan Mama. Aku
segera menyambar kunci mobilku, sebelum berhenti karena Mama memanggil. Papa
saat ini sedang di gerbang rumah, menunggu kehadiran Pak Sukarta.
“Sya, mau kemana… Pak Sukarta sudah di depan komplek lho…
sedang menuju kemari…” Tanya Mama bingung. Dilihatnya tadi aku telah selesai
bersiap – siap untuk menyambut calon mertua. Tapi kenapa setelah yang ditunggu
__ADS_1
mau sampai, malah pergi.
“Ada masalah di kafe, Pa, Ma… Tasya harus segera
menyelesaikannya. Mintakan maaf ke pak Sukarta ya Ma. Beliau pasti mengerti.
Toh, ini bukan acara perjumpaan calon pengantin…” jelasku ingin segera pergi
dari rumah itu.
“Emang masalah apa nak? Apa pegawai tidak ada yang bisa
menyelesaikan? Sudah mengatakan bahwa kafe adalah anak perusahaan Jabura Grup?”
ulang Mama lagi memastikan.
“Sudah ma, tapi ini si Doni ma…” jawabku pasrah. Aku tidak
menunggu jawaban mama. Aku langsung bergegas menuju mobil ku.
Mama terdiam mendengar nama itu. Doni. Maka kenal siapa
Doni. Doni adalah pacar singkatku kemarin. Pewaris perusahaan Konveksi terbesar
di Kota J. Mama tidak tahu, masalah apa yang di timbulkan Doni, tetapi
sepertinya, membiarkan Tasya menyelesaikan masalah itu sendiri, sepertinya
lebih baik.
Aku sudah menaiki mobilku.
Ketika aku menginjak pedal gas mobilku, sebuah mobil secara
bersamaan masuk ke dalam rumahku. Karena area parkir yang luas, jadi kami tidak
lah mungkin bertabrakan. Ku pacu kendaraanku, tetapi sekilas aku melihat mobil
pak Sukarta. Aku mendapati melihat wajah yang familier di kursi di samping pak
Sukarta.
__ADS_1
Koq rasanya pernah lihat…
Familier sekali….