Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 17


__ADS_3

Nada yang konstan dari pergerakan jarum jam dinding, seakan


seperti alunan musik bagi ku. Ku hayati bunyi dentang jam, dan terasa semakin


keras suaranya terdengar di telingaku. Malah kemudian rasanya seperti mendengar


musik Marron 6.


Eh, musik Marron 6…


Itu kan nada dering di ponselku jika ada yang menelepon dari


kafe.


Ponselku memang ku stel sedemikian sehingga, jika ada yang


menelepon, maka dari nada deringnya aku langsung tahu siapa yang menelepon.


Misalnya Mama, aku pasang nada dering si Mellow, “Bunda”.


Misalkan Papa yang menelepon, aku pasang nada dering “Papaku


Yang Terhebat”


Misalkan Kafe yang menelepon, aku pasang nada dering Maroon


6.


Kalau personel Geng Princess yang menelepon, juga ada nada


deringnya khusus.


Bahkan si My Hell, mendapat nada dering khusus, yakni “Ku


Menangissss….. membayangkan…”


Dan juga ada nada dering khusus, jika yang menelepon orang


yang tidak di kenal.


Nah, yang saat ini bordering adalah nada Marron 6.

__ADS_1


Berarti ada hal yang penting di kafe yang terjadi.


Biasanya aku menyuruh para pegawai kafe, hanya menggunakan


telepon kafe, jika ada kendala darurat. Jika tidak ada, harusnya bisa


menggunakan pesan tulisan saja.


“Iya halo, ada apa san?” balasku setelah di ujung telepon


sana, seorang wanita yang bernama Susan mengucapkan halo.


“Bu, ada terjadi sesuatu di sini bu. Ibu mending segera


kemari ya bu….” Ucap Susan dengan cemas. Di latar belakang, aku mendengar ada


pecahan gelas. Wah, ada apa yang terjadi di kafe ku. Siapa berani buat


keributan di Kota J ini? Adakah yang berani melawan Jabura Grup?


Kemudian, Susan menyebutkan satu nama si pembuat onar.


Aku seperti tersambar petir. Walaupun petir yang tidak


segera bisa memahami situasi.


“Baik san, aku segera kesana…” kataku sambil mematikan


telepon.


Aku segera bangkit dari kursi, yang mengejutkan Mama. Aku


segera menyambar kunci mobilku, sebelum berhenti karena Mama memanggil. Papa


saat ini sedang di gerbang rumah, menunggu kehadiran Pak Sukarta.


“Sya, mau kemana… Pak Sukarta sudah di depan komplek lho…


sedang menuju kemari…” Tanya Mama bingung. Dilihatnya tadi aku telah selesai


bersiap – siap untuk menyambut calon mertua. Tapi kenapa setelah yang ditunggu

__ADS_1


mau sampai, malah pergi.


“Ada masalah di kafe, Pa, Ma… Tasya harus segera


menyelesaikannya. Mintakan maaf ke pak Sukarta ya Ma. Beliau pasti mengerti.


Toh, ini bukan acara perjumpaan calon pengantin…” jelasku ingin segera pergi


dari rumah itu.


“Emang masalah apa nak? Apa pegawai tidak ada yang bisa


menyelesaikan? Sudah mengatakan bahwa kafe adalah anak perusahaan Jabura Grup?”


ulang Mama lagi memastikan.


“Sudah ma, tapi ini si Doni ma…” jawabku pasrah. Aku tidak


menunggu jawaban mama. Aku langsung bergegas menuju mobil ku.


Mama terdiam mendengar nama itu. Doni. Maka kenal siapa


Doni. Doni adalah pacar singkatku kemarin. Pewaris perusahaan Konveksi terbesar


di Kota J. Mama tidak tahu, masalah apa yang di timbulkan Doni, tetapi


sepertinya, membiarkan Tasya menyelesaikan masalah itu sendiri, sepertinya


lebih baik.


Aku sudah menaiki mobilku.


Ketika aku menginjak pedal gas mobilku, sebuah mobil secara


bersamaan masuk ke dalam rumahku. Karena area parkir yang luas, jadi kami tidak


lah mungkin bertabrakan. Ku pacu kendaraanku, tetapi sekilas aku melihat mobil


pak Sukarta. Aku mendapati melihat wajah yang familier di kursi di samping pak


Sukarta.

__ADS_1


Koq rasanya pernah lihat…


Familier sekali….


__ADS_2