Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 7


__ADS_3

Buru – buru bang Tama tersadar dari


pemikirannya. Kemudian, dia segera menarik tangan temannya, langsung menuju


tangga ke lantai 2 yang terletak di kanan pintu masuk. Kawannya terlihat sudah


menyelesaikan teleponnya dengan ayahnya. Ikut bergerak ke lantai atas dengan


kesal sepertinya, karena aku tidak bisa menatap wajahnya. Aku pun segera


kembali mengalihkan pandanganku, melihat ke Papa dan Mama. Papa dan Mama juga


sudah kembali ke saat ini.


Mereka tidak heran dengan kebiasaan


anak mereka yang sering sekali di datangi teman mereka. Baik sekedar


berbincang, bermain game, ataupun sampai untuk menginap. Tapi mungkin baru kali


ini mereka mendengar teman Tama berteriak di dekat mereka.


Oh ya, perkenalkan sekali lagi ya.


Abang ku itu, sangat – sangat berbeda dengan Papa dan diriku. Di saat diriku


menanjak ke tangga sosial dengan membuka usaha kafe, yang tidak jauh dari jalan


Papa, bang Tama malah tidak sama sekali mengikuti jalan Papa. Bang Tama juga melakukan


usaha, tetapi tidak di bidang properti ataupun makanan, lebih ke bidang


Teknologi. Bang Tama kuliah di jurusan Informatika, dan bersama tim nya,


berhasil membuat salah satu start – up yang cukup terkenal di Negara I. Bang


Tama merupakan CEO pada perusahaan start – up nya tersebut. Setelah berhasil,


Bang Tama akhirnya sudah bisa seperti “menikmati hidup”. Tidak mesti pergi ke

__ADS_1


kantor, menggunakan seragam, jas, dan memiliki jam kerja.


Bang Tama juga memiliki sifat yang


rajin berbagi. Sejak usahanya sukses, beliau dan tim kerjanya, kerap berbagi


dengan yang tidak mampu. Bahkan mereka melakukan penggalangan dana pada start –


up mereka untuk warga yang tidak mampu. Bang Tama juga sering berjumpa temannya


yak arena hal ini. Banyak yang ingin menjadi donatur, ataupun bekerja sama


dalam beberapa event tertentu. Tidak terkecuali hari ini, Papa dan Mama pun


menganggap teman Bang Tama yang datang hari ini juga untuk hal yang sama. Papa


dan Mama juga tidak sempat melihat wajah teman Bang Tama. Padahal kalau Papa dan


Mama melihatnya, pasti Papa dan Mama akan mengenal teman Bang Tama tersebut.


Kembali ke saya yaa…


akan mencoba berkenalan dengan Arkan. Besok Tasya akan mencoba menghubungi


Arkan, Pa, untuk memulai perkenalan.” Sahutku akhirnya setelah sekian lama


berpikir.


“Baik nak, nanti Papa akan kirim


nomor HP Arkan kepada Tasya.” kata Papa.


Aku langsung bangkit berjalan menuju


kamarku.


‘Biarlah, jalani saja. Ingat, tidak


semua yang kita nilai buruk, benar – benar buruk untuk kita, karena Allah tahu

__ADS_1


mana yang terbaik untuk hambanya’ batinku sesaat setelah merebahkan badan di


tempat tidur.


‘Lupakan… lupakan… Semangat Semangat


Oke…’


Saatnya tidur…


***


[Hai…]


Aku mengirim chat Wa ke nomor Arkan


yang sudah di kirim Papa. Sambil duduk manis di pojok kafe, dan menyeruput kopi


khusus yang diriku buat begitu sampai ke kafe. Kopi ‘Galau’ kunamakan. Karena


membuatnya sedang tidak dalam mood. Not On Mood..


Aku menunggu sekian lama..


Tidak ada balasan..


Oh, iya, aku tidak memberikan nama


pengirim. Walaupun bahasanya diriku termasuk sosialita ya bahasanya, tetapi


dari kecil, kami di ajarkan untuk tetap memiliki sopan santun sedari kecil.


Papa dan Mama sangat tidak menyukai anaknya yang tidak memiliki sopan santun,


baik dalam bertutur maupun berbuat.


[Hai… Mohon maaf sebelumnya..]


[Perkenalkan, nama saya Kayla..]

__ADS_1


__ADS_2