
Buru – buru bang Tama tersadar dari
pemikirannya. Kemudian, dia segera menarik tangan temannya, langsung menuju
tangga ke lantai 2 yang terletak di kanan pintu masuk. Kawannya terlihat sudah
menyelesaikan teleponnya dengan ayahnya. Ikut bergerak ke lantai atas dengan
kesal sepertinya, karena aku tidak bisa menatap wajahnya. Aku pun segera
kembali mengalihkan pandanganku, melihat ke Papa dan Mama. Papa dan Mama juga
sudah kembali ke saat ini.
Mereka tidak heran dengan kebiasaan
anak mereka yang sering sekali di datangi teman mereka. Baik sekedar
berbincang, bermain game, ataupun sampai untuk menginap. Tapi mungkin baru kali
ini mereka mendengar teman Tama berteriak di dekat mereka.
Oh ya, perkenalkan sekali lagi ya.
Abang ku itu, sangat – sangat berbeda dengan Papa dan diriku. Di saat diriku
menanjak ke tangga sosial dengan membuka usaha kafe, yang tidak jauh dari jalan
Papa, bang Tama malah tidak sama sekali mengikuti jalan Papa. Bang Tama juga melakukan
usaha, tetapi tidak di bidang properti ataupun makanan, lebih ke bidang
Teknologi. Bang Tama kuliah di jurusan Informatika, dan bersama tim nya,
berhasil membuat salah satu start – up yang cukup terkenal di Negara I. Bang
Tama merupakan CEO pada perusahaan start – up nya tersebut. Setelah berhasil,
Bang Tama akhirnya sudah bisa seperti “menikmati hidup”. Tidak mesti pergi ke
__ADS_1
kantor, menggunakan seragam, jas, dan memiliki jam kerja.
Bang Tama juga memiliki sifat yang
rajin berbagi. Sejak usahanya sukses, beliau dan tim kerjanya, kerap berbagi
dengan yang tidak mampu. Bahkan mereka melakukan penggalangan dana pada start –
up mereka untuk warga yang tidak mampu. Bang Tama juga sering berjumpa temannya
yak arena hal ini. Banyak yang ingin menjadi donatur, ataupun bekerja sama
dalam beberapa event tertentu. Tidak terkecuali hari ini, Papa dan Mama pun
menganggap teman Bang Tama yang datang hari ini juga untuk hal yang sama. Papa
dan Mama juga tidak sempat melihat wajah teman Bang Tama. Padahal kalau Papa dan
Mama melihatnya, pasti Papa dan Mama akan mengenal teman Bang Tama tersebut.
Kembali ke saya yaa…
akan mencoba berkenalan dengan Arkan. Besok Tasya akan mencoba menghubungi
Arkan, Pa, untuk memulai perkenalan.” Sahutku akhirnya setelah sekian lama
berpikir.
“Baik nak, nanti Papa akan kirim
nomor HP Arkan kepada Tasya.” kata Papa.
Aku langsung bangkit berjalan menuju
kamarku.
‘Biarlah, jalani saja. Ingat, tidak
semua yang kita nilai buruk, benar – benar buruk untuk kita, karena Allah tahu
__ADS_1
mana yang terbaik untuk hambanya’ batinku sesaat setelah merebahkan badan di
tempat tidur.
‘Lupakan… lupakan… Semangat Semangat
Oke…’
Saatnya tidur…
***
[Hai…]
Aku mengirim chat Wa ke nomor Arkan
yang sudah di kirim Papa. Sambil duduk manis di pojok kafe, dan menyeruput kopi
khusus yang diriku buat begitu sampai ke kafe. Kopi ‘Galau’ kunamakan. Karena
membuatnya sedang tidak dalam mood. Not On Mood..
Aku menunggu sekian lama..
Tidak ada balasan..
Oh, iya, aku tidak memberikan nama
pengirim. Walaupun bahasanya diriku termasuk sosialita ya bahasanya, tetapi
dari kecil, kami di ajarkan untuk tetap memiliki sopan santun sedari kecil.
Papa dan Mama sangat tidak menyukai anaknya yang tidak memiliki sopan santun,
baik dalam bertutur maupun berbuat.
[Hai… Mohon maaf sebelumnya..]
[Perkenalkan, nama saya Kayla..]
__ADS_1