Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 4


__ADS_3

Aku kemudian duduk di kursi tamu, di samping papa, tetapi tanganku masih


asik memegang ponsel, dikarenakan masih ada pembahasan tentang perluasan kafe


di grup wa. Pak Sukarta terlihat sedikit menggeleng dengan tingkahku, dan


kemudian dia tersenyum. Mungkin sedang memikirkan sesuatu.


Jadi apa yang penting dengan Pak Sukarta?


Apa hubungan dengan pernikahanku?


Apa aku akan dinikahkan dengan pak Sukarta?


Yang benar saja. Zaman apa ini aku dinikahkan sama orang tua yang seumuran


dengan Papa ku.


Tetapi kesadaran lainnya memasuki pikiranku. Bukan pak Sukarta yang akan


menikahiku. Tidak mungkin lah beliau. Tetapi anaknya. Iya, anaknya benar.


Saat itu aku ingat Papa berkata.


“Tasya, sesuai janji Papa dan Pak Sukarta dulu pada masa kuliah, kami berjanji


akan menikahkan anak – anak kami untuk mempererat persahabatan kami. Karena


anak pak Sukarta cuma 1 dan anaknya laki – laki, maka Papa berencana menikahkan


anak beliau dengan kamu. Kamu setuju kan?” tanya Papa saat itu.


Papa sudah lama mengetahui anak Pak Sukarta laki – laki. Tapi Papa tidak


memiliki inisiatif untuk membicarakan pernikahanku. Papa malah berusaha untuk

__ADS_1


tidak membahas perjodohan itu setiap kudengar Mama bertanya di satu kesempatan,


karena beliau tau sifatku yang bebas. Papa yakin diriku akan sangat menolak


dengan perjodohan. Makanya Papa tidak sering berhubungan dengan Pak Sukarta,


agar masalah Perjodohan hilang tergerus waktu. Tetapi akhirnya Pak Sukarta yang


langsung menjumpai Papa. Papa hanya bisa berdoa dalam hati, agar semua yang terjadi,


bisa terjadi dengan baik. Karena ini menyangkut keluarga dan pertemanan.


“Ooo, oke Pa… Tasya setuju apa pun yang Papa katakan,” jawabku asal saat


itu. Sumpah aku tidak sadar dengan kalimatku. Ku pikir saat itu, Papa akan


bercerita tentang masalah bisnis, dan memang saat itu juga, diriku sibuk


membalas pesan di ponsel ku. Akhirnya, terucaplah dari mulut spontan ku seperti


Papa juga terkejut dengan jawabanku. Dia merasa bahwa aku akan langsung


terpancing untuk menjawab tidak, karena itu masalah perjodohan diriku, tetapi


kemudian Papa hanya menganggap diriku, anak yang baik hati, yang memahami


perasaan orang tuanya, untuk menjaga harga diri Papa nya di depan temannya.


Papa tidak berencana bertanya ulang kepadaku atas masalah itu.


Papa tersenyum kepada Pak Sukarta. Pak Sukarta juga turut bahagia karena


diriku menyetujuinya. Senyum mengembang dari wajah Pak Sukarta. Kedatangannya


hari ini, berarti tidak sia – sia. Akhirnya dia bisa menuntaskan janjinya, dan

__ADS_1


siap memberikan anak semata wayangnya untuk menjadi menantu di keluarga


temannya.


“Terima kasih ya Nak Kayla, Om sangat senang. Om akan melakukan persiapan


dengan matang, dan kita jumpa lagi bulan depan ya nak. Om pamit dulu, sudah


kemalaman, …” Pak Sukarta pamit untuk pulang. Jarak kota J dan Kota M memang


cukup jauh. Menggunakan mobil saja, bisa memakan waktu sekitaran 4 - 5 jam.


Itupun kalau tidak ada kendala dengan lampu lalu lintas.


“Baik Pak, hati – hati di jalan,” sahutku sambil mengambil tangan Pak


Sukarta. Lalu ku cium tangan Pak Sukarta, selayaknya anak kecil meminta berkah


dari orang tua.


Papa dan Pak Sukarta tentu saja


terkejut dengan reaksiku. Mereka lama saling berpandangan dan kemudian sama


sama tersenyum. Dalam hati mereka mungkin, aku sudah menerima Pak Sukarta sebagai


ayah mertua, sementara yang ku lakukan hanyalah sebuah sopan santun seorang


anak kepada orang yang lebih tua. Tidak lebih. Tapi ternyata, hal sederhana


begitu, menimbulkan defenisi yang berbeda kepada kedua orang tua. Setelah Pak


Sukarta menaiki mobilnya, aku langsung naik ke kamarku tanpa bertanya lagi


tentang hal apa yang di bahas tadi oleh Papa.

__ADS_1


__ADS_2