
Aku kemudian duduk di kursi tamu, di samping papa, tetapi tanganku masih
asik memegang ponsel, dikarenakan masih ada pembahasan tentang perluasan kafe
di grup wa. Pak Sukarta terlihat sedikit menggeleng dengan tingkahku, dan
kemudian dia tersenyum. Mungkin sedang memikirkan sesuatu.
Jadi apa yang penting dengan Pak Sukarta?
Apa hubungan dengan pernikahanku?
Apa aku akan dinikahkan dengan pak Sukarta?
Yang benar saja. Zaman apa ini aku dinikahkan sama orang tua yang seumuran
dengan Papa ku.
Tetapi kesadaran lainnya memasuki pikiranku. Bukan pak Sukarta yang akan
menikahiku. Tidak mungkin lah beliau. Tetapi anaknya. Iya, anaknya benar.
Saat itu aku ingat Papa berkata.
“Tasya, sesuai janji Papa dan Pak Sukarta dulu pada masa kuliah, kami berjanji
akan menikahkan anak – anak kami untuk mempererat persahabatan kami. Karena
anak pak Sukarta cuma 1 dan anaknya laki – laki, maka Papa berencana menikahkan
anak beliau dengan kamu. Kamu setuju kan?” tanya Papa saat itu.
Papa sudah lama mengetahui anak Pak Sukarta laki – laki. Tapi Papa tidak
memiliki inisiatif untuk membicarakan pernikahanku. Papa malah berusaha untuk
__ADS_1
tidak membahas perjodohan itu setiap kudengar Mama bertanya di satu kesempatan,
karena beliau tau sifatku yang bebas. Papa yakin diriku akan sangat menolak
dengan perjodohan. Makanya Papa tidak sering berhubungan dengan Pak Sukarta,
agar masalah Perjodohan hilang tergerus waktu. Tetapi akhirnya Pak Sukarta yang
langsung menjumpai Papa. Papa hanya bisa berdoa dalam hati, agar semua yang terjadi,
bisa terjadi dengan baik. Karena ini menyangkut keluarga dan pertemanan.
“Ooo, oke Pa… Tasya setuju apa pun yang Papa katakan,” jawabku asal saat
itu. Sumpah aku tidak sadar dengan kalimatku. Ku pikir saat itu, Papa akan
bercerita tentang masalah bisnis, dan memang saat itu juga, diriku sibuk
membalas pesan di ponsel ku. Akhirnya, terucaplah dari mulut spontan ku seperti
Papa juga terkejut dengan jawabanku. Dia merasa bahwa aku akan langsung
terpancing untuk menjawab tidak, karena itu masalah perjodohan diriku, tetapi
kemudian Papa hanya menganggap diriku, anak yang baik hati, yang memahami
perasaan orang tuanya, untuk menjaga harga diri Papa nya di depan temannya.
Papa tidak berencana bertanya ulang kepadaku atas masalah itu.
Papa tersenyum kepada Pak Sukarta. Pak Sukarta juga turut bahagia karena
diriku menyetujuinya. Senyum mengembang dari wajah Pak Sukarta. Kedatangannya
hari ini, berarti tidak sia – sia. Akhirnya dia bisa menuntaskan janjinya, dan
__ADS_1
siap memberikan anak semata wayangnya untuk menjadi menantu di keluarga
temannya.
“Terima kasih ya Nak Kayla, Om sangat senang. Om akan melakukan persiapan
dengan matang, dan kita jumpa lagi bulan depan ya nak. Om pamit dulu, sudah
kemalaman, …” Pak Sukarta pamit untuk pulang. Jarak kota J dan Kota M memang
cukup jauh. Menggunakan mobil saja, bisa memakan waktu sekitaran 4 - 5 jam.
Itupun kalau tidak ada kendala dengan lampu lalu lintas.
“Baik Pak, hati – hati di jalan,” sahutku sambil mengambil tangan Pak
Sukarta. Lalu ku cium tangan Pak Sukarta, selayaknya anak kecil meminta berkah
dari orang tua.
Papa dan Pak Sukarta tentu saja
terkejut dengan reaksiku. Mereka lama saling berpandangan dan kemudian sama
sama tersenyum. Dalam hati mereka mungkin, aku sudah menerima Pak Sukarta sebagai
ayah mertua, sementara yang ku lakukan hanyalah sebuah sopan santun seorang
anak kepada orang yang lebih tua. Tidak lebih. Tapi ternyata, hal sederhana
begitu, menimbulkan defenisi yang berbeda kepada kedua orang tua. Setelah Pak
Sukarta menaiki mobilnya, aku langsung naik ke kamarku tanpa bertanya lagi
tentang hal apa yang di bahas tadi oleh Papa.
__ADS_1