
Segera, kami tiba di
kampung X.
Kulihat spanduk ucapan
selamat datang, melintang di atas jalan masuk menuju kampung X. Kubaca
tulisannya yang berbunyi seperti ini:
“Selamat datang dan
terima kasih kepada Jabura Grup dan Sukarta Grup dalam pembangunan di Kampung
X”
Berarti sesuai kata
Papa, Sukarta Grup juga berpartisipasi di acara bulanan Jabura Grup. Artinya,
sudah hampir deal lah ini ya kesepakatan Jabura Grup dan Sukarta Grup dalam
menjodohkan anak – anak mereka.
Aku segera turun dari
mobil, dan membuka pintu untuk Mama. Sementara pintu mobil Papa, di buka oleh
pak supir.
Papa, Mama dan diriku
tentunya, berjalan segera menuju pos tempat tim berkumpul. Setelah hampir
disalam orang segenap pengurus kampung, Papa akhirnya bisa masuk ke dalam
ruangan pos. Di dalamnya sudah ada pak Sukarta yang sedang duduk berbincang
dengan seorang wanita. Aku pun penasaran dengan wanita tersebut.
Aku mendekat bersama
Papa dan Mama menuju meja pak Sukarta. Tetapi mataku, tetap tidak lepas dari
wanita tersebut. Pak Sukarta melihat kami dan segera bangkit dari duduknya
__ADS_1
untuk menyambut kami. Wanita tersebut juga berdiri, dan tersenyum kepada Papa
dan Mama. Ketika wanita tersebut menatapku, aku bisa melihat ekspresi
keterkejutan pada wajahnya. Tetapi hanya sekilas, dan kemudian dia kembali
tersenyum.
“Pak Jabura, Ibu,
Kayla, silahkan duduk…” Pak Sukarta duduk kembali dan mempersilahkan Papa untuk
duduk.
“Mohon maaf sebelumnya
pak Jabura, Arkan tidak bisa hadir hari ini, karena hal mendesak tentang
perusahaan yang hanya Arkan yang bisa menyelesaikannya. Hari ini, saya datang
bersama asisten marketing Sukarta Grup. Ayooo, Fiza, kenalkan diri dulu ke pak
Jabura,” ucap pak Sukarta kepada Fiza.
wanita bernama lengkap Hafizah Nur Zahra tersebut. Kenapa aku tahu nama
lengkapnya? Ya karena dia barusan memperkenalkan nama lengkapnya kepada Papa
dan Mama.
“… Jadi disini Pak,
Bu, Fiza akan membantu atas perintah Pak Sukarta. Mohon arahan Bapak dan Ibu,
apa yang bisa dilakukan oleh tim dari Sukarta Grup…” ucap Fiza mengakhiri
perkenalannya.
Aku yang sedari tadi
memandang Fiza sedari awal memperkenalkan diri kepada Papa dan Mama, dan juga
setelah mengakhirinya, akhirnya menyadari dimana aku pernah ketemu dengan nya.
Aku ingat…
__ADS_1
Aku ketemu Fiza, atau
lebih tepatnya melihat Fiza saat itu di restoran.
Fiza adalah si wanita
cantik senyum datar.
Yang kebanyakan
datarnya ketimbang senyumnya.
Tetapi hari ini sangat
– sangat beda dirinya.
Fiza hari ini, yang
berada di depanku, sangat murah senyum. Cantik, ber hijab, dan murah senyum.
Tipe wanita yang menjadi incaran ke iri an ku.
Setelah memperkenalkan
dirinya, Fiza salim kepada Papa dan Mama, dan juga berjabat tangan denganku.
Aku bisa merasakan Fiza memang menyalamiku dengan tulus, tetapi kenapa rasanya
ada yang lain. Apakah insting wanita ku yang menyatakan ada masalah kepada Fiza
setelah melihatku. Aku tidak tahu juga solusi yang bisa diberikan, karena
memang aku tidak mengetahui permasalahan.
Setelah menyusun
rencana kegiatan, akhirnya proyek bersama di kampung X dilaksanakan. Aku bisa
memperhatikan sigapnya Fiza mengatur tim kerjanya. Semua bisa di atur dengan
senyuman. Aku melihat Fiza bisa memotivasi pekerja dalam tim nya, sehingga bisa
bekerja dengan optimal. Hal tersebut juga sering aku lakukan kepada pegawaiku,
sehingga aku merasa mereka loyal padaku.
__ADS_1