Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 25


__ADS_3

Segera, kami tiba di


kampung X.


Kulihat spanduk ucapan


selamat datang, melintang di atas jalan masuk menuju kampung X. Kubaca


tulisannya yang berbunyi seperti ini:


“Selamat datang dan


terima kasih kepada Jabura Grup dan Sukarta Grup dalam pembangunan di Kampung


X”


Berarti sesuai kata


Papa, Sukarta Grup juga berpartisipasi di acara bulanan Jabura Grup. Artinya,


sudah hampir deal lah ini ya kesepakatan Jabura Grup dan Sukarta Grup dalam


menjodohkan anak – anak mereka.


Aku segera turun dari


mobil, dan membuka pintu untuk Mama. Sementara pintu mobil Papa, di buka oleh


pak supir.


Papa, Mama dan diriku


tentunya, berjalan segera menuju pos tempat tim berkumpul. Setelah hampir


disalam orang segenap pengurus kampung, Papa akhirnya bisa masuk ke dalam


ruangan pos. Di dalamnya sudah ada pak Sukarta yang sedang duduk berbincang


dengan seorang wanita. Aku pun penasaran dengan wanita tersebut.


Aku mendekat bersama


Papa dan Mama menuju meja pak Sukarta. Tetapi mataku, tetap tidak lepas dari


wanita tersebut. Pak Sukarta melihat kami dan segera bangkit dari duduknya

__ADS_1


untuk menyambut kami. Wanita tersebut juga berdiri, dan tersenyum kepada Papa


dan Mama. Ketika wanita tersebut menatapku, aku bisa melihat ekspresi


keterkejutan pada wajahnya. Tetapi hanya sekilas, dan kemudian dia kembali


tersenyum.


“Pak Jabura, Ibu,


Kayla, silahkan duduk…” Pak Sukarta duduk kembali dan mempersilahkan Papa untuk


duduk.


“Mohon maaf sebelumnya


pak Jabura, Arkan tidak bisa hadir hari ini, karena hal mendesak tentang


perusahaan yang hanya Arkan yang bisa menyelesaikannya. Hari ini, saya datang


bersama asisten marketing Sukarta Grup. Ayooo, Fiza, kenalkan diri dulu ke pak


Jabura,” ucap pak Sukarta kepada Fiza.


wanita bernama lengkap Hafizah Nur Zahra tersebut. Kenapa aku tahu nama


lengkapnya? Ya karena dia barusan memperkenalkan nama lengkapnya kepada Papa


dan Mama.


“… Jadi disini Pak,


Bu, Fiza akan membantu atas perintah Pak Sukarta. Mohon arahan Bapak dan Ibu,


apa yang bisa dilakukan oleh tim dari Sukarta Grup…” ucap Fiza mengakhiri


perkenalannya.


Aku yang sedari tadi


memandang Fiza sedari awal memperkenalkan diri kepada Papa dan Mama, dan juga


setelah mengakhirinya, akhirnya menyadari dimana aku pernah ketemu dengan nya.


Aku ingat…

__ADS_1


Aku ketemu Fiza, atau


lebih tepatnya melihat Fiza saat itu di restoran.


Fiza adalah si wanita


cantik senyum datar.


Yang kebanyakan


datarnya ketimbang senyumnya.


Tetapi hari ini sangat


– sangat beda dirinya.


Fiza hari ini, yang


berada di depanku, sangat murah senyum. Cantik, ber hijab, dan murah senyum.


Tipe wanita yang menjadi incaran ke iri an ku.


Setelah memperkenalkan


dirinya, Fiza salim kepada Papa dan Mama, dan juga berjabat tangan denganku.


Aku bisa merasakan Fiza memang menyalamiku dengan tulus, tetapi kenapa rasanya


ada yang lain. Apakah insting wanita ku yang menyatakan ada masalah kepada Fiza


setelah melihatku. Aku tidak tahu juga solusi yang bisa diberikan, karena


memang aku tidak mengetahui permasalahan.


Setelah menyusun


rencana kegiatan, akhirnya proyek bersama di kampung X dilaksanakan. Aku bisa


memperhatikan sigapnya Fiza mengatur tim kerjanya. Semua bisa di atur dengan


senyuman. Aku melihat Fiza bisa memotivasi pekerja dalam tim nya, sehingga bisa


bekerja dengan optimal. Hal tersebut juga sering aku lakukan kepada pegawaiku,


sehingga aku merasa mereka loyal padaku.

__ADS_1


__ADS_2