Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 19


__ADS_3

Dion sebenarnya sangat tampan, sehingga dahulu, aku mau


menjadi pacarnya, walau hanya untuk beberapa minggu. Hal yang tidak aku suka


dari Dion, salah satu nya ya ini. Keras kepala dan suka menghancurkan sesuatu


kalau marah. Bayangkan kalau aku menikah dengannya dan dia dalam mood yang


sedang tidak baik, apa aku tidak di mutilasi akhirnya sama di Dion. Padahal aku


sangat menjaga tubuhku. Tubuhku, asetku. Bayangkan jika ada bekas lima jari


pada pipiku atau ada biru – biru bekas lebam pada tubuhku. Hiii… membayangkan


nya saja sudah merinding.


CLING…


Bunyi pintu terbuka.


Aku sengaja memasang gantungan yang bisa menimbulkan bunyi


di pintu masuk, agar pegawai kafe, tahu ada pelanggan yang datang dan keluar.


Segera, hampir semua mata memandang ke pintu masuk.


Ku perhatikan tatapan beberapa pria kepadaku hampir tidak


berkedip. Mulut mereka mungkin bisa dimasuki telur ayam bulat utuh jika


diperhatikan ketika mereka melihatku. Aku tersenyum melihat reaksi mereka.


Wajar saja. Aku sudah bersiap dan berdandan hari ini untuk bertemu dengan si My


Hell. Tetapi ternyata ada masalah di kafe yang menyebabkan aku menunda


perjumpaanku dengan Arkan Sukarta itu.

__ADS_1


Saat itu, Dion sedang membelakangi ku. Dion Bagugu. Pewaris


dari Bagugu grup. Orangnya memiliki tinggi 180an, memiliki badan atletis,


karena Dion suka bermain basket. Banyak sebenarnya fans wanita dari Dion,


tetapi Dion sendiri tidak pernah serius berpacaran dengan seorang gadis.


Kecuali diriku, gombalnya saat itu. Dion sudah menjadi temanku sejak sekolah


menengah, walaupun kami terpisah pada saat kuliah, tetap saja komunikasi kami


terus berjalan. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti berpacaran, saat


itu lah kami sudah menjaga waktu untuk saling menghubungi.


Dion segera berbalik melihat ke arah pintu. Penasaran siapa


yang datang. Apakah yang di tunggu nya sudah datang.


Ternyata hal lucu malah terjadi.


Melihatku, Dion jadi berdiri diam, dengan wajah seperti


orang yang tidak pernah melihat cewek cantik. Mungkin, bakso beranak bisa


dipaksa masuk ke mulutnya saat itu.


Setelah beberapa detik, akhirnya dia sadar.


Bukannya tersenyum melihatku, kemarahannya makin muncul


Di depan ku, kulihat dia mengambil sebuah gelas dari meja


pelanggan yang sudah pergi dan belum di bersihkan oleh pegawai. Mungkin pegawai


tidak sempat membersihkan karena Dion datang mengacaukan suasana.

__ADS_1


Kulihat Dion mengangkat gelas itu ke udara, dan dengan


kesal, membantingkan gelas tersebut ke lantai.


Sayang beribu sayang, gelas yang diambil Dion tidak pecah


berkeping – keping. Aku memang sengaja membeli peralatan di kafe dengan yang


safety punya. Tapi yang seperti asli. Jadi gelas yang dipegang oleh Dion dan di


banting, bukan terbuat dari kaca asli, tetapi plastic, sehingga tidak pecah


saat di banting.


Ku perhatikan ke sekeliling, kerusakan yang di buat Dion.


Tidak parah, cuma meja kafe yang berubah posisi karena di


tendang. Kursi kafe yang dibiarkan terbuang di lantai, dan juga beberapa lantai


yang basah, karena ada tumpahan dari gelas.


‘Tidak ada yang parah nya, jadi kenapa pegawai ku pada heboh


terjadi kerusuhan yang menyebabkan diriku wajib datang’ batinku dalam hati.


‘Oh, mungkin mereka tidak berani mengusir Dion keluar kali,


takut menyinggung sepertinya…Baiklah, biar ku selesaikan ini…’ lanjutku dalam


hati sambil memandang Dion denga lekat.


“Dion…” ucapku yang segera terpotong oleh teriakan Dion.


Aku sendiri terkejut mendengar teriakan Dion, apalagi para


pelanggan.

__ADS_1


“KAYLA…. KAU MILIKKUUUUUU…” teriak Dion….


__ADS_2