
Dion sebenarnya sangat tampan, sehingga dahulu, aku mau
menjadi pacarnya, walau hanya untuk beberapa minggu. Hal yang tidak aku suka
dari Dion, salah satu nya ya ini. Keras kepala dan suka menghancurkan sesuatu
kalau marah. Bayangkan kalau aku menikah dengannya dan dia dalam mood yang
sedang tidak baik, apa aku tidak di mutilasi akhirnya sama di Dion. Padahal aku
sangat menjaga tubuhku. Tubuhku, asetku. Bayangkan jika ada bekas lima jari
pada pipiku atau ada biru – biru bekas lebam pada tubuhku. Hiii… membayangkan
nya saja sudah merinding.
CLING…
Bunyi pintu terbuka.
Aku sengaja memasang gantungan yang bisa menimbulkan bunyi
di pintu masuk, agar pegawai kafe, tahu ada pelanggan yang datang dan keluar.
Segera, hampir semua mata memandang ke pintu masuk.
Ku perhatikan tatapan beberapa pria kepadaku hampir tidak
berkedip. Mulut mereka mungkin bisa dimasuki telur ayam bulat utuh jika
diperhatikan ketika mereka melihatku. Aku tersenyum melihat reaksi mereka.
Wajar saja. Aku sudah bersiap dan berdandan hari ini untuk bertemu dengan si My
Hell. Tetapi ternyata ada masalah di kafe yang menyebabkan aku menunda
perjumpaanku dengan Arkan Sukarta itu.
__ADS_1
Saat itu, Dion sedang membelakangi ku. Dion Bagugu. Pewaris
dari Bagugu grup. Orangnya memiliki tinggi 180an, memiliki badan atletis,
karena Dion suka bermain basket. Banyak sebenarnya fans wanita dari Dion,
tetapi Dion sendiri tidak pernah serius berpacaran dengan seorang gadis.
Kecuali diriku, gombalnya saat itu. Dion sudah menjadi temanku sejak sekolah
menengah, walaupun kami terpisah pada saat kuliah, tetap saja komunikasi kami
terus berjalan. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti berpacaran, saat
itu lah kami sudah menjaga waktu untuk saling menghubungi.
Dion segera berbalik melihat ke arah pintu. Penasaran siapa
yang datang. Apakah yang di tunggu nya sudah datang.
Ternyata hal lucu malah terjadi.
Melihatku, Dion jadi berdiri diam, dengan wajah seperti
orang yang tidak pernah melihat cewek cantik. Mungkin, bakso beranak bisa
dipaksa masuk ke mulutnya saat itu.
Setelah beberapa detik, akhirnya dia sadar.
Bukannya tersenyum melihatku, kemarahannya makin muncul
Di depan ku, kulihat dia mengambil sebuah gelas dari meja
pelanggan yang sudah pergi dan belum di bersihkan oleh pegawai. Mungkin pegawai
tidak sempat membersihkan karena Dion datang mengacaukan suasana.
__ADS_1
Kulihat Dion mengangkat gelas itu ke udara, dan dengan
kesal, membantingkan gelas tersebut ke lantai.
Sayang beribu sayang, gelas yang diambil Dion tidak pecah
berkeping – keping. Aku memang sengaja membeli peralatan di kafe dengan yang
safety punya. Tapi yang seperti asli. Jadi gelas yang dipegang oleh Dion dan di
banting, bukan terbuat dari kaca asli, tetapi plastic, sehingga tidak pecah
saat di banting.
Ku perhatikan ke sekeliling, kerusakan yang di buat Dion.
Tidak parah, cuma meja kafe yang berubah posisi karena di
tendang. Kursi kafe yang dibiarkan terbuang di lantai, dan juga beberapa lantai
yang basah, karena ada tumpahan dari gelas.
‘Tidak ada yang parah nya, jadi kenapa pegawai ku pada heboh
terjadi kerusuhan yang menyebabkan diriku wajib datang’ batinku dalam hati.
‘Oh, mungkin mereka tidak berani mengusir Dion keluar kali,
takut menyinggung sepertinya…Baiklah, biar ku selesaikan ini…’ lanjutku dalam
hati sambil memandang Dion denga lekat.
“Dion…” ucapku yang segera terpotong oleh teriakan Dion.
Aku sendiri terkejut mendengar teriakan Dion, apalagi para
pelanggan.
__ADS_1
“KAYLA…. KAU MILIKKUUUUUU…” teriak Dion….