
Tersentuh karena Dion tetap mencintaiku setelah beberapa
saat.
“Tahu dari mana aku akan menikah dengan Arkan?” tanyaku
kepada Dion. Pertanyaan ini ku ucapkan secara refleks, karena aku benar
terpikir siapa yang akan memberi tahu Dion masalah pertunangan diriku. Yang
tahu permasalahan ini hanya pegawai kafe dan personel Geng Princess, selain
Papa, Mama dan Bang Tama.
“Jangan tanya dari mana, Kayla. Tanyalah bagaimana hatiku…
Hancur hatiku mendengar kau akan meninggalkan diriku. Meninggalkan hatiku.
Bukankah dulu kamu berjanji Kayla, akan menunggu ku?” ucap Dion di ikuti bunyi
Bruk…
Ternyata Dion berlutut menghadap diriku.
Posisi dia seperti melamar sambil berlutut gitu.
‘Aneh ini anak…’ dalam hatiku, tanpa berniat menyuruhnya
berdiri.
“Eh…. Kapan aku berjanji menunggumu Dion?” tanyaku setelah
mencerna kata – kata terakhirnya.
“Kamu lupa, Kayla?” tanya Dion tidak percaya.
“Iya, lupa… Coba diingatkan ya Dion…” balasku karena memang
lupa akan janji itu.
“Aku kasi clue nya saja, Kayla. Kalau kamu tidak ingat,
berarti kamu sayang padaku dan siap menikah denganku….” Ucap Dion sambil
__ADS_1
berdiri.
Dion berdiri dan mengambil ponselnya.
Kemudian dia terlihat mencari – cari di ponselnya.
Ketika ketemu, Dion menunjukkan sesuatu yang dicari di
ponselnya kepadaku.
Kupikir sebuah screenshot chat yang menyatakan aku menunggu
Dion untuk menikah.
Aku sudah berpikir untuk menjawab, bahwa chat seperti itu
bisa direkayasa, seperti yang di post – post di reels IG selama ini.
Tapi ternyata tidak.
Ternyata, Dion menunjukkan sebuah foto.
Foto diriku dengan pakaian sekolah menengah, berada di
Hmmm, ada apa ya dengan foto itu…
Tiba – tiba aku teringat sesuatu.
Foto itu adalah foto dapur di rumah Dion.
Aku ingat kalau saat itu, seminggu setelah kami jadian, aku
bermain ke rumah Dion. Saat itu tidak ada orang tua Dion di rumah, dan asisten
rumah tangga Dion juga sedang pulang kampong. Saat itu kami sedang kelaparan,
tidak ada makanan yang terhidang di meja makan. Di cek di kulkas, tidak ada
makanan juga. Tetapi aku melihat bahan – bahan yang lengkap di kulkas tersebut.
Akhirnya aku berinisiatif untuk memasak.
Aku memasak dengan inisiatif dan kreatifitas diriku, dengan
__ADS_1
mengolah bahan – bahan yang ada.
Akhirnya aku selesai memasak, dan kami mencicipi masakanku.
Pada saat itu, masakannya kebanyakan garam.
Tapi, Dion mengatakan masakan diriku enak.
Dia lahap menghabiskan semua masakan yang aku buat walau
kebanyakan garam yang kuberikan.
Saat itu lah aku berjanji, apapun yang terjadi, aku akan
mencoba belajar untuk pandai memasak, sehingga bisa memasak makanan yang layak
untuk Dion. Memang tidak disengaja, tetapi salah satu alasan aku memilih
jurusan tata boga pada saat kuliah adalah untuk menambah skill memasakku.
Saat itu aku berucap kira – kira seperti ini.
‘Dion, maafkan aku untuk masakan hari ini. Aku berjanji
suatu hari, aku akan menjadi koki yang handal, agar bisa memasak makanan yang
baik untukmu sebagai istrimu. Dan aku akan menunggu hari dirimu melamarku untuk
menjadi pasangan hidupku…’
“What…” aku terkejut setelah mengingat semua hal tersebut.
“Dion, kenapa dirimu ungkit janji itu. Itu kan kemarin
sebelum kita putus. Tapi kita sudah putus, mana mungkin hal itu masih berlaku?”
ucapku sedikit menahan haru. Aku tidak menyangka Dion masih ingat hal itu. Apa
benar dia mencintaiku, makanya selalu menyimpan foto itu. Atau hanya akal –
akalan dia, pura – pura untuk mendapatkan simpatiku.
“Tidak… Aku serius denganmu, Kayla…” jawab Dion
__ADS_1