Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 3


__ADS_3

“La, bisa donk, sya… Ini dirimu Tasya mau tau kenapa atau pura pura tak


ingat?” tanya Mama masih dengan tersenyum.


“Ya jelas la Tasya mau tau Ma… Tasya sendiri aja belum punya pacar, koq bisa


– bisa nya Tasya mau menikah..” jelasku sambil menatap kedua orang tuaku.


Keduanya saling berpandangan, lalu tersenyum. Keduanya menyadari bahwa hal ini


terjadi karena kebiasaan anak bungsu mereka.


Papa kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali menatap diriku. Kali ini


wajah Papa menunjukkan ekspresi serius walau dalam senyum.


“Tasya, lupa kejadian 2 hari lalu tidak?” tanya Papa kemudian.


“Dua hari lalu….” batin ku..


Pikiranku seketika melayang dan berjalan kembali ke dua hari yang lalu. Dua


hari lalu aku ngapain aja ya…


Oh iya, di pagi hari aku sedang berdiskusi dengan pegawai kafe perihal


perluasan bangunan kafe. Mengingat semakin banyaknya pelanggan kafe, maka


perluasan kafe menjadi alternatif untuk bisa menampung pelanggan yang datang.


Akhir - akhir ini dengan tajuk Healing, kafe ku banyak mendapatkan pengunjung,


karena lokasi yang dinilai cocok untuk tempat Healing. Selain makanan yang

__ADS_1


beraneka ragam dan berbagai harga, juga ada banyak spot foto yand indah untuk


dijadikan sebagai memori dalam kehidupan.


“Hmm… kalau disitu, apa pula ada cerita jodoh. Jadi kemana lagi ya diriku..


” batinku lagi.


Siangnya aku berjalan – jalan sama geng Princess ke Mall di Kota J. Tujuan


kami mau ke gym khusus wanita di Mall tersebut. Kami juga harus rajin menjaga


fisik kami, agar tetap di dalam TOP 10 wanita tercantik di kota J. Disana kami


berpapasan emang dengan beberapa cogan – cowok ganteng, yang berdasi. Mungkin


mereka juga memiliki usaha dan perkumpulan sendiri. Memang ada sih satu cowok


yang ku rasa cukup tampan, yang lirikan matanya selalu menuju ke arahku, tapi


dengan cowok itu.


Aku terdiam lagi membayangkan kejadian apa saja yang aku alami 2 hari yang


lalu. Jadwalku memang padat dengan kegiatan yang seharusnya dan tidak


seharusnya dilakukan. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku tidak bisa mengingat


kembali kegiatan apa 2 hari yang lalu yang berakhir dengan acara pernikahan


yang menyangkut diriku.


“Gak ingat pa… Tasya sudah mencoba ingat apa yang Tasya alami 2 hari lalu di

__ADS_1


luaran. Di kafe, di Mall, dimana mana lagi, gak ada satu pun yang mengingatkan


Tasya tentang pernikahan..” ungkapku kepada Papa dan Mama. Aku bukan pura –


pura tak ingat, tapi memang tak ingat. Apalagi tentang hal yang kurasa penting


dan sakral ini. Pernikahan loo.. bukan kaleng kaleng itu..


“Tasya.. Tasya…” ucap mama sambil tersenyum.


“Bukan di luaran lho, sayang, pas Tasya pulang ke rumah dua hari lalu. Ingat


gak?” lanjut Mama.


Seketika kesadaran menghampiriku. Pikiranku seperti dihantam palu.


Iya, aku ingat...


Tapi saat itu memang aku sangat capek. Setelah seharian beraktivitas.


Sehingga aku iya – iyakan saja kata Papa pada saat itu.


Aku ingat saat Papa memperkenalkan temannya yang datang ke rumah di dua hari


yang lalu. Pak Sukarta. Pemilik usaha pertambangan yang terkemuka di Negara I


ini, tetapi beliau tinggal di Kota M. Pak Sukarta merupakan teman satu jurusan


Papa pada saat kuliah. Papa pernah menceritakan tentang temannya itu sesekali


waktu, tetapi baru saat itu, aku ketemu langsung dengan Pak Sukarta. Orangnya


tinggi besar, persis tampilan orang kaya pada umumnya. Sangat rapi, terlihat

__ADS_1


tegas dan memang menunjukkan kesan pemimpin.


__ADS_2