
“Sya, Papa dan Mama sudah memutuskan. Tetapi semua
tergantung Tasya. Kalau menjawab pertanyaan Tasya, Mama dengan 120% menyatakan
bahwa Papa dan Mama, yakin, Arkan bisa menjadi suami yang baik untuk Tasya.
Mama rasa, Arkan menantu yang cocok untuk dirimu, Sya. Mama sudah gak sabar,
Arkan menjadi menantu Mama…” lanjut Mama blak – blakan.
Aku terdiam mendengar penjelasan Mama.
Bagaimana lah ini.
Yang tadinya aku menjauhkan Arkan dari calon suami ku di
masa depan, sekarang Mama menjelaskan bahwa Arkan lah yang lebih cocok menjadi
Imamku di masa depan.
Kacau… sungguh Kacau…
***
Aku segera merebahkan
badanku di kasur empukku. Pikiranku melayang kembali akan empat pria yang
membuat hati ku bingung akhir – akhir ini. Aku lebih mengenal Dion, tetapi, aku
terpesona kepada pria yang memelukku dan yang menyentuh tanganku. Saat ini, aku
penasaran dengan Arkan, yang diisyaratkan Papa dan Mama, sebagai menantu idaman
mereka.
Pusing, sungguh pusing
ku memikirkan.
Kayla terus saja
memikirkan hal itu, sampai akhirnya di tertidur karena lelah.
__ADS_1
***
Keesokan paginya…
Kayla terbangun
mendengar kembali suara Mama memanggil untuk makan.
Hari ini hari libur
nasional. Tanggal Merah.
Walaupun kafe milikku
tidak terpengaruh terhadap tanggal, kecuali lebaran, tetapi tanggal merah ini
memiliki arti kepada Papa ku. Papa selaku CEO Jabura Grup, tidak pernah memaksa
pegawai kerja di waktu hari libur nasional. Walaupun dalam sistem shift. Yang
artinya, Papa saat ini ada juga di meja makan menanti diriku untuk makan.
Aku turun setelah mencuci
Aku duduk di meja
makan, mengambil piring yang sudah disediakan Mama, mengambil nasi dan laukku
sesuai porsi yang bisa aku habiskan. Aku langsung menyantap makananku, begitu
juga Papa dan Mama. Kami makan dalam keadaan hening, sampai akhirnya dipecahkan
oleh suara Papa.
“Tasya, hari ini tasya
gak usah kerja ke kafe ya. Tasya hari ini, temani Papa dan Mama pada kegiatan
relawan rutin dari kantor papa. Tujuan kita adalah ke kampung X untuk berbagi
dan membangun fasilitas publik. Kali ini, Pak Sukarta dan tim dari Sukarta Grup
akan ikut berpartisipasi kali ini. Siapa tahu kamu bisa ketemu dengan Arkan,
__ADS_1
Sya” ucap Papa.
Aku tidak berpikir
lama seperti kebiasaanku.
Aku langsung
mengiyakan perkataan Papa, dan semenit kemudian, aku menyesal mengiyakan
perkataan Papa. Tapi biarlah, aku ingin melihat bagaimana si Arkan. Kenapa dia
bisa mengambil hati kedua orang tua ku.
Aku segera menyiapkan
barang – barang yang akan ku pakai ke kampung X. Outfits yang harus ku pakai.
Karena kan aku banyak di kenal orang, siapa tahu juga banyak emak – emak
kampung X yang mau berpoto dengan ku.
Setelah selesai
berberes, aku segera turun ke parkiran. Papa dan Mama rupanya sudah menunggu di
dalam mobil Papa. Aku segera naik di kursi depan, di samping pak supir, karena
Papa dan Mama biasanya tidak mau duduk terpisah.
Papa dan Mama tidak
membawa apapun, karena tim Jabura Grup, sudah menyiapkan semuanya, dan sudah
berangkat dahulu ke lokasi.
Perjalanan dari rumah
ke kampung X memakan waktu hampir 3 jam. Karena posisinya lebih dekat ke kota M
dari pada ke kota J. Aku sempat mengistirahatkan diriku di mobil, tanpa
menyadari Papa dan Mama asik bergosip tentang diriku.
__ADS_1