Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 24


__ADS_3

“Sya, Papa dan Mama sudah memutuskan. Tetapi semua


tergantung Tasya. Kalau menjawab pertanyaan Tasya, Mama dengan 120% menyatakan


bahwa Papa dan Mama, yakin, Arkan bisa menjadi suami yang baik untuk Tasya.


Mama rasa, Arkan menantu yang cocok untuk dirimu, Sya. Mama sudah gak sabar,


Arkan menjadi menantu Mama…” lanjut Mama blak – blakan.


Aku terdiam mendengar penjelasan Mama.


Bagaimana lah ini.


Yang tadinya aku menjauhkan Arkan dari calon suami ku di


masa depan, sekarang Mama menjelaskan bahwa Arkan lah yang lebih cocok menjadi


Imamku di masa depan.


Kacau… sungguh Kacau…


***


Aku segera merebahkan


badanku di kasur empukku. Pikiranku melayang kembali akan empat pria yang


membuat hati ku bingung akhir – akhir ini. Aku lebih mengenal Dion, tetapi, aku


terpesona kepada pria yang memelukku dan yang menyentuh tanganku. Saat ini, aku


penasaran dengan Arkan, yang diisyaratkan Papa dan Mama, sebagai menantu idaman


mereka.


Pusing, sungguh pusing


ku memikirkan.


Kayla terus saja


memikirkan hal itu, sampai akhirnya di tertidur karena lelah.

__ADS_1


***


Keesokan paginya…


Kayla terbangun


mendengar kembali suara Mama memanggil untuk makan.


Hari ini hari libur


nasional. Tanggal Merah.


Walaupun kafe milikku


tidak terpengaruh terhadap tanggal, kecuali lebaran, tetapi tanggal merah ini


memiliki arti kepada Papa ku. Papa selaku CEO Jabura Grup, tidak pernah memaksa


pegawai kerja di waktu hari libur nasional. Walaupun dalam sistem shift. Yang


artinya, Papa saat ini ada juga di meja makan menanti diriku untuk makan.


Aku turun setelah mencuci


Aku duduk di meja


makan, mengambil piring yang sudah disediakan Mama, mengambil nasi dan laukku


sesuai porsi yang bisa aku habiskan. Aku langsung menyantap makananku, begitu


juga Papa dan Mama. Kami makan dalam keadaan hening, sampai akhirnya dipecahkan


oleh suara Papa.


“Tasya, hari ini tasya


gak usah kerja ke kafe ya. Tasya hari ini, temani Papa dan Mama pada kegiatan


relawan rutin dari kantor papa. Tujuan kita adalah ke kampung X untuk berbagi


dan membangun fasilitas publik. Kali ini, Pak Sukarta dan tim dari Sukarta Grup


akan ikut berpartisipasi kali ini. Siapa tahu kamu bisa ketemu dengan Arkan,

__ADS_1


Sya” ucap Papa.


Aku tidak berpikir


lama seperti kebiasaanku.


Aku langsung


mengiyakan perkataan Papa, dan semenit kemudian, aku menyesal mengiyakan


perkataan Papa. Tapi biarlah, aku ingin melihat bagaimana si Arkan. Kenapa dia


bisa mengambil hati kedua orang tua ku.


Aku segera menyiapkan


barang – barang yang akan ku pakai ke kampung X. Outfits yang harus ku pakai.


Karena kan aku banyak di kenal orang, siapa tahu juga banyak emak – emak


kampung X yang mau berpoto dengan ku.


Setelah selesai


berberes, aku segera turun ke parkiran. Papa dan Mama rupanya sudah menunggu di


dalam mobil Papa. Aku segera naik di kursi depan, di samping pak supir, karena


Papa dan Mama biasanya tidak mau duduk terpisah.


Papa dan Mama tidak


membawa apapun, karena tim Jabura Grup, sudah menyiapkan semuanya, dan sudah


berangkat dahulu ke lokasi.


Perjalanan dari rumah


ke kampung X memakan waktu hampir 3 jam. Karena posisinya lebih dekat ke kota M


dari pada ke kota J. Aku sempat mengistirahatkan diriku di mobil, tanpa


menyadari Papa dan Mama asik bergosip tentang diriku.

__ADS_1


__ADS_2