Cinta Tak Pernah Dirasa

Cinta Tak Pernah Dirasa
Bab 22


__ADS_3

 “Apapun ceritanya,


aku akan menikahimu….” Lanjut Dion sambil bertekad. Aku merasakan tekadnya.


Aku terdiam mendengar tekad Dion.


Sejujurnya, aku lebih memilih Dion daripada Arkan.


Alasannya jelas, aku lebih mengenal Dion.


Mungkin hanya bagian dalam nya yang aku gak kenal, tapi


secara umum, keluarga, sifat, pergaulan, kesukaan, dan yang tidak dia suka, aku


mengenalnya.


Tetapi masih ada yang aku kurang suka.


Sikap kasarnya.


Seperti kukatakan sebelumnya, mana berani aku di tampar


nantinya. Papa dan Mama saja tidak pernah menampar diriku. Tapi di pukul pernah


sewaktu kecil, karena diriku males shalat.


“Dion… aku katakan sejujurnya. Aku dan Arkan belum tentu


menikah. Kami sama – sama tidak setuju pernikahan ini. Aku tidak kenal dirinya,


begitupun dia tidak mengenal diriku. Tetapi bukan berarti aku akan menolak


permintaan Papa dan Mama secara langsung. Aku rasa tanpa dijelaskan, dirimu


sudah tahu latar belakang Arkan. Jadi, tidak semudah itu ferguso, untuk


membatalkan pernikahan.” Ucapku pelan.


“Tetapi Dion, harus dirimu ingat, kenapa kita putus… aku

__ADS_1


tidak suka sikap kasarmu. Aku tidak mau nanti menikah denganmu, kita akhirnya


harus berpisah dan berakhir di pengadilan. Aku tidak memiliki rencana seperti


itu dalam hidupku…” lanjutku.


“Buktikan bahwa dirimu sudah berubah. Anggap saja dirimu dan


Arkan berada dalam daftar calon suamiku. Berusahalah untuk berubah dan menarik


hatiku. Aku mungkin tidak akan menanggapi dirimu, karena aku sudah pernah


dirimu kecewakan. Tetapi, kalau dirimu mau memilikiku, dirimu harus berusaha


mengambil hatiku. Anggap saja di suatu hari kita menikah, dan kita bertengkar,


lalu aku merajuk. Aku mau dirimu berusaha untuk membuat kita berdamai dengan


usahamu. Aku tidak bisa memastikan apapun Dion. Aku tidak mungkin melawan Papa


dan Mama. Cuma kalau kita buat dalam kalkulasi, posisimu lebih unggul dari


AKu melihat perubahan pada ekspresi Dion. Sepertinya dia


senang, masih memiliki harapan untuk mendapatkanku.


“Serius, Kay.., Kalau aku berubah, kamu bisa


mempertimbangkan diriku?” Tanya Dion tidak percaya.


“Aku sudah berkata bahwa aku tidak bisa menjanjikan Dion.


Berdoa saja kita bisa bersama…” jawabku seraya mendudukan diriku di kursi kafe.


Lelah juga ber diri dengan drama ini.


“Siap Kayla… aku akan berusaha mengambil hatimu. Aku akan


mendapatkanmu. Terima kasih…” ucap Dion senang.

__ADS_1


Dion kemudian pergi meninggalkan kafe setelah semua


perbuatannya.


Aku menghela nafas, dan meminta pegawai untuk membereskan barang


– barang yang berserak.


Aku mengerti kenapa harus aku yang menyelesaikan masalah


ini.


Ternyata, Dion masih memendam rasa kepadaku.


Ya sudahlah, toh aku memang belum tentu akan menikah dengan


Arkan. Siapa tahu Papa dan Mama hari ini tidak setuju setelah melihat Arkan,


jadi Papa dan Mama langsung menyatakan pembatalan atas perjodohan ini.


‘Hehhhh…. Semangat Kayla...’ Diriku menarik nafas lagi dan


menyemangati diri sendiri.


Setelah beberapa lama berberes kafe, dan meminta maaf kepada


pelanggan karena terjadi keributan, aku segera meninggalkan kafe untuk kembali


ke rumah. Aku tidak penasaran apa yang terjadi di rumah, cuma aku penasaran apa


yang terjadi pada hatiku.


Aku dijodohkan dengan seseorang yang tidak aku kenal sama


sekali hanya karena perjanjian masa lalu kedua belah pihak.


Aku dicintai oleh seseorang yang dulu pernah juga aku


cintai, tetapi asal dia belum merubah sikapnya, aku tidak tertarik kembali

__ADS_1


padanya.


__ADS_2