
“Apapun ceritanya,
aku akan menikahimu….” Lanjut Dion sambil bertekad. Aku merasakan tekadnya.
Aku terdiam mendengar tekad Dion.
Sejujurnya, aku lebih memilih Dion daripada Arkan.
Alasannya jelas, aku lebih mengenal Dion.
Mungkin hanya bagian dalam nya yang aku gak kenal, tapi
secara umum, keluarga, sifat, pergaulan, kesukaan, dan yang tidak dia suka, aku
mengenalnya.
Tetapi masih ada yang aku kurang suka.
Sikap kasarnya.
Seperti kukatakan sebelumnya, mana berani aku di tampar
nantinya. Papa dan Mama saja tidak pernah menampar diriku. Tapi di pukul pernah
sewaktu kecil, karena diriku males shalat.
“Dion… aku katakan sejujurnya. Aku dan Arkan belum tentu
menikah. Kami sama – sama tidak setuju pernikahan ini. Aku tidak kenal dirinya,
begitupun dia tidak mengenal diriku. Tetapi bukan berarti aku akan menolak
permintaan Papa dan Mama secara langsung. Aku rasa tanpa dijelaskan, dirimu
sudah tahu latar belakang Arkan. Jadi, tidak semudah itu ferguso, untuk
membatalkan pernikahan.” Ucapku pelan.
“Tetapi Dion, harus dirimu ingat, kenapa kita putus… aku
__ADS_1
tidak suka sikap kasarmu. Aku tidak mau nanti menikah denganmu, kita akhirnya
harus berpisah dan berakhir di pengadilan. Aku tidak memiliki rencana seperti
itu dalam hidupku…” lanjutku.
“Buktikan bahwa dirimu sudah berubah. Anggap saja dirimu dan
Arkan berada dalam daftar calon suamiku. Berusahalah untuk berubah dan menarik
hatiku. Aku mungkin tidak akan menanggapi dirimu, karena aku sudah pernah
dirimu kecewakan. Tetapi, kalau dirimu mau memilikiku, dirimu harus berusaha
mengambil hatiku. Anggap saja di suatu hari kita menikah, dan kita bertengkar,
lalu aku merajuk. Aku mau dirimu berusaha untuk membuat kita berdamai dengan
usahamu. Aku tidak bisa memastikan apapun Dion. Aku tidak mungkin melawan Papa
dan Mama. Cuma kalau kita buat dalam kalkulasi, posisimu lebih unggul dari
AKu melihat perubahan pada ekspresi Dion. Sepertinya dia
senang, masih memiliki harapan untuk mendapatkanku.
“Serius, Kay.., Kalau aku berubah, kamu bisa
mempertimbangkan diriku?” Tanya Dion tidak percaya.
“Aku sudah berkata bahwa aku tidak bisa menjanjikan Dion.
Berdoa saja kita bisa bersama…” jawabku seraya mendudukan diriku di kursi kafe.
Lelah juga ber diri dengan drama ini.
“Siap Kayla… aku akan berusaha mengambil hatimu. Aku akan
mendapatkanmu. Terima kasih…” ucap Dion senang.
__ADS_1
Dion kemudian pergi meninggalkan kafe setelah semua
perbuatannya.
Aku menghela nafas, dan meminta pegawai untuk membereskan barang
– barang yang berserak.
Aku mengerti kenapa harus aku yang menyelesaikan masalah
ini.
Ternyata, Dion masih memendam rasa kepadaku.
Ya sudahlah, toh aku memang belum tentu akan menikah dengan
Arkan. Siapa tahu Papa dan Mama hari ini tidak setuju setelah melihat Arkan,
jadi Papa dan Mama langsung menyatakan pembatalan atas perjodohan ini.
‘Hehhhh…. Semangat Kayla...’ Diriku menarik nafas lagi dan
menyemangati diri sendiri.
Setelah beberapa lama berberes kafe, dan meminta maaf kepada
pelanggan karena terjadi keributan, aku segera meninggalkan kafe untuk kembali
ke rumah. Aku tidak penasaran apa yang terjadi di rumah, cuma aku penasaran apa
yang terjadi pada hatiku.
Aku dijodohkan dengan seseorang yang tidak aku kenal sama
sekali hanya karena perjanjian masa lalu kedua belah pihak.
Aku dicintai oleh seseorang yang dulu pernah juga aku
cintai, tetapi asal dia belum merubah sikapnya, aku tidak tertarik kembali
__ADS_1
padanya.