Cinta Untuk Arumi

Cinta Untuk Arumi
12.Hanya kebetulan


__ADS_3

Dilara memasuki Ruangan itu ia berdiri menatap laki laki yang terbaring lemah itu,menelisik tiap jengkal wajahnya.lalu ia mendudukan dirinya di tempat yang tadi Arumi duduki.


Tampan


" Hay,,Yudish,,,aku tak menyangka pertemuan pertama kita setelah bertahun tahun lamanya harus di rumah sakit dalam keadaan begini" Dilara tersenyum sambil menatap pria itu dan terdengar hanya suara mesin yang menjawab.


Dilara menyentuh perban di tangan Yudish,basah,,? lalu dilara mengerutkan keningnya.apa wanita tadi menangis di ruangan ini?tadi Dilara melihat mata Arumi terlihat sembab seperti habis menangis.Apa memang ini air matanya?lalu apa hubunganya ia dengan Yudish?


" Yudish,aku tau kau bisa mendengar ku,walau kau sekarang terbaring lemah hanya matamu saja yang menutup,tapi aku yakin hatimu masih bisa merasakan" Dilara mengusap tangan itu.


"Yudish,maaf aku harus mengatakan ini,,, jika nanti kau terbangun,aku mohon mintalah untuk membatalkan pertunangan ini ,aku belum siap untuk semua ini Yudish "dilara memelas , Dilara menjatuhkan kepanya di atas tangan Yudish seakan ia lelah dan ingin mengadu kepada seorang kakak.


Dilara sejenak memejamkan matanya,tapi merasakan sepertinya ada pergerakan di tangan yang ia pegang itu,lalu ia mengangkat cepat kepalanya.betapa terkejutnya dilara.


Ia refleks bangun dari duduknya lalu mundur dari sana,ia melihat Yudish membuka matanya tapi tatapanya hanya kosong memandang ke atas,suara mesin di dalam ruangan itu pun berbunyi dengan tidak teratur.dilara benar benar terpaku karna rasa terkejutnya,namun secepatnya ia tersadar.


Secepat nya dilara menekan tombol penghubung ke ruangan perawat,tak butuh waktu lama para dokter dan perawat berdatangan.mereka menunduk hormat kepada dilara.


" Ia ,, tiba tiba saja membuka matanya " kata dilara masih terlihat kaget.


" baik,kami akan memeriksanya nona"


Dilara di minta keluar dari Ruangan untuk menunggu di ruang tunggu.


Dilara menghubungi keluarga Yudish untuk memberi tau keadaan Yudish tak lama mereka pun datang.

__ADS_1


Orang tua Yudish langsung terlihat sumringah melihat calon menatunya ada disana,Nyonya Miranda langsung memeluk erat dilara,setelah Dilara menceritakan semua yang terjadi di ruangan tadi.


Dokter bilang ini benar benar keajaiban, Yudish sadar dengan cepat dan semua organ dalam tubuhnya berfungsi dengan baik,bahkan benturan di kepalanya pun tidak menunjukan adanya tanda tanda krusakan yang menghawatirkan.setelah selesai melakukan pemeriksaan Dokter mengijinkan keluarga untuk melihat keadaan yudish walau tetap harus mengikuti aturan nya.


Yudis merasakan nyeri di seluruh tubuhnya,tapi ia tadi merasa ada suara Arumi di dekatnya memanggil namanya,menyuruhnya untuk bangun dan berjanji tidak akan meninggalkanya,hanya saja Yudish sulit sekali membuka matanya walau di dalam hatinya ia terus menyebut nama rumi,tapi tubuhnya seperti di ikat oleh rantai sangat sulit di gerakan.


ternyata setelah Yudish bersusah payah berusaha membuka matanya,suara Arumi menjauh,,,tapi genggaman tangan itu masih ada,Yudish berhasil membuka matanya,berusaha menggenggam tangan yang sedang menggenggam tanganya,namun alangkah kecewanya Yudish ternyata wanita itu bukanlah Arumi,Yudish tidak tau siapa wanita itu,Yudish benar benar kecewa,ternyata Arumi benar benar tidak lagi memperdulikanya,kenapa tuhan tidak ambil saja nyawanya,begitu fikirnya.


Akhinya setelah hasil pemeriksaanya selesai Yudish di izinkan pindah ke ruang pemulihan yang keluarganya siapkan.


beberapa perawat masih ada di sana membantu posisi yudish agar merasa nyaman.karna perban di tangan kakinya masih terpasang


Disana keluarganya berkumpul,Ayah dan Ibunya,bibinya juga Rushan ada di sana,dan terlihat wanita itu juga ada,siapa sebenernya wanita itu.Yudish terus menatap Dilara dengan sangat tajam,ia belum mengeluarkan sepatah kata pun,hanya tatapan menusuk yang ia perlihatkan.Tentu saja Dilara menjadi takut dengan tatapan itu,ia menundukan wajahnya setelah mata nya beradu pandang dengan mata Yudish,bagaimana bisa laki laki menakutkan itu harus menjadi suaminya nanti?Dilara benar benar akan berusaha membatalkan perjodohan ini.


" paman bibi maaf sepertinya aku harus pergi sekarang " kata dilara


" Tunggulah sebentar Dilara,Bibi akan memberitahukan kepada Yudish, sepertinya ia melupakanmu!" ibu Yudish tersenyum dengan anggun menahan dilara untuk tidak meninggalkan ruangan itu .


Dilara hanya tersenyum sungkan ia sedikit menganggukan kepalanya.


" baiklah bibi" lalu ia berusaha agar tidak bertemu pandang dengan Yudish,Dilara menoleh ke sembarang arah tapi ia malah terperangkap oleh tatapan seorang pria lagi,Rushan,ya ia menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan,tapi bibirnya mengulas sedikit senyum walau hanya tipis, tapi dilara bisa melihatnya,dan dilara membalas senyum itu dengan sumringah.


Setelah para perawat meninggalkan ruangan,Miranda dan bibinya,mendekat ke arah Yudish,Miranda mengelus kepala anaknya dengan sayang sementara bibinya mengusap tanganya dengan senyum cantiknya.


" bagaimana keadaan mu nak?"kata sang bibi.

__ADS_1


Yudish memperhatikan ibunya,lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


" apa ada yang kau inginkan nak?ingin makan sesuatu? biar nanti ibu minta pengawal memembelikanya"


katanya lagi dengan antusias


Yudish menggelengkan lemah kepalanya.tatapanya masih saja kosong sperti ada beban berat yang ia rasakan.


" oh ya Yudish,, apa kau masih ingat dengan Dilara?" sekarang ayahnya yang buka suara.


Yudish memiringkan kepalanya sejenak menatap gadis cantik itu sebentar lalu ia menoleh kembali sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin istirahat " Kata singkat itu membuat semua orang saling pandang.


" Baiklah kami akan keluar,istirahatlah sayang " miranda mencium sayang kening anaknya,lalu melangkahkan kakinya keluar bersama orang orang di dalam sana.


" Baiklah bibi aku pamit pulang sekarang ya!" kata Dilara dengan senyum menawanya.


" maafkan tingkah yudish,dilara,, dia hanya belum terbiasa,kami harap kamu memakluminya " nyonya miranda berucap dengan sungkan.Dilara hanya tersenyum manis menanggapi kata kata wanita anggun itu.


" iya bibi,,,lagi pula ia baru saja mengalami hal yang mengerikan,aku memakluminya,bibi tenang saja" senyum cerah itu selalu saja penuh pesona,


Rushan terus saja memperhatikan wanita itu dalam diam, senyumnya masih seindah dulu,sikap lembutnya,tawanya,semua masih sama,Dilara yang sangat ia Kagumi,entah dulu atau pun sekarang,atau mungkin rasa kagum itu sudah berubah menjadi cinta, entahlah Rushan tidak ingin melebarkan perasaan itu,karna semua sudah pupus saat pertunangan itu telah di sepakati oleh keluargnya.


❤️❤️ maafkan kalo banyak typo ya gaes ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2