Cinta Untuk Arumi

Cinta Untuk Arumi
4.Luka Lama


__ADS_3

Di dalam mobil Yudish memikirkan apa yang baru saja di lihatnya,ada apa dengan Arumi dan siapa bayi yang di gendongnya?


Hati kecilnya berkata lain,tapi sulit untuk mengakuinya,berhenti lah untuk perduli,dia hanya wanita penghianat yg tidak harus di perdulikan,itu yang terus otaknya fikirkan.


Yudish memejamkan matanya,merubah duduknya sedikit bersandar,hari harinya sangat melelahkan,ternyata berperang dengan hati dan fikiran lebih melelahkan di banding berperang fisik,tarikan nafas itu terdengar sedikit kasar.


Samuel sang asisten dan juga orang kepercayaannya sedikit melirik melalui kaca spion rear,melihat bosnya menyandarkan bahu seakan sangat kelelahan,dahinya berkerut,apa menunggu orang melahirkan semelelahkan itu?


" Kemana tujuan kita bos ?" Tanya Samuel.


" Bawa aku ke tempat biasa Sam,,,!" Yudish menghela berat nafasnya.


" aku butuh menenangkan diri" lanjut nya.


" baik bos,,," sam hanya mematuhi keinginan tuanya,melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar bosnya merasa nyaman.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah bangunan yang sangat mewah.


Gerbang bangunan itu di bukakan oleh penjaga yg sudah mengenal kendaraan itu, mobil Rolls Royce yg di tumpangi Yudish terparkir dengan sempurna,Yudish keluar dengan wajah tidak bersahabat yg siapapun melihat enggan berurusan denganya,tatapan dingin dan tajam itu berjalan menuju pintu utama,pelayan membukakan pintu dan menundukan kepalanya hormat.


" Sam aku ingin sendiri,jangan izinkan satu orang pun menggangguku,termasuk ayahku" kata Yudis memasuki pintu lift yang ter buka.


"baik bos,,!" Sam menunduk hormat,menunggu pintu lift ter tutup dan langsung berjalan meninggalkan ruangan itu.


*****


Arumi dan Amelia menaiki taksi yg di pesan Amelia untuk mengantar mereka menuju kediaman Arumi.


" Harusnya kau tidak usah repot repot mengantarku mell,,,aku jadi tidak enak kau harus meninggalkan pekerjaan mu ,,!" kata arumi sungkan.


Amelia menengok ke arah arumi dan bayi kecilnya sambil tersenyum.


"aku hanya menggeser sedikit jadwalku rumi,lagi pula kawan ku sangat senang aku melakukan itu,karna dia dapat uang lebih " amelia tersenyum menenangkan.


" lagi pula aku masih ingin bersama bayi mungil yang menggemaskan ini" seranya tersenyum penuh arti menatap bayi dalam gendongan ibunya.


Arumi menarik nafasnya dalam,melihat ke arah amelia,seakan ragu ingin bertanya,tapi dia penasaran.


" apa,kau memberi tahunya kalau aku juga melahirkan di sana?"tanya arumi ragu.

__ADS_1


amelia menoleh ke arah Arumi menatap wajah sahabatnya dalam dalam.


" apa kau ingin dia tau keadaan mu ? " amelia balik bertanya.


" tidak, bukan begitu,," dia membuang pandanganya ke arah jendela menutupi kesedihannya.


Sejenak menundukan pandanganya melihat dan menyentuh pipi bayi kecil di gendongannya.


" aku harap dia tidak pernah tau,dan selamanya tidak boleh tau,," ada rasa sakit di hatinya ketika mengatakanya.


Amelia menarik nafasnya , " biarkan takdir yg akan menuntunnya arumi " kata kata penuh makna.


Arumi hanya tersenyum getir.


Tak lama taksi berhenti di depan rumah,setelah selesai membayar mereka turun dan langsung masuk ke dalamnya.


Ketika pintu di buka, mereka di sambut bau bekas asap rokok dan bau segala macam yg bercampur aduk.


Ruangan tamu itu nampak kotor dengan banyak sisa makanan mengotori karpet dan terlihat beberapa gelas teh masih ada di meja dan sisa sisa rokok bergeletakan di lantai,ada beberapa helai baju pun menyangkut di sandaran sofa entah sudah berapa hari gelas dan puntung rokok itu bertengger di sana.


Arumi menatap ke arah amelia dengan sungkan.


Amelia tersenyum " aku akan membantu mu merapihkannya,kau baru melahirkan dan jangan terlalu lelah " jawab amelia tulus, matanya menatap berkeliling ruangan itu mencari keberadaan kakak ipar Arumi.


" dimana wanita itu,sebenarnya apa yg dia lakukan di rumah,sehingga membuat rumah ini terlihat seperti kapal yang baru saja meledak di dalam sini,," amelia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


" sepertinya aku ragu kalo dia seorang wanita "


arumi tertawa mendengar ucapan konyol sahabatnya.


" aku akan membawa anakku ke atas dulu" kata Arumi..


" Duduk lah dulu mell cari lah tempat terbaik di mana kau bisa duduk " arumi tertawa menggoda amelia.


Amelia membalas tawa Arumi " aku akan duduk di tangga,sepertinya di sana yg lebih terlihat layak untuk aku duduki "


Arumi berlalu sambil tertawa meninggalkan amelia.


Arumi memasuki kamarnya,di sana ia sudah menyiapkan boks bayi berwarna pink serta kelambu putih yang menutupi nya,ia meletakkan bayi mungil itu dengan hati hati.

__ADS_1


Bayi kecil itu hanya menggerakkan tubuhnya pelan,lalu tertidur lagi.


Arumi tersenyum kecil melihat anaknya,begitu cantik dan sangat kecil, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya, haruskah ia bahagia?ya,, Arumi harus bahagia, setidaknya ia memiliki hal paling berharga sebagai kenangan manis yang akan ia jaga segenap jiwanya.


Amelia menduduki tangga dan mengedarkan pandanganya,telinganya seperti mendengar suara dari dapur yang ada di sebelah kanan tangga,amelia penasaran dengan suara itu, dia mengikuti suara yang semakin jelas terdengar dari lorong dapur menuju taman belakang.


Ketika sampai Amelia terperangah melihat pemandangan tidak senonoh di depanya ,matanya bertatapan langsung dengan pemilik suara menjijikkan itu,lalu


ia buru buru meninggalkan tempat itu dengan wajah pucat,ya tuhan mimpi apa dia semalam,menyaksikan perbuatan tercela manusia seperti itu.


Arumi terlihat menuruni tangga,dia melihat Amelia berjalan ter buru buru dengan wajah pucat seperti habis melihat hantu,arumi pun menghampirinya.


" Ada apa mell,,?" Tanya Arumi bingung.


"T,tidak ,aku ,,,ahh lupakan saja!" wajah pucat dan terlihat syok membuat arumi semakin bingung.


Bersamaan dengan itu kakak iparnya terlihat keluar dari arah dapur mengenakan kain tipis seadanya bahkan tidak terlihat berniat menutupi tubuhnya,menghampiri Arumi dan Amelia dengan santainya.


" ohh,, ternyata tikus kecil sudah pulang,berapa yang kau dapatkan,setelah berhari hari tidak pulang ?" tatapan menghina itu terus di tunjukan,dia lalu menatap perut arumi yang sudah datar.


" waa,,ternyata kau telah mengeluarkan calon tikus kecil,atau bajingan kecil hah,,?" Katanya seperti mengejek.


Arumi hanya membuang mukanya dan menghela nafas panjang lalu menghembuskan kasar ,enggan menimpali,tapi rasanya dia muak dengan perkataan wanita ini yg menghina anaknya.


" tutup mulutmu dan jangan berani menghina anak ku" jawab arumi tegas,menatap tajam ke arah kakak iparnya itu.


Wanita itu hanya tertawa seakan-akan tidak perduli dengan kekesalan Arumi,


tak lama keluar dua orang pria dari arah yang sama,menghampiri wanita itu mencium pipinya dan tidak segan segan meremas bokongnya.


" trimakasih atas jamuannya Salina,kami permisi " salah satu pria mengedipkan matanya ke arah arumi dengan tatapan nakal sambil berjalan ke luar.


Arumi melebarkan matanya dengan wajah kaget,ternyata itu yang membuat wajah amelia pucat tadi .


wanita gila itu pun pergi menuju kamarnya meninggalkan mereka berdua yang terlihat kaget,tidak,sepertinya hanya Arumi yang kaget.


" Wanita itu benar-benar sudah gila " Arumi menggelengkan kepalanya,amelia hanya bisa mengusap punggung sahabatnya menenangkan.


" kau saja begitu kaget,,,bagai mana dengan aku yang melihatnya secara live " sambut amelia.

__ADS_1


** ##


__ADS_2