
Hari hari mulai berganti,sebulan sudah Arumi menjalani hidupnya menjadi seorang istri walaupun belum sepenuhnya ia menjalankan kewajibanya tapi arumi berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik,apalagi Rizt adalah laki laki yang sangat baik,ia tidak pernah menuntut arumi untuk slalu menjalankan kewajiban ia sangat pengertian,sejauh ini semua berjalan dengan baik,walau terkadang di bumbui dengan mulut pedas sang kakak ipar,tapi sepertinya arumi mulai terbiasa dengan semuanya.
Seminggu yang lalu Yudish juga sudah di perbolehkan pulang,Rushan mengabari arumi perkembangan yudish,dan arumi bersyukur karna Yudish sudah pulih meskipun belum bisa berjalan sendiri ,tapi arumi bersyukur setidaknya ia masih bisa melihat wajah tampan itu peskipun dari kejauhan.
ya Arumi sering diam diam mengunjungi Yudish di rumah sakit, walau tidak berhadapan secara langsung,tapi melihat aktivitas Yudish dari jauh saja sudah dapat membuatnya tersenyum bahagia.terkadang ia melihat Yudish bersama ibu dan ayahnya atau terkadang bersama Dilara,rasa sakit itu masih saja ada di saat melihatnya hanya menggunakan kursi roda dengan tatapan datar penuh kesedihan yang yudish perlihatkan,tapi arumi mencoba mengikhlaskan yudish bersama Dilara karna dilara juga separtinya wanita yang sempurna untuk yudish.
seperti dirinya ia berharap Yudish juga akan menjalani hidupnya yang baru dengan baik bersama dilara,dan biarlah waktu yang akan menghapus segalanya.
Yudish sedang melakukan terapi untuk kesembuhan kakinya,dokter khusus di datangkan ke rumahnya untuk membatu pemulihan kakinya,disana terlihat Dilara menemani Yudish dengan sabar,sudah beberapa kali Dilara dengan setia menemani yudish menjalani hari harinya,Yudish sudah mulai bersikap ramah kepada Dilara seperti menjawab sapaan nya atau terkadang bertanya kabarnya,Dilara sudah tidak merasa takut dengan sikap Yudish walau tidak pernah melihat Yudish tersenyum tapi Dilara tau yudish adalah sosok yang hangat kepada keluarga,Dilara melihat Yudish memperlakukan ibu dan ayahnya dengan sangat hormat.
Hari ini jadwal terapi Yudish,dan seperti biasa,ibu Dilara memaksa dilara untuk mengunjungi Yudish dan Dilara tidak pernah bisa menolak permintaan ibunya.
" Hai,,!bagaimana kabarmu hari ini?" Dilara menghampiri Yudish yang duduk di taman belakang rumahnya ia pun duduk di samping Yudish
Yudish menoleh sebentar ke arah Dilara lalu memalingkan lagi wajahnya ke depan
" aku,,,masih seperti biasa!" jawabnya datar.
Dilara hanya tersenyum mendengar jawaban Yudish,ia menarik nafasnya lembut.
__ADS_1
" Aku tidak tau apa sebenarnya masalah mu, tapi aku mau kamu tau,jika memang perjodohan ini menyiksamu,silahkan batalkan,tapi aku mohon jangan siksa dirimu dengan hanya duduk di kursi roda tanpa berusaha ingin pulih"
Yudish menolehkan wajahnya ke samping,ia memincingkan matanya menatap Dilara dengan tajam,Dilara tersenyum lembut seakan tidak ada beban atau kesedihan yang di rasakan,apakah ia juga tidak menginginkan perhodohan ini?
" kalau di fikiran mu mengatakan aku tidak menginginkan perjodohan ini,jawabanya adalah iya,,,kita sama !" senyum lembut itu seperti menghipnotis yudish untuk terus menatapnya.
" aku masih ingin berkarir,menggapai cita citaku dan ingin hidup sesuai keinginanku, tapi mungkin tuhan punya rencana yang lain," ia menggembuskan nafasnya berat,tergurat kesedihan di wajah cantik itu yudish dapat melihatnya.
tidak dapat di pungkiri, Dilara sangatlah cantik tapi cinta tidak selalu melihat fisik bukan,sekalipun itu terdengar tidak realistis tapi kenyataanya banyak orang yang kekurangan fisik tapi hidupnya bahagia karna cinta.
Yudish memalingkan kembali wajah nya menatap hamparan rumput hijau dan danau kecil di hadapanya,
" Kenapa tidak kau saja yang membatalkan perjodohan ini?"
" apa kau begitu mencintainya?hingga kau rela melakukan apapun untuknya? termasuk mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?" rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dilara tersenyum lalu menatap mata hitam nan tajam itu
" ya,,,itu akan membuktikan bahwa aku mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri" senyum itu tak pernah pudar dari wajah cantiknya walau ada gurat kesedihan tapi wanita itu pandai menutupinya dengan senyum indahnya.
__ADS_1
untuk beberapa saat mereka terdiam,menyelami fikiran meraka masing masing,sampai suara pelayan yang di perintahkan memanggil mereka datang memberi tau bahwa ahli terapisnya sudah datang.
Dilara membantu Yudish mengambil tongkatnya lalu berjalan perlahan beriringan menuju ke dalam rumah megah itu.
Di dalam Miranda sudah menunggu dengan ahli terapis yudish Dr.Jacob,wanita anggun itu tersenyum penuh arti menatap anak dan calon menantunya yang berjalan menuju ke arahnya.
" slamat siang bibi ,dokter,,"
" slamat siang sayang,," miranda langsung menautkan pipinya ke pipi Dilara
" selamat siang nona Dilara tuan Yudish" kata dr jacob menundukan kepalanya hormat,dilara membalasnya dengan senyuman dan yudish hanya menganggukan kepala.
dr.jacob adalah dokter terbaik yang di pilihkan orang tua Dilara untuk membantu kesembuhan Yudish.
" kita mulai terapinya sekarang dokter" tiba tiba saja Yudish bersuara,miranda dan Dilara saling menoleh,keduanya bingung kenapa hari ini yudish terlihat bersemangat untuk terapinya?
Miranda berfikir Dilara lah yang membuat yudish bersemangat dan ia sangat bahagia atas semua itu,miranda menggenggam tangan dilara dengan tersenyum bahagia seolah ingin berterima kasih.sedangkan Dilara berfikir apa yudish sangat mencintai wanita itu sehingga kata kata dilara sangat berpengaruh pada yudish?lalu kenapa yudish tidak berusaha mengejar cintanya?bukankah wanita itu juga mencintai Yudish?Dilara pernah beberapa kali melihat Arumi ada di rumah sakit tempat yudish di rawat walaupun tidak masuk ke ruangan Yudish tapi dilara tau wanita itu mencari tau tentang Yudish,pernah juga saat dilara membawa yudish ke taman rumah sakit,wanita itu mengikuti mereka,menatap mereka dari jauh tapi dilara dapat melihat kesedihan pada raut wajah wanita itu,dan ia dapat menyimpulkan bahwa arumi dan yudish memiliki hubungan.
Sebulan sudah Yudish melakukan terapi dengan sungguh sungguh,kini perkembangan nya sudah sangat baik kakinya sudah bisa berjalan tanpa alat bantu,walau belum bisa berjalan dengan cepat tapi perubahan itu sudah sangat berarti bagi keluarga yudish,sudah pasti keluarga Yudish menganggap semuanya karna kehadiran Dilara,dan mereka sangat bahagia,akhirnya Yudish sudah bisa melupakan Arumi dan mulai bisa menerima Dilara di hidupnya bahkan kini Yudish mulai bisa membalas senyum Dilara tentu itu akan mempermudah Yudish menerima perjodohan ini,itu yang di fikirkan orang tua yudish.
__ADS_1
Yudish duduk di balkon kamarnya,ia melamun,matanya menatap langit malam yang penuh bintang,malam itu langit begitu cerah,anginpun hanya berhembus pelan seakan merayu penikmatnya,fikiranya melayang ke seorang wanita.
❤️❤️❤️