
Ameera memasuki Ruangan itu ia berdiri menatap laki laki yang terbaring lemah ,menelisik tiap jengkal wajahnya lalu ia mendudukan dirinya di tempat yang tadi Arumi duduki.
Wajah pria ini sangat tampan,walau terlihat banyak luka sekali pun tidak menutupi ketampanannya.
" Hay,,Yudish,,,aku tak menyangka pertemuan pertama kita setelah bertahun tahun lamanya harus di rumah sakit dalam keadaan begini" Ameera tersenyum sambil menatap pria itu dan yang terdengar hanya suara mesin yang menjawab.
Ameera menyentuh perban di tangan Yudish, dahinya berkerut,kenapa terasa basah,,? apa wanita tadi menangis di ruangan ini?tadi Ameera melihat mata Arumi sangat sembab seperti habis menangis.Apa memang ini air matanya?lalu apa hubunganya ia dengan Yudish?
" Yudish,aku tau kau bisa mendengar ku,walau kau sekarang terbaring lemah, hanya matamu saja yang menutup,tapi aku yakin hatimu masih bisa merasakan" Ameera mengusap tangan itu.
"Yudish,maaf aku harus mengatakan ini,,, jika nanti kau terbangun,aku mohon mintalah untuk membatalkan pertunangan ini ,aku belum siap untuk semua ini Yudish " Ameera memelas,Ia menjatuhkan kepanya di atas tangan Yudish seakan ia lelah dan ingin mengadu kepada seorang kakak.
Ameera ingin memejamkan matanya sejenak,tapi merasakan sepertinya ada pergerakan di tangan yang ia pegang itu,lalu ia mengangkat cepat kepalanya,melihat ke arah tangan yang ia pegang dan betapa terkejutnya Ameera,
Ia refleks bangun dari duduknya lalu mundur dari sana,ia melihat Yudish membuka matanya, tapi tatapanya hanya kosong memandang ke atas,suara mesin di dalam ruangan itu pun berbunyi dengan tidak teratur, Ameera benar benar terpaku karna rasa terkejutnya,namun secepatnya ia tersadar lalu menghampiri Yudish.
Secepat nya Ameera menekan tombol penghubung ke ruangan perawat dam tak butuh waktu lama para dokter dan perawat berdatangan lalu mereka menunduk hormat kepada Ameera.
" Dia,,tiba tiba saja membuka matanya " kata dilara masih terlihat kaget.
" baik,kami akan memeriksanya nona"
Ameera di minta keluar dari Ruangan untuk menunggu di ruang tunggu.
Ameera menghubungi keluarga Yudish untuk memberi tau kalau Yudish sudah sadar dan tak lama mereka pun datang ke rumah sakit.
Orang tua Yudish langsung terlihat sumringah melihat calon menatunya ada disana,Nyonya Miranda langsung memeluk erat Ameera,setelah Ameera menceritakan semua yang terjadi di ruangan tadi.
__ADS_1
Dokter bilang ini benar benar keajaiban, Yudish sadar dengan cepat dan semua organ dalam tubuhnya berfungsi dengan baik,bahkan benturan di kepalanya pun tidak menunjukan adanya tanda tanda krusakan yang menghawatirkan,setelah selesai melakukan pemeriksaan Dokter mengijinkan keluarga untuk melihat keadaan Yudish, walau tetap harus mengikuti aturan rumah sakit.
Yudis merasakan nyeri di seluruh tubuhnya,tapi ia tadi merasa ada suara Arumi di dekatnya memanggil namanya,menyuruhnya untuk bangun dan berjanji tidak akan meninggalkanya,hanya saja Yudish sulit sekali membuka matanya walau di dalam hatinya ia terus menyebut nama Arumi,tapi tubuhnya seperti di ikat oleh rantai sehingga sangat sulit di gerakan,
ternyata setelah Yudish bersusah payah berusaha membuka matanya,suara Arumi menjauh,,,tapi genggaman tangan itu masih ada,Yudish berhasil membuka matanya,berusaha menggenggam tangan yang sedang menggenggam tanganya,namun alangkah kecewanya Yudish ternyata wanita itu bukanlah Arumi,Yudish tidak tau siapa wanita itu,Yudish benar benar kecewa,ternyata Arumi benar benar tidak lagi memperdulikanya,kenapa tuhan tidak ambil saja nyawanya, malah membiarkan nyawanya selamat.
Akhinya setelah hasil pemeriksaanya selesai Yudish di izinkan pindah ke ruang pemulihan yang keluarganya siapkan,
beberapa perawat masih ada di sana membantu posisi Yudish agar merasa nyaman,karna perban di tangan kakinya masih terpasang.
Disana keluarganya berkumpul,Ayah dan Ibunya,bibinya juga Rushan ada di sana,dan terlihat wanita itu juga ada,siapa sebenernya wanita itu.
Yudish terus menatap Ameera dengan sangat tajam,ia belum mengeluarkan sepatah kata pun,hanya tatapan menusuk yang ia perlihatkan
Tentu saja Ameera menjadi takut dengan tatapan itu,ia menundukan wajahnya setelah mata nya beradu pandang dengan mata kelam Yudish,bagaimana bisa laki laki menakutkan itu harus menjadi suaminya nanti?Ameera benar benar akan berusaha membatalkan perjodohan ini.
" paman bibi maaf sepertinya aku harus pergi sekarang " kata Ameera.
" Tunggulah sebentar Ameera,Bibi akan memberitahukan kepada Yudish, sepertinya ia sedikit vmelupakanmu!" ibu Yudish tersenyum dengan anggun menahan Ameera untuk tidak meninggalkan ruangan itu .
Ameera hanya tersenyum sungkan ia lalu menganggukan kepalanya.
" baiklah bi,," Ameera berusaha menghindari tatapan Yudish,ia menoleh ke sembarang arah tapi ia malah terperangkap oleh tatapan seorang pria lain,Rushan.
Rushan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan,tapi bibirnya mengulas sedikit senyum walau hanya tipis, dan Ameera bisa sedikit bernafas lega ia pun membalas senyum itu dengan sumringah.
Setelah para perawat meninggalkan ruangan,Miranda dan bibinya,mendekat ke arah Yudish,Miranda mengelus kepala anaknya dengan sayang sementara bibinya mengusap tanganya dengan senyum cantiknya.
__ADS_1
" bagaimana keadaan mu nak?" Tanya Yenash dengan sayang.
Yudish tersenyum kepada bibinya lalu ia menatap ibunya,bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
" apa ada yang kau inginkan nak?ingin makan sesuatu? biar nanti ibu minta pengawal memembelikanya"
katanya lagi dengan antusias.
Yudish menggelengkan lemah kepalanya,tatapanya masih saja kosong seperti ada beban berat yang ia rasakan.
" oh ya Yudish,, apa kau masih ingat dengan Ameera?" sekarang ayahnya yang buka suara.
Yudish memiringkan kepalanya sejenak menatap gadis cantik itu sebentar lalu ia menoleh kembali sambil menggelengkan kepalanya.
Baru saja ayahnya akan berbicara, Yudish langsung memotong nya,dengan perkataan dingin.
"Aku ingin istirahat " Katanya singkat dan itu membuat semua orang saling pandang.
" Baiklah kami akan keluar,istirahatlah sayang " Miranda mencium sayang kening anaknya,lalu melangkahkan kakinya keluar bersama orang orang yang ada di dalam sana.
" Baiklah bibi aku pamit pulang sekarang ya!" kata Ameera dengan senyum menawanya,ia sama sekali tidak tersinggung dengan perlakuan Yudish,yang ada Ameera malah sedikit lega, karena sepertinya hal yang sangat mudah membuat Yudish membatalkan perjodohan mereka, karena Ameera bisa merasakan kalau Yudish pun sepertinya keberatan dengan perjodohan ini.
" Ameera,, maafkan sikap Yudish,di dia hanya belum terbiasa,kami harap kamu memakluminya " nyonya Miranda berucap dengan sungkan,merasa tidak enak hati dengan sikap anaknya itu.
Ameera hanya tersenyum manis menanggapi kata kata wanita anggun itu.
" iya bibi,,,lagi pula ia baru saja mengalami hal yang mengerikan,aku memakluminya,bibi tenang saja" senyum cerah itu selalu saja penuh pesona.
__ADS_1
Rushan terus saja memperhatikan wanita itu dalam diam, senyumnya masih seindah dulu,sikap lembutnya,tawanya,semua masih sama,Ameera yang sangat ia kagumi,entah dulu atau pun sekarang,atau mungkin rasa kagum itu sudah berubah menjadi cinta, entahlah Rushan tidak ingin melebarkan perasaan itu,karna semua sudah pupus saat pertunangan itu telah di sepakati oleh keluarganya.