
Pagi yang cerah matahari menerobos jendela membagi kehangatanya kepada wanita yang terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuhnya,wanita dengan wajah cantik itu mengejapkan matanya menolak pancaran sinar matahari yang menyorot wajahnya.
Dilara bergumam sambil membalik tubuhnya enggan membuka matanya, rasanya matanya sulit untuk di buka,dia masih sangat mengantuk,kepalanya maaih terasa pusing,semalam ia benar-benar di kerjai habis habisan oleh teman temannya menuruti rayuan temannya untuk membuat acara pesta lajang,dan berakhir dengan memuntahkan isi perutnya di sofa karna terlalu banyak minuman aneh yang masuk ke tubuhnya.
" Sayang,ayo bangun,,"suara lembut itu membangunkan anak semata wayangnya dengan sayang,mengelus rambutnya.
" hmmm,,,mm,five minutes please!"sambil mata masih terpejam
" ayolah sayang bangun,ini sudah jam 10,ya ampun,kau akan menjadi seorang istri nak,hilangkan kebiasaan bangun siangmu itu sayang" wanita paruh baya itu tersenyum sambil masih terus mengusap sayang kepala anaknya.
Dengan susah payah dilara membuka matanya yang masih terasa sepat ia masih setia memeluk gulingnya berusaha mengumpulkan kesadaran.
" bukankah hari ini kau akan pergi bersama Yudish?"
Ya tuhan,,,aku lupa,Dialara langsung mendudukan dirinya di kasur,ia benar benar lupa kalau hari ini Yudis mengajaknya mengunjungi butik untuk mencoba gaun pengantinya.
" ya tuhan,ibu,,,trimaksih sudah mengingatkanku,aku pergi mandi dulu"
tanpa menunggu jawaban ibunya ia langsung melesat memasuki kamar mandi,sang ibu hanya menggeleng kan kepalanya sambil tertawa melihat tingkah anak gadisnya.
Setelah melakukan berbagai macam ritual mandinya dan juga ritual merias dirinya dengan waktu singkat,akhirnya ia selesai.
Dilara menggunakan dress cantik selutut berwarna putih dan bercorak bunga kecil berwarna biru dengan aksen tali satu menghiasi pundak mulusnya,di percantik dengan hilss berwarna senada,rambut indahnya ia buat sedikit bergelombang,benar benar pahatan tuhan yang sempurna.
Dialara menuruni tangga dengan anggun,dia melihat Yudish duduk di sofa bersama ayah dan ibunya.
Pria itu masih seperti biasa,berwajah dingin tapi sangat tampan,wajah tegas itu mempunyai daya tarik tersendiri .
__ADS_1
" selamat pagi,," sapa Dilara dengan senyum ramahnya
" pagi,," Yudish membalas dengan senyum singkat.
" pagi sayang,,"
Dilara mendudukan dirinya dengan anggun di sebelah ibunya.
" maaf membuatmu menunggu lama , apa kita akan berangkat sekarang?" Dilara bertanya kepada Yudish dengan penuh senyuman.
" tidak apa,aku baru saja tiba,ayo kita berangkat sekarang " Yudish bangun dari kursi masih dengan wajah tanpa ekspresi.
" baiklah,," dilara pun bangun
mereka berpamitan kepada orang tua dilara,jelas sekali kebahagiaan nampak di wajah sang ibu,senyumnya tak pernah hilang semenjak Yudish dan Dilara sama sama menyetujui pernikahan mereka,bahkan Yudish meminta langsung menikah tanpa ada acara pertunangan terlebih dahulu.
" Aku sangat bahagia,akhirnya mereka akan segera menikah dan memulai kehidupan baru mereka" wanita tua dengan senyum manis itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami tak segan sang suami meraih pundaknya dengan sayang.
sedangkan sang suami memeluk erat tubuh kecil itu dengan penuh sayang.
" kau wanita kuat sayang,kita bahkan akan melihat banyak cucu kita yang akan lahir nanti,aku mencintaimu"
sang suami mengusap lembut pundak istrinya dan memberikan ciuman di puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang walau dadanya terasa sesak mendengarnya tapi ia tak ingin menambah kesedihan sang istri yang sedang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya,kematian itu pasti akan datang kepada siapapun hanya waktunya saja yang membedakanya.
****
Di dalam mobil mereka masih saja membisu,terkadang ia mencuri pandang ke arah laki laki berwajah dingin itu,ia tak habis fikir kenapa laki laki ini dengan mudah menyetujui perjodohan ini,bahkan dengan mudahnya ia meminta langsung pernikahan,bahkan hanya dalam waktu satu minggu,apa itu tidak terlalu cepat,bahkan mereka saja belum saling mengenal dengan baik?Yudish sangat irit bicara,sedangkan dilara terlalu takut untuk banyak bicara,karna wajah dingin dan tatapan tajam itu sangat menciutkan nyalinya walau hanya sekedar bertanya.
__ADS_1
" mengapa kau terus saja melihat ke arahku" suara tegas nan dingin itu mengagetkan dilara hingga terlonjak kaget dalam lamunanya.
Dilara menolehkan wajahnya cepat ke arah Yudish dengan rasa malu karna reaksi kaget yang berlebihan dilara tersenyum menutupj rasa malunya, tak di sangka Yudish malah menaikan bibirnya walau tertahan,tapi senyum itu terlihat sangat manis dan dilara terpaku dengan pemandangan di depanya.
" apa aku begitu menakutkan hingga suaraku saja begitu mengangetkanmu?" kata Yudish masih menahan tawanya.
" ee,, tidak juga,hanya saja aku sedang melamun tadi jadi ,,emm,,, maaf ya " dilara tersenyum tulus
" seharusnya aku yang minta maaf karna mengagetkanmu,,,maafkan aku dilara".
seketika senyum itu hilang wajahnya kembali seperti semulaa.
ada perasaan aneh ketika Yudish meminta maaf,seprtinya kata maaf itu mempunyai arti yang luas.
" bicaralah,,sebelum semuanya terlambat,dan kau akan menyesalinya!"
kenapa kata katanya terasa menakutkan,batin dilara
" baiklah,, sebenarnya aku ingin bertanya,kenapa kau langsung menerima perjodohan ini?dan menginginkan pernikahan yang cepat?"
" apa aku punya alasan untuk menolak wanita seperti mu?dan aku rasa soal pernikahan bukanlah suatu permasalahan toh suka tidak suka nantinya kita akan tetap menikah,jadi tak ada salahnya kan kalau aku mempercepat waktunya!" terdengar ambigu,entah kenapa dilara merasa kan kesedihan di nada bicara yudish.
Dilara mengerutkan dahinya, mencoba mencerna maksud perkataan yudish dan yudish memperhatikan itu,entahlah Yudish pun tidak mengerti dengan perasaanya sekarang,ia masih belum ingin menghapus Arumi dari hatinya tapi ia berfikir jika Arumi memang bahagia dengan pilihannya ia akan mengikhlaskannya, belajar memulai hidup barunya dengan berdampingan dengan dilara yang ia ketahui bahwa dilara pun bernasib sama dengan nya,ia tak berharap dilara dapat menggantikan Arumi di hatinya tapi setidaknya,menjalani hidup dengan orang yang merasakan hal yang sama seperti nya akan terasa lebih mudah.
" Apa kau ingin berniat membatalkan pernikahan ini?" sambung Yudish yang melihat ekspresi dilara.
" Tidak,,,kau benar, apa gunanya menunda,toh kita pun tidak akan pernah bisa lari dari semua ini"Dilara hanya tersenyum menatap yudish yang memperhatikan jalan di depanya dengan wajah datar dan kesedihan yang berusaha ia tutupi dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
Dilara hanya bisa berdoa,semoga ia bisa menjalani kehidupannya dengan baik,dan bisa membahagiakan ibunya hingga waktu yang akan memisahkannya dengan belahan jiwanya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️