
Rizt memperhatikan istrinya yang menangis pilu, terlihat bahunya turun naik tak beraturan.
Ia hanya bisa menatap wanitanya dari kejauhan ,ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan arumi untuk membagi rasa sakitnya,karna rizt merasa ikut andil dalam kesedihan yang Arumi rasakan, tapi kembali lagi pada rencananya,ia ingin melindungi wanita itu dari kekejaman keluarga mereka.
Siang itu Rizt berjanji akan menjemput arumi di pusat perbelanjaan yang kebetulan dekat dengan tempatnya bekerja.
Baru saja memasuki tempat itu, Rizt melihat Arumi sedang berbicara dengan seorang wanita dan seorang pria berada di belakang wanita itu yang terus menatap tajam ke arah arumi.
Ada rasa tidak nyaman melihat pria itu menatap istrinya seperti itu,Rizt ingin menghampiri tapi terlihat Arumi membalikan badanya lalu berjalan cepat menuju pintu keluar,ia sampai tak melihat rizt di dekatnya,Rizt bisa melihat kalau Arumi berusaha mengusap air matanya,ada apa dengan istrinya? fikirnya tidak mungkin karna wanita itu yang membuat Arumi menangis
Setelah memperhatikan agak lama ternyata ia baru sadar bahwa pria itu adalah Yudish,dan rizt langsung mengikuti Arumi.
Ia menemukan istrinya di taman sepi,rizt berjalan dengan langkah ragu,tapi ia meyakinkan diri bahwa Arumi membutuhkan sandaran saat ini,meskipun bukan rizt yang ia inginkan.
rizt mendudukan dirinya di sebelah Arumi,walaupun ia datang tanpa suara tapi Arumi nyatanya sangat terkejut,Arumi menghapus cepat air matanya mencoba menghentikan tangisnya,tapi sisa sisa tangisan itu masih tampak jelas.
untuk beberapa detik mereka hanya diam tanpa bicara.rizt menarik nafas perlahan.
" maafkan aku " rizt menoleh ke arah arumi yang secepat kilat menaikan pandanganya.
ia masih belum bisa mencerna dengan baik kata kata rizt dia hanya diam sambil masih mengatur nafasnya
" Mungkin aku jahat karna memisahkan kau dengan cintamu,tapi percayalah ini semua untuk kebaikan mu Arumi"
Arumi mengeluarkan lagi air matanya,ucapan rizt sangat membuatnya semakin pilu.ia sebenarnya bingung tapi lidahnya sangat kelu untuk di gerakan untuk bertanya,jadi ia hanya mengeluarkan air matanya.
" Aku bisa merasakan sakitnya kehilangan dan sakitnya di hianati, tanpa ada satupun orang yang menolong,untuk itulah aku ada disini bersamamu" rizt menarik nafasnya.
" jangan jelaskan apapun sekarang rizt,aku tidak akan siap,biarkan tetap seprti ini,aku tidak bisa mengubah jalan yang pernah ku lalui,tapi aku ingin kedepanya semua baik baik saja" arumi menatap rizt dengan sendu,lalu membuang pandanganya ke arah lain
Rizt hanya tersenyum kecut
****
Arumi menjalani hari harinya sebagai seorang istri yang baik,memenuhi keperluan suaminya dengan sangat baik,ia mencoba berdamai dengan keadaan,mencoba menerima rizt sebagai suaminya dengan sepenuh hati, mungkin ini jalan terbaik,menerima garis hidupnya,yang nyatanya tidaklah buruk,meskipun harus menekan perasaanya melupakan Yudish,ia harus bisa,lagi pula sekarang Yudish telah menikah dengan Dilara Wanita sempurna yang bisa mendampinginya,ia melihat acara pernikahan Yudish dan Dilara yang di saksikan live di stasiun televisi milik kelurga Yudish ,hatinya masih saja sedih melihatnya,tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha melupakan Yudish.
Meskipun tidak melihat kebahagiaan di wajah Yudish tapi Arumi tau Yudish berusaha menerima Dilara dalam hidupnya,terlihat dari caranya memperlakukan Dilara di salah satu tayangan tv saat mereka wawancara,Arumi melihat Yudish perduli dengan sekali dengan Dilara,ia menghadang beberapa wartawan yang menerobos mewawancarai mereka,Yudish melindungi dilara dari kejaran wartawan dengan memeluk pinggang Dilara dengan erat,Arumi tidak sanggup lagi menyaksikannya ia lalu mematikan tv nya.
" Arumi,,,Arumi,apa kau di dalam?" ketukan pintu dan suara rizt memecah lamunanya ia menghapus air matanya dengan cepat,lalu berdiri untuk membukakan pintu kamarnya,itulah kebiasaan rizt memasuki kamar mereka,ia pasti mengetuk dulu pintunya,itu ia lalukan untuk menghormati Arumi dan membuatnya nyaman.
sebelum membuka pintu kamar ia mengambil udara dalam dalam dan menghembuskanya perlahan lalu mencetak senyum di bibirnya.
__ADS_1
" iya Ritz " Arumi membuka pintu lalu tersenyum sangat indah.
melihat suaminya di depan pintu dengan wajah berseri,terlihat lebih tampan,tapi kenapa belum bisa menggoyahkan hatinya.
Rizt membalas senyum Arumi dengan sumringah, seperti nya ia sedang bahagia.
" ada apa? kenapa cepat kembali,bukanya belum waktunya pulang kerja?" kata Arumi sambil melebarkan pintu.
" Aku izin dari kantor,karna pekerjaanku sudah selesai,makanya bos mengizinkan,aku sedikit lelah sepertinya istirahat di rumah lebih baik,daripada harus menunggu jam pulang kerja" kata rizt melonggarkan dasinya.
lalu merebahkan dirinya di kasur
" oh,, baiklah,apa kau ingin mandi?biar aku siapkan air hangat"
Rizt tersenyum sambil mengangguk
"trimakasih Arumi"
Arumi membalas senyum rizt dengan tulus.
" oh ya Arumi,jam berapa ayah berangkat tadi?" tanya Rizt sedikit berteriak karna Arumi ada di kamar mandi.
" emm,,sekitar 3 jam setelah kau berangkat ke kantor,ia bilang pesawatnya di undur keberangkatanya" kata arumi keluar dari kamar mandi.
" ingin kopi atau teh?"
rizt membuka matanya pelahan.
" kopi saja"
" baiklah aku akan membuatkan nya,kau mandilah,berendam air hangat akan membuat lelahmu hilang" kata Arumi sambil berlalu keluar kamar.
Rizt menatap punggung istrinya sampai menghilang di balik pintu.
" kau wanita baik Arumi,keputusanku sudahlah benar,dengan menikahimu"
Rizt bangun dari tidurnya berlalu ke kamar mandi.
Arumi sedang membuat kopi di dapur tiba tiba Suara salina mengagetkanya.
" hey tikus,apa rizt sudah pulang?kenapa kau membuat kopi?"tanyanya ketus.
__ADS_1
arumi menarik kasar nafasnya.ingin tidak menjawab tapi pasti wanita ini akan lebih tajam memakinya.
" iya" jawabnya singkat
wanita itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Arumi.
" dasar wanita aneh " kata arumi pelan.
Setelah selesai Arumi berniat membawa kopinya ke kamar, sebelumya ia mengetuk pintu nya terlebih dahulu.
" Rizt,,ini kopinya"
" bawalah ke ruang kerja Arumi,aku sedang berpakaian" kata rizt setengah berteriak.
" baiklah "
Arumi lalu turun ke ruang kerja,ia meletakan kopinya di meja,lalu sambil menunggu rizt ia menyalahkan tv,lagi lagi berita seputar pernikahan Yudish.
Arumi mematikan lagi tv nya lalu keluar ruangan kerja,berniat akan kembali ke kamar,siapa tau Rizt telah selesai.
ia berpapasan dengan salina yang menuruni tangga dengan terburu buru, sambil merapihkan rambutnya.ia bahkan tidak menoleh Arumi
Arumi berusaha tidak memperdulikannya,Salina memasuki kamarnya lalu menutup pintunya.
Arumi sedikit memperhatikan tapi ia langsung berlalu menuju tujuanya.
Arumi mengetuk kamarnya lagi dan rizt langsung membukanya.
" masuklah Arumi " rizt melebarkan pintunya.
Arumi menatap rizt sekilas,ada yang berbeda dari rizt,tapi apa ya?
" apa berendam air hangat sangat menyegarkan?" kata arumi sambil merapihkan kasurnya yang sedikit berantakan.
" emm lumayan,kenapa?" tanya rizt.
" wajahmu terlihat lebih bersemangat dari yang tadi " kata arumi sambil tersenyum.
rizt tertawa menutupi kegugupannya.
" itu hanya perasaanmu saja " kata rizt
__ADS_1
Arumi hanya menanggapinya dengan senyuman.
❤️❤️❤️❤️❤️