
Hubungan Yudish dan Dilara pun berjalan sangat baik,ia memeperlakukan Dilara seprti seorang Adik,melindunginya dan berusaha memberi kebahagiaan untuk Dilara.
Dilara juga sangat nyaman dengan perlakuan Yudish selama ini,yang sangat menyayanginya,selalu ada di saat hari hari terberatnya, mensuport Dilara yang sedang sedih ketika sang ibu harus koma selama 3 hari di rumah sakit, Yudish tak pernah meninggalkan Dilara sedikitpun,ia yang memeluknya dikala rasa takut kehilangan ibunya menghantui tidurnya setiap malam.
Karna rasa nyaman itu entah sejak kapan rasa cinta mulai tumbuh di hatinya, Dilara mulai menginginkan perlakuan lebih dari suaminya.
Meskipun ia tau di hati yudish masih ada orang lain yang selalu menjadi penghalangnya memasuki hati sang suami,tapi bukankah cinta akan hadir karna terbiasa bersama.
Setelah dilara meyakini jika itu adalah cinta,ia akan berusaha membuat yudish melupakan wanita itu dan menggantikan posisiny di hati Yudish.
Seperti malam ini,ia mencoba menjalankan kewajiban utamanya sebagai seorang istri.
Sore menjelang malam,Dilara menunggu Yudish pulang dari kantor seperti biasa,hanya saja penampilanya yang berbeda dari hari biasanya,ia sengaja tidak turun ke bawah dan menunggu Yudish di kamar mereka.
Ia mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis dan minim bahan,bahkan karna terlalu tipis hingga memperlihatkan buah dada dan kain penutup miliknya pun terpampang jelas, Dilara sengaja memakai pakaian haram itu untuk memancing yudish.
Sejujurnya ia pun takut dengan perbuatanya ini,ia takut dengan reaksi yudish nanti,hanya saja ia harus melakukanya jika ingin suaminya menjadi miliknya seutuhnya,bukankah kata orang anak akan mempererat hubungan suami istri,hanya itu yang ia fikirkan.
Lagi pula Yudish tentu saja lelaki normal dan Dilara yakin ia akan terpancing dengan penampilan nya sekarang,lelaki mana yang akan menolak pesona seorang model yang sangat cantik di tambah lagi dengan pakaian sexy berwarna merah yang sangat cocok di kulit putihnya dan nanti jika Yudish terperangkap dengan aksinya ia akan membicarakan perihal keinginanya memiliki anak bersama Yudish.
Rencana sudah ia susun dengan baik sejak tadi,tapi ia benar-benar gugup sekarang,apalagi ia sudah melihat dari balkon kamar,mobil Yudish telah memasuki pekarangan rumahnya,ini lebih gugup dari pada ia harus berpose di depan banyak orang.
Tak lama pintu kamar di buka oleh Yudish dan Dilara terlonjak kaget tapi ia mencoba meredam rasa gugupnya,ia harus belajar menjadi ****** untuk suaminya sekarang.
Yudish belum fokus dengan dilara yang duduk dengan sensual di atas tempat tidurnya,ia masih melonggarkan dasi sambil berjalan akan menyimpan tasnya di meja.
__ADS_1
" Tumben sekali kau tidak menyambut ku? " Tanyanya sambil melepaskan jam tangan.
Ia masih membelakangi Dilara yang berjalan ke arahnya membantu membuka jasnya tanpa suara,setelah jasnya terbuka Yudish membalikan badannya lalu mencium kening istrinya.
Ia menatap heran Dilara yang hanya diam saja menatapnya,tidak seprti biasanya dilara hanya diam,biasanya ia yang selalu mengoceh jika Yudish pulang kerja, menanyakan bermacam pertanyaan sampai Yudish lelah menjawabnya.
Ada apa dengan Dilara? Ia memperhatikan wanita itu dengan seksama,menjauhan tubuhnya dari istrinya lalu menatap Dilara dengan mata melebar.entah takjub atau marah sangat sulit di bedakan.
Namun tak lama ia langsung membuang pandanganya sambil menghebuskan nafasnya dengan kasar.terlihat ia sedang menahan emosi nya.
" Pakailah pakainmu,aku akan keluar " terdengar sangat dingin dan tajam.
Yudish berjalan meninggalkan Dilara, tapi belum sampai ke pintu,sebuah tangan menghadang dadanya dari belakang,ya Dilara memeluk Yudish dari belakang dengan sangat eratnya,hingga gundukan milik nya tetasa sangat menempel di punggung Yudish.
Tapi kembali lagi nafsu tidaklah mampu mengusik perasaannya.meskipun suara lirih itu terdengar memaksa.
" Apa kau marah padaku?kau tidak menginginkannya?" Tanya dilara lirih.
Yudish hanya diam,ia sedang berperang antara reaksi tubuh dan fikiranya.ia memejamkan matanya,menarik nafas dengan sangat berat.
Akhirnya Yudish memegang tangan dilara di dadanya,mencoba melepaskan dengan Lembut lalu berbalik ke arah dilara.ia tidak ingin menyakiti hati dilara dengan sikap kasarnya.
Yudish menatap wajah dilara dengan lembut,ia lalu memeluknya,karna Yudish tidak ingin dilara merasa terhina jika ia menolaknya mentah mentah.
" Maafkan aku Dilara,sebaiknya biarlah kita tetap berjalan Seperti biasanya,jangan mencoba merubah apa yang selama ini telah kita sepakati,aku menyayangimu,seperti seorang adik,jadi tolong jangan berfikir melebihi batasan itu,aku tidak ingin membencimu Dilara, tetaplah menjadi adikku yang manis " Yudish mencium pucuk kepala Dilara,wanita itu menangis di pelukan Yudish, entahlah apa yang ia rasakan,entak menyasal atau bersedih karana merasa di tolak,hanya ia dan tuhan yang tau.
__ADS_1
Tapi yang pasti pelukan Yudish lah yang selalu mampu membuatnya tenang dan nyaman,setelah cukup menumpahkan tangisnya,Yudish jauhkan tubuhnya.
" Kenakan pakaian mu aku akan keluar sebentar,nanti aku kembali dan jangan membuatku terkejut lagi oke " katanya sambil mengusap kepala Dilara lalu pergi meninggalkan istrinya yang tersenyum sangat kecut.
Yudish pergi ke luar berniat membeli bunga untuk dilara,ia tau bunga pasti bisa mebuat Dilara melupakan fikiran negatifnya,karna wanita itu sangat menyukai bunga mawar.
Karna ia rasa ia pun harus menyegarkan otaknya.
Saat ia keluar dari toko bunga ia melihat wanita yang selama ini menempati hatinya,walaupun di mulut dan fikiran ia merasa benci dengan wanita itu tapi hatinya tidak pernah sedikitpun berusaha menghapus nama Arumi Nazira Amran,ia selalu saja berusaha mencarinya tau kabar wanita itu,memastikan wanita itu baik baik saja.
Seperti sekarang ia melihat Arumi menyebrang jalan ke arah tempat ia berdiri,wanita itu melihat ke arah depan tapi dengan tatapan kosong,seperti sedang berfikir, Yudish mengerutkan keningnya melihat tingkah Arumi,lalu secepat kilat ia berlari menarik tangan wanita itu dengan cepat,hingga jatuh di pelukanya,secepat itu juga mobil boks melaju dengan kecepatan tinggi melewati mereka.
Tanpa sadar Yudish memeluk Arumi dengan sangat erat seperti meluapkan kerinduan dan merasa takut kehilangan lagi,jantungnya berpacu dengan sling bersahutan dengan jantung wanita yang ada di dekapanya sekarang.
Arumi seperti terhipnotis oleh wangi yang sangat ia rindukan untuk beberapa saat otaknya berhenti bekerja hanya menikmati kehangatan serta wangi tubuh pria ini,bahkan Arumi tanpa sadar membalas pelukan pria itu dengan menempelkan kepalanya lebih erat ke dada si pria.
Setelah otak mereka sama sama berkerja dan kembali pada kesadarannya,lalu mereka saling melepaskan pelukannya,berbeda dengan Yudish yang nampak diam dan hanya menatap tajam.
Arumi terkejut dan membolakan matanya melihat pria yang ada di hadapanya,ia lalu memundurkan langkahnya sambil mengoyangkan lemah kepalanya.
Secepat kilat Arumi meninggalkanya Yudish tanpa kata berlari dengan cepat secepat yang ia bisa,wangi yang sangat ia rindukan itu masih terasa di penciumanya,seakan mengukuti langkahnya.
Ia menangis , karna ia baru mengadari berapa ia sangat membutuhkan pelukan itu yang telah lama tidak pernah ia rasakan,nyatanya pelukan singkat itu mampu membawa dirinya kembali ke masa masa dulu,masa dimana hanya Ada Yudish dan kebahagiaan untuknya.
Tangis itu seperti tangis bahagia sebelum kilasan hidup nya kini datang begitu saja,membuat senyum di tengah tangis itu memudar secara perlahan.
__ADS_1