Cinta Untuk Arumi

Cinta Untuk Arumi
19.Kebahagiaan di atas kematian


__ADS_3

Waktu terus berlalu,momen momen kebersamaan terus berjalan bersama,bahagia kecewa datang silih berganti.


Jika ditanya apa rumahtangga mereka berjalan baik,maka jawabannya iya,tapi apakah mereka bahagia?biar waktu yang akan menjawab.


Arumi sudah menerima takdir nya dengan ikhlas,menjadi istri seorang Rizt bukanlah impianya,hanya saja kini menjadi takdirnya mencoba berdamai dengan keadaan,Rizt pun demikian,mencoba menjadi pelindung untuk Arumi,hanya itu,tidak ada cinta ataupun berusaha menempatkan Arumi sebagai istri seutuhnya.


Hingga detik ini setelah kurang lebih 1 tahun pernikahan ia masih setia ada di sisi wanita itu tanpa menyentuhnya ataupun menuntut haknya,kadang Arumi ingin bertanya mengapa Rizt bersikap demikian,tapi itu akan terkesan Arumi berharap lebih,sedangkan dirinya pun nyaman dengan hubungan yang seperti ini.jadi ia memilih diam dan menjalani hari harinya dengan bahagia.


Hingga suatu malam,Arumi menememukan jawaban atas pertanyaanya selama ini.


Ternyata suami yang ia hormati selama ini telah berselingkuh di belakangnya ,, bukan ,,bukan di belakangnya tapi di depanya,jika di tanya apakah sakit?jawabanya ya,bukan karna merasa di hianati tapi merasa seperti wanita bodoh yang hanya bisa diam melihat suaminya berselingkuh di depan matanya bahkan di rumahnya sendiri.


Ia memang bukan istri yang baik untuk Rizt ia pun tidak memenuhi kewajibanya terhadap suaminya,tapi apa kah balasan ini setimpal untuknya?


Semua berawal ketika kematian sang mertua, Ayah Rizt.


Malam setelah Mertua nya di makamkan,rumah yang tadinya ramai kini telah sepi, Beberapa keluarga yang berkunjung pun telah pulang ke kediaman mereka masing-masing, Ayahnya dan ibu tirinya pun hanya datang sebentar untuk berbelasungkawa.


Arumi sudah memasuki kamarnya untuk beristirahat hari ini ia sangat lelah karna harus menemani rizt yang menyapa beberapa keluarga yang arumi tidak pernah kenal,sebenarnya sedikit aneh melihat keadaan rizt dan Salina hari ini,mereka kehilangan keluarga mereka, tapi kenapa tidak nampak kesedihan sedikitpun di wajah mereka,malah kalau Arumi tidak salah menafsirkan,mereka bahagia ya terlihat bahagia.entahlah mungkin karna rizt memang tidak dekat dengan sang ayah,tapi bukankah sejauh apapun jarak antara anak dan orang tua mereka harusnya bersedih jika di tinggal untuk selamanya?Keluarga suaminya memanglah aneh Salina pun yng dirasa dekat dengan sang ayah terlihat biasa saja.


Baru saja arumi akan masuk ke alam mimpi,pintu kamarnya di ketuk.


" Arumi ,, apa kau sudah tidur?" Rizt bertanya sambil mengetuk pintu.


" Masuklah rizt,aku sudah akan tidur" jawab arumi yang enggan bergeser dari kasurnya.


Pintu di buka,menampilkan wajah suaminya.

__ADS_1


" Aku hanya ingin bilang,malam ini aku akan tidur di kamar bawah,seprtinya Salina sangat sedih,aku jadi khawatir ia akan berbuat yang tidak tidak. "


Karna Arumi sudah sangat lelah ia hanya mengiyakan saja,matanya sudah enggan sekali untuk terbuka.


Ia mendengar pintu di tutup kembali,dan rizt pergi ke bawah.


Jam 2 dini hari, Arumi terbangun karna ternggorokanya terasa sangat kering,tidurnya pun sedikit gelisah,entah karna kelelahan atau karna terbiasa ada suaminya di sampingnya,ia jadi tidak bisa tidur nyenyak,akhirnya ia memutuskan bangun mencari air minum,setelahnya ia ingin melanjutkan tidurnya.


Entah apa yang membawanya malah ingin keluar kamar untuk melihat keadaan suaminya.Arumi berjalan menuruni tangga,rumah ini benar benar sepi,ia berniat melihat suaminya di kamar tamu,untuk memastikan keadaanya,tapi nyatanya kamar itu kosong.


" Kemana Rizt ?" Ia mencari suaminya ke dapur juga tidak terlihat keberadaan nya.


Hanya kamar Salinan saja yang belum ia lihat,tapi untuk apa Rizt tidur disana? Ia menggelengkan kepalanya berfikir tidak mungkin,ia akhirnya memutuskan kembali ke atas.


Tapi dari kamar salina Arumi mendengar suara orang tertawa.karna penasaran arumi mendekati kamar itu,menempelkan telinganya di sana,ia tau itu perbuatan yang tidak terpuji,tapi suara dari dalam sana membuat ia penasaran karna bukan suara perempuan saja yang terdengar tapi juga suara laki-laki yang sangat ia kenal,ya suara suaminya.


Tak lama suara tawa itu berhenti,Arumi mencoba mendengarkan lebih dekat,hening.


Arumi menarik nafasnya lalu menggelengkan kepalanya untuk membuang fikiran buruknya,ia memutuskan meninggalkan pintu itu.


Baru satu langkah ia berjalan,telinganya menangkap sesuatu yang tidak lazim di dengar,suara rintihan ,,bukan lebih terdengar seperti suara *******.


Perasaanya mulai tak menentu,rasa takut bercampur rasa penasaran menjadi satu,di kepalanya terus berputar tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi di dalam tapi ia berusaha menolak fikiran itu,terus saja di kepanya berperang antara iya dan tidak,suara apa itu mengapa terdengar sangat menakutkan untuk Arumi.


Ingin rasanya ia masuk dan melihat sendiri keadaan di dalam,tapi tubuhnya enggan di gerakan,ia hanya mematung mendengar suara suara itu saling bersahutan,suara salina lebih dominan,tapi suara suaminya pun terdengar sama menjijikanya,seketika air matanya menetes,tapi cepat cepat ia hapus dengan tanganya,entah apa yang ia tangisi,bukankah ini juga salahnya,ia tidak memberi hak suaminya,ia terlalu membuat batas untuk suaminya? Bahkan rasa cinta pun tidak ada di hatinya?


Sekuat tenaga kakinya ia langkahkan meninggalkan Pintu itu beserta suara yang sangat menakutkan untuk Arumi.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam kamar,menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur,kedua tanganya menghapus wajah dengan kasar,ia masib bingung dengan apa yang ia dengar,ada apa sebenarnya? Kenapa semua bisa seperti ini ? Arumi terus saja berperang dengan fikiranya,hingga akhirnya lelah membawanya ke alam mimpi.


"Arumi,,Arumi,,,"suara rizt dan suara ketukan pintu bersahutan.


Membuat arumi terkejut dan langsung mendudukan dirinya, kepalanya terasa pusing,sekelebat kejadian semalam masih membekas di kepalanya, entah kenapa malah membuat perutnya bergejolak,arumi berlari ke kamar mandi berusaha mengeluarkan apa yang ada di perutnya.


Rizt yang mendengar itu dari luar nampak khawatir,akhirnya ia membuka pintu kamarnya segera.


Ia melihat Arumi di kamar mandi tanpa menutup pintunya,akhirnya Rizt berusaha membantu Arumi, tapi arumi memberi gestur untuk menjauh.


Dengan bingung akhirnya rizt keluar dari kamar mandi,ia hanya bisa menunggu Arumi keluar dengan perasaan khawatir.


Setelag beberapa menit Arumi pun keluar,denga wajah pucat, Rizt berusaha mendekat tapi Arumi menahanya.


" Menjauhlah Rizt kumohon " suara lemah itu terdengar seperti kesakitan.


" Ada apa Arumi?" Rizt benar benar bingung dengan sikap Arumi.


" Kubilang menjauh Rizt " suara Arumi meninggi dan sedikit bergetar seperti ketakutan.


Rizt sangat bingung dengan perubahan sikap Arumi.tapi ia berusaha menuruti kemauan Arumi.


" Kau terlihat pucat Arumi,apa kau sakit? Apa perlu aku panggilka dokter?" Tanya rizt lembut.


" Tidak,,,keluarlah ,aku hanya ingin sendiri ,tolong tinggalkan aku " pernyataan dari Arumi membuat rizt mengerutkan dahi.


Tapi lalu ia pergi meninggalkan arumi dengan wajah dingin dan tanpa menoleh lagi kepada Arumi.

__ADS_1


Sepeninggalan rizt arumi hanya bisa menangis,entah apa yang ia tangisi,bahkan hatinya tidak terasa sakit hanya saja air matanya keluar begitu saja.


__ADS_2