
Semenjak dari rumah, aku tidak bisa berhenti tertawa saat mengingat ibuku yang masih canggung karena ulahku waktu itu. Bahkan begitu aku tiba di kelas, teman-temanku yang sudah lebih dulu hadir sampai bertanya padaku ada apa. Tentu saja, aku tidak akan memberitahu, dan aku bilang saja aku melihat seorang pesepeda terperosok ke selokan di jalan tadi.
Hari senin memang cukup melelahkan karena belum lama, aku baru saja selesai melaksanakan upacara bendera. Sebenarnya masih ada sedikit waktu yang memang diberikan untuk para murid beristirahat sejenak sebelum mulai belajar, namun aku lebih memilih kembali ke kelas karena kupikir di sana lebih nyaman.
Dari tempat dudukku, perhatianku tertuju pada Amanda yang tengah tertidur di tempatnya yang ada tepat di sebelah kananku. Aku sudah tahu dari yang lain kalau dia memang suka tidur. Tapi bukan itu yang jadi perhatianku, melainkan mengapa dia tampak murung sejak pagi tadi.
“Hei, Di!” Perhatianku teralih ke suara itu yang asalnya dari Sarah yang baru saja tiba di kelas dan berjalan ke arahku.
“Kenapa?” Tanyaku penasaran saat dia tiba di hadapanku.
Sarah tersenyum, memperlihatkan sedikit gigi depannya yang putih sekali. “Aku mau bicara sebentar, boleh tidak?”
“Boleh saja.”
Tanpa kehilangan senyumannya, Sarah menyeret salah satu bangku yang ada di belakangku dan duduk di sebelahku. Beberapa kali dia merubah posisi duduknya, mencari posisi ternyaman. Tampaknya dia ingin membicarakan sesuatu yang serius.
Sarah sempat memeriksa jam tangannya di lengan kiri, mungkin untuk memastikan ketersediaan waktu. “Aku penasaran dengan Amanda,” dia memulai obrolan. “Sejak tadi dia murung terus, malah dia tidak mau aku ajak bicara. Kau tahu sesuatu tidak?”
Rasanya tidak enak, ketika aku melihat raut wajah Sarah yang penuh cemas. Mereka berdua pasti sangat dekat sekali sehingga tidak bisa tenang jika salah satu dari mereka terkena masalah.
“Ah, maaf. Aku tidak tahu soal itu,” kataku dengan sedikit penyesalan.
Sarah mendengus bersamaan dengan bahunya yang turun, lalu matanya bergerak ke arah Amanda. Menatapnya cukup lama. Sepertinya dia tengah berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya kepada Amanda.
Melihatnya membuatku jadi tergerak untuk membantu. Rasanya tidak mengenakkan, kalau ada seseorang di sekitarku yang terbebani suatu masalah sampai seperti Sarah sekarang. Meski mungkin tidak banyak yang bisa aku lakukan.
“Tapi malam minggu kemarin aku bertemu dengannya, dia baik-baik saja,” ujarku. Mungkin jika aku menceritakan soal waktu itu, Sarah bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang masalah yang menimpa Amanda.
Namun, reaksi dari Sarah justru melenceng dari perkiraanku. Dia sontak menolehku, membelalak dan sedikit ternganga.
“Kau, bertemu dengannya malam minggu kemarin?” Dia bertanya seperti orang yang mendengar sebuah kabar besar.
Aku mengangguk.
Selanjutnya, senyum lebar mengembang di wajah Sarah. Bahkan matanya berbinar-binar. Entah apa yang membuatnya sampai senang begitu.
“Aku tidak menyangka kalian sudah sangat dekat,” celetuknya dengan santai.
“Tunggu dulu, jangan asal main bicara saja,” sanggahku segera. “Aku entah sudah pernah bilang atau belum padamu, Amanda dan aku tidak ada yang seperti itu.”
“Masa?”
“Orangnya ada, kau tanyakan saja kalau tidak percaya.”
“Tidak, ah. Lagian, dia juga tidak akan mau mengaku.”
Sarah pun tertawa, dan karena aku tidak tahu harus bagaimana, aku tersenyum saja. Kemudian dia kembali melirik Amanda, namun beda dengan sebelumnya, dia tampak lega.
“Kukira dia tidak boleh keluar malam-malam, tapi bagus, deh. Sudah lama aku ingin sekali mengajak dia jalan-jalan kalau malam minggu,” katanya.
“Bukankah kau sudah punya pacar?” Tanyaku. “Kenapa tidak bersama pacarmu saja?”
__ADS_1
“Memang, sih. Tapi kalau kau mau tahu, pergi bersama orang yang itu-itu saja lumayan membosankan, loh. Jadi aku ingin merasakan sesuatu yang baru, kira-kira begitu.”
Aku baru tahu soal itu. Maksudku, kupikir orang yang saling suka akan sangat senang jika sedang bersama, rupanya mereka bisa saling bosan juga.
Tampaknya aku memang harus memperluas sedikit pergaulanku.
Suara-suara gaduh terdengar dari luar kelas dan tidak lama setelahnya, teman-temanku yang ada di sana masuk dan kembali ke tempatnya dengan terburu-buru. Lalu, seorang guru wanita berkerudung menyusul kemudian dan langsung ambil posisi di mejanya.
“Ah, sudah masuk rupanya.” Sarah menoleh guru kami, lalu kembali menaruh perhatiannya pada Amanda. “Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
Lalu dia berdiri, mengembalikan bangku yang ia pakai tadi ke tempatnya semula ketika pemiliknya telah kembali.
Selanjutnya, dia mendekati Amanda. Membangunkannya dan setelah berbicara sebentar, dia kembali ke tempat duduknya.
Waktu aku kembali menaruh perhatianku pada Amanda, aku merasa tidak tega. Wajahnya kusut dan sendu. Semangat yang biasa terpancar darinya lenyap seolah hilang ditelan sesuatu.
“Sebenarnya ada apa dengannya?” Gumamku.
***
Setelah selesai makan di kantin bersama Chandra dan Eko, aku langsung kembali ke kelas. Tapi di tengah jalan, aku bertemu dengan Amanda. Aku sadar bukan hakku, tapi melihat paras suramnya membuatku jadi semakin penasaran.
Awalnya dia ingin menghindar, namun akhirnya dia tidak jadi pergi. Walau begitu, dia tetap terlihat tidak mau ditemui olehku.
“Ada apa?” Bahkan dia tidak menatapku sedikit pun.
“Tidak ada, sih,” aku langsung memilih jujur saja karena kalau berbohong, akan merepotkanku sendiri nantinya. “Kebetulan aku bertemu denganmu, aku mau tanya sesuatu. Boleh?”
Terlepas dari itu, yang dikatakannya memang benar, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku tentang apa yang sedang dialaminya hingga sampai seperti sekarang. Aku sadar, tidak baik mencampuri urusan pribadi seseorang tapi, aku ingin sekali membantunya.
Namun ya sudahlah, mungkin aku bisa melakukannya dengan meninggalkannya sendiri.
“Kalau begitu, ya sudah. Aku akan pergi.”
Aku pun pergi tanpa menunggu balasan dari Amanda. Setelah kurasa cukup jauh, aku mencoba menoleh dia lagi tapi dia sudah tidak ada.
Entah apa yang terjadi padanya, tapi aku kasihan melihatnya.
***
Kebetulan saat aku ingin naik tangga ke lantai dua, aku berpapasan lagi dengan Chandra yang katanya mau ke toilet sebab jam tangannya tertinggal. Dia memintaku menemaninya dan setelahnya, dia membawaku ke ruang kelasnya yang telah menunggu juga Eko dan Sandi di salah satu meja di sudut terpojok.
Aku tidak tahu kalau rupanya kelas Chandra sangat sepi sekali kalau sedang bebas. Hanya ada kami berempat ditambah tiga orang siswi yang asyik merumpi dan sepasang siswa yang tertidur di lantai pojokan kelas seperti ikan sarden. Dia bilang kalau itu memang sudah menjadi tradisi sejak dulu.
Aku dan Chandra duduk berpasangan berhadapan dengan Eko dan Sandi. Awalnya, topik obrolan kami normal-normal saja sampai Chandra mulai menyeretnya ke sesuatu yang katakanlah, tidak wajar.
“Bumi datar? Hmm ... bagiku dada datar bahkan lebih logis daripada bumi datar.”
Seperti itulah kira-kira ucapannya yang disambut tawa geli dari Eko dan Sandi. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana karena meski cuma lelucon, tapi tabu bagiku.
“Dasar gila!” Imbuh Eko dengan tawa yang semakin keras.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Salah begitu?” Balas Chandra sambil memandang remeh Eko. “Di masa depan nanti, aku akan mendirikan organisasi bernama ‘Flat Chest Society'. Memangnya tidak boleh aku merealisasikan cita-citaku?”
“Ah, dasar aneh!” Sandi menyambung juga. “Apa-apa di sangkut-pautkan sama dada. Kenapa sih kau terobsesi banget sama itu?”
“Loh? Memangnya kenapa?” Balas Chandra lagi tidak mau kalah. “Faktanya, manusia itu sangat tertarik dengan sesuatu yang tidak mereka miliki. Untuk kasus kita para laki-laki, ya itu.”
Aku benci mendengarnya, tapi apa yang Chandra katakan memang benar. Bukan soal apa yang tengah mereka bahas, hanya karena memang aku kerap penasaran dengan sesuatu yang tidak kupunya. Seperti bagaimana rasanya punya saudara kandung.
“Ih, Aldi senyum-senyum sendiri!” Aku kaget ketika Sandi tiba-tiba menyebut dan menunjukku, yang akibatnya perhatian Chandra dan Eko pun teralihkan padaku juga. Bahkan aku pun baru sadar kalau aku tersenyum berkat mereka.
“Kenapa?” Tanyaku keheranan sambil memandang mereka bergantian.
“Wah, jangan-jangan Aldi diam-diam membayangkan lagi!” Celetuk Eko sambil cekikikan.
Jelas saja aku tersentak karena apa yang mereka katakan tidaklah benar. Baru aku ingin mengatakan sesuatu, Chandra telah memotong lebih dulu.
“Punya siapa yang kau bayangkan, Di?” Dia mendekatkan wajahnya padaku dengan menaik-turunkan kedua alisnya. “Sarah? Ah ... atau mungkin, Amanda?”
“Tunggu dulu, aku tidak melakukan itu,” aku berusaha meluruskan ini. Memang sih, aku akui terbayang sedikit tapi ya Tuhan, aku tidak mau melakukannya.
Tawa mereka bertiga pun meledak, sementara aku membisu karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Kuusap wajahku seraya menghela napas dan menyandarkan punggung ke tembok. Tidak kusangka aku malah berakhir jadi target guyonan mereka.
“Aku tidak tahu kalau Aldi sukanya dengan yang kecil-kecil,” celetuk Sandi, yang kembali memicu gelak tawa mereka yang sempat berhenti. Sudahlah, aku pasrah.
“Terserah kalian sajalah,” balasku.
Selanjutnya, mereka bertiga sibuk berbicara hal lain lagi. Aku sendiri hanya diam saja karena telah kehilangan minat. Pun, aku tidak mengerti dengan bahasan mereka.
Sebenarnya aku berniat untuk pergi, tapi waktu aku menoleh ke arah pintu, aku mendapati Amanda berdiri di depan papan tulis. Memelototi kami dengan muka yang merah padam. Kedua tangannya pun mengepal.
Astaga! Batinku saat merasakan sinyal bahaya.
Kenapa dan sejak kapan dia ada di sana?
Buru-buru aku menepuk Chandra dan mengarahkan perhatiannya pada Amanda. Aku jadi bergidik saat dia dan dua yang lain, mendadak diam dan raut wajahnya tampak ngeri.
Saat aku kembali menoleh Amanda, gadis itu keluar untuk waktu yang cukup lama, dan kembali dengan sebatang sapu di tangannya.
“Dasar makhluk biadab!” Amanda berteriak seraya berlari ke arah kami.
“Lari!”
Chandra berseru dan mereka bertiga pun melarikan diri meninggalkanku tanpa aba-aba. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa, ikut kabur juga karena saat kulihat, Amanda sepertinya akan membunuh siapa pun dari kami yang tertangkap.
“Berhenti!” Amanda berseru garang sambil mengejar kami dan memamerkan sapu di tangannya. “Akan kuhabisi kalian semua!”
Kami berempat dengan aku yang ada di paling belakang berlari menerobos kerumunan murid di lorong, tidak peduli apakah aku akan menabrak mereka karena yang terpenting batang sapu itu tidak mendarat di kepalaku. Naas untukku, aku kehilangan jejak teman-temanku yang larinya cepat sekali kala aku mengikuti mereka menuruni tangga menuju lantai dasar.
Karena tidak ada waktu memikirkan ke mana aku harus lari, kupilih untuk bersembunyi di toilet. Sayangnya akibat terlalu sibuk menoleh ke belakang, aku nyaris menabrak seorang siswi sehingga aku hilang kendali dan jatuh. Ketika aku kembali bangkit dan berbalik, Amanda sudah ada di hadapanku lalu ....
Plak.
__ADS_1
Tamparan tersakit yang pernah kurasakan mendarat di pipi kiriku.