Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 26: Amanda


__ADS_3

Lagi, aku terpaksa harus membuat orang lain kecewa karena aku menolak ungkapan cintanya terhadapku.



Sekarang di kelas, kami sedang menjalani ujian mingguan matematika. Hening, tidak satu pun suara terdengar kecuali suara tarikan napas teman-temanku yang sudah mulai dibuat gila dan ketukan sepatu guruku yang mondar-mandir mengawasi kami.



Sebenarnya matematika termasuk mudah buatku, namun akibat pikiranku yang terpecah, membuatku cukup kesulitan mengerjakan setiap soal dengan benar. Ini semua terjadi berkat Kak Ryan yang beberapa saat lalu tiba-tiba saja datang menemuiku dan bilang bahwa dia menyukaiku.



Mataku mungkin mengarah ke lembaran soal yang ada di mejaku sekarang, tapi di dalam, aku tengah berusaha keras melepaskan diri dari perasaan tidak enak atas apa yang telah kulakukan pada kakak kelasku itu. Bahkan saking terganggunya aku, hingga aku pun tidak peduli lagi dengan hasil ujianku ini nantinya.



Satu soal selesai, dan aku pindah mengerjakan yang lain. Entah sudah kukerjakan dengan benar atau tidak.



Cintaku hanya untuk Aldi, bukan yang lain.



Kugumamkan itu berkali-kali dalam hati, agar aku tidak terus merasa menyesal dengan tindakanku pada Kak Ryan.



“Setengah jam lagi,” guruku memperingatkan.



Terdengar keluhan panik dari banyak temanku. Buatku, tentu itu bukan masalah. Namun ketika aku menoleh Aldi, aku mulai berharap bisa meminta babak tambahan pada guruku.



Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi sekarang dia terlihat lebih kacau dari Sandi yang merupakan murid paling bodoh di sini. Kulihat beberapa kali dia mencoret-coret hitungannya setiap kali dia menyusun rumus di kertas hitungan. Aku tahu dia itu pintar dan dalam tekanan pun, dia masih bisa tenang namun sekarang, entah makhluk halus apa yang mengganggunya.



Kemudian, tiba-tiba dia menatapku, dan saat itu juga, dia membuang mukanya. Bahkan kacamatanya sampai melorot hingga harus dibenarkan sebelum kembali menghitung yang ujung-ujungnya selalu berakhir dicoret-coret.



“Aku jadi kasihan melihatnya,” gumamku seraya menertawai tingkah lucunya.



***



“Hei, Nda,” dengan suara yang pelan, Aldi menyapaku dari belakang tepat begitu aku melangkahi ambang pintu kelas.



Aku berhenti dan berbalik, mendapati dia berdiri tidak jauh dariku. Memandangku dengan tatapan ragu. “Ada apa?” Tanyaku.



Bukannya menjawab, dia justru memalingkan wajahnya seraya mengusap-usap kepala. Aku sempat mau menegurnya, tapi akhirnya dia bicara juga. “Aku mau bicara sesuatu padamu, bisa tidak?”



Heran, aku pun mengernyitkan alis. “Bicara apa?”



“Tidak banyak, kok,” sekarang dia sudah mulai bisa bicara dengan normal walau masih belum dapat menatapku terang-terangan. “Aku cuma mau tahu satu hal saja.”



Hal apa? Aku tidak tahu sejak kapan dia jadi orang yang berbelit-belit begini, tapi itu membuatku sedikit tidak nyaman maksudku, sebelumnya dia bisa bicara dengan gamblang padaku. Apakah mungkin, ini adalah sifat tersembunyinya, ya?



“Katakan saja, tidak apa-apa, kok,” dengan senyum, kucoba untuk menggugah keberaniannya karena sejak tadi, dia terlihat seperti takut-takut untuk mengungkapkan isi pikirannya.



Sesaat senyum samar terlihat di bibirnya, tapi selanjutnya dia justru tertunduk. Di belakangku, derap kaki dan suara obrolan yang berlalu di koridor mulai berkurang hingga akhirnya habis sama sekali, yang berarti aku hanya tinggal berdua dengannya di sini sebab kelasku pun juga sudah kosong.



“Kau bilang, kau suka padaku, kan?” Dia kembali menatapku dengan pertanyaan yang begitu mengejutkanku.



“Ya, memangnya kenapa?” Aku semakin penasaran dengan apa yang akan dia katakan.



“Kau menyukaiku. Apa alasannya?”



“Tidak ada. Aku tidak punya alasan.”



Kujawab langsung tanpa menunggu lagi. Aku tidak suka ucapannya yang seolah menganggap bahwa aku menyukainya karena ada maunya, semacam udang di balik batu. “Aku menyukaimu karena aku memang suka padamu, dan aku tidak butuh alasan buat itu.”



Mata cerah dibalik sepasang kaca itu membulat. Kemudian, sebuah senyum kecil namun manis menyusul di bibirnya. Wajahnya berseri, dan keragu-raguan yang sedari tadi hinggap di sana hilang sama sekali.



“Begitukah? Aku senang sekali mendengarnya,” ucapnya dengan nada yang begitu lega.



Selanjutnya kami hanya saling menatap, dengan dia yang sesekali memindahkan pandangan dan menggaruk kepala. Aku tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya sekarang.



Diam-diam, suasana ini perlahan membangkitkan niat yang sudah lama kupendam. Mengungkapkan perasaanku padanya, dan mengakhiri semua pengharapan yang kujalani selama ini.



Pelan-pelan, kukumpulkan semua keberanian dan kusingkirkan keraguan dalam hati. Kuputuskan untuk mengatakannya, saat ini, dan sekarang juga.



“Nda, aku—”



“Aku mencintaimu.”



Lagi, mata cerah di balik sepasang kaca itu membulat, namun sekarang ditemani mulutnya yang sedikit ternganga. Aku tidak peduli apakah dia akan mati terkejut atau apapun, aku tidak mau tahu.



“A-Aku ... aku salah dengar, kan?” Bahkan setelah kuungkapkan perasaanku dengan sejujur-jujurnya, dia masih sempat-sempatnya menyanggah. Dasar.



“Aku bilang aku mencintaimu,” kuulangi sekali lagi dan kupastikan kali ini akan menembus pintu hatinya. “Aku sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat mencintaimu.”



Meski dengan penegasan seperti itu, dia masih sama saja. Mematung di tempatnya, cukup lama. Namun demi sebuah jawaban, aku rela menunggu.



Tapi tiba-tiba, dia menunduk dalam.



Seketika itu juga, jantung dan napasku serasa terhenti. Semua keyakinan yang kupupuk tadi, runtuh begitu saja. Dingin menjalar di seluruh badan yang mulai gemetar.


__ADS_1


Ekspresi itu ... aku sangat mengenalnya. Ungkapan sebuah penolakan. Sempat rasa takut itu hampir berubah menjadi tetesan air mata hingga kemudian ....



“S-Sebenarnya, aku ... aku mencintaimu juga, Nda.”



Seketika itu juga jantungku serasa lepas. Perasaanku meledak-ledak hingga aku melompat-lompat kegirangan seperti orang gila sampai napasku sesak.



Aku pun berlari kepadanya dan memeluknya seerat yang kubisa.



“H-Hei, Nda!” Sontak dia pun mencoba melepaskanku darinya. “Apa yang—”



“Jangan ganggu aku!” Mohonku. Kueratkan pelukanku, peringatan baginya agar jangan coba-coba mengusikku.



Segala usahanya untuk melepaskan diri dariku pun berhenti begitu saja. Syukurlah, karena dengan begini, aku bisa lebih merasakan betapa nyaman dirinya.



***



Setelah membantu Kak Dian mendekor ulang sedikit ruangan pribadinya, aku kembali ke kamarku. Perasaanku masih meluap-luap, hingga kakakku sampai heran melihatku sangat bersemangat. Aku belum sempat bercerita padanya tentang hubunganku dengan Aldi, lagian, aku juga tidak mau waktu santaiku diisi oleh kehebohannya.



Kubaringkan badan yang terasa sedikit pegal di atas pulau empuk. Ugh ... aku tidak mengerti mengapa orang-orang banyak yang memakai narkoba hanya demi merasa melayang jika dengan tiduran di kasur saja rasanya seperti dibawa terbang ke surga.



Kupandang langit-langit kamarku yang bagiku sekarang laksana langit sungguhan yang penuh dengan kerlap-kerlip bintang. Ditambah dengan hati yang sekarang menjelma menjadi ladang bunga penuh warna yang indah.



“Rasanya masih susah dibayangkan, padahal dia sekarang sudah jadi pacarku.”



Bahkan aku tersenyum dan tertawa-tawa kecil ketika berbicara dengan diriku sendiri. Apa mungkin peristiwa tadi sore telah merusak kewarasanku?



Tidak pernah terbayang olehku, sosok asing yang menyelamatkan hidupku, yang sudah kutunggu-tunggu selama ini bahkan hingga aku rela menolak semua lelaki selainnya, kini menjadi kekasihku. Padahal dulu aku selalu takut, kalau-kalau aku tidak pernah bertemu dengannya lagi atau yang paling buruk, dia menolakku.



Aku bersyukur, bersyukur sekali sebab Tuhan rupanya memiliki kehendak lain. Mempertemukanku dengannya, dan mengizinkan aku memilikinya.



“Aku penasaran, dia sedang apa sekarang, ya?”



Tidak lama setelah aku bergumam begitu, ponselku yang ada di sebelah bantal bergetar panjang. Kuraih, dan aku bahkan sampai terbangun dan hampir terlontar ke atap karena Aldi meneleponku. Apakah mungkin dia bisa mendengar perasaanku?



“Halo,” kujawab segera panggilannya karena aku sudah kehilangan kesabaran untuk bisa mendengar suaranya yang manis.



“H-Halo, Nda. Selamat malam.” Mendengar betapa gugupnya dia membuatku tertawa.



“Selamat malam juga. Ada apa?”



Hanya hening yang menjawabku. Apa dia sebegitu gugupnya bicara padaku sampai kesulitan hanya untuk mengucapkan sesuatu?




“Habisnya, kau itu lucu,” tidak kusangka dugaanku tepat.



Meski pelan, aku bisa mendengar tawa canggung darinya. Entah sejak kapan sifat kami jadi tertukar begini. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku yang malu-malu, sekarang justru dia yang begitu. Aneh.



“Aldi ....” Kurengkuh kedua lututku dan kudekap erat-erat.



“Ya?”



“Aku kangen ....”



Sontak hawa panas menjalar di sekujur wajahku. Padahal sebelum mengatakannya, aku merasa biasa saja, tapi sekarang pun aku harus membenamkan muka ke paha. Jantungku juga berdegup kencang dan ingin sekali rasanya berteriak.



“Aku juga, Nda,” balasnya dengan agak tertahan-tahan.



Bagai kembang api di tahun baru, perasaanku meledak-ledak. Membuatku berharap bisa mempercepat waktu, supaya aku dapat segera melihat wajah manisnya lagi.



“Ehh ... Nda,” sambungnya, yang lantas menghentikan semua kebahagiaanku.



“Ada apa, Di?” Tanda tanya cukup besar muncul dari kelapaku.



“Soal hubungan kita, aku sudah menceritakannya pada Rina barusan.”



Seketika aku terdiam. Segala perasaan indah yang kurasakan, lenyap, berganti dengan takut. Bukan aku cemburu atau semacamnya, tapi aku cemas, Aldi telah secara tidak sadar menggoreskan luka di hati Rina yang mungkin tidak akan pernah bisa terobati.



Mengapa dia mengatakannya secepat ini padanya?



***



“Oh, hei, Nda! Tumben datang kemari?”



Tiada hal lain yang bisa kulakukan selain melongo di tempatku berdiri ketika Rina menyapaku dengan senyum lebar saat aku mampir ke warungnya. Padahal aku berangkat dari rumah dengan perasaan tidak karuan, kalau tahu begini aku tadi bisa santai-santai dulu di rumah. Huh!



Lantas dia keluar dari warungnya untuk menjemputku yang masih mematung di jalan di bawah pemanggang besar bernama matahari. Layaknya nenek tua yang hendak menyeberang jalan, dia memapahku dan menemaniku duduk di bangku kayu panjang depan etalase.



Ini semua terjadi karena semalam Aldi bilang kalau dia sudah bercerita soal hubungan kami ke Rina yang membuatku takut kalau gadis di depanku ini jadi tersakiti. Kenyataannya, justru dia malah lebih terlihat girang daripada aku.

__ADS_1



“Kau kenapa, sih? Jangan melihatku begitu bisa tidak?” Senyum lebarnya berubah menjadi seringai meledek yang membuat harga diriku terusik.



Kupalingkan wajahku darinya dan kulipat kedua tanganku di dada ketika hati mulai terasa dibakar. Aku yakin, aku sekarang lebih cemberut dari buruh yang gajinya tertunggak.



“Dih, baru datang sudah marah. Kau kesurupan apa, Nda?” Ledeknya.



“Terserah!”



Rina tertawa, membuat panas di hatiku berpindah ke daun telinga. Ugh! Kalau saja dia bukan temanku, sudah kutarik kedua kepangan rambutnya!



“Oh, ya. Omong-omong, di mana pacarmu?” Aku tersentak, karena dia benar-benar sudah tahu dan yang terpenting, dia mengatakannya tanpa ada keberatan sama sekali.



“Sekarang hari jumat. Kau tahu di mana dia sekarang,” jawabku masih tanpa menatapnya.



“Terus, kau tidak ikut dengannya?”



Ketika kutatap dia lagi, dia sedang menyengir memamerkan lesung di pipi kanannya. “Aku kan perempuan. Kalau aku laki-laki juga aku tidak perlu disuruh,” geregetan aku, sumpah.



Dia hanya terkekeh. Selanjutnya dia menatap lurus ke depan. Menghela napas. Kesenduan samar yang terpancar dari wajahnya membuatku jadi tidak enak hati.



“Kau ke mari mau menjelaskan soal itu, kan?” Dia bertanya tanpa memandangku. Nadanya datar, membuatku semakin gelisah.



“Y-Ya, begitulah,” bahkan aku harus terbata-bata menjawabnya. Aku merasa bersalah, sungguh.



“Tidak apa-apa, kok. Aku mengerti. Lagi pula, sejak awal aku sudah tahu dia tidak mencintaiku,” bagaimanapun, aku menyaksikan pemandangan suram ketika alis dan bahunya turun dan layu.



“Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak padamu, Rin.”



Aku tidak tahu apakah aku telah mengatakan sesuatu yang salah, karena tiba-tiba dia menolehku dan matanya yang tadi layu menatapku dengan begitu menusuk. Bibirnya yang sejak tadi mengembangkan senyum, sekarang membentuk garis lurus yang tegas.



Hawa di sekitarku mulai terasa gelap dan dingin. Jantungku berdegup cepat, hingga aku harus menelan ludah karena suasana yang hangat mendadak jadi tidak bersahabat.



“Aku sangat berterima kasih sebab kau sudah peduli padaku. Tapi maaf, aku tidak suka dikasihani.”



Kata-kata itu terlontar dengan tegas, membuatku gentar. Ingin aku berpaling dari pemandangan menyeramkan itu, tapi leherku serasa dikunci. Tidak bisa digerakkan.



“Saat itu aku berpikir, mengapa Aldi memilihmu? Mengapa dia harus bertemu denganmu dan yang paling penting, mengapa kau harus ada?”



Layaknya sebuah pisau, kata-kata itu menghujam dalam hingga ke dasar hati. Perih, tidak bisa diuraikan dengan ucapan apapun.



“Jadi kau membenciku, ya?” Aku menunduk. Tidak kusangka temanku sendiri akan mengatakan sesuatu yang kejam seperti itu.



“Maaf saja. Aku mungkin marah, tapi aku bukanlah pecundang yang akan membenci orang yang memenangkan persaingan denganku.”



Terkejut, kutatap dia kembali. Sebuah senyum kecil yang sangat manis menyambutku. Begitu menyejukkan, hingga aku sulit untuk tidak terpesona.



Kalau saja aku laki-laki, aku pasti sudah jatuh hati padanya. Sebenarnya kau pakai susuk jenis apa sih, Rin?



Namun terlepas dari itu semua, aku merasa lega sekali. Kupikir kejadian ini akan menjadi akhir dari pertemanan kami, tapi syukurlah, Rina bukanlah orang yang seperti itu.



“Maaf, aku sudah kasar padamu tadi.” Dia menggenggam kedua tanganku. Rasanya tidak rela melihat senyum manisnya ternoda oleh raut penyesalan yang sekarang hinggap di wajahnya.



“Ah, tidak apa-apa, lupakan saja,” hiburku. Awalnya, aku bersyukur sebab usahaku berhasil mengembalikan senyumannya yang sempat hilang, setidaknya sebelum air mata turun mengalir di pipinya.



Melihat pemandangan ini membuat hatiku tersayat, sungguh. Aku lupa, sekeras apapun kita untuk merelakan orang yang kita cintai, tidak akan bisa dilakukan tanpa meninggalkan luka di hati.



Lantas kubawa dia dalam pelukanku, berharap aku bisa meringankan sakit di hatinya walau sedikit.



“Terima kasih, ya?” Ucapnya lirih.



“Oke!” Balasku dengan nada semangat, yang mungkin dapat kutularkan padanya. “Tapi, kita tetap teman, kan?”



“Tentu saja, Nda.” Kulihat senyum kecil mengembang di bibirnya. Kuhela napas, karena rasanya begitu melegakan. “Kau adalah teman yang sangat berharga buatku.”



Kata-kata itu, adalah jawaban yang paling melegakan sepanjang hidupku. Bahkan aku sampai harus mengeratkan pelukanku. Aku bersyukur, karena semuanya berakhir dengan damai. Setidaknya untuk saat ini.



Aku memang mencintai Aldi, namun bagiku teman adalah salah satu yang terpenting dalam hidupku. Aku tidak mau hanya karena kami menyukai orang yang sama, kami jadi saling menjauh dan membenci.



Ketika kulepas pelukanku, aku mendapati sebuah wajah yang kini berseri-seri. Dia tidak bilang apa-apa lagi, melainkan kembali menatap lurus ke depan dan menyeka sisa-sisa kesedihan di matanya. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.



“Yah, meski aku tidak mendapatkan Aldi ... setidaknya aku bisa makan enak mulai malam nanti selama seminggu penuh,” aku tidak tahu apa yang membuatnya mendadak begitu gembira bahkan sampai terkekeh sendiri dan kedua kakinya bahkan berayun-ayun. Aku senang melihat dia semangat lagi tapi kok ... rasanya mencurigakan, ya?



“Maksudnya bagaimana?” Kutanya dia untuk memastikan kecurigaanku tidak nyata.



Dia menoleh, memamerkan senyum lebar seraya mengarahkan telunjuknya padaku. “Aku dan Aldi bertaruh, kalau misalnya kau dan Aldi berpacaran, dia akan mentraktirku makan nasi goreng spesial setiap malam selama seminggu penuh. Hebat, kan?”



Aku mengerjap. Jadi selama ini ... mereka menjadikan aku sebagai bahan taruhan yang merupakan saudara kembar judi? Perbuatan yang bahkan hasilnya dicap najis tiada berkah oleh Bang Haji?

__ADS_1



Kok ... tiba-tiba aku jadi ingin membeli celurit, ya?


__ADS_2