
Sudah lewat seminggu sejak aku mengatakan ajakan tidak tahu malu itu, ajakan berkencan, pada Aldi. Namun entah apa alasannya, dia tidak memberikan jawaban apapun. Malah, dia pun tidak pernah membicarakan soal itu padaku, seolah ajakanku itu tidak pernah ada.
Aku ingin bertanya langsung padanya, namun setiap aku hampir dapat melakukannya, aku ragu, dan akhirnya tidak pernah tersampaikan sama sekali. Apakah dia tidak mau? Atau mungkin dia tidak siap? Harusnya apapun alasannya, dia mengatakannya padaku, tidak membuatnya jadi misteri seperti sekarang.
Pagi ini, kelasku heboh. Semuanya bersorak gembira karena beberapa waktu lalu, Sarah menyampaikan kabar bahwa guru mata pelajaran pertama berhalangan hadir, juga membawa berita bahagia. Sabtu minggu ini, sekolahku akan mengadakan studi wisata ke luar kota.
Kecuali aku, yang seperti biasa, membaringkan kepala di meja sambil berpura-pura tidur. Bukan apa-apa, karena aku memang kurang tertarik dengan kegiatan yang terakhir kali kuikuti setahun lalu itu.
Pemandu tur yang amatiran, murid hilang, sampai insiden penyerempetan bus yang kelasku tumpangi hingga satu spionnya pecah. Mengingat itu, membuatku berpikir kalau sebaiknya kegiatan ini tidak usah lagi diadakan.
Kubuka mataku dan kutatap Aldi yang tengah memandang keluar jendela seraya memangku dagu dengan tangan kanannya, ditemani earphone yang terpasang di telinganya. Aku penasaran, apa dia tertarik dengan studi wisata itu, ya?
Melihat dia, aku jadi teringat statusku dengannya. Teman-temanku, semuanya belum ada yang mengetahui tentang hubunganku dengan Aldi. Aku dan dia sepakat untuk menyembunyikannya hingga waktunya tepat atau minimal, sampai bocor sendiri. Meski sebetulnya, kami menyembunyikannya karena malu.
Namun, aku sedih. Hingga sekarang, hubunganku dengannya seolah jalan di tempat. Bukan salahnya, tapi aku, yang selalu canggung kalau bersamanya sehingga membuatku tidak bisa bersikap dengan benar.
Yang dapat kulakukan cuma berharap, kalau diriku yang payah ini dapat melakukan hal manis untuknya, seperti yang sudah beberapa kali dia lakukan buatku. Namun, siapa yang aku bodohi? Payah tetaplah payah, tidak peduli sedikit atau pun banyak.
***
Hari pelaksanaan studi wisata pun tiba. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, rombongan sekolah kami tiba di sebuah museum. Seperti saat berangkat, kami dikelompokkan berdasarkan kelas, dan kemudian setiap kelompok disebar untuk menelusuri isi museum sehingga kami tidak menumpuk di satu tempat.
Kelompokku yang juga digabungkan bersama rombongan dari sekolah lain, dipandu oleh seorang wanita muda yang sangat bersemangat, tiba di sebuah ruangan yang berisi berbagai macam benda-benda bersejarah dari masa sebelum penjajahan.
Setelah beberapa waktu berkeliling, kami pun berhenti di depan sebuah prasasti yang cukup besar yang terdapat ukiran-ukiran berbentuk tulisan dari huruf-huruf yang tidak kumengerti.
“Oke, saya akan menjelaskan isi dari prasasti ini.” Si pemandu kembali memulai penjelasannya. “Jadi ini adalah prasasti peninggalan kerajaan ....”
Blablablabla. Aku tidak mendengarkan sama sekali karena perhatianku terus menempel ke Aldi yang ada di barisan laki-laki, kelima dari depan.
Padahal aku sangat berharap bisa berada di sisinya, namun kenyataan memang hampir selalu pahit.
Beda denganku, dia mendengarkan dengan cukup serius. Mungkin karena dia memang menyukai sejarah.
Setelah penjabaran dari pemanduku selesai, kami kembali berjalan dan singgah beberapa kali di berbagai objek sejarah yang ada di tempat ini. Sama seperti yang sebelumnya, aku tidak mendengarkan. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena pikiranku yang mengawang-ngawang semenjak dari rumah. Apalagi sorot mata dari siswa-siswa sekolah lain yang mengarah padaku sewaktu aku menebar pandangan, membuatku semakin tidak nyaman.
“Hei, kau kenapa?” Lamunanku terpecah ketika Sarah yang ada di sebelahku menepuk bahuku hingga membuatku sontak menolehnya ketika kami kembali berhenti di salah satu benda museum yang berupa baju besi.
“A-Ah, tidak. Tidak ada,” kilahku seraya menggeleng dan mengeluarkan senyum yang kupaksakan lalu berpura-pura mendengarkan penjelasan di depan.
“Kau yakin?” Tanyanya lagi.
Kuanggukkan kepala sembari meliriknya sesaat, mendapati dia tersenyum yang kuanggap sebagai tanda mengerti.
Munafik, kutukku pada diri sendiri.
***
Akhirnya tur museum pun selesai, dan sebagai gantinya, kami dibebaskan untuk melakukan apapun yang kami mau. Seperti melihat-lihat isi museum ini sekali lagi bagi yang merasa belum puas asalkan jangan sampai tersesat, atau tebar pesona berharap bertemu jodoh.
__ADS_1
Sebetulnya Sarah mengajakku berkeliling lagi buat mempelajari objek-objek yang menjadi koleksi museum ini lebih jauh, namun aku memilih untuk mengasingkan diri di taman di belakang gedung utama. Duduk sendirian di kursi panjang di bawah sebuah pohon tabebuya kuning yang tengah bermekaran bunganya. Indah sekali, pikirku.
Tawa canda dari para pengunjung yang juga sedang bersantai di taman ini datang dan pergi di telingaku. Melihat mereka semua, terutama para pelajar yang kebanyakan dari mereka berpasang-pasangan membuatku tersenyum miris. Miris pada kehidupanku sendiri.
Aku menunduk, memandang kosong kedua tanganku yang terjalin di atas paha. Meratapi hubunganku dengan Aldi yang makin kemari, makin pudar warnanya.
Kuraih ponselku di saku kemejaku, baru jam sepuluh. Kuhela napas, berharap kegiatan ini cepat berlalu.
“Permisi, bolehkah aku duduk?”
Kuangkat wajahku untuk menyambut sapaan dari seorang gadis yang berdiri di depanku seraya tersenyum. “T-Tentu! Silakan!” Kataku segera seraya ikut tersenyum dan bergeser ke kanan sedikit untuk memberinya ruang.
“Terima kasih,” balasnya kemudian duduk di sebelahku.
Gadis bersurai lurus sebahu yang cantik ini tidak berbicara apa-apa lagi padaku, melainkan merapikan dasi seragamnya lalu sibuk mengetik di ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Padahal kuharap dia bisa menjadi teman bicara yang asyik, tapi ya sudahlah. Bukan salahnya juga karena kami memang tidak saling mengenal.
Kemudian, ponsel di tanganku bergetar. WhatsApp dari Sarah.
“Ada apa?” Gumamku kala kubaca pesan darinya.
[Kau di mana, Nda?]
[Aku di taman.] Balasku. [Ada apa?]
Balasan darinya pun datang dengan hampir instan. [Tidak ada apa-apa, kok. Ya sudah, aku ke sana, jangan ke mana-mana.]
“Oh, hei! Ada apa?!” Gadis di sebelahku membalas seruan dari temannya itu.
“Kita sebentar lagi berangkat! Ayo!”
“Oh, oke! Tunggu aku!”
Nadira berdiri kemudian pamit seraya tersenyum padaku. “Aku duluan, ya?”
Dia berlari menyongsong temannya sebelum aku sempat membalas pamitan orang asing tersopan yang pernah kutemui itu. Lalu kusandarkan punggungku ke sandaran kursi dan kutatap rimbunan bunga kuning di atas kepalaku. “Aku sendirian lagi,” gumamku.
***
Setelah mampir untuk makan siang dan rehat di sebuah restoran, objek wisata kami selanjutnya adalah museum juga sekaligus perpustakaan. Hanya bedanya, yang ini cuma mengoleksi buku-buku atau kitab-kitab dan catatan-catatan kuno yang sudah usang dan yang pasti, bernilai tinggi. Tentu saja, tempat ini adalah surga bagi sahabat jeniusku Sarah.
Di sini, kami dibebaskan untuk berkeliling sendiri. Namun, aku bukanlah kutu buku sehingga tempat seperti ini tidaklah pas buatku.
“Mana yang asyik dibaca, ya?”
Begitulah gumaman Sarah ketika dia menyoroti setiap buku-buku di rak yang kami lewati di perpustakaan. Yang kulakukan, cuma mengekor dia saja.
“Ah, yang ini sepertinya bagus!” Serunya ketika berhasil menemukan buku yang dia cari. Diambilnya buku tersebut lalu berbalik memandangku. “Ayo, Nda, kita cari tempat.”
“Ah, kau saja, deh. Aku ingin keluar saja,” kataku yang langsung membuatnya cemberut.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu.” Dia langsung pergi begitu saja dan ambil tempat di bangku panjang dengan meja yang besar bersama pengunjung lain. Biarlah dia marah, aku juga butuh waktu untuk sendiri.
Aku pun pergi meninggalkannya. Aku mau mencari Aldi.
Karena letak tempat ini yang ada di dataran tinggi, angin yang lumayan dingin menerpaku begitu aku menjejakkan kaki di luar sehingga aku harus merapatkan kardiganku. Aku berhenti sesaat untuk menengok langit. Mendung, seperti hatiku.
“Hei, Nda!” Sapa Sandi sembari menghampiriku dari arah kanan.
“Oh, ada apa?” Tanyaku saat dia berhenti di depanku.
“Kau lihat Eko tidak?”
“Eko? Tidak. Aku tidak melihat dia.”
“Oh, ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu—”
“T-Tunggu! Kau, kau lihat Aldi tidak?”
“Aldi? Tadi dia sama Chandra di tempat parkir. Di bus kita. Tidak tahu masih ada atau tidak.”
“Oh, ya sudah. Terima kasih, ya?”
Aku langsung berlari menuju lahan parkir di belakang gedung. Namun begitu aku tiba di sana, yang kudapati hanya Chandra seorang yang tengah berjongkok di depan bus seraya menenggak sebotol air.
“Chandra!” Seruku seraya kembali berlari mendekatinya.
“Oh, Nda,” sahutnya seraya mengangkat tangan kanannya.
“Kau lihat Aldi?” Tanyaku begitu aku tiba di hadapannya.
“Aldi? Oh, dia tadi bertemu sama rombongan sekolahnya yang dulu. Mereka mengajaknya pergi, mungkin mereka sekarang ada di museum.”
“Sekolah lamanya?”
“Ya, dia bilang dia kangen sama teman-teman lamanya jadi dia ikut mereka.”
“Oh, ya sudah. Aku pergi dulu, ya? Terima kasih.”
“Oke!”
Kembali aku berlari demi bisa menemuinya. Begitu di dalam museum, kuperhatikan setiap pengunjung yang ada sambil terus berjalan. Tidak ada.
“Apa dia di lantai atas, ya?”
Kunaiki tangga menuju lantai atas. Namun begitu aku sampai di anak tangga terakhir, aku berhenti. Persis seperti yang dikatakan Chandra, dia sedang tertawa-tawa ria bersama sekelompok pelajar. Terutama dengan seorang gadis, yang kelihatan begitu akrab sekali dengannya.
Tunggu, bukankah itu Nadira?
Jadi, gadis yang kutemui sebelumnya itu adalah teman lamanya Aldi?
__ADS_1