
“Ramai banget,” gumamku terkesan melihat semua kendaraan-kendaraan yang berjajar di lapangan parkir taman selagi Aldi memarkirkan motornya. Ada ratusan, ah tidak, ribuan kurasa. “Bagaimana di dalam nanti, ya? Pasti penuh sekali pengunjungnya.”
“Ayo, Nda. Kita masuk,” seru Aldi yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku.
Aku mengangguk. “Ayo.”
Kemudian aku dibuat terkejut ketika Aldi mendadak menggandeng tanganku. “Di dalam pasti ramai, aku tidak mau kau terpisah dariku dan tersesat.” Dia mengatakannya dengan serius meski masih tampak kecanggungan di wajahnya.
Aldi pun menuntunku sebelum aku sempat menanggapinya. Akhirnya, aku hanya diam saja sambil senyum-senyum sendiri. Aku senang sekali karena dia sangat peduli padaku.
Sepanjang jalan, kuperhatikan tiap-tiap pengunjung yang baru datang tanpa putus-putus. Ada yang sendiri, bersama pasangan seperti aku dan Aldi, dan yang juga membawa serta anak-anak mereka. “Kalau pengunjungnya seperti ini apa cukup ya tamannya menampung semuanya?” Aku bertanya-tanya karena aku memang tidak pernah ke tempat ini sebelumnya.
Keluar dari lapangan parkir, aku berjalan sebentar dan tibalah aku di taman. “Waahh! Ramai banget!” Tidak bisa aku tidak terkesima melihat semua pemandangan di dalam.
Para pengunjung memadati setiap jalan-jalan setapak di taman, saking banyaknya sampai hanya bisa berjalan pelan-pelan. Di tepian, para penjaja suvenir, makanan dan lain sebagainya, semuanya begitu bersemangat melayani para pelanggan yang mampir ke lapak mereka. Alunan musik saling bersahutan hingga tidak jelas ini musiknya siapa dan itu musiknya siapa. Di atas, lampu-lampu indah berbagai warna menerangi jalan, menjuntai dari tiang ke tiang. Menambah indah langit cerah penuh bintang di atasnya.
“Kau kayaknya senang banget, Nda,” Aldi berceletuk sambil tertawa-tawa sedikit.
“Tentu saja!” Jawabku penuh semangat. “Soalnya aku belum pernah dat—”
Kruuuukkkk ....
Perutku berbunyi. Aku berhenti, menunduk menahan sensasi hangat di wajah yang lantas menyusul. Aku lupa kalau diriku belum makan ....
Sementara di sampingku, Aldi berusaha menahan tawanya. “Kau lapar, Nda?” Tanyanya.
Aku menggangguk kecil. Sensasi hangat di wajahku semakin bertambah ketika Aldi mulai tertawa-tawa pelan. “Ya sudah, ayo. Kita cari makan dulu,” ajaknya dan kembali menuntunku entah ke mana.
Tidak lama kemudian, tibalah kami di lapak seorang bapak penjual mi ayam yang gerobak dagangnya ramai dengan lampu-lampu kecil warna-warni. Aku langsung duduk di bangku plastik yang disediakan selagi Aldi memesan, yang kemudian sudah siap tanpa perlu menunggu lama. Tapi yang membuatku bingung, mengapa hanya satu mangkuk saja yang dibuat?
“Ini, Nda.” Aldi menyerahkan mangkuk mi ayamnya padaku.
“Kok cuma satu?” Tanyaku heran.
“Aku sudah makan di rumah tadi.”
“K-Kenapa kau tidak bilang?”
“Tidak apa-apa, Nda. Aku temani.”
“T-Tapi—”
“Sudah, sudah. Ini, makanlah.”
“Y-Ya sudah, kalau begitu. Aku makan ....”
Aldi duduk di sebelahku setelah aku menerima mangkuknya. Pelan-pelan, aku mengaduk-aduk mi ayamnya lalu menyuapkannya sedikit ke mulutku. Enak, tapi tetap tidak bisa membuat perasaanku jadi lebih baik.
Aku merasa tidak enak dengannya karena makan sendirian. Aku takut orang-orang yang melihatku akan mencapku sebagai pacar tidak tahu diri, atau menganggap Aldi sebagai laki-laki bodoh yang mau-maunya dimanfaatkan oleh kekasihnya. Namun makanan ini sudah ada di tanganku, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menghabiskannya.
Di tengah-tengah makanku, sesekali aku melirik Aldi yang sibuk mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya sambil terkadang tersenyum-senyum sendiri. Sempat penasaran, tapi kupilih untuk diam dan kembali fokus menghabiskan makan malamku. Aku tidak mau mengganggunya, terlepas dari siapapun yang menjadi lawan komunikasinya itu.
“Bagaimana? Enak, Nda?” Aldi tiba-tiba bertanya seraya tersenyum.
“Enak, kok. T-Terima kasih, ya?” Kubalas senyumannya, meski canggung.
Aldi tertawa pelan, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Tidak lama kemudian, aku pun selesai dengan makanku. Ketika aku berdiri hendak mengembalikan mangkuknya, Aldi menepuk bahuku. “Sudah selesai?” Tanyanya.
“Ya,” jawabku.
Lantas dia berdiri, mengambil mangkuknya dariku dan dia yang mengembalikannya, juga membayar makanannya. Aku jadi semakin merasa tidak enak ....
“Ayo, Nda,” dia menyeruku.
Aku mengangguk lalu mengikutinya berjalan sedikit di belakangnya karena perasaan tidak enak yang mengganjal di hati. Tapi tidak lama, dia berhenti dan menolehku. “Kenapa, Nda?” Tanyanya.
“T-Terima kasih, ya? Juga ... maaf aku malah merepotkanmu,” ujarku.
Sesaat dia tertegun, namun senyuman manisnya lantas mekar di bibirnya. Aldi kembali padaku, lalu mengagetkanku dengan menggandeng lagi tanganku. “Kau pacarku, kau harus ada di sampingku.”
Kata-kata manis itu kembali mendatangkan rasa hangat di wajahku yang kutundukkan. Dia terkekeh, lalu kembali melangkah, membawaku entah ke mana.
“Omong-omong, masakanmu siang tadi enak banget, loh. Lain kali, buatkan lagi masakan untukku, ya?” Aldi berceletuk.
__ADS_1
“Y-Ya ... t-terima kasih. Aku senang kau menyukainya ....” Mendengar pujiannya membuat hati terasa dibawa terbang, sungguh. Saking senangnya sampai aku tergagap-gagap begitu. “Omong-omong, kau ... mau ke mana?” Tanyaku kemudian.
“Tadi ketika kau makan, Chandra menanyai keberadaanku dan memintaku untuk segera menemuinya dan sekarang kita akan ke sana,” jawabnya.
“Oh ....”
Aku tahu tidak sepantasnya seperti ini tapi ... aku merasa keberatan soal bertemu dengan Chandra. Yang aku inginkan hanya berdua dengannya, menikmati saat-saat sebagaimana orang yang saling menyukai. Tapi siapa aku, mencegah dia bergaul bersama teman dekatnya?
Aku harus bisa menahan keegoisanku.
“Itu mereka, Nda,” Aldi mengabarkan keberadaan Chandra padaku.
Tanpa perlu mencari, aku sudah dapat menemukan dia tengah berdiri di depan sebuah patung kuda di pertigaan sambil mengobrol bersama Sarah yang juga ada di sana. Ketika mereka berdua menyadari keberadaan kami, senyum lebar mereka tunjukkan bersama lambaian tangan dari Sarah.
“Cieee! Bergandengan tangan, mesra banget sih kalian?” Kata Sarah heboh seraya melirik-lirik jahil diriku.
Aku memilih diam dan menunduk, canggung. Sementara Aldi, dia hanya tertawa-tawa kecil.
“Ah, kalau sudah begini sih ... ayo, Sar, kita pergi saja. Jangan ganggu mereka,” ajak Chandra pada Sarah.
“Loh, kalian mau ke mana?” Tanya Aldi. Aku berharap dia tidak mencegah kepergian mereka berdua.
“Sudah, ya? Kami duluan,” timpal Sarah lalu pergi bersama Chandra begitu saja.
“H-Hei! Tunggu!” Aldi mencoba memanggil mereka, tapi diabaikan.
Aldi pun lantas mencoba menyusul mereka, namun langsung kutahan dia. “Biarkan mereka. Mereka pergi karena hanya ingin kita cuma berdua,” kataku.
“Tapi—”
Aku menggeleng, mencoba membuatnya mengerti. “Tidak apa-apa, mereka yang mau. Ayo, kita pergi saja.”
“Y-Ya sudah, ayo.” Akhirnya dia menuruti perkataanku. Syukurlah.
Tanpa saling bicara, kami terus berjalan tanpa aku tahu ke mana tujuannya. Aku tidak mengambil inisiatif menentukan ke mana kami akan menuju karena aku belum pernah ke sini sebelumnya. Sempat kukira kalau Aldi mungkin marah karena kucegah saat hendak menyusul Chandra, tapi ketika kulirik, dia kelihatan biasa saja.
“Kita mau ke mana?” Tanyaku penasaran tentang tujuannya.
Melihat senyumannya membuatku berpikir kalau dia akan membawaku ke sebuah tempat yang amat indah, aku yakin. Ah, aku jadi tidak sabar untuk segera sampai di tempat itu.
Tidak lama berselang, kami pun tiba di sebuah danau besar yang sungguh indah bahkan langsung membuatku jatuh cinta dalam sekali pandang. Penjual-penjual dan pengunjung tumpah ruah di sekitaran danau, bahkan tidak sedikit pengunjung yang menggelar alas dan duduk-duduk bersama teman atau keluarganya. Yang membuat tempat ini terasa seperti surga adalah pohon-pohon tabebuya merah yang bermekaran yang kalau dilihat sekilas mirip bunga sakura yang semakin terlihat indah karena pancaran cahaya lampu-lampu yang menghiasi arena ini.
“Bagaimana, suka?” Tanya Aldi.
Aku mengangguk kesenangan. “Terima kasih, ya?!”
Seperti sebelumnya, dia hanya terkekeh. Tapi kemudian, aku mendapati sesuatu yang begitu menarik perhatianku. Sebuah panggung besar tidak jauh di depanku yang menghadap ke arah danau. “Itu panggung apa?” Tanyaku dengan menunjuknya.
“Oh itu? Nanti akan ada konser musik di sini. Ada beberapa penyanyi dan grup band yang diundang, Erina Jasmine salah satunya,” jawab Aldi.
Erina Jasmine? Artis muda yang cantiknya kebangetan itu? “Kapan di mulainya?” Aku benar-benar dipenuhi antusiasme.
“Nanti, sekitar jam setengah sembilan.”
“Aku mau menonton, boleh kan?”
“Tentu saja. Aku menyukai lagu-lagunya Erina, aku akan dengan senang hati menemanimu.”
Aku tersenyum girang sementara Aldi menertawai kecil tingkahku. Sudah tidak sabar lagi aku menyaksikan konser musik pertamaku, pasti akan hebat. Satu lagi, karena Aldi, aku juga jadi penasaran dengan lagu-lagunya Erina.
Aldi membawaku sampai ke salah satu pohon tabebuya yang berdiri tidak begitu jauh dari panggung. Aku duduk bersamanya di bangku taman yang ada di bawah pohon ini, memandangi danau yang ramai dengan perahu-perahu angsa.
“Kau mau coba naik itu, Nda?” Aldi menawariku naik perahu angsa.
“Tidak, ah. Aku takut tercebur,” jawabku. Aku tidak bercanda, aku memang takut.
Lagi, dia terkekeh. “Selagi menunggu konsernya mulai, kita mau mengobrol soal apa?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Namun, berdua denganmu di sini sudah lebih dari cukup untukku, Di.”
“Begitu, ya? Apa itu alasanmu tadi mencegahku menyusul Chandra?”
“Ya. Aku hanya ingin berdua denganmu. Maafkan aku karena sudah egois.”
__ADS_1
“Tidak, tidak apa-apa. Kan tadi kau yang bilang sendiri kalau mereka pergi karena memang mereka yang mau. Jadi bukan salahmu.”
Perasaan hangat muncul di hatiku mendengar ucapanya. Kugeser sedikit diriku supaya lebih dekat dengannya, lalu kusandarkan kepalaku di bahunya. “Boleh, kan?” Tanyaku memastikan dia tidak keberatan.
“Ya,” jawabnya.
“Terima kasih,” kataku. “Omong-omong, aku ingin menceritakan sesuatu.”
“Tentang apa?”
“Tentang bagaimana perasaanku padamu muncul.”
“Aku mau mendengarnya. Ceritakanlah.”
Sebelum aku memulai, kulingkarkan tanganku di tubuhnya. Aku suka ketika dia berada dalam pelukanku karena rasanya begitu nyaman. Aldi sempat bergeser sedikit, mungkin karena canggung, tapi aku senang dia tidak jadi melepas pelukanku.
“Setelah diselamatkan olehmu waktu itu, aku mulai merasakan perasaan aneh bergetar dalam dadaku,” kumulai kisahku. “Aku tidak bisa melupakanmu, setiap hari, setiap saat, kau selalu ada dalam pikiran dan hatiku. Awalnya aku bingung, sampai akhirnya aku sadar kalau aku jatuh cinta padamu.
“Setiap hari, aku berharap bisa bertemu lagi denganmu. Ke manapun aku pergi, aku selalu mengharapkan hal yang sama sampai beberapa kali aku mendatangi lagi tempat pertemuan kita, kau tidak juga bisa kutemui.
“Aku menghabiskan waktu sengganggku untuk mencari informasi tentangmu di internet, menanyakannya kepada semua teman-temanku karena mungkin ada yang mengenalmu, tapi semuanya nihil. Bahkan demi dirimu, aku menolak semua laki-laki yang menyatakan cintanya padaku. Aku bahkan sempat ragu dan takut tidak bisa lagi bertemu denganmu, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi.
“Oh ya, aku lupa satu hal. Kau pernah menanyakan alasan aku menyukaimu, kan? Alasannya ... karena kau adalah pahlawan hidupku.”
Aldi hanya diam. Mungkin dia terlalu terkesan dengan ceritaku,canggung, atau mungkin bosan, entahlah. Kucoba mengerlingnya, mukanya memerah dan dipenuhi dengan kecanggungan, membuatku tidak kuasa menyembunyikan senyum.
Melihat pemandangan manis dirinya ketika malu-malu sontak memunculkan hawa gemas dalam dadaku, yang kemudian menimbulkan sebuah hasrat. Jantungku berdegup kencang, dan sekujur mukaku kembali menghangat. Aku ingin memberinya sesuatu yang spesial.
Sebuah ciuman.
“Aldi,” kupanggil dia sehingga memandangku.
“A-Ada apa, Nda?” Tanyanya bingung.
Kuabaikan pertanyaannya sementara kulepaskan dekapanku darinya dan kutatap dia langsung ke mata. Kutelan ludah, mencoba memberanikan diri, sementara jantungku semakin kencang berdetak.
Pelan-pelan, kudekatkan wajahku ke wajahnya, kupejamkan mata, bersiap mempertemukan bibirku dengan bibirnya. Tapi tiba-tiba, sebuah hentakan kuat menahan kedua bahuku yang sontak mengeluarkanku dari hasrat yang menguasaiku.
Dengan kedua tangannya, dia menahanku. Sementara mukanya yang merah seperti kepiting rebus dia palingkan ke arah danau. “A-Apa yang kau lakukan, Nda?!” Saking terkejutnya dia hingga berucap seperti orang panik.
“Tidak boleh, kah?” Tanyaku.
“T-Tidak sekarang, Nda, kumohon ...,” pintanya dengan amat sangat. “Maafkan aku.”
Tingkahnya itu lantas membuatku termangu sama sekali. Hingga akhirnya, tawaku keluar karena kepolosannya yang tidak tertolong itu. Wajar sih dia begitu, lagian aku pun juga sadar kalau yang hendak kulakukan tadi adalah sesuatu yang tidak pantas dan belum waktunya untuk dilakukan oleh anak seusiaku.
“Begitu, ya? Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena tiba-tiba ingin melakukan itu,” kataku.
“L-Lupakan saja, dan jadikan ini rahasia kita berdua,” pintanya.
“Ya.” Kulepaskan kedua tangannya yang menahan bahuku dan kugenggam erat-erat. “Coba, lihatlah aku,” pintaku dan diapun menurutinya. Kemudian, kutempelkan satu telunjukku ke bibirku. “Kalau begitu, aku akan menyimpan ini.”
“T-Terserah kau saja.” Aldi kembali memindahkan tatapannya dariku.
“Kalau begitu sebagai gantinya, biarkan aku memelukmu.”
Dengan kaku, dia mengangguk dan langsung saja kubawa dia ke dalam pelukanku. “Aku mencintaimu ....”
“A-Aku juga ....”
Aku tertawa lagi mendengar betapa gugupnya dia.
“Selamat malam semua pengunjung festival ulang tahun kota yang ke 120,” sebuah pengumuman yang tiba-tiba menggema dari arah panggung mengalihkan perhatianku dan Aldi. “Sebentar lagi, konser perayaan ulang tahun kota akan segera di mulai. Kami harapkan agar semua pengunjung yang hendak menyaksikan bisa tertib. Terima kasih.”
“Konsernya sudah hampir dimulai. Ayo, kita cari tempat,” ajakku pada Aldi.
“Y-Ya, ayo.”
Kugandeng lagi tangannya, lalu bersama pengunjung lain, mendekat ke panggung, mencari tempat yang bagus agar bisa menikmati acaranya dengan sepenuh hati. Selagi berjalan, kulingkarkan kedua tanganku di tangannya yang kugandeng dan kupepet dia sehingga kami benar-benar berdekatan. Aldi mencoba melepaskan tangannya, namun kuhalangi dengan menyandarkan kepalaku di bahunya yang sontak langsung membuatnya berhenti melawan keinginanku. “Jangan coba-coba,” kuingatkan dia.
Omong-omong, bagaimana aku jatuh cinta pada Aldi yang juga merupakan pahlawan bagi hidupku membuatku jadi terpikirkan suatu ungkapan baru. Ungkapan bagus yang mungkin bisa membuat namaku dikenal banyak orang. Ungkapan itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Cintaku, pahlawanku.
__ADS_1