Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 35: Aldi


__ADS_3

Sepanjang jalan, aku hanya tertunduk pasrah menahan hawa panas di wajahku yang kuyakin sudah merah seperti tomat karena sekarang, aku dan Amanda digiring ke kelas bagai tawanan oleh Chandra, Sandi, Eko, juga Sarah yang ada di belakang kami berdua. Mereka mau mengabarkan tentang statusku dengan Amanda ke semua teman-temanku.



“Ternyata ... diam-diam Aldi menghanyutkan,” celetuk Eko yang langsung disambut tawa heboh oleh tiga yang lain.



“S-Sudahlah ... aku mohon,” pintaku pada mereka agar menghentikan yang tengah mereka lakukan terhadapku dan Amanda.



“Tidak, kami tidak mau,” timpal Chandra sambil merangkulku. “Berita bahagia itu wajib disebarluaskan, bukan begitu, Sar?”



“Oh, itu sudah jelas!” Kata Sarah. “Sandi, aku benar, kan?”



“Pastinya!” Seru Sandi.



Sudahlah, aku sudah tamat, batinku setelah mendengar semua ucapan mereka.



Menaiki tangga, dan sesampainya di kelas, mereka berempat memajangku bersama Amanda di depan teman-teman sekelasku. “Hei, semuanya dengarkan!” Kututup mukaku dengan tangan ketika Sarah berdiri ke hadapanku dan mulai bicara. “Aku punya berita bagus buat kalian semua.”



“Oh, ya? Apa, Sar?” Tanya seorang murid laki-laki.



“Sekarang di kelas ini, kita mempunyai sepasang kekasih baru. Aldi dan Amanda!” Sarah berseru penuh semangat.



Sorak sorai pun pecah di kelasku. “Cieee!”



Siulan-siulan dan tepuk tangan pun ikut meramaikan suasana. Aku menggeleng, tidak ada lagi yang bisa kupikirkan selain cara untuk mengakhiri hidupku setelah ini selesai nanti.



“Kau sakit, Di? Mukamu merah banget?” Di sampingku, Chandra berbisik padaku dengan meledek.



“Diamlah!” Sergahku.



***



Setelah bel pulang berbunyi dan barang-barangku sudah rapi semua, kulirik Amanda yang tengah memasukkan barang-barangnya ke tas. Begitu dia selesai, aku langsung berdiri menghampirinya dan tanpa berpikir lagi kuraih tangan kirinya dan kutarik dia keluar. “H-Hei, Di! Kenapa ini?!” Tanyanya sambil berusaha melepaskan tangannya dariku yang gagal.



Aku hanya bergeming sambil terus menariknya. Sepanjang aku berjalan, berpasang-pasang mata memperhatikanku. Mulai dari yang terkagum-kagum hingga yang sinis. Tidak ketinggalan juga sorakan heboh dari teman-temanku yang melihat aku dan Amanda lewat di depan mereka. Namun kesemuanya kuhiraukan, aku tidak punya waktu.



Aku meninggalkan sekolah sambil terus menariknya hingga sampai ke taman bermain kecil waktu itu yang lokasinya sendiri tidak terlalu jauh dari sekolah. Setibanya di bawah pohon rambutan yang menjadi satu-satunya tempat bernaung di sini, aku melepaskannya. Kutatap dia yang sekarang tertunduk dengan ketakutan yang menghiasi wajahnya.



“Aku tidak marah, Nda,” kataku sesantai mungkin. “Maaf aku sudah kasar padamu tadi.”



“Tidak apa-apa.” Dia menggeleng pelan. “Ini semua salahku sehingga kau dipermalukan oleh Sarah tadi.”



Aku mendesah. Tidak kusangka dia akan salah paham seperti ini.



Kududukkan diriku lalu bersandar pada batang pohon yang rindang ini. “Duduklah, Nda,” pintaku padanya, yang lantas diturutinya sehingga kami duduk berdampingan.



Kuletakkan tangan kananku di wajah lalu menggeleng sambil mendesah. Hari ini adalah hari yang paling memalukan sepanjang aku hidup, dan aku tidak percaya bisa mengalaminya.



“Sepertinya mereka masih akan tetap menyoraki kita hingga sebulan ke depan, Nda,” kataku.



“Maaf, maafkan aku,” mohonnya dengan suara yang bergetar.



“Tidak apa-apa, Nda. Aku tidak marah, kok.”



Kulirik dia yang masih terus tertunduk dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Melihatnya membuatku menyesal karena yang kulakukan tadi memang agak kelewatan. Pasti dia benar-benar takut aku marah.



“Lihat aku, Nda,” pintaku.



Awalnya dia hanya melirik-lirik takut diriku, namun akhirnya dia bisa memandangku sepenuhnya. Kupasang senyum, berharap bisa mengusir ketakutannya. “Lihat, kan? Aku tidak marah padamu, Amanda,” kuyakinkan dia sekali lagi.



Sontak dia memalingkan wajahnya yang merona merah. Melihat dia tersipu, menimbulkan gemas dalam benakku karena dirinya jadi terlihat sangat manis.



“Aku mau tanya, mengapa kau mengatakan soal status kita pada Sarah, Nda?” Tanyaku meminta penjelasan.



“H-Habisnya ....”



“Habisnya kenapa, Nda?”



“Habisnya ... aku tidak tahan lagi sembunyi-sembunyi seperti yang lalu. A-Aku mau bebas menunjukkan cintaku padamu di depan orang-orang.”



Aku mengerjap mendengar jawaban yang tidak pernah kuduga itu. Hangat pun kembali muncul di wajahku yang sontak kutundukkan. “B-Begitu, ya?”



“Y-Ya,” jawabnya lirih.



Sejujurnya, selama ini pun aku merasakan hal yang sama dengannya. Aku bosan dipaksa bersikap kaku karena takut statusku dengannya terbongkar lalu dibuat malu seperti yang kualami pagi tadi. Aku ingin bisa lebih bebas ketika bersamanya di depan orang-orang.



Bagaimanapun, aku kagum dengannya. Meski di saat bersamaan, aku pun malu karena sebagai laki-laki, justru dirinya yang mengakhiri masa sembunyi-sembunyi kami.



“Kau hebat, Nda. Tidak seperti aku, penakut,” pujiku padanya.


__ADS_1


“T-Terima kasih ....”



Aku tersentak, ketika tangan kiriku digenggam olehnya. Kulihat, dia tengah tersenyum lalu melirikku ketika sadar tengah kuperhatikan.



“Mulai besok, kita tidak perlu bersembunyi lagi,” katanya.



Aku tertegun sesaat, lalu kubalas senyumannya. “Ya, Nda. Tentu.”



“Satu lagi. Mulai besok, ayo, kita berkencan.”



“Kukira sekarang kita tengah berkencan.”



Amanda mengerjap, sebelum kemudian tertawa bersamaku.



“Soal kencan kita nanti, ke mana aku harus membawamu?” Tanyaku.



“Bukan kau, tapi aku.”



“M-Maksudmu ... kau yang membawaku?”



“Ya. Aku ingin membawamu ke tempat yang sangat spesial.”



“Di mana?”



“Rahasia.”



Amanda tertawa lagi yang kuikuti dengan senyum bingungku. Tempat spesial? Rahasia? Ah, aku sudah benar-benar tidak sabar.



Kemudian untuk beberapa saat yang singkat, dia melirik langit. “Sudah sore. Ayo, Di, kita pulang,” ajaknya kemudian.



“Ya, ayo.”



Kami berdiri bersamaan. Lalu, aku dan Amanda berjalan berdampingan, dengan tangannya yang masih memegang tanganku.



“Aku mencintaimu ...,” ucapnya padaku.



“Aku mencintaimu juga, Amanda ...,” ucapku padanya.



***




“Amanda hadir tidak ya, hari ini?” Aku bergumam seraya memperhatikan langit kelabu itu. Aku cemas dia tidak diizinkan datang ke sekolah oleh kakak atau ibunya karena kemarin, dia masih tampak lemah. Namun kuharap, dia sudah benar-benar sembuh hari ini.



“Kenapa kamu melamun begitu? Ah, kamu lagi memikirkan Amanda, ya?” Aku tersentak dan sontak menoleh ibuku yang berceletuk di belakang, berdiri menyandarkan bahu kanannya di ambang pintu seraya tersenyum dan melipat kedua tangannya di dada. “Cieee! Anak ibu romantis banget, sih?”



Kubalas senyumannya dengan sedikit menunduk. Malu. “Ya sudah, Bu. Aldi berangkat dulu, ya?” Kupandang ibu lagi.



Kemudian dia mendekatiku, menghadapkanku kepadanya, meraih kedua pipiku untuk menurunkan sedikit kepalaku lalu mengecup keningku. “Ya sudah, hati-hati, ya?” Tangan kanannya mengelus lembut kepalaku.



Aku mengangguk. “Aldi berangkat dulu, Bu.”



“Daah!” Ibu melambaikan tangan ketika aku berjalan meninggalkan rumah. Aku berhenti sebentar di depan gerbang untuk membalas lambaiannya sebelum kembali melangkah. Kutarik sedikit celanaku supaya tidak terlalu basah terkena percikan air hujan.



Sekali aku mendesah karena suasana kelabu di hatiku. Aku cemas, hujan ini menjadi penghalang bagiku untuk bertemu dengannya. Kuharap hujan segera reda, supaya dia bisa datang ke sekolah walau di saat bersamaan, aku menyukai hawa sejuk yang hujan ini bawa.



“Sepi sekali ...,” gumamku saat melihat keadaan sekitar jalan yang kulalui.



Aku pun melewati rumahnya Rina. Kulihat dia tengah sibuk menata barang-barang di warungnya meski sudah mengenakan seragam. Dia tidak menyadari keberadaanku karena memunggungiku. “Dia memang rajin,” pujiku sambil melempar senyum padanya.



“Aldi!” Aku kaget dan berhenti kemudian berbalik untuk menyambut panggilan Rina yang begitu tiba-tiba saat aku sudah melalui rumahnya. Sambil tersenyum, Rina melambai dari warungnya.



“Kenapa dia memanggilku?” Aku bertanya-tanya sebelum kususul dia. Tidak kusangka dia masih bisa menyadariku.



“Wajahmu cerah banget. Oh ya, aku lupa. Nanti kan kau bertemu Amanda,” celetuknya setibanya aku di hadapannya. Kuusap belakang leherku sambil tertawa kecil karena tersipu yang membuatnya jadi ikut tertawa juga.



“Ada apa ... Rin?” Tanyaku sekalian berusaha kembali bersikap biasa walau cukup sulit.



Rina tidak menjawabku melainkan pergi ke sudut warungnya dan berjongkok mengambil sesuatu dari sebuah kotak kardus. Lalu dia berdiri, mengambil satu kantung plastik dan membungkus dua buah kaleng yang tadi dia ambil dari kardus kemudian kembali padaku.



“Ini, buatmu.” Dia menyerahkan kantung plastik itu padaku.



“Tunggu ... apa ini, Rin?” Tanyaku sambil kutunjuk kantung plastiknya.



“Susu, buatmu dan Amanda. Terimalah,” pintanya. “Anggap saja hadiah dariku buat status baru kalian. Tenang saja, ini baru, bukan barang kadaluwarsa.”



Aku bergeming, ragu untuk menerimanya karena kupikir ... dia tidak perlu melakukannya. Karena aku masih khawatir akan perasaannya.



Rina mendesah seraya memutar bola matanya kesal. “Sudah aku bilang, kan? Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkanku. Anggap aku sebagai angin lalu, lupakan.”

__ADS_1



“A-Aku tahu tapi—”



Aku kaget ketika dia tiba-tiba menarik tangan kananku dan memaksaku untuk menerima hadiah darinya. Lalu, dia tersenyum. “Maaf, aku hanya bisa memberikan hal kecil seperti ini.”



“Tidak apa-apa, Rin.” Aku menggeleng menyanggah ucapannya lalu membalas senyumannya. “Ini saja sudah lebih dari cukup buatku. Terima kasih.”



“Sama-sama, Di. Kalau begitu, cepatlah kau pergi ke sekolah. Aku yakin kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, kan? Maaf aku sudah menahanmu di sini.”



“Tidak apa-apa, lupakan saja. Kalau begitu, aku pergi dulu, Rin.”



“Daah.” Rina melambai kecil padaku ketika aku beranjak pergi.



“Sampai jumpa.”



Aku kembali lagi berada di bawah guyuran hujan. Sepanjang jalan, aku tersenyum, melampiaskan perasaan lega di hati setelah bertemu dengan teman masa kecilku itu. Lega karena dia sudah kembali seperti sedia kala setelah melalui masa-masa kelabu karenaku.



Tepat ketika aku tiba di persimpangan jalan menuju sekolah, aku berhenti. Begitu pula dengan gadis di seberangku, yang bernanung di bawah payung mungil di tangannya, yang menatapku dengan mata cerahnya yang manis, yang berkardigan biru langit. Amanda.



Bersamaan, kami tersenyum, lalu menyapa. “Hei.”



Perasaan hangat pun segera memenuhi hatiku. Ingin kususul dia, namun dirinya telah terlebih dulu memberi isyarat dengan mengangkat tangannya, memintaku untuk tetap di tempat. Setelah menoleh ke kiri kanan, dia menyeberang menyusulku.



Namun aku terkejut ketika dia ikut bernaung di bawah payungku dan menutup miliknya. “Mengapa kau tutup, Nda?”



Mukanya yang dia tundukkan mendadak memerah. “Aku ingin berada di sampingmu lebih dekat, seperti waktu itu.”



Hangat di hatiku pun menjalar ke wajahku yang sontak kupalingkan sewaktu mendengar ucapannya. Jantungku pun berdegup kencang. “B-Baiklah ....”



“T-Terima kasih ...,” ucapnya pelan namun terdengar begitu bahagia.



Akhirnya kami pun berjalan berdampingan di bawah satu payung. Namun belum lagi jauh, Amanda menarik sedikit punggung kemejaku dan kami pun berhenti. “S-Sebentar ....”



“Ada apa, Nda?” Tanyaku heran.



“Itu, di tanganmu ... apa?” Dia menunjuk kantung plastik berisi susu kaleng pemberian Rina tadi.



“I-Ini?” Kuangkat sedikit kantung plastiknya untuk menunjukkannya. “Susu kaleng ... tadi Rina yang memberikannya untuk kita. Katanya ... hadiah buat status baru kita.”



“B-Benarkah? Nanti aku akan berterima kasih padanya. Omong-omong, b-bolehkah aku yang membawanya?”



“Tidak apa-apa, Nda. Biar aku saja.”



“Aku mohon ....”



“Y-Ya sudah ... ini.”



Kuberikan kantung plastiknya yang langsung diterimanya dengan wajah berseri. Senang melihatnya begitu, meski membuatku bingung sebenarnya dia mau apa.



“Kalau begitu, ayo, Nda. Kita ja—”



Aku tersentak, terdiam, hingga jantungku serasa ingin melompat keluar karena tiba-tiba Amanda menggenggam tangan kananku. “Aku memintamu memberikan kantung plastiknya supaya aku bisa menggandeng tanganmu ....” Suaranya begitu pelan, sementara mukanya merah sekali, seperti tomat.



Merasa belum terbiasa aku pun segera ingin melepasnya namun cepat-cepat dia mengeratkan genggamannya. “Aku tidak mau sembunyi-sembunyi lagi,” katanya dengan nada memaksa.



Pada akhirnya, kuputuskan untuk menuruti kemauannya dengan lanjut melangkah tanpa mengatakan apapun lagi, sambil bergandeng tangan. Perasaan dalam dadaku terlalu campur aduk untukku bicara.



***



“Cieee! Mesra banget sih, kalian?!” Begitulah hari ini teman-teman sekelasku menyambut kedatangan aku dan Amanda di kelas. Walaupun aku juga Amanda berusaha bersikap biasa, tapi rasanya masih canggung. Namun aku bersyukur karena Amanda hanya menggandeng tanganku sampai ke depan gerbang sekolah. Tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika dia melakukannya sampai ke kelas.



“Baru jadi langsung berangkat sekolah bareng!” Kata Sarah yang saking hebohnya sampai berdiri dari duduknya.



Aku dan Amanda hanya menanggapi sorakan itu dengan senyuman. Namun yang terjadi selanjutnya membuatku makin canggung karena ketika aku duduk, beberapa teman laki-lakiku termasuk Sandi langsung mengerubungiku dengan wajah semringah mereka.



“Di, ceritakan dong tentang kisah cinta kalian!” Sandi membujuk sambil merangkulku dari samping. “Bagaimana kalian saling menyukai, ceritakanlah! Kami semua mau tahu!”



“Ya. Ceritakanlah!” Pinta temanku yang lain tidak sabar.



“B-Bukannya aku tidak mau tapi ... aku canggung,” ujarku pada mereka.



“Pelan-pelan saja! Santai! Kami dengarkan, kok!” Sandi semakin membujukku. “Ya, ya, ceritakan?”



Sebelum kuputuskan untuk bercerita atau tidak, kulirik Amanda yang juga berada dalam posisi sepertiku—dikerubungi oleh teman-teman perempuannya yang dipimpin Sarah. Mencecarnya dengan bujukan-bujukan manis supaya mau membuka kisah cintanya bersamaku hingga mukanya merah sekali.



Melihat dirinya yang perlahan mulai bercerita pada Sarah dan teman-teman yang lain meski tampak terbata-bata membuatku yang awalnya merasa enggan untuk menceritakan kisah cintaku bersamanya, kini justru ingin agar semua orang tahu. Tahu bahwa aku mencintainya.



Mulai dari Sandi, kutatap teman-teman yang mengerubungiku satu persatu. Kuputuskan untuk bercerita pada mereka. “Ya sudah, aku akan menceritakannya pada kalian,” kataku yang disambut dengan senyum girang mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2