
“Masuk!” Seruku pada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Pintu pun terbuka, dan ternyata Kak Dian.
Syukurlah kakak mampir ke kamarku malam ini.
Setelah menutup kembali pintunya, dia langsung duduk di sebelahku, di tepian ranjang. Memandangku dengan raut muka heran. “Kamu kenapa, Nda? Kok, kelihatannya tegang begitu?”
Aku tersenyum kecil, lalu menunduk. “Amanda gugup, Kak.”
“Gugup? Gugup kenapa?”
“S-Soalnya besok ... b-besok Amanda akan berkencan dengan Aldi.”
Kak Dian hanya diam, namun kemudian dia tertawa kecil seraya mengelus lembut kepalaku.
“Nda, Nda, masa begitu saja kamu gugup, sih?” Kata Kak Dian.
“Habisnya ... A-Amanda takut mengacau.”
“Hmm? Mengacau bagaimana?”
Aku tidak menjawab, karena terlalu larut dalam kecemasanku. Sejak beberapa hari belakangan ini, aku tidak bisa tenang. Jantungku terus dibuat berdegup kencang, dan membuat rasa percaya diriku naik turun tidak karuan. Aku takut, aku akan mengacaukan kencan pertamaku dengannya.
“Sini, dengarkan kakak,” celetuk Kak Dian. Mengalihkanku dari perasaan tidak mengenakan yang tengah melanda hatiku.
Sewaktu kupandang kakak, dia tengah tersenyum seraya membuka kedua lengannya, menawarkanku untuk masuk ke dalam dekapannya. Aku pun ikut tersenyum sebelum membawa diriku masuk ke dalam pelukan kakak yang hangat.
“Kamu tidak perlu takut, Amanda,” kata kakak meyakinkan.
“Amanda tahu tapi tetap saja, Amanda tidak yakin,” keluhku.
“Sekarang kakak tanya, yang lebih dulu menyatakan perasaan, kamu atau Aldi? Terus yang mengajak kencan, kamu atau dia?”
“I-Itu ... A-Amanda, Kak.”
“Nah itu, kamu berani melakukan hal itu. Masa cuma berkencan saja kamu ragu-ragu?”
Aku mendengus, bingung bagaimana harus bersikap. Apa yang kakak katakan adalah benar, namun di satu sisi, hatiku masih tetap terganjal oleh perasaan gugup yang menghantuiku sejak beberapa hari ini. Aku takut yang kubayangkan saat studi wisata menjadi nyata—Aldi bosan denganku karena aku terus-terusan canggung ketika bersamanya.
“Terus Amanda harus bagaimana?” Aku sudah benar-benar tidak tahu lagi apa yang mesti kulakukan.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan ada ibuku dibaliknya. Ketika melihat aku dan kakak, ibu tersenyum.
“Tumben kalian akrab, biasanya berdebat melulu,” katanya dengan menyindir.
“Ya, dong. Dian kan sayang sama Amanda, ya kan, Sayang?” Kata kakak padaku.
“Y-Ya.” Disebut dengan panggilan ‘sayang’ entah mengapa membuatku agak risih. Bahkan karena melihatku begitu membuat ibu sampai sedikit tertawa.
“Omong-omong, ada apa, Bu?” Tanya kakak pada ibu.
“Anu, apa namanya ... gunting. Kamu lihat tidak? Dari tadi ibu cari tidak ketemu.”
“Ada di kamar Dian. Di laci, tadi habis Dian pakai.”
“Oh, ya sudah. Nah begitu, jadi saudara yang akur. Kalian itu berasal dari satu rahim, jadi jangan bertengkar melulu.”
Aku dan Kak Dian mengangguk bersamaan. Lantas ibu pun memberi kami senyum sebelum kembali menutup pintu kamar dan pergi.
“Tadi, kamu bertanya harus bagaimana, kan?” Kak Dian langsung kembali melanjutkan bahasan soal curahan hatiku.
Aku mengangguk. “Ya, Kak.”
“Yang kamu lakukan adalah kamu harus melawan rasa gugup itu. Kamu harus berani. Kamu tidak mau kan, Aldi kecewa karena kencan pertamanya berantakan hanya karena masalah sepele yang asalnya dari kamu?”
“Tidak mau, Kak.”
Timpalku langsung. Aku benci mendengar apapun yang bisa mengganggu hubunganku dengan Aldi. Kakak benar, aku harus berani. Aku harus bisa menyenangkan hatinya, dan aku harus dapat membuatnya bangga ketika kelak dia menceritakan tentang kencan pertamanya pada orang-orang, dan tentu saja, bangga memilikiku.
Aku harus.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Nda? Kok, kelihatannya serius banget?” Tanya kakakku.
“Amanda benci dengan apapun dan siapa pun yang akan mengganggu hubungan Amanda. Seperti yang tadi kakak bilang, canggung dan gugup yang tidak berguna. Amanda hanya kesal sama diri sendiri.”
Sebentar kakak terdiam, lalu terkekeh. Namun, tidak ada lagi tanggapan apapun setelahnya. Penasaran, kutengok kakakku dan kudapati dia tersenyum dan menatapku dengan ekspresi antara terkejut, bangga, dan heran.
“Kakak kenapa?” Tanyaku.
“Kakak tidak pernah menyangka kalau adik kesayangan kakak ternyata orangnya cemburuan.”
Aku sontak tertegun. “Cemburuan?”
“Ya. Kamu barusan bilang kalau kamu benci apapun dan siapa pun yang mengganggu hubungan kamu dengan Aldi. Dan kakak yakin, kamu pasti pernah merasa marah malah sampai benci dengan gadis lain yang dekat-dekat dengannya, entah itu teman atau kerabatnya.”
“Pernah. Tapi Amanda tidak peduli,” kataku tegas sampai membuat kakak mengerjap kaget. “Aldi adalah milik Amanda, dan Amanda benci siapa pun yang mencoba-coba mendekatinya.”
“Oh, begitukah?” Kak Dian tersenyum menantang. “Terus, apakah kamu akan membenci kakak kalau kakak mencoba mendekati Aldi?”
“Mungkin.”
Kami saling menatap cukup lama. Aku sempat berpikir kalau kakak serius akan melakukan yang dia katakan tadi, namun berusaha kuenyahkan. Tapi kalau itu memang benar-benar terjadi, aku tidak akan tinggal diam. Aldi adalah milikku, apapun yang terjadi.
Namun yang terjadi, kakak justru tersenyum lebar dan memelukku semakin erat. “Aduh, Nda, Nda. Kakak tidak menyangka kalau kamu ternyata kejam juga, ya?”
“Amanda tidak kejam. Amanda hanya menjaga apa yang menjadi milik Amanda,” kataku.
“Kalau Aldi tahu kamu ternyata cemburuan akut begini, bagaimana kira-kira reaksi dia, ya?”
Aku menaikkan bahu—tidak tahu. Meski begitu, aku yakin Aldi tidak akan merasakan apa-apa tentang kepribadianku yang cemburuan. Lagian, itu kan cuma pendapat kakakku saja, pun aku sendiri tidak merasa seperti yang dikatakannya, dan aku yakin Aldi juga begitu jadi ... aku tidak perlu memikirkannya.
Tapi tiba-tiba, obrolan dengan kakakku ini membuatku jadi penasaran akan sesuatu. Kak Dian, pengalaman romansanya seperti apa, ya?
Kakakku mungkin dekat denganku, tapi tidak pernah sekalipun dia menceritakan sesuatu tentang kehidupan pribadinya kepadaku. Pergaulannya dan hubungannya dengan orang-orang di luar sana. Temannya, tempat yang sering dia kunjungi, bahkan aku tidak tahu Kak Dian sudah mempunyai pacar atau belum. Kalau aku menanyakan sesuatu yang menyinggung soal kehidupan pribadinya, dia cuma senyum-senyum saja lalu mengalihkan pembicaraan.
Pun, tidak pernah ada teman atau kenalannya yang mampir ke rumah, kalaupun ada, cuma sekali. Kak Mira, teman sekelasnya sewaktu masih duduk di bangku SMA. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu.
“Ya, Sayang?”
“Kak Dian ... kakak sudah punya pacar belum?”
“Hmm? Kenapa memangnya?”
Sudah aku kira, pasti dia akan bertanya seperti itu. Ya sudahlah, kurasa kakak memang tidak suka kehidupan pribadinya dimasuki orang lain bahkan oleh adiknya sendiri.
“Tidak ada, kok, Kak. Amanda cuma mau tahu saja,” kataku sedikit kecewa.
“Memangnya ada apa kamu tiba-tiba bertanya begitu? Hmm? Tidak apa-apa, Nda. Bilang saja.”
“Selama ini ... kenapa sih, kakak tidak pernah menceritakan kehidupan pribadi kakak pada Amanda? Amanda kan juga mau tahu.”
Namun, yang menanggapiku hanya hening karena Kak Dian cuma bergeming. Tapi kemudian, dia terkekeh.
“Sebelumnya kakak minta maaf soal itu,” katanya. “Sejujurnya, bukannya kakak tidak mau menceritakan soal kehidupan pribadi kakak, tapi kakak berpikir, buat apa menceritakannya ke orang lain? Pun, tidak penting juga, kan?”
Kulirik dia. “Jadi maksud kakak, Amanda tidak penting, begitu?”
“Bukan begitu, kakak hanya tidak suka mengumbar kehidupan pribadi kakak ke orang-orang. Cukup kakak sendiri saja yang tahu.”
“Tapi kan Amanda bukan orang lain. Amanda adiknya kakak, kita masih mempunyai darah yang sama. Kakak sering meminta Amanda menceritakan masalah pribadi Amanda, tapi ketika Amanda meminta sebaliknya, kakak tidak mau. Egois.”
Senyuman Kak Dian tiba-tiba lenyap, berganti dengan raut wajah datar. Kurasa aku sudah salah bicara dan membuatnya tersinggung.
“Maaf, Amanda tidak bermaksud membuat kakak marah,” kataku. Lalu kulepaskan diriku dari dekapan Kak Dian, merangkak ke tengah ranjang dan berbaring miring memunggunginya.
Kuhela napas. Sedikit menyesali apa yang barusan kukatakan pada kakak. Habisnya aku kesal, karena seolah-olah Kak Dian menganggapku selayaknya orang lain yang dianggapnya tidak penting.
Aku tahu semua orang punya privasi, dan tidak boleh ada orang lain yang mengganggu itu. Tapi aku adiknya, aku masih sedarah dengannya, namun seolah dia tidak mempercayaiku hanya untuk sekadar mengetahui sepenggal kehidupan pribadinya, kakakku sendiri.
Ah, ya sudahlah. Aku lelah memikirkannya, aku akan tidur saja. Lebih baik aku menyimpan energiku untuk berkencan dengan Aldi besok.
__ADS_1
Tapi baru saja aku memejamkan mata, Kak Dian malah ikut tiduran di belakangku. “Memangnya kamu benar-benar mau tahu?” Kakak bergumam.
Kubalikkan badanku sehingga aku berhadapan dengannya yang terlentang sambil memandang langit-langit kamar. “Ya, Amanda mau tahu.”
Kak Dian terkekeh, lalu mengerlingku. “Punya, memangnya kenapa?”
“Ceritakan dong sama Amanda,” pintaku penuh harap.
“Hmmm ... bagaimana, ya?” Kakak kembali menatap langit-langit. “Bukannya tidak mau tapi ... kakak bingung harus cerita bagaimana.”
“Cerita saja, tidak apa-apa. Amanda akan mendengarkannya.”
“Ya sudah, deh, kalau kamu maunya begitu. Pacar kakak itu, kalau dibandingkan, mungkin dia adalah kebalikannya Aldi.”
“Kebalikannya?”
“Ya. Dia banyak bicara, berisik, dan banyak tingkah. Kalau dari tampang luarnya, dia kesannya seperti Aldi, kalem, tenang. Tapi di dalam, dia kekanak-kanakan sekali.”
Kak Dian tertawa kecil, tapi aku tertegun. Tidak kukira kakak punya selera yang unik karena selama ini, aku selalu menyangka kalau kakak hanya menyukai laki-laki yang bertipe kalem, ternyata aku salah besar.
“Dia teman kuliahnya kakak?” Tanyaku.
“Ya, satu kelas juga. Malah sampai sekarang pun kakak juga bingung karena bisa suka dengan orang seperti dia. Maksudnya, dia itu sering bertingkah konyol, banyak juga teman-teman kakak yang sebal sama dia karena sering membuat malu orang-orang disekitarnya. Tapi kalau dia absen, kelas rasanya hampa.
“Pernah suatu ketika dia kecelakaan dan kakinya patah, jadinya dia absen cukup lama. Selama itu, kakak merasa kangen, tidak sabar mau bertemu lagi dengannya sampai kakak memberanikan diri menjenguknya seorang diri ke rumahnya.
“Entah mengapa, pas melihat dia tersenyum rasanya senang sekali. Setelah itu, kakak merasa selalu ingin menjenguknya lagi setiap hari, ingin melihat senyumannya. Lama-lama, perasaan itu berubah aneh, dan kalau melihat dia, kakak merasa berdebar-debar. Yang biasanya tidak masalah dekat-dekat dengannya, tiba-tiba jadi terasa canggung. Ingin menjauh, tapi ingin dekat-dekat terus.”
Terbayang bagaimana kakak malu-malu karena jatuh cinta membuatku tersenyum-senyum sendiri. Menyadari yang kulakukan, kakak lantas menolehku.
“Mengapa kamu senyum-senyum begitu?” Tanyanya.
“Amanda merasa lucu dengan ceritanya kakak.”
“Huh, dasar.”
Lalu Kak Dian ikut memiringkan badannya sehingga kami saling berhadapan.
“Terus, Kak, yang pertama menyatakan perasaan siapa?” Tanyaku.
“Berdua, bersamaan.”
“Bersamaan?”
“Ya. Waktu itu kakak sedang berdua bersamanya di kafe. Sejak dari rumah, kakak memang sudah berniat ingin bilang kalau kakak suka sama dia, tapi pas kakak lakukan, dia juga melakukannya, jadi ya ... berbarengan.
“Jujur saja, kakak kaget karena tidak menyangka dia juga suka sama kakak. Terus dia bilang, kalau sebenarnya dia sudah lama mempunyai rasa sama kakak, dan dia melakukan semua kekonyolannya demi menarik perhatian kakak, yang ternyata berhasil.”
“Tapi Amanda takjub, loh.”
“Oh, ya? Takjub kenapa?”
“Takjub karena pacar kakak bisa mau dan tahan sama orang yang menyebalkan seperti kakak.”
“Masa? Kakak juga takjub. Kok bisa, Aldi mau sama gadis yang doyan marah-marah dan judes kayak kamu.”
Aku dan kakak pun tertawa bersama. Ternyata benar kata orang, cinta bisa membuat manusia jadi aneh.
“Omong-omong, kamu sudah siap buat besok, kan?” Celetuk kakak.
Aku mengangguk dan menjawab penuh keyakinan. “Sudah, kak. Pokoknya Amanda janji akan membuat Aldi tidak mau pulang karena saking senangnya bersama Amanda.”
Kak Dian tertegun sesaat, kemudian tertawa. “Kamu percaya diri banget, sih?”
“Tentu saja. Karena Amanda sungguh-sungguh mencintainya,” tegasku.
Kakak pun kembali mendekapku dengan gemas, membuatku tersenyum karena nyamannya. “So sweet banget sih kamu, Nda?”
Aku berjanji, aku akan memberikan kesan yang terbaik untuknya besok. Yang terbaik, sampai memorinya tidak akan pernah berani untuk melupakannya.
__ADS_1