
“Rina?” Bahkan aku sampai melonjak bangun dari berbaring ketika ponselku berdering panjang dan melihat namanya di layar ponsel.
Namun, aku pun lega karena akhirnya, dia menghubungiku karena sejak saat itu dia sama sekali tidak bisa kuhubungi, walau agak terasa aneh karena dia melakukannya larut malam begini. Meski begitu, kuakui aku masih merasa bersalah atas apa yang telah terjadi di waktu itu.
Dengan ragu, kucoba untuk menjawab panggilan telepon darinya. “Halo?” Sapaku dengan tertahan.
“Halo, Di. Apa kabar?” Balasnya dengan suara yang lemah. Biasanya dia selalu bersemangat kalau bicara denganku, mungkin karena kejadian itu masih membuatnya sedih.
“Aku baik. Kau sendiri, bagaimana?”
“Sama, kok. Aku baik-baik saja.”
Aku terkekeh, betapa senangnya mendengar kabar baik darinya.
“Syukurlah,” kataku.
Tawa kecil terdengar, kemudian hening untuk beberapa saat sebelum dia kembali bicara.
“Maaf karena aku tidak membalas saat kau menghubungiku. Hari-hariku sedang terasa buruk, kuharap kau tidak marah padaku,” ucapnya dengan penyesalan yang membuatku terkejut sekaligus sedih.
“Aku paham, kok. Aku juga minta maaf karena telah mengganggumu ketika kau sedang tidak ingin dihubungi,” balasku dengan rasa sesal yang sama.
“Terima kasih sudah mau mengerti, dan soal waktu itu, kuharap tidak menjadi jurang pemisah untuk pertemanan kita.”
“Tidak, Rin. Bagaimanapun juga, kau tetaplah temanku.”
Lagi, tawa kecilnya terdengar. Hanya saja, jeda kali ini cukup lama. Aku mulai berpikir apakah dia sudah tidak ingin bicara lagi padaku tapi merasa tidak enak menutup panggilan begitu saja sehingga menungguku yang melakukannya. Meski begitu, aku pun juga mengira kalau mungkin dia sedang memikirkan kata-kata yang ingin dia ucapkan selanjutnya.
“Apakah kau sudah menemukan orang kau cintai?”
Aku mengerjap. Kenapa dia menanyakan itu?
“Tunggu, apa maksudmu, Rin?” Tanyaku memastikan. Aku mulai berfirasat bahwa arah pembicaraan ini akan berakhir buruk.
“Kau bilang aku temanmu, jadi aku hanya ingin tahu, apakah temanku sudah menemukan gadis yang disukainya atau belum. Apakah itu salah?” Dia bertanya balik.
Sesaat aku merenungi apa yang harus kukatakan, tapi aku memutuskan untuk langsung jujur saja. “Kurasa sudah, meski aku belum yakin.”
“Benarkah?” Dia terkekeh. “Siapa?”
“Aku bilang belum yakin. Jadi aku belum bisa memberitahu nama.”
“Siapapun dia, dia adalah gadis yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan hatimu.”
Firasatku semakin buruk karena dia bicara dengan nada gemetar. Secepat yang kubisa, kucoba untuk memberi penjelasan.
Namun, dia menghentikanku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Sudah aku bilang—”
“Terima kasih sudah mencoba peduli padaku. Namun satu hal yang harus kau tahu adalah, aku tidak suka dikasihani bahkan olehmu,” katanya dengan tegas. “Jadi tolong, jangan menganggapku sebagai gadis yang lemah.”
Tertohok oleh kata-katanya membuatku terdiam. Namun, aku senang, karena setidaknya, dia sudah kembali seperti sedia kala. “Ucapanmu kasar, asal kau tahu saja,” kuucapkan seraya tertawa dan sedikit menyindir.
“Jadi selama ini, aku adalah gadis yang kasar di matamu?” Tanyanya dengan nada menantang.
“Tentu saja. Kau bahkan menodongku dengan pisau hanya karena aku berkata kau itu gemuk. Jadi menurutku, kau itu kasar.”
Rina tertawa, dan yang terpenting, dia melakukannya dengan lepas. Aku pun bergabung bersamanya, menertawakan kekonyolan yang pernah kami lakukan.
“Omong-omong, Di,” dia menghentikan tawanya dan kembali bicara, “soal taruhan kita waktu itu, masih berlaku, loh. Jadi jangan harap kau bisa melarikan diri dariku.”
“Memang masih,” balasku menantang. “Lagian, kau masih percaya diri sekali akan menang?”
“Jelas, lah! Aku akan membuat dirimu bangkrut dalam seminggu. Lihat saja!”
__ADS_1
Aku hanya tertawa saja mendengar kepercayaan dirinya yang kelewat tinggi. “Dia percaya diri sekali,” gumamku.
“Dan satu lagi,” lanjutnya kemudian yang membuat tawaku berhenti. Kupasang telinga baik-baik, karena dari nada bicaranya, aku merasa dia akan mengatakan sesuatu yang serius. “Walaupun aku tidak bisa mendapatkanmu, ingatlah. Siapapun kelak gadis yang akan menjadi kekasihmu, di mana pun kau berada, sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu.”
Kata-kata itu meresap dalam hatiku, menimbulkan sebuah perasaan damai dan hangat. Aku tersenyum, karena aku telah mengetahui bahwa temanku tidak membenciku seperti yang selama ini kutakutkan.
“Terima kasih, Rin. Terima kasih,” kukatakan dengan mencurahkan semua perasaanku padanya.
***
Setelah sesi pengambilan nilai olahraga selesai, aku langsung memilih kembali ke kelas untuk berganti pakaian. Tidak betah rasanya mengenakan pakaian yang sudah penuh keringat.
Menaiki tangga, aku berhenti di anak tangga terakhir karena melihat Amanda tengah berbicara dengan seorang siswa yang di belakangnya menunggu dua orang murid laki-laki lain yang mungkin adalah temannya. Aku tidak mengenalnya, namun dilihat dari Amanda yang begitu sungkan, sepertinya lelaki itu adalah kakak kelas.
Kuperhatikan mereka dari posisiku sekarang, penasaran apa yang sebenarnya mereka bicarakan tapi sayangnya tidak terdengar di sini. Aku mau sedikit mendekat, tapi aku khawatir akan ketahuan, jadi kupaksa telingaku untuk bekerja di luar batasnya, mendengar obrolan mereka yang bercampur dengan riuh dari dalam kelas-kelas lain.
“Bukannya apa-apa, tapi maaf, Kak. Aku tidak bisa menerimanya,” samar-samar aku mendengar Amanda mengucapkan itu seraya menunduk dengan wajah menampakkan sedikit penyesalan.
Si siswa asing itu menghela napas, dan mengatakan sesuatu entah apa, seraya tersenyum. Sementara kedua temannya hanya saling berbisik di belakang. Lalu setelah pembicaraan singkat, ketiga murid itu meninggalkan Amanda yang lantas masuk ke kelas tidak lama setelahnya.
Dari pengamatanku, aku menyimpulkan bahwa siswa itu menyukai Amanda, dan sayangnya ditolak.
“Begitu, ya? Jadi dia suka pada Amanda,” gumamku.
Namun entah mengapa, tiba-tiba aku merasa agak kesal. Bahkan ketika aku kembali berjalan ke kelas dan mencoba mengalihkan perasaanku, aku justru semakin tidak suka dengan apa yang kulihat tadi.
Langkahku kembali terhenti saat aku sudah berada di dekat ambang pintu. Sebuah ingatan terlintas di kepalaku, yang mungkin adalah alasan dari perasaan yang sedang kualami sekarang.
Aku ingat, ketika waktu itu aku menceritakan soal masalahku dengan Rina pada Amanda, dia terlihat tidak suka dan bicaranya pun terdengar kalau dia kesal. Kemudian setelah itu dia bilang dia suka padaku dan jika apa yang dia katakan itu benar berarti ....
“Astaga, mengapa jadi begini?” Kututup muka dengan telapak tangan.
Alasan mengapa aku kesal adalah, karena aku cemburu.
Aku ... sejak kapan dan yang terpenting dari segalanya, bagaimana aku bisa menyukai Amanda? Kujelajahi setiap jengkal pikiranku, tapi malah membuatku tersiksa karena justru kepalaku terasa terbakar sebab tidak bisa menemukan alasan yang masuk akal untuk menjelaskan semua yang kurasakan.
“Aldi?” Entah sejak kapan Amanda sudah berdiri di depanku dan menyapaku dengan menatapku aneh. Begitu kagetnya hingga aku tersentak dan sedikit berteriak.
“A-Ada apa, Nda?” Saking canggungnya hingga aku bertingkah aneh dan berbicara seperti meracau.
Dari bawah ke atas, dia memandangku dengan teliti. “K-Kau sedang apa di sini?”
Pertanyaannya membuat jantungku langsung berdegup kencang. “Ehh ... aku mau ganti pakaian. Apa masih ada perempuan di dalam?” Kilahku sambil berusaha bersikap biasa.
“O-Oh. Ini aku dan yang lain mau ganti pakaian.” Dia tersenyum seraya menunjuk seragam batiknya yang dia dekap. “Tunggu sebentar, mereka sebentar lagi akan keluar.”
“Begitu, ya?”
Seperti yang dia katakan, enam orang siswi keluar dari kelasku membawa seragam batik mereka masing-masing. “K-Kalau begitu ... aku pergi dulu.” Amanda mohon izin padaku untuk pergi
“Y-Ya,” kataku, dan mereka pun pergi.
Aku masuk ke kelas, dan duduk di tempatku. Merenungi semua yang kualami sejak waktu itu, sendirian.
“Apa yang harus kulakukan?” Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini.
Selama ini, aku terus berpikir bahwa tidak mungkin aku menyukai Amanda atau sebaliknya. Namun yang terjadi justru tidak sesuai dengan perkiraanku.
Ini terlalu cepat. Aku tidak siap menghadapinya. Aku tidak bersedia menjalani kehidupan penuh lika-liku atau konflik yang mungkin terjadi karena bisa saja, perasaanku padanya hanya akan menjadi angin lewat yang nanti hilang begitu saja dan berujung dengan perpisahan menyedihkan di antara kami. Aku takut itu terjadi, dan yang terpenting, aku tidak mau menyakiti Amanda.
Aku takut.
Kulipat kedua tanganku di atas meja lalu kupendam wajahku di atasnya. “Kurasa aku harus minta bantuan Chandra ...,” gumamku pasrah.
__ADS_1
***
Begitu waktu istirahat pertama di mulai, aku langsung menemui Chandra di kelasnya. Tapi aku sudah berpapasan dengannya di koridor, yang kebetulan memang ingin mengajakku ke kantin.
“Tumben kau mencariku? Ada yang mau kau bicarakan lagi?” Dia bertanya ketika kami menuruni tangga.
“Begitulah,” jawabku.
Chandra menanggapi dengan kekehan.
Kami pun tiba di tempat tujuan, dan berhenti sejenak. “Kau mau beli apa, Di?” Chandra bertanya padaku.
“Disamakan saja denganmu,” kataku.
“Oh, oke deh. Oh ya, carilah tempat,” pintanya lalu dia pun masuk ke dalam salah satu antrean.
Beruntung bagiku aku langsung berhasil menemukan meja kosong yang berada di sudut terpojok kantin. Aku duduk di kursi yang ada di pojokan, dan tidak lama setelahnya, Chandra datang dengan membawa dua gelas kopi hitam di tangannya.
“Tidak usah dipikirkan, aku yang bayar,” katanya seraya tersenyum dan meletakkan gelas kopi di tangan kanannya di hadapanku.
“Tapi, apa tidak apa-apa? Aku merasa tidak enak.”
“Masih saja kaku seperti pakaian dalam baru.”
Chandra pun duduk dan meletakkan gelas kopinya di samping kanan. Kemudian dia mengambil dua bungkus roti dari kedua saku celananya dan melemparkan yang satu kepadaku.
“Apa yang kau tunggu? Bicara sekarang,” dia menyeruku. “Istirahat pagi hanya setengah jam, jangan buang waktumu untuk malu atau ragu.”
“Y-Ya, baiklah.”
Sebelum bicara aku menarik napas pendek dan membuangnya, mengumpulkan keberanian. “A-Aku ... kurasa aku suka dengan Amanda, Ndra.”
Untuk sejenak Chandra termangu, namun kemudian dia tertawa pelan seraya menggeleng. “Ah, dasar! Dulu kau bersikeras bilang tidak mungkin kau suka padanya, tapi lihat sekarang. Apa kubilang?”
“Aku tahu itu tapi ... aku juga tidak menyangka bakal jadi seperti ini,” keluhku seraya memalingkan wajahku yang mulai menghangat.
“Terus, bukannya bagus? Maksudku, kau suka dengan gadis yang cantik dan baik. Apalagi dia itu populer di sini, kau itu beruntung, Di. Yang paling penting, dia juga menyukaimu. Laki-laki di sini tidak ada yang berhasil jadi pacarnya, sedangkan kau malah mengeluh. Aneh.”
“Bukan begitu maksudku tapi, aku hanya merasa ini terlalu cepat buatku.”
Kupandang dia lagi. Chandra tertawa pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Yah, meskipun perasaanmu padanya datang seribu tahun dari sekarang, kau tetap akan bilang terlalu cepat karena yang namanya cinta tidak bisa dikira-kira.”
Bergeming sesaat, apa yang dikatakannya memang ada benarnya. “Benar, sih. Tapi ... aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku bisa suka padanya.”
Seraya berkata ‘oh’ tanpa suara, dia mengambil gelas kopinya dan menyesapnya sedikit. “Orang bijak, siapa pun dan di mana pun mereka, selalu bilang kalau kau tidak butuh alasan untuk mencintai seseorang. Kau tanya Amanda, aku yakin dia tidak akan bisa menjawab.”
“Tapi—”
“Kalau kau masih meragukan perkataanku, kau tanya pada temanmu Rina. Aku yakin dia akan bingung.”
Penjelasannya membuatku tertunduk diam. Sungguh, semua ucapannya membuatku merasa konyol karena sudah memikirkan sesuatu yang sebenarnya mungkin tidak penting.
“Kalaupun begitu, tetap saja, Ndra,” kataku kemudian. “Aku takut perasaanku hanya sekadar suka saja maksudku ... seperti orang-orang, pacaran sesaat lalu berpisah. Aku tidak mau menyakiti dia.”
“Dengarkan aku,” pintanya, dan aku pun kembali menatapnya. “Kau tidak usah mempersulit dirimu dengan hal-hal seperti itu. Kalau kau memang suka padanya, bilang saja. Seandainya kalian hanya menjadi seperti yang kau bilang tadi, ya sudah. Jalani saja dulu, masalah seperti itu taruh saja di belakang. Lupakan.”
“Tapi—”
“Kau itu orang baik, Di. Kau layak mendapatkannya. Jujur saja, aku lebih suka dan rela Amanda bersamamu dibanding yang lain, sungguh.”
Mendengar itu membuatku semakin tersipu, sehingga aku pun harus menunduk menyembunyikan mukaku.
“Cieee! Mukamu kok merah, Di? Kau sakit?” Seraya tertawa, dia bertanya dengan nada meledek.
__ADS_1
“D-Diamlah!” Protesku, yang malah disambut dengan tawa yang lebih geli.