Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 27: Aldi


__ADS_3

Sekarang, aku sedang berjalan menuju rumahnya Rina. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja maksudku, setelah kejadian waktu itu, aku masih tidak bisa berhenti mencemaskan soal hubungan antara aku dan dia.



Setelah beberapa waktu, akhirnya aku pun tiba. Kudapati dia sedang duduk di bangku depan warungnya seraya memandang langit sore seorang diri, yang kemudian menyapaku dengan senyum manisnya. Namun, walau mendapat sambutan yang melegakan hati itu, aku malah merasa berat untuk mendekatinya.



“Kenapa berdiri saja? Duduklah.” Dia menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.



Meski canggung, kuturuti permintaannya. Tapi selanjutnya, hanya sunyi yang menyelimuti kami berdua.



Sebenarnya aku ingin sekali bicara, tapi suaraku seperti tersangkut di tenggorokan. Aku bahkan tidak bisa memandangnya. Dalam hati, aku berusaha keras untuk memberanikan diri. Perasaanku mulai tidak enak, karena kalau begini terus, kami akan benar-benar terlihat seperti orang yang saling benci.



“Canggung ... ya?” Kata Rina sambil tertawa kaku.



“Y-Ya,” balasku.



Hanya itu saja yang terucap dari mulut kami, karena selanjutnya tidak ada lagi yang dapat kukatakan. Entah bagaimana dengan Rina.



“Padahal kita sudah saling kenal sejak lama, tapi sekarang rasanya seperti kita baru bertemu.” Rina tertawa kecil, memecah hening yang cukup lama menaungi kami berdua.



“Kau merasa begitu juga?”



“Ya. Padahal aku sudah berusaha keras tapi ... rasanya sulit. Sungguh.”



Mendengar suara lirihnya, semakin membuatku merasa bersalah. Kuharap aku punya kuasa untuk mengubah aliran peristiwa, menghapus perasaan Rina padaku. Atau mungkin, menuliskan cinta yang kutujukan padanya di hatiku sehingga aku jadi menyukainya.



“Apa sebegitunya kau menyukaiku, Rin?”



Kutoleh dia. Dia tertawa singkat, lalu menatapku.



“Sangat menyukaimu, hingga aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menggambarkannya.”



“Begitu, ya?” Aku menunduk dan mendesah pasrah. Menyadari bahwa aku ternyata telah menggoreskan luka di hatinya lebih dari yang kukira.



Aku tersentak ketika Rina menggenggam kedua tanganku. Erat sekali. Ketika kutatap dia, matanya yang cerah itu telah berkaca-kaca.



“Tapi tidak apa,” katanya. “Aku senang kau sudah menemukan orang yang kau cintai.”



Tepat setelah ucapannya berakhir, air mata turun melewati pipinya. Genggamannya pada tanganku dilepas untuk menyeka.



“Ah, maaf ya? Aku jadi cengeng begini,” katanya dengan tawa yang dipaksakan.



Aku termangu tanpa bisa melakukan apapun, kecuali berharap dia dapat menerima kenyataan pahit ini dengan ikhlas. Meski di saat bersamaan, aku menyesal karena tidak dapat berbuat apa-apa.



“Maafkan aku,” mohonku. Kuharap permintaanku ini bisa sedikit mengobati luka yang kugoreskan di hatinya.



“Ah, sudahlah,” balasnya dengan senyum kecil dan matanya yang kini sembap. “Kau tidak salah. Yang salah itu aku karena kesulitan melepaskanmu.”



“Tidak, ini salahku. M-Maksudku, kalau saja aku menyadari perasaanmu padaku sedari awal—”



Rina mengangkat telapak tangannya. Menghentikanku bicara.



“Kau mau mendengar cerita tidak?” Tanyanya kemudian.



“C-Cerita apa?” Aku mulai tidak mengerti perkataannya, sungguh.



Dia tidak langsung menjawabku, melainkan kembali memandang lurus ke depan. Dia terkekeh. Aku tidak tahu apakah dia melakukannya untuk menghibur diri atau memang ada sesuatu yang lucu.



“Sejujurnya, aku sudah menyukaimu sejak kita masih sering bermain bersama dulu.” Dia mengerlingku sesaat.



Seperti sebelumnya, aku hanya bergeming. Aku sudah kehilangan suasana hati yang baik, jadi kuputuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi.



“Dari pertama kali aku mengenalmu, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu,” lanjutnya. “Maksudku, aku selalu ingin menempel padamu.



“Kau ingat tidak sewaktu aku ikut memakai kacamata sepertimu? Aku selalu mengelak dengan mengatakan mataku agak rabun ketika kau tanya walau sebenarnya, aku melakukannya untuk menarik perhatianmu. Aku mengetahuinya dari majalah, katanya kacamata bisa meningkatkan daya tarik seseorang.”



Ya, aku mengingatnya. Hari yang paling aneh, ketika Rina tiba-tiba menggunakan kacamata padahal tidak pernah punya masalah pada matanya. Setiap kutanya, dia selalu mengelak dengan muka memerah.



Karena waktu itu aku belum mengenal soal perasaan suka ke lawan jenis jadi aku tidak tahu kalau dia begitu karena mencoba menyembunyikan perasaannya dariku. Jadinya aku salah mengira kalau dia begitu karena belum terbiasa dengan penampilan barunya sehingga membuatnya malu.


__ADS_1


Kalau aku tertawa, mukanya akan semakin merah layaknya kepiting rebus lalu marah-marah tidak jelas padaku. Ketika aku meminta maaf dan memujinya, dia malah bertambah marah kemudian pergi meninggalkanku.



Semua kenangan itu, menimbulkan rasa hangat di hatiku. Bahkan membuatku tersenyum sendiri.



“Ah, akhirnya kau tersenyum juga,” kata Rina sambil memamerkan senyum kecil yang entah mengapa, terlihat begitu manis.



“Tapi, mengapa kau tidak pakai kacamata itu lagi, Rin?” Tanyaku penasaran. “Padahal aku suka melihatmu saat memakainya.”



Seketika itu juga Rina menampakkan kembali ekspresi yang telah lama tidak kulihat—tersentak dengan sekujur muka memerah.



“Kau kenapa, Rin?” Tanyaku sekaligus menyindir.



Dengan cepat dia memalingkan mukanya dariku lalu menunduk dan menutupinya dengan kedua tangan. “S-Sudahlah. Itu memalukan,” pintanya.



“Ah, tapi waktu itu, kau tidak malu memakainya setiap hari?”



“Berisik!”



Tingkahnya itu datang mengunjungi benakku, mengundang tawaku untuk keluar. Rona merahnya bahkan menjalar hingga telinga. Aku menggeleng, karena dia pernah bilang aku tidak berubah sama sekali sejak dulu, padahal kenyataannya dia juga sama.



Padahal sewaktu bertemu dengannya lagi setelah sekian lama, aku kagum padanya karena dia terlihat keren. Ternyata, dia tetaplah Rina yang lucu.



“Ah, kuharap aku bisa kembali ke masa itu lagi.” Kutatap langit yang dihiasi pancaran cahaya jingga dari matahari yang telah bersiap di barat. Melihat mereka, membangkitkan kembali semua kenangan indah masa lalu.



“Tapi aku tidak mau,” celetuk Rina yang membuatku sontak memandangnya. Dia melakukan hal yang sama denganku, menengadahkan wajahnya yang masih terdapat jejak kemerahan ke langit.



“Kenapa tidak?” Tanyaku.



“Sewaktu aku mendengar bahwa kau akan pindah, aku sedih sekali. Apalagi saat kabar itu menjadi kenyataan, aku selalu menangis setiap hari.”



Aku mengerjap, kaget.



“Waktu itu aku berpikir mengapa aku harus berpisah dengan orang yang kusukai? Mengapa tidak yang lain saja yang pindah? Itu adalah pertama kali hatiku terasa sakit. Saking sakitnya, aku selalu menggunakan waktu sendirianku untuk menangis.



“Namun begitu, aku pun tersadar. Mengapa aku tidak memohon pada Tuhan saja supaya aku bisa bertemu lagi denganmu? Sejak saat itulah, setiap waktu, aku berharap untuk bisa berjumpa kembali denganmu.” Senyum kembali mekar di bibirnya. “Yah, walaupun agak melenceng, setidaknya permohonanku terkabul.”




Lantas dia kembali memandangku. “Sudah, kau tidak usah memikirkan itu lagi. Aku tidak mau menjadi benalu dalam hubunganmu dengan Amanda jadi kumohon, jangan pernah memikirkannya lagi.”



Ucapannya yang seharusnya biasa itu, entah mengapa terdengar istimewa buatku. Mereka masuk begitu saja ke dalam hatiku dengan mudahnya. Melenyapkan semua perasaan campur aduk yang menjadi beban untukku selama ini. Membuatku bebas. Membangunkan senyum.



“Aku janji tidak akan memikirkan itu lagi—”



Kalimatku terputus, dihentikan oleh pelukan erat Rina sebelum sempat kuselesaikan. Jantungku berdebar, mengalirkan darah yang membawa panas ke seluruh wajahku.



“Apa yang kau ... Rina?!” Aku sontak berusaha melepaskan diri dan menuntut penjelasan.



Tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya. “Biarkan aku. Kumohon,” pintanya dengan sangat.



Sejujurnya aku juga tidak tega tapi tetap saja, ini terlalu memalukan. Astaga, apa yang mesti kulakukan?



“Aku mengerti perasaanmu tapi—”



Kuhentikan ucapanku sewaktu aku menyadari seberapa keras pun aku berusaha, aku tidak akan bisa melawannya. Sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain.



“B-Baiklah. Kali ini saja,” gumamku.



Terdengar kekehan yang begitu leluasa darinya. “Terima kasih.”



***



“P-Permisi!” Sudah dua kali aku mencoba memanggil Rina dari depan rumahnya, tapi dia tidak juga keluar. Warungnya pun, tumben sudah tutup padahal belum terlalu malam.



Malam ini aku berkunjung ke rumahnya bermaksud untuk membawakannya nasi goreng karena aku kalah bertaruh dengannya. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat setelah yang kualami bersamanya tadi sore, tapi ... kuharap nasi goreng ini bisa sedikit menghiburnya.



Kuhela napas lalu menggeleng, setelah untuk waktu yang cukup lama tidak ada tanggapan dari penghuni rumah. “Kurasa aku sudah benar-benar menyakiti hatinya ....”



“A-Aldi?”

__ADS_1



Aku langsung berbalik untuk menyambut panggilan lirih itu. Di sana, di bawah sinar lampu jalan tidak jauh dariku, Rina memandangku. Matanya sembap juga sayu. “Kenapa kau datang ke sini?” Tanyanya.



“A-Aku ... ini.” Kutunjukkan kantung plastik berisi sebungkus nasi goreng di tanganku padanya. “Aku mau memberikan ini.”



Rina tersenyum getir. “Oh, soal taruhan kita, ya?”



Aku hanya bergeming karena tidak tahu lagi apa yang mesti kukatakan. Perasaanku terlalu buruk untuk bersikap. Lantas dia mendekatiku dan mengambil nasi gorengnya, lalu melewatiku begitu saja.



Namun, langkahnya berhenti tidak jauh di belakangku. “Terima kasih, ya?”



“Sama-sama, Rin,” balasku tanpa memandangnya. Langkahnya pun berlanjut lagi, lalu suara pintu rumah yang terbuka dan tertutup menyusul kemudian.



Kutoleh sesaat ke arah rumahnya. “Selamat malam, Rin,” gumamku, lalu pergi.



***



Setelah diminta tetangga untuk mengganti lampu beranda rumahnya yang putus tepat begitu aku tiba di rumah, aku langsung kembali ke kamar. Berbaring sepanjang malam.



Besok hari sabtu dan sekolah libur. Lumayan disayangkan memang karena malam ini, harusnya bisa kumanfaatkan untuk semakin mendekatkan hubunganku dengan Amanda yang baru saja terjalin, seperti remaja lain pada umumnya.



Aku ingin sebetulnya, tapi suasana hatiku terasa kurang baik sejak kembali dari rumahnya Rina barusan. Cara dia menatap dan bersikap padaku tadi, membuat hatiku terasa runtuh. Pun, ibuku juga entah bagaimana bisa, mendadak mengeluh kurang sehat sehingga aku harus menemaninya, selain karena ayahku yang memintanya.



Sekarang sudah jam sembilan malam. Kudekap diriku sendiri, ketika sensasi hangat dan lembut dari pelukan Rina sore tadi kembali terasa di badanku. Tidak hilang meski sudah kugosok-gosok. Bukan apa-apa sebenarnya tapi kalau mengingatnya ... entah mengapa rasanya memalukan karena membuatku berpikir kalau aku tidak ada bedanya dengan orang mesum.



Namun begitu, aku lega, karena hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Meski kurasa, Rina masih memerlukan waktu untuk melupakan semua yang telah terjadi.



“Syukurlah ....”



Kemudian terdengar dering panjang dari ponselku yang kuletakkan di atas lemari pakaian. Aku bangkit untuk mengambilnya dan kembali berbaring.



Rupanya Amanda meneleponku. Melihat namanya terpampang di layar ponsel, membuat suasana hatiku yang sejak tadi kelabu, jadi penuh warna dan hangat. Membangkitkan senyum.



Kujawab panggilannya. “Halo?”



“Halo, Di. Selamat malam,” sapa suara dari seberang itu dengan begitu bahagia. “Sedang apa?”



“Tiduran dan bicara denganmu. Kau sendiri?”



Amanda tertawa. “Sama, kok.”



“Oh ya, Nda. Tadi aku bertemu dengan Rina. Dia baik-baik saja.”



“Begitukah? Syukur, deh. Omong-omong, aku juga main ke rumahnya dia dan dia bilang kalau kalian berdua menjadikan aku sebagai objek taruhan, ya?”



Aku tertegun. Mengapa Rina menceritakan soal itu padanya?



Segera aku memberinya penjelasan sebelum terjadi kesalahpahaman. “S-Soal itu, aku—”



Namun yang terjadi malah membuatku bergeming konyol karena Amanda justru menertawaiku geli sekali. “Tidak apa-apa, kok. Tenang saja,” katanya.



Kuhela napas lega. “Terima kasih.”



Selanjutnya, tidak ada hal lain yang kudengar darinya dalam waktu yang cukup lama. Apakah dia kehabisan bahan obrolan dan menungguku untuk menyambung pembicaraan? Atau mungkin, dia ingin menyudahi teleponnya, namun merasa tidak enak sehingga menungguku yang melakukannya?



“Hei, Di,” akhirnya sebuah ucapan terdengar lagi darinya.



“Ya?”



“Kau ... ada waktu tidak buat besok?”



“Besok, ya? Sebenarnya ada sih tapi, ibuku sedang sakit jadi aku harus menemaninya. Mungkin hari minggu aku baru ada waktu.”



“B-Begitu, ya? Baiklah.”



Tunggu, mengapa dia jadi terdengar gugup begitu? Aneh.



“Memangnya ... kau mau apa, Nda?” Tanyaku seraya mengernyitkan alis.

__ADS_1



“A-Aku m-maksudku ... kita ... k-kencan.”


__ADS_2