Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 44: Bagian Spesial, Rina


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak aku berkunjung ke rumahnya Aldi menghadiri perayaan kecil atas kehamilan istrinya, Amanda. Meskipun hanya kecil-kecilan, tapi amat berkesan buatku karena di sanalah juga aku dapat mengenal dua teman baiknya Aldi dan Amanda—Chandra dan Sarah.



Karena hari ini aku mendapat lembur di kantor sehingga benar-benar membuatku lelah. Setelah mandi dan makan malam, aku tidak melakukan apa-apa lagi dan langsung berbaring di kamar.



"Aduh ... capek ...," keluhku sembari memejamkan mata.



Niatnya aku ingin langsung tidur supaya besok pagi aku bisa kembali ke kantor dengan segar, namun dering pendek dari ponselku yang ada di nakas di sisi kiri ranjang menghalangiku untuk itu. Ketika kuperiksa ponselku, rupanya ada satu pesan WhatsApp yang masuk.



"Chandra?" Melihat namanya sontak membuatku tersenyum karena ada semacam semangat kecil yang muncul dalam benakku.



Dari posisi hampir tengkurap, kutelentangkan diriku dan kujadikan guling yang sedari tadi kupeluk sebagai bantalan tambahan supaya aku bisa tetap chat dengannya dalam posisi berbaring yang nyaman. Setelah semuanya terasa pas, aku membuka pesan darinya.



[Halo, selamat malam, Rina. Kuharap aku tidak mengganggu.]


Aku terkekeh karena pesannya.



[Tidak kok, Chan. Oh ya, ada apa?] Balasku. Omong-omong, aku memanggilnya dengan cara yang berbeda dari teman-temannya yang lain karena buatku, cara yang kugunakan memiliki kesan imut tersendiri.



[Syukurlah, aku senang kalau tidak mengganggu,] balasnya. [Begini, akhir pekan nanti kau ada waktu tidak? Aku ingin mengajakmu pergi lagi, seperti kemarin-kemarin. Akhir-akhir ini beban kerjaku sedang benar-benar gila. Bagaimana, kau mau tidak?]


Kuketikkan balasan. [Tentu saja aku mau, Chan. Kebetulan juga aku sedang banyak lembur akhir-akhir ini. Aku butuh bersenang-senang sedikit.] "Memangnya siapa juga yang tidak mau pergi-pergi denganmu?" Aku bergumam kesenangan setelahnya.



[Kalau begitu ya sudah, nanti akan kukabari lagi kalau-kalau ada sesuatu. Omong-omong, terima kasih ya, sudah mau menemaniku mengisi waktu senggang. Ya sudah, sampai di sini saja, Rin. Selamat malam.] Balasnya.



Pesan terakhir yang dikirmkannya menimbulkan perasaan hangat ketika kubaca. Bukannya apa-apa, aku merasa begitu karena dia memang orang yang menyenangkan.



"Selamat malam ...," kuketikkan ucapanku lalu mengirimkannya padanya dan kukembalikan ponselku ke posisinya semula.



Sekali lagi, kubawa gulingku ke dalam pelukan. Kutatap langit-langit kamarku dan membiarkan pikiranku mengawang dalam gelapnya malam di kamar ini.



Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, aku dan Chandra kini menjadi teman yang bisa dikatakan dekat. Sejak hari itu, dia sudah beberapa kali mengajakku bepergian, melepas penat bersama.



Aku suka ketika bersamanya, karena saat berada di dekatnya, aku merasa nyaman selain memang dirinya adalah orang yang menyenangkan. Begitu nyamannya, sampai terkadang aku membayangkan kalau dia bekerja bersamaku sehingga bisa bersama setiap saat, meski tidak jarang juga aku malah merasa sedih, sebab perasaan nyaman kala bersamanya mirip dengan yang kurasakan sewaktu aku masih dekat dengan Aldi dulu.



Tapi kalau soal kepribadian, mereka berdua amatlah berbeda. Aldi cenderung lebih pendiam, sedangkan Chandra, dia masih lebih terbuka. Caranya bicara, bersikap, dan kesan dirinya pun entah mengapa begitu keren di mataku. Berbeda dengan Aldi yang cenderung memiliki kesan manis dan malu-malu dalam setiap tingkah lakunya.



Semua yang kupikirkan tentangnya diam-diam menimbulkan perasaan hangat di hatiku yang menjalar sampai ke wajah. "Ah, aku jadi tidak sabar untuk segera menemuinya di akhir pekan nanti."



Tapi tunggu sebentar ....



Menyadari semua perasaan yang sekarang muncul di hatiku ini membuatku mengerjap.



Kuletakkan tangan kananku di dada kiri. Berdebar-debar.



"Oh tidak ...."



Perasaan ini ... jangan bilang kalau aku jatuh cinta lagi.



"Tapi kenapa?"



Kenapa aku harus mengalaminya lagi? Kenapa harus secepat ini?



Selama ini aku menutup hatiku karena pengalaman pahit dengan Aldi sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak mau lagi mengalami sakit yang kurasakan kala itu, dan aku juga sudah berjanji hanya akan membuka kembali hatiku ketika aku sudah benar-benar yakin pada seseorang yang hendak memasukinya.



Tapi kenyataannya? Aku lagi-lagi jatuh cinta pada orang yang baru saja kukenal, sama seperti ketika aku baru mengenal Aldi.



"Aku harus membicarakannya dengan seseorang ...."



Segera kubangunkan diriku. Kuambil lagi ponselku di nakas, memasuki menu kontak untuk mencari seseorang yang hendak kuhubungi. Pilihanku jatuh kepada Aldi, namun akhirnya kuurungkan. "Tidak, tidak. Nanti bisa-bisa Amanda salah paham."



Akhirnya, pilihanku beralih kepada Amanda. "Kalau dengannya, pasti aman. Kuharap dia belum tidur," gumamku seraya mencari namanya di daftar kontak.



Begitu ketemu, aku langsung meneleponnya. "Kumohon, angkat ...."



"Halo, Rin." Senyumku langsung mengembang ketika perasaan lega memenuhi benakku saat aku mendengar suaranya.



"Halo, Nda. Maaf, ya? Aku menghubungimu malam-malam begini."



"Tidak apa-apa, Rin. Kebetulan aku juga sedang bosan karena tidak ada teman mengobrol. Omong-omong, ada apa, ya?"



Aku pun bergeming, ragu. Ayolah, katakan sekarang! Batinku berteriak. "Aku ... kurasa aku jatuh cinta pada Chandra, Nda."



Tidak ada tanggapan darinya. "Nda?" Kupanggil dia karena cukup lama dia bergeming.



"Cieee!" Tiba-tiba dia menyorakiku. Hawa panas pun segera menjalari sekujur mukaku.



"T-Tolong, Nda. Aku sedang ingin serius," pintaku.



"Santai saja, Rina. Tidak usah malu-malu begitu," dia malah lanjut menggodaku sambil tertawa-tawa kecil.



"Ini serius, Nda. Aku mohon, dengarkan aku."



"Hmm? Ya, deh. Maaf, maaf. Ya sudah, bicaralah, aku dengarkan."



"Terima kasih. Aku ... aku takut, Nda."



"Eh? Takut kenapa?"



Kutarik dan kudekap kedua kakiku. "Aku takut mengalami seperti dulu lagi ...."



Sejenak hening, namun kemudian Amanda tertawa kecil.



"Kenapa?" Tanyaku kebingungan.



"Kau tidak perlu takut, Rina," jawabnya santai.



"Aku juga inginnya begitu, Nda. Tapi, tetap saja aku—"



"Aku tahu, ditolak oleh orang yang kita sukai adalah hal yang menyakitkan tapi kau tidak bisa takut terus, Rina. Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu tapi sebagai teman, aku merasa harus mengatakannya. Aku peduli padamu, Rin."



"Tidak apa-apa, Nda. Aku mengerti, kok."



Aku mengatakannya seolah tidak merasakan apapun walau sebetulnya yang dikatakan Amanda amat menohok bagiku meskipun itu benar. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.



"Kau tahu, selama ini aku mengagumimu, Rin." Aku mengerjap, tidak percaya pada apa yang baru saja kudengar dari Amanda.



"B-Benarkah itu, Nda?"



"Ya. Aku kagum karena kau begitu kuat. Setelah apa yang terjadi di antara kau dan Aldi, kau tetap bisa peduli padanya juga padaku. Bahkan kau ikut berbahagia ketika Aldi menikahiku malah tidak keberatan untuk membantu persiapannya, dan ketika kau mendengar tentang kehamilanku. Semua hal itu, tidaklah mudah untuk dilakukan. Seandainya aku yang berada di posisimu, belum tentu aku bisa bertahan sepertimu.



"Dan dengan kekuatanmu itu, aku yakin kau pasti bisa menyingkirkan perasaan takut yang selama ini menghantuimu ketika kau jatuh cinta. Terus yang paling penting yang harus kau ingat adalah, kau bukanlah satu-satunya gadis yang berbaris menunggu ungkapan cintanya Chandra. Kau harus berani dan yakin, Rina. Yakin bahwa kaulah yang akan memilikinya."



Aku termangu. Tidak kuasa menanggapi ucapannya. Kata-katanya mengalir ke dalam benakku, hingga sampai ke bagian hatiku yang terdalam. Perasaan yang begitu hangat pun muncul bersama dengan semacam semangat yang menggebu dalam dada. Melenyapkan semua ragu dan takut yang sedari tadi merundungiku tanpa henti.



Senyumku pun terbangun juga, karena aku begitu terpesona dengan ucapannya barusan. Tidak pernah kusangka, gadis yang selalu menjadi bahan guyonanku ternyata bisa menjadi bijak juga.



"Terima kasih, ya?" Kuucapkan dengan seluruh perasaanku.



"Sama-sama, Rina. Omong-omong, aku masih tidak percaya ternyata kau bisa menyukai Chandra."



"Sebetulnya aku juga, Nda. Aku tidak pernah menyangka aku bisa jatuh hati pada teman masa sekolahmu dulu, terlebih dia karibnya Aldi, kan?"



"Ya, mereka memang dekat sejak masa sekolah dulu. Aku memang tidak begitu akrab dengannya sejak dulu tapi ... aku tahu dan yakin kalau dia adalah laki-laki yang baik."



"Aldi orang yang baik. Fakta bahwa Chandra bisa berteman baik dengannya adalah bukti kalau dia juga orang yang baik, mungkin."



Aku dan Amanda lantas tertawa bersama.



"Kuharap Chandra adalah orang yang bisa mengisi hatimu, Rina," katanya lantas.



"Semoga saja, Nda," timpalku. "Sekali lagi, terima kasih, ya? Sudah mau menjadi teman untuk mencurahkan perasaanku."



Amanda terkekeh. "Aku sudah pernah bilang, kan? Sampai kapanpun dan apapun yang terjadi, kau tetaplah temanku. Kalau kau butuh sesuatu lagi, katakan saja, akan kubantu sebisaku."



"Tentu saja, Nda. Sekali lagi, terima kasih. Ah, seandainya kau ada di sini ...."



"Memangnya kenapa kalau aku ada di tempatmu?"



"Supaya aku bisa memelukmu."



"Begitukah? Lantas mengapa kau tidak memeluk Chandra saja?"



"Hei, aku ingin memelukmu sebagai tanda terima kasihku. Kalau cuma sekadar peluk-peluk saja, aku sudah ada guling."



"Makanya, berjuanglah untuknya. Nanti kan kalau dia sudah menikahimu, kau bisa memeluknya sebanyak yang kau mau."



"Ah, dasar. Ya sudahlah, aku sampai di sini saja, Nda. Sekali lagi terima kasih, ya?"



"Oke, deh! Sama-sama, Rina."



"Ya sudah, Nda. Selamat malam."



"Selamat malam juga."



Kuakhiri panggilanku, kukembalikan lagi ponselku ke nakas lalu berbaring.



Kutaruh tangan kananku di tempat hatiku berada yang kini penuh dengan perasaan hangat. Lalu kupindahkan tanganku ke jantungku yang berdebar-debar.



"Menikah, ya?" Aku bergumam.



***



Akhirnya, hari yang kujanjikan bersama Chandra pun tiba.



Sejak pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri. Mulai dari belanja, memasak, bersih-bersih rumah, dan membantu ibuku membuka warung. Semua kulakukan agar aku bisa meninggalkan rumah tanpa perlu merepotkan ibuku.



Saat ini aku sedang bercermin di kamar, merias diriku sebaik mungkin. Dengan hati-hati kubentuk dua kepangan yang senantiasa menjadi penghias rambutku supaya benar-benar terlihat bagus. Ketika selesai, kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri, memastikan rambutku sudah terhias dengan baik.



Kurasa cukup, sekarang giliran wajahku. Dengan sedikit polesan kosmetik, aku sudah selesai. Ah, dan satu lagi, bergincu.



Aku sudah selesai berias, dan sekarang tinggal memperhatikan hasilnya. "Kira-kira aku sudah cantik belum, ya?" Aku ragu.



Ini adalah pertama kalinya aku meragukan riasanku sendiri. Rasanya aneh kalau melakukannya untuk seseorang.



Namun, kukesampingkan soal itu. Seperti kata Amanda, aku harus yakin.



Sementara itu, kupindahkan perhatianku ke pakaian yang menempel di tubuhku. Tidak ada yang spesial, aku hanya menggunakan kardigan, blus lengan panjang dengan simpul pita di bagian kerah, dan celana panjang. Ini adalah setelan hari-hariku untuk bekerja.



"Oh ya, aku melupakan sesuatu ...."



Kutambahkan sentuhan akhir yang nyaris kulupakan—kacamata bundar yang sudah lama kusimpan tapi tidak pernah kugunakan semenjak aku membelinya beberapa bulan lalu. Seperti yang sudah kuduga, aku merasa canggung dan risih ketika sudah memakainya.


__ADS_1


Sebenarnya kacamata bukanlah bagian dari gayaku, dan itulah sebab mengapa aku tidak pernah memakainya walau niat awalnya untuk menjadi riasan tambahan ketika bekerja. Namun pada akhirnya hati tidaklah bisa dibohongi.



Tapi walaupun begitu, demi seseorang, aku memakainya karena aku ingin membuatnya terkesan. Hal yang sama yang pernah kulakukan untuk Aldi dulu sewaktu pertama kali aku mengenal cinta.



"Rin? Rina!" Ibuku memanggil.



"Ya, Bu. Ada apa?" Sahutku.



"Itu ada temanmu datang mencarimu. Cepatlah, temui dia."



Itu pasti Chandra. "Ya, sebentar. Nanti Rina keluar." Ibuku belum mengenalnya karena aku memang belum pernah menceritakannya pada beliau. Aku merasa belum saatnya.



Lalu, untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, kuperhatikan lagi bayanganku di cermin. "Aku pasti bisa membuatnya terkesan," gumamku menyemangati diri.



Kuambil tas selempang kecil yang kuletakkan di ranjang dan kupakai. Kemudian dengan semua keberanian dan keyakinan yang sudah kupupuk sejak tadi, aku keluar untuk menemuinya. Sesampainya diriku di ambang pintu, dia yang tengah menunggu di atas motor vespanya di depan gerbang rumahku sontak menolehku, seolah dia bisa merasakan kehadiranku.



"Hei!" Dengan senyumnya dan lambaian tangan, dia menyapaku.



Kubalas senyumannya. Sejenak kuperhatikan penampilannya, sama sepertiku, tidak ada yang spesial. Seperti yang lalu, dia hanya memakai kemeja flanel lengan panjang, celana denim panjang, dan sepatu kets.



Lalu kukenakan sepatu berhakku, kemudian menghampirinya. Jantungku berdebar seiring mendekatnya jarak antara aku dan dia.



"Maaf, ya? Sudah membuatmu menunggu," kataku dengan sedikit menurunkan pandangan. Canggung, perasaan yang belum pernah kurasakan ketika bersamanya.



Kudengar dia tertawa kecil. "Pakailah itu setiap hari."



"Pakai apa?"



"Kacamatamu. Kau kelihatan cantik kalau memakainya, aku suka."



Hangat pun menjalari sekujur mukaku yang sedikit kupalingkan sementara tanganku bergerak membenarkan kacamataku dengan sendirinya. "T-Terima kasih ...."



"Ayo, Rina. Kita berangkat sekarang," ajaknya.



"Y-Ya, ayo."



"Ini, helmmu."



"Terima kasih ...."



Setelah memakai helmnya, aku naik ke jok motornya. Jantungku berdegup semakin tidak karuan, padahal tidak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan untuk berpegangan pada pundaknya seperti biasanya, aku tidak mampu melakukannya. Cinta memang aneh ....



"Sudah siap?" Tanyanya.



"Ya."



"Kalau begitu, kita berangkat sekarang."



Kami pun melaju. Sepanjang jalan kami hanya diam, tidak seperti biasanya. Lebih tepatnya, aku yang diam. Perasaanku yang campur aduk membuatku tidak ingin melakukan apapun, yang kumau hanya diam.



Namun sementara itu, aku menyadari kalau Chandra mengendarai motornya dengan begitu pelan, tidak seperti biasanya. Apakah mungkin dia canggung juga? Tapi rasanya tidak. Atau mungkin, karena dia menyadari perubahan sikapku? Ah, entahlah. Aku tidak mau memikirkannya ....



***



Aku bersyukur, karena Chandra membawaku ke tempat yang tenang. Sebuah taman hijau yang asri dan sejuk di tepian kota. Aku butuh ketenangan untuk meredakan perasaanku yang naik turun tidak karuan sejak dari rumah.



Sepertinya dia memang menyadari perubahan sikapku, batinku. Aku berpikir begitu karena sejak pertama kali dia mengajakku bepergian, dia selalu membawaku ke tempat-tempat yang menyediakan hiburan dan ramai dikunjungi orang. Seperti bioskop atau taman hiburan.



Kami saat ini melangkah perlahan berdampingan menyusuri jalan setapak yang di kedua sisinya dibatasi oleh berbagai tanaman bunga beraneka warna, menikmati kesegaran pagi di taman ini. Harusnya begitu, namun pada kenyataannya, yang kulakukan cuma menunduk diam sambil mengurut-urut tali tasku. Aku canggung sekali, sungguh.



"Ada apa, Rin? Kayaknya sejak tadi sikapmu aneh," celetukannya membuatku tersentak.



"T-Tidak apa-apa, kok." Aku buru-buru menyangkal dengan menggeleng sambil cengegesan. "Hawanya dingin, m-makanya aku seperti ini."



"Ah, masa sih? Sejak tadi hawanya sejuk saja, tidak dingin."



Aaah! Mengapa aku payah sekali berbohong?! Pekiku dalam hati. "P-Pakaianku kan tidak tebal sepertimu, m-makanya aku merasa dingin," aku mencoba berkilah lagi.



"Masa? Kau pakai lengan panjang malah pakai kardigan juga, kurang tebal apa coba?"



Aku pun mengerjap, sementara panas memenuhi sekujur wajahku saat aku menyadari kebodohanku sendiri. Aku mau pulang ....



Chandra pun tertawa pelan. "Inilah alasan mengapa aku suka mengajakmu pergi. Kau itu lucu, jadinya aku selalu terhibur kalau sedang bersamamu."



Mendengar perkataannya membuat perasaanku langsung meledak-ledak sementara jantungku berdegup semakin kencang. "T-Terima kasih. A-Aku senang kalau kau senang."



Sementara itu, aku dan Chandra pun tiba di tepian sungai yang membelah taman ini. Dia pun duduk di salah satu tempat duduk yang terbuat dari semen yang berjajar di sepanjang aliran sungai yang jernih dan indah ini. Aku memilih tetap berdiri dan mendekat ke pagar sungai, karena aku hampir tidak sanggup lagi menahan perasaanku yang terus meronta minta diungkapkan kalau harus dekat-dekat dengannya.



"Kenapa berdiri saja? Duduklah," pintanya.



"A-Aku mau berdiri saja," kataku sambil berpura-pura membenarkan kacamataku.



"Kau ini kenapa, sih?" Tanyanya seraya terkekeh. "Sejak tadi kau bersikap aneh. Kenapa? Apakah ada sesuatu dariku yang membuatmu tidak nyaman? Bilang saja, tidak apa-apa."



"B-Bukan maksudku begitu," aku mencoba menjelaskan. Hanya saja aku ragu karena alasanku bisa dikatakan konyol. "A-Aku ... aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini."



"Hmm? Begitu, ya?" Katanya santai. "Ya sudahlah, terserah kau saja."



Lantas kuhela napas lega, kemudian kucoba untuk memeriksa detak jantungku. "Kencang sekali ...," gumamku.



Apakah aku harus mengungkapkannya sekarang? Tapi, bukankah ini terlalu cepat? Maksudku, aku baru mengenalnya sebulan dan perasaanku padanya pun baru muncul semalam. Namun ... aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang amat menggebu di dalam dadaku.




Perasaan cinta mungkin baru hadir semalam, tapi perasaan nyaman dan ingin selalu berada di sisinya ... itu sudah ada semenjak pertama kali aku mengenalnya. Jadi dengan kata lain, aku sudah jatuh cinta padanya namun baru menyadarinya.



Tapi ... aku takut, batinku.



Meskipun sudah lama sekali terjadi, pengalamanku dengan Aldi tetap menyisakan pahit di hatiku. Rasa sakit itu ... aku tidak mau mengalaminya lagi.



Tapi kalau aku tidak segera mengungkapkannya, akan ada gadis lain yang melakukannya lebih dulu. Dan aku yakin, rasanya pasti lebih menyakitkan.



Benar, aku harus melakukannya. Seperti yang Amanda katakan, aku harus berani dan memastikan bahwa akulah yang akan memilikinya.



Lagi pula, aku merasa sangat sakit sewaktu dengan Aldi karena aku telah menyimpan perasaanku sejak lama. Tapi dengan Chandra, perasaanku masih baru berupa bibit yang baru mulai tumbuh. Ya, benar. Aku harus mengakhirinya sekarang, sebelum perasaanku padanya semakin dalam dan akan membuatku mengalami sakit yang sama lagi seandainya dia menolakku.



Aku harus melakukannya, sekarang, dan saat ini juga ....



"Rina," tiba-tiba dia memanggilku sebelum aku sempat melakukan apapun. Aku menolehnya dan terkejut karena caranya menatapku yang berubah sama sekali—serius dan begitu lekat, memandangku langsung ke mata.



"Y-Ya? Ada apa, Chan?" Tanyaku kebingungan.



Dia tidak menjawabku, namun berdiri. Kemudian dia mendekatiku, sehingga aku harus sedikit mendongak karena tubuhku yang hanya sampai di bawah telinganya meski sudah mengenakan sepatu berhak. Kami hanya saling menatap, tapi entah mengapa jantungku yang sempat tenang kembali berdebar-debar, begitu pula dengan perasaan dalam dadaku, kembali menggebu.



D-Dia mau apa? Hatiku bertanya-tanya.



"Rina, aku mencintaimu."



Seketika itu juga tubuhku serasa membatu—tidak bisa digerakkan. Mataku membelalak, jantungku berdetak sampai dadaku serasa mau meledak. Sementara pikiranku berhenti, seperti membeku.



Tiba-tiba, dia memegang kedua tanganku, menggenggamnya erat. "Kau mau kan, menjadi kekasihku?"



Tidak, ini pasti mimpi! Aku berusaha menyangkal semua yang kualami walau kutahu yang kualami sekarang adalah nyata.



"Rina?" Dia menegurku yang sontak mengembalikan jiwaku yang sempat melayang-layang.



"Y-Ya! Aku mau! Aku juga mencintaimu! Jadilah kekasihku!" Aku mengatakannya dengan cepat dan lantang.



"Eh?"



Bersamaan, aku dan dia tertegun. Sadarku pun akhirnya kembali, yang sontak membuat hawa panas di wajahku bertambah yang kuyakin sudah amat merah sekali.



"J-Jangan melihatku!" Kujauhkan diriku darinya dan berjongkok sementara kututup mukaku dengan kedua tangan rapat-rapat. Mengapa aku bisa tiba-tiba berkata seperti itu? Apakah mungkin itu adalah bentuk dari perasaanku yang sejak tadi kupendam?



Atau mungkin, ini akibat dari menjomblo begitu lama? Ya Tuhan, tolong aku .... Aku malu sekali, sungguh.



Sementara itu, Chandra, dia tertawa terbahak-bahak. "Kau ini kenapa sih, Rin?" Tanyanya.



"Berhenti menertawaiku, kumohon," pintaku.



"Mau berhenti bagaimana? Susah, Rina!" Tawanya malah semakin geli.



"Kalau kau tidak berhenti tertawa, aku akan pulang saja!" Ancamku.



"Masa? Memangnya kau tahu jalan pulang?"



"Berisik!"



Sekarang ganti kututup kedua telingaku sementara kubenamkan mukaku ke paha. Seandainya boleh, aku akan lompat ke sungai di belakangku ini.



"Ya, ya, deh. Aku berhenti," katanya, meski tawanya tetap berlanjut meskipun sudah mereda.



Kemudian kudengar langkahnya mendekat dan berhenti tepat di sampingku. "Ayo, Rina."



Ragu-ragu, kutoleh dia. Tangan kanannya sudah menjulur padaku, sementara senyuman kecil mengembang di bibirnya.



"Y-Ya ...." Kuterima uluran tangannya kemudian membantuku untuk berdiri. Masih kutundukkan pandanganku, tersipu karena entah mengapa setelah saling mengungkapkan perasaan, sikapnya dan senyumannya, jadi terlihat manis.



Lantas dia menuntunku kembali ke tempat duduk semula dan kali ini aku ikut duduk bersamanya.



"Sekarang apa?" Tanyaku.



"Entahlah, Rina. Aku juga tidak tahu."



"Omong-omong, b-bisakah kau melepaskan tanganku?"



"O-Oh ya, maaf."



Dia melepaskan tanganku.



"Kau tidak merasa canggung?" Tanyaku lagi.



"Tentu saja aku canggung. Tapi aku memilih untuk tidak menunjukkannya."



"Memangnya bisa, ya?"



"Bisa, kalau aku yang melakukannya."



"Coba saja aku bisa juga, ya?"



"Kau tidak perlu melakukannya."

__ADS_1



"Kenapa?"



"Karena kalau sedang canggung, kau jadi kelihatan manis dan aku menyukainya."



Dia kembali tertawa, yang lantas kuikuti dengan senyuman.



Selanjutnya kembali hening. Sementara itu, aku berpikir, jadi seperti ini rasanya cinta yang sesungguhnya—indah dan menghangatkan—tidak seperti yang selama ini aku bayangkan—dingin dan menakutkan.



Semua itu terjadi karena aku menutup rapat hatiku sejak saat itu. Aku takut terluka lagi, sehingga ketika cinta datang mengetuk pintu hatiku hendak membawakan kehangatan, aku menolaknya sehingga selama ini hatiku selalu terasa suram, dingin, dan gelap.



Namun aku bersyukur sebab semua itu telah berakhir sekarang dengan hadirnya cinta baru yang kini singgah di hatiku. Seorang laki-laki bernama Chandra, yang tidak pernah kusangka-sangka kedatangannya.



Kuletakkan tangan kananku di titik hatiku berada. Hangat ....



"Rina?" Chandra tiba-tiba memanggilku lagi.



"Y-Ya?" Kutoleh dia namun kali ini aku mendapati pemandangan yang berbeda. Dia canggung. Tapi kenapa?



Sesaat dia melirikku, tersenyum kaku, kemudian menyembunyikan wajahnya yang sudah agak kemerahan dengan memalingkannya sedikit ke samping.



"Ada apa, Chan?" Aku penasaran dengan sikapnya yang tiba-tiba jadi aneh.



"M-Menurutmu ... lucu tidak, kalau ... k-kalau aku menikahimu?"



Sontak kutundukkan wajahku dalam-dalam. M-Menikah?! "K-Kau ... mau menikahiku?"



"Ya. Aku ingin menikahimu. K-Kau mau, kan?"



"T-Tapi ... bukankah ini terlalu cepat? M-Maksudku, hubungan kita baru saja dimulai."



"Kalau kau merasa belum siap, tidak apa-apa. Aku akan menunggu. Selama ini, aku sudah memperhatikanmu dan aku sudah yakin kalau kau adalah gadis yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku kelak. Kalau kau sudah merasa siap, kau bisa memberitahuku, supaya aku bisa langsung menemui orang tuamu. Jadi bagaimana, k-kau mau menikah denganku?"



Aku bergeming. Masih tidak yakin dengan keputusanku, meski perasaanku sudah meledak-ledak tanpa mampu lagi kukendalikan.



Menikah bukanlah main-main, dan aku yakin Chandra mengerti itu. Aku takut ajakannya untuk menikah bukanlah keinginan dan niat yang datang dari hati untuk membangun hubungan yang lebih serius, melainkan tidak lebih dari sebuah hasrat sesaat semata yang kelak akan menjerumuskan kami berdua ke dalam jurang kehancuran dan penderitaan.



"B-Bagaimana aku bisa tahu kalau kau memang benar-benar ingin menikahiku? M-Maksudku, apakah kau bisa memastikan kalau ajakanmu itu bukan sekadar hasrat sesaat semata?" Aku bertanya memastikan, karena apa yang akan kami lakukan ini menyangkut masa depan kami.



Namun, Chandra hanya tertawa pelan.



"Kenapa?" Tanyaku bingung.



"Entah kau percaya atau tidak, tapi aku akan tetap menceritakannya."



"Soal apa?"



"Kau tahu, sebelum mengenalmu, aku lebih suka bekerja dengan santai. Makanya selama ini aku tetap bertahan menjadi pekerja lepas meski penghasilan yang kudapat tidak seberapa selama kebebasanku tidak terganggu. Akibatnya, hidupku ya ... begitu-begitu saja.



"Namun, begitu aku menyadari kalau aku menyukaimu dan yakin kalau kau adalah pendamping yang tepat untukku kelak, aku mulai bekerja lebih giat. Mengambil banyak pekerjaan dalam satu waktu sehingga aku bisa menyisihkan uang yang kudapat, supaya aku bisa langsung menikahimu tanpa perlu berlama-lama pacaran.



"Itu adalah alasan mengapa akhir-akhir ini aku sering mengajakmu bepergian karena mengambil banyak tanggung jawab ternyata setresnya bukan main. Malah sekarang, aku sedang mencari perusahaan yang mungkin mau mempekerjakanku sebagai karyawan. Yah, memiliki penghasilan tetap, dan tentu saja, jabatan tinggi bila mungkin.



"Singkatnya, aku ingin menikahimu karena kau adalah orang yang membuatku bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik. Kuharap itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu tadi."



"B-Begitu, ya?"



Chandra hanya terkekeh tanpa mengatakan apapun, mungkin karena khawatir dirinya gagal mendapatkan kepercayaanku. Meski sebetulnya, aku cukup puas dengan jawabannya.



Jadi selama ini dia sering mengajakku bepergian adalah karena melepaskan diri dari beban kerja yang menumpuk demi bisa menikahiku. Bukan karena semata-mata ingin melepas penat.



Aku lantas tersenyum, melampiaskan kebahagiaan meski dadaku cukup sesak karena perasaan haru mendengar ceritanya barusan. Sekali lagi kuletakkan tangan di tempat hatiku berada. Kepada Tuhan, aku bersyukur karena mempertemukanku dengan laki-laki yang baik sepertinya.



Dengan begitu, aku sudah yakin.



"Jadi, bagaimana?" Chandra bertanya.



"Ya, aku mau menikah denganmu."



***



Empat bulan berlalu sejak hubungan kami dimulai, dan akhirnya Chandra menikahiku.



Sekarang sudah dua bulan semenjak aku resmi menjadi istrinya. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang masih satu lingkungan dengan rumah orang tuaku. Meski begitu, aku dan Chandra yang sekarang sudah mendapatkan pekerjaan tetapnya di sebuah perusahaan ternama, mulai menyisihkan gaji masing-masing supaya kami bisa membeli dan memiliki rumah sendiri.



Hari ini hari sabtu, aku dan dia libur. Selesai memasak dan sarapan bersama, aku memilih untuk merapikan satu-satunya kamar tidur sementara Chandra bersantai dengan duduk-duduk di ruang tamu merangkap ruang keluarga, menunggui cucian yang tengah diproses di mesin cuci.



"Akhirnya selesai ...."



Aku tersenyum. Tidak ada yang lebih kusenangi daripada melihat ruangan yang tertata rapi.



Kemudian aku keluar untuk mengintip suamiku dari ambang pintu kamar. Ditemani segelas kopi, dia menikmati berita-berita dari koran yang dibacanya. Karena tidak ada sofa atau kursi, jadinya dia hanya duduk lesehan beralaskan karpet beludru sebab rumah kontrakan ini tidak begitu besar sehingga tidak memungkinkan untuk memiliki banyak perabot.



Sebenarnya aku ingin menghampirinya, tapi entah mengapa rasanya agak canggung. Mungkin ini karena aku menyimpan sesuatu yang mestinya kuberitahu padanya.



"Eh, Rina. Sudah selesai?" Sapanya dengan senyum.



"Sudah, kok." Kubalas senyumannya.



"Sini, temani aku." Dia menepuk-nepuk ruang kosong di sisi kirinya.



"Y-Ya ...." Meski canggung, aku memilih untuk menghampirinya. "Ada apa?" Tanyaku ketika aku duduk di sebelahnya.



"Tidak ada apa-apa." Dia melipat koran yang dibacanya dan meletakannya di depannya. "Aku cuma mau berduaan saja denganmu."



Aku tersenyum sipu dan menunduk menahan rasa hangat di wajah. Ternyata dipuji oleh laki-laki meskipun sudah menikah rasanya tetap membuat malu.



Melihat tingkahku memunculkan tawanya. "Aduh, Rina, Rina." Sekarang dia mengelus-elus kepalaku. "Oh ya, aku lupa menyampaikan sesuatu padamu," celetuknya.



"Apa?"



"Tadi Aldi meneleponku, dia mengundang kita untuk datang ke rumahnya. Amanda kan sudah hamil tujuh bulan, jadi dia mengadakan selamatan."



"Oh ya? Acaranya kapan?"



"Besok malam. Kau mau ikut?"



"Tentu saja aku ikut. Mereka kan teman kita."



Chandra pun tersenyum dan kembali mengelus kepalaku. Rasanya menyenangkan.



Sementara dia kembali membuka korannya, aku merenungi soal acaranya Aldi. Apakah aku memberitahunya sekarang saja, ya?



"Chan," panggilku.



"Hmm?" Dia tengah meminum kopinya.



"Sebenarnya ... aku ... aku hamil."



"Bwwuuuuuuhh ...."



Chandra kaget sampai menyemburkan semua kopinya lalu terbatuk-batuk karena tersedak.



"K-Kau kenapa?!" Aku yang panik langsung mencoba menolongnya.



"A-Air! Air!"



"Y-Ya! Tunggu, aku ambilkan!"



Aku bergegas lari ke dapur mengambilkannya segelas air untuknya dan langsung melesat kembali.



"Ini!" Dia langsung menyambar gelas airnya dan menenggak isinya sampai habis. Chandra mengedip-ngedipkan matanya dan memukul-mukul dadanya yang naik turun karena terengah.



Lalu tiba-tiba, dia meraih kedua bahuku dan menatapku lekat-lekat. "Sejak kapan?!"



"A-Anu ... t-tiga hari yang lalu."



Sontak dia pun memelukku erat kemudian berlari keluar dari rumah.



"Halo, Pak RT!" Tiba-tiba Chandra memanggil Pak RT.



"Dia kenapa, sih?" Aku bertanya-tanya bingung.



"Oh, Halo!" Sahut Pak RT. "Eh, Mas Chandra! Ada apa? Kok kayaknya senang banget begitu?"



"Istri saya hamil, Pak!"



Aku mengerjap mendengar jawaban suamiku, lalu merasa malu kemudian.



"Wah! Selamat, ya?!" Pak RT berseru heboh.



"Terima kasih, Pak!" Chandra tidak kalah hebohnya. Kemudian dia berlari lagi menghampiriku dan langsung meraih kepalaku. "Muahh! Muahh! Muahh!" Tiga kali dia mengecup keningku gemas, lalu memelukku. "Kenapa tidak memberitahu?" Tanyanya lantas.



"S-Soalnya ... aku canggung ...."



Jawabanku membuatnya melepas pelukannya. Sebentar dia menatapku aneh, namun kemudian dia tersenyum. "Rina, Rina. Masa seperti itu saja canggung, sih? Kau kan tahu berita bahagia itu harus cepat disebarluaskan."



Sekali lagi dia mengelus kepalaku.



"Oh ya, aku minta maaf, ya? Karena tadi sudah membuatmu tersedak," pintaku.



"Sudah, sudah. Tidak apa-apa." Dia terkekeh. "Oh, mulai saat ini, kau bisa bersantai. Biar aku yang mengambil alih tugas-tugas di rumah."



"Eh? T-Tapi kan—"



"Sekarang kau kan sedang mengandung anak kita. Jadinya kau sudah tidak boleh lagi berlelah-lelahan. Selesai bekerja di kantor, kau harus beristirahat. Biar nanti pekerjaan di rumah aku yang mengerjakannya."



"Tapi ... memangnya tidak apa-apa?"



"Yah, bolehlah membantu sedikit-sedikit. Tapi sisanya, serahkan saja padaku, ya?"



Sebelum aku kembali menanggapi, dia mengecup keningku dan memelukku lagi.



"Aku mencintaimu, Rina," ucapnya.



Semua perlakuannya hari ini dan kehangatan yang diberikannya padaku membuatku tertegun. Aku terlalu bahagia, hingga tidak tahu bagaimana melampiaskannya. Sementara itu dari hatiku yang terdalam aku sungguh bersyukur, bersyukur sekali memiliki pendamping hidup sepertinya.



Kubangunkan senyumku, kupeluk erat dia, lalu berkata, "aku mencintaimu juga, Chan ...,"



__ADS_1


__ADS_2