
Beberapa hari berlalu sejak liburan itu. Sudah hampir akhir pekan, dan kurasa minggu ini akan jadi yang paling membosankan karena tidak ada satu hal pun yang menarik terjadi.
Seperti biasa, aku pulang sendirian dengan berjalan kaki. Aku berniat untuk mampir ke rumahnya Rina, karena beberapa saat yang lalu, ibuku menelepon bahwa dia pergi karena ada suatu urusan yang berarti rumahku kosong. Aku tidak mau mati kesepian.
Begitu tiba, aku disambut dengan senyum dan lambaian tangan dari Rina yang tengah menyapu sisi jalan dekat warungnya menggunakan sapu lidi. Bahkan dia masih mengenakan seragam sekolahnya yang berupa batik biru dan rok panjang warna putih. Aku kagum, karena sejak dulu, rajinnya tidak luntur.
Aku duduk di tempat biasa, menunggu Rina menyapu yang sebentar lagi diisyaratkan selesai olehnya. Tidak lama kemudian pun, dia sudah menunaikan pekerjaannya itu. Lalu dia masuk ke warung lewat rumahnya dan melayaniku. Aku membeli sebotol air mineral, karena entah kenapa, sejak siang tadi hawanya begitu kering.
Dengan langkah cepat dia kemudian ikut duduk bersamaku. Beberapa kali dia memperhatikanku, mengalihkan tatapannya, dan memandangku lagi sambil senyum-senyum. Saat kutanya kenapa, dia hanya terkekeh sambil geleng-geleng. Aku heran, mengapa dia tiba-tiba jadi aneh begitu?
“Kau, tumben datang kemari? Tidak jalan sama Amanda dulu?” Seperti biasa, dia selalu membahas Amanda pertama kali kalau bertemu denganku.
Aku pun tertawa kecil. “Dia sedang ada urusan sama temannya.”
“Oh.” Rina mengangguk. “Oke, oke.”
Setelahnya tidak ada lagi yang terucap di antara kami. Aku membuka dan meminum air mineral yang kubeli darinya sambil memandang langit sore berhias awan-awan tipis yang begitu enak dipandang.
Cukup lama kami saling diam. Lagian, aku memang tidak membawa bahan obrolan apapun karena biasanya, Rina selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.
Tapi, sepertinya tidak untuk hari ini. Kuperhatikan dari tadi, dia masih sama sejak aku datang—hanya memindah-mindahkan pandangannya antara aku dan langit. Aku bertanya-tanya apa yang sebetulnya tengah terjadi, tapi entahlah. Kurasa dia memang sedang tidak ingin bicara banyak.
“Aldi.” Kali ini, tatapannya berhenti padaku.
“Ya? Apa, Rin?” Balasku dengan tanda tanya yang semakin membesar di kepala.
“Aku ... menyukaimu.”
Sempat tertegun sesaat, aku pun lantas tertawa. Entah sejak kapan dia jadi semakin pandai melucu. Rina memang suka bercanda.
“Kau kenapa sih, Rin?” Tanyaku. “Bercandanya kok aneh begitu?”
Meski kubilang begitu, ekspresi di wajahnya dan cara dia menatapku, semuanya tidak berubah sejak dia mengatakan guyonan tadi. Tidak ada satu isyarat apapun dari keduanya yang menandakan kalau dia sedang bercanda. Apakah mungkin dia sedang belajar akting?
“Aku bilang, aku menyukaimu,” lagi, kata itu terucap darinya.
Karena semakin lucu, aku ingin tertawa lagi. Setidaknya, sampai aku menyadari sesuatu yang mungkin terlewat sejak tadi.
Rina tidaklah sedang bermain-main.
Namun tentu saja aku tidak langsung percaya. Sambil terkekeh, kucoba untuk menyanggah semua yang kulihat. Tapi semakin berusaha aku menolaknya, kenyataan yang ada di hadapanku justru bertambah jelas. Membuatku langsung diam tanpa bisa berkata-kata lagi.
Ini tidak pernah terbayang olehku. Rina ... menyukaiku? Sejak kapan dan juga, kenapa bisa?
Aku tidak mau menyakitinya. Astaga, apa yang harus kukatakan?
“Kau ... bercanda kan, Rin?” Meski konyol, aku ingin tahu yang sebenarnya. Walau sebetulnya, perasaanku terus meneriakkan jawaban yang paling kuharapkan:
Jelaslah! Aku cuma bercanda. Kepedean banget! Kuharap begitu balasan yang kudengar darinya.
“Selama ini, aku beberapa kali bilang kalau aku suka padamu dalam obrolan kita. Memangnya selama ini, kau pikir itu apa?”
Pada akhirnya, harapan hanyalah harapan. Lebih sering meleset daripada terkabul.
“Tapi ... maafkan aku, Rin.” Kutundukkan kepalaku. “Aku tidak bisa.”
Dengan penyesalan yang terdalam, dengan berat hati, aku harus mengatakannya.
Sunyi. Tidak ada tanggapan apapun darinya. Aku ingin memastikan, tapi aku terlalu takut untuk menatap mukanya. Aku ... astaga, tidak kusangka aku harus melakukan ini.
Yang terjadi selanjutnya, membuat jantungku seolah terlepas hingga aku bahkan sontak memandangnya.
Karena Rina ... tertawa.
“Tidak apa-apa kok, Di. Aku sudah tahu kalau kau akan menolakku.”
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, ketika melihat senyuman kehancuran di wajahnya. Dia terus menatapku, aku tahu maksudnya, agar aku percaya bahwa dia akan tetap tegar. Bagaimanapun juga, sekeras apapun dia berusaha, dia hanyalah gadis biasa, sama seperti yang lain.
Tidak lama, air mata mulai memancar dan meluncur di pipinya yang mulus.
__ADS_1
Awalnya dia membiarkan, namun kemudian dia mencoba menyekanya seraya terus mempertahankan senyumannya. Hanya masalah waktu, sampai akhirnya rintik kesedihannya itu berubah menjadi tangisan pilu tanpa suara yang begitu menyakitkan hati bersamaan dengan lenyapnya senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya.
Sementara aku sendiri cuma diam, menutup muka dengan kedua tangan. Mencoba menjernihkan pikiran dari semua kegilaan ini.
Selama ini, dia terus membicarakan Amanda, karena dia tahu kalau aku tidak pernah punya rasa padanya. Berpura-pura menghibur diri meski di dalam, tidak terkirakan bagaimana penderitaan yang dia rasakan.
“Maafkan aku, Rin,” mohonku sekali lagi. Walau aku tahu, apa yang kukatakan tidak akan pernah bisa mengobati perasaannya.
***
Sejak tiba di rumah, aku hanya berbaring di kamar. Kepalaku pening karena memikirkan bagaimana perasaannya Rina. Kegelisahanku semakin bertambah, ketika kucoba menghubunginya berkali-kali, tidak ada satu pun yang ditanggapinya.
“Aku tidak percaya aku dan dia akan berakhir begini ....” Kuusap muka demi meringankan pening dan hawa panas di kepala. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau teman masa kecilku ternyata menyimpan rasa padaku selama ini?
Aku tidak mau peristiwa sore tadi menjadi akhir dari hubungan kami yang sudah terjalin sejak kami masih berada dalam dunia tanpa beban. Aku takut, aku sudah menanamkan benih kebencian juga menggoreskan luka di hatinya.
Namun apa yang bisa kulakukan?
Semakin kucoba berdamai dengan diri sendiri, semakin aku mengutuk diriku sendiri. Tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya juga aku marah dan mengeluh.
“Kenapa harus aku, Rin?” Gumamku seraya memijat pelan kepala yang sudah nyaris meledak ini.
***
Besoknya, aku tidak masuk sekolah karena badanku jadi ikut terasa tidak enak. Kepalaku juga masih pusing, tidak kusangka terlalu banyak berpikir akan jadi begini.
Aku juga sudah menitipkan pesan pada Sarah kalau aku tidak bisa hadir. Ah, padahal aku belum ada sebulan pindah, tapi aku sudah harus absen.
Kemudian, ponselku yang tergeletak di dadaku berdering. Saat kuperiksa, rupanya Chandra meneleponku. Aku terkejut dia menghubungiku saat jam belajar tapi aku segera menyadari kalau sekarang sudah jam setengah sepuluh yang berarti istirahat tengah berlangsung.
“Halo,” sapa suara dari seberang itu dengan dilatarbelakangi oleh riuh-riuh samar.
“Halo, Ndra. Ada apa?” Tanyaku.
“Sarah bilang kau sakit jadi tidak bisa hadir. Kau sakit apa?”
“Oh. Syukur deh kalau begitu.”
Aku tertawa pelan. Kukira selama ini, Chandra itu adalah orang yang cuek. Tidak kusangka dia punya rasa peduli juga.
“Oh ya, Di,” sambungnya. “Amanda juga tidak hadir. Sakit juga katanya.”
“Amanda sakit?”
“Katanya Sarah sih begitu. Omong-omong, kau janjian dengannya, ya?”
Lantas dia tertawa.
“Perasaan kemarin dia sehat-sehat saja,” kataku.
“Memang. Tapi, ya sudahlah, Di. Namanya juga sakit, bisa datang mendadak. Ya, seperti kau sekarang saja.”
“Ya, sih. Tapi rasanya aneh saja.”
“Ya sudah, deh. Aku sampai di sini saja. Cepatlah sembuh, biar kita bisa berkumpul lagi. Sudah, ya? Oh, apa perlu aku datang menjengukmu?”
“Ah, tidak, tidak perlu. Besok juga aku sembuh. Terima kasih.”
“Oh, oke. Ya sudah. Istirahatlah yang banyak dan jangan lupa, temui Amanda di dalam mimpi nanti. Hahaha!”
Panggilan terputus.
Kuletakkan ponsel di samping bantal. Aneh, kemarin Amanda masih sangat segar, bahkan aku sendiri masih sempat bercanda dengannya bersama yang lain juga. Entah mengapa, semenjak kejadian tidak mengenakkan dengan Rina, hari-hariku jadi terasa buruk.
Lalu pintu kamarku berderit terbuka dan saat kutoleh rupanya ibuku yang datang dengan raut wajah cemas.
Setelah menutup pintunya lagi, dia duduk di tepian ranjang. Aku pun mendudukkan diri dan bersandar di bahu ranjang untuk menyambutnya.
“Ada apa, Bu?” Tanyaku.
__ADS_1
“Kamu masih merasa pusing?” Dia bertanya balik.
“Masih, tapi sudah mendingan, kok.”
Jawabanku membangkitkan senyum tipis di bibirnya. Mungkin untuk memastikan aku tidak berbohong, dia lantas memeriksa dahiku dengan punggung tangannya lalu meraba-raba wajahku. Beginilah ibuku, padahal aku hanya tidak enak badan saja tapi dia bersikap seolah aku terkena kanker stadium akhir dan mati tidak lama lagi.
“Kamu tidak biasanya begini, Di,” lanjutnya seraya menyeret dirinya untuk lebih mendekatiku. “Dari kemarin kamu kelihatan murung. Ada apa? Cerita sama ibu.”
“Tidak ada apa-apa, Bu. Aldi cuma tidak enak badan saja makanya jadi terlihat begitu.”
“Kamu pasti lagi memikirkan sesuatu, kan? Tidak apa-apa, cerita saja. Lihat, kamu berpikir sendirian sampai kamu jadi sakit begini.”
Aku menunduk dan bergeming. Apa yang harus kukatakan? Tidak mungkin aku menceritakannya pada ibu. Namun, aku pun tahu kalau aku tidak bisa selamanya berkelit darinya.
“Rina ...,” kuputuskan untuk bicara jujur, tapi kata-kata yang sudah kususun seolah tersangkut di tenggorokan.
“Rina? Ada apa dengannya?”
“Rina ... dia suka sama Aldi tapi Aldi tolak.”
Buru-buru aku kembali berbaring dan menutup wajahku dengan bantal. Entah mengapa, aku menyesal sudah mengatakan yang sebenarnya sebab membuatku jadi ingin mengubur diri dalam-dalam.
Dan seperti yang telah kuduga, ibuku tertawa geli sekali. Bantal semakin kutekan ketika wajah dan telingaku mulai terasa panas.
“Aldi, Aldi. Masa cuma begitu saja kamu sampai seperti ini, sih?” Katanya.
“Habisnya, Aldi takut Rina jadi sakit hati,” jawabku.
“Sini, deh. Dengarkan ibu.”
Perlahan kusingkirkan bantal di wajahku dan kudapati ibu tengah tersenyum padaku. Kemudian aku kembali duduk yang lantas disambut dengan belaian di kepalaku. Aku sudah sering dielus-elus ibu, tapi entah mengapa yang ini terasa menenangkan.
“Kamu menolaknya dengan baik-baik, kan?” Lanjutnya lagi, dan aku pun mengangguk. “Kalau begitu ya sudah, tidak ada masalah lagi di antara kalian.”
Yang dikatakan ibu membuatku tercengang. Aku tahu mempertanyakan pengalamannya adalah hal yang patut diganjar tawa tapi … apa benar sesederhana itu?
Kucoba menjelaskan lagi masalahku karena kurasa dia kurang benar menangkapnya. “Tapi, Bu—”
Ibu menggeleng. “Ibu tahu Rina itu orangnya seperti apa. Jujur, ibu juga kaget pas kamu bilang kalau dia suka sama kamu, tapi mau bagaimana lagi? Yang namanya ditolak itu sudah jadi risiko kalau suka sama orang lain.
“Lagian, kamu sebetulnya sudah melakukan hal yang benar. Kalau saja kamu memaksa menerima dia padahal kamu tidak punya rasa sama dia, kamu malah jadi membohongi dia. Omong-omong, Rina itu cantik, loh. Ibu juga suka sama dia, memangnya kamu benar tidak mau sama dia?”
“Bukannya tidak mau tapi—”
“Kamu punya calon lain?”
Dalam sekejap aku terdiam. Panas di wajahku yang tadi sempat hilang kini kembali lagi.
Buru-buru kuluruskan pemahaman ibuku yang sudah melenceng terlalu jauh. “Aldi tidak punya yang—”
Lantas dia menertawaiku lagi. “Cieee! Siapa namanya? Kasih tahu ibu, dong!”
“Dengarkan Aldi dulu—”
“Ih, pakai malu-malu segala?”
Apapun yang selanjutnya kukatakan, selalu berakhir sama. Ibuku tidak percaya, dan terus mendesakku untuk memberitahu nama calon pacarku yang fiktif itu. Hingga akhirnya aku pun lelah sendiri menghadapi sikapnya.
“Ibu telepon ayah, ah! Kasih tahu kalau kamu sudah punya pacar!” Ibu berlari keluar dari kamarku tanpa bisa kucegah dan tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan ponsel di tangannya. Seraya berdiri di depanku, sambil tersenyum girang, dia melakukan apa yang dia katakan barusan.
“Halo? Sayang, aku punya kabar yang mengejutkan, deh! Anak kita, dia sudah punya pacar! Benar, kok! Tidak tahu, sih. Soalnya dia malu-malu, tidak mau memberitahu. Oh, ya? Oke, deh! Daah!”
Sepanjang pembicaraan dia dengan ayahku, aku cuma menutup wajahku sambil geleng-geleng. Entah apa yang ayahku katakan, dan apa yang mereka rencanakan, tapi aku merasa itu sesuatu yang tidak bagus.
“Kalau tahu begini tadi aku harusnya bilang kalau kepalaku pusing karena semalam darahku dihisap vampir,” gumamku pasrah.
“Katanya ayah mau lihat pacar kamu, Di!” Serunya.
“Terserah ibu sajalah ….”
__ADS_1