Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 38: Aldi


__ADS_3

Jantungku berdegup kencang menunggu kedatangannya. Aku berdiri dari kursi, berjalan menuju pohon dan bersandar sebentar di batangnya kemudian duduk sesaat di ayunan, lalu kembali duduk lagi di kursi taman yang merupakan posisiku semula. Sudah tiga kali aku melakukannya demi meringankan gugup yang merundungiku sejak dari rumah.



“Astaga, aku gugup sekali ...,” keluhku.



Kucoba untuk menatap langit pagi yang cerah, berharap pemandangan indah yang kulihat bisa membuatku tenang, dan beruntungnya aku benar. Sedikit banyak, kegugupanku berkurang.



“Selamat pagi.”



Aku sontak berdiri dan berbalik ketika sapaan lembut itu datang dari sosok yang sejak tadi kutunggu-tunggu kehadirannya. Di sana, tidak jauh dariku, dengan senyuman manisnya, dia memandangku. Gadis bergaun midi merah muda berlengan pendek berhias pita yang tersimpul manis di pinggang kirinya, bermata cerah dan paras yang membuat jantungku makin berdebar-debar. Amanda.



“S-Selamat pagi, Nda,” kubalas sapaannya dengan senyum canggungku. Tas selempang mini yang dipakainya semakin menambah kesan manis dirinya. “Kau ... kau cantik sekali.”



Dia tersentak dengan wajah memerah yang ditundukkannya. “T-Terima kasih. Kau juga ... kau manis, Di.”



Sama sepertinya, aku tersentak dengan wajah menghangat yang kutundukkan. “Terima kasih ... Nda.”



Tidak ada lagi yang bicara karena kami berdua terlalu canggung. Suara seperti tersangkut di tenggorokan, dan mata seolah berat untuk menatapnya sementara dadaku berdebar tidak karuan.



Aku menggeleng pelan, merasa payah. Namun tidak, aku harus berani. Aku sudah berjanji untuk membuatnya terkesan, membuatnya tidak akan pernah melupakan tentang hari ini.



“Nda.”



“Di.”



Kami saling memanggil bersamaan dan mata cerahnya kembali bertemu dengan mataku yang selalu ingin berpaling namun tidak kubiarkan. Aku ingin berani berlama-lama memandang wajah manisnya yang kini merah seperti tomat, tidak peduli mukaku akan berasap karena canggung dan jantungku meledak karena berdetak terlalu cepat.



Namun tiba-tiba, Amanda tersenyum, yang sontak kubalas dengan senyum bingungku. “Kenapa, Nda?”



“Wajahmu merah, kau jadi kelihatan imut.”



“Wajahmu juga merah, Nda. Kau jadi kelihatan manis.”



Setelah saling melempar pujian itu aku dan dia kembali menunduk sipu. Dalam benak, aku merasa salah karena mencoba melawan kecanggungan yang semestinya dibiarkan hingga berlalu dengan sendirinya.



“G-Gaunmu bagus, Nda. Aku suka melihatmu memakainya,” kulempar pujian lagi padanya.



“Kemejamu juga, aku suka,” dia balas memujiku. “Kau jadi terlihat lebih keren kalau memakai lengan panjang dan warna gelap begitu.”



“Terima kasih, Nda. Ah, ya ... omong-omong, m-mau berangkat sekarang?”



“Ya, ayo.”



Amanda lantas mendekatiku dan sontak menjalin tangan kirinya di tangan kananku. Walau sempat ingin kulepas, namun kuyakinkan untuk tidak kali ini.



“Masih belum terbiasa, ya?” Amanda bergumam diiringi tawa kecil.



“Y-Ya.” Aku mengangguk pelan.



Kemudian tanpa berkata apapun lagi, Amanda membawaku melangkah pergi. Sepanjang kami berjalan, aku terus menunduk diam, enggan untuk bicara. Kubiarkan dia membawaku ke suatu tempat yang hanya dia yang mengetahui.



Dia menuntunku dengan langkah yang pelan, membuatku penasaran dan ingin bertanya padanya. Namun sewaktu kulirik dia dan melihat ronanya yang begitu berseri, aku langsung memahami alasannya. Dia ... ingin menikmati saat-saat berada di sampingku.



Perasaan hangat muncul di hatiku, membuatku tersenyum. Meski masih terasa malu-malu, namun setelah melihat pemandangan manis itu membuatku bisa menatap lurus ke depan sedikit-sedikit.



“Nanti setelah ini aku mau mampir ke rumahmu untuk bertemu ibumu,” Amanda berceletuk yang membuat perhatianku teralih padanya yang tengah tersenyum. “Boleh, kan?”



“Boleh, kok.” Aku balas tersenyum. “Dia sudah tidak sabar mau bertemu denganmu.”



“Benarkah?” Matanya berbinar-binar mendengar ucapanku.



“Ya. Sewaktu aku menunjukkan foto kita di museum waktu itu, ibuku bilang kalau kau manis, Nda. Ayahku juga, dia bilang ingin melihatmu.”



Matanya membulat dan senyumannya mengembang lebar mendengar perkataanku yang menimbulkan tawaku karena dia jadi terlihat menggemaskan. Sementara itu, dia mengeratkan pegangannya di tanganku dan kembali menatap ke depan.



“Aku sangat senang mendengarnya,” katanya penuh kegembiraan. “Aku jadi makin tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuamu.”


__ADS_1


“Begitu juga aku, aku pun sudah tidak sabar untuk memperkenalkanmu pada orang tuaku. Aku sangat yakin ibuku pasti sangat senang.”



Amanda hanya menanggapi dengan tersenyum-senyum. Sesaat, dia melirikku, lalu berkata, “aku mencintaimu.”



“Aku mencintaimu juga, Amanda.”



***



Terkejut, bingung, dan sedikit kesal. Ketiga perasaan itulah yang kurasakan ketika tiba di sebuah persimpangan jalan dan Amanda berkata kalau tempat ini adalah tempat spesial yang pernah dia katakan padaku.



Tidak ada apapun di sini yang mengesankan apalagi spesial. Hanya sebuah pertigaan biasa dengan toko-toko kecil dan lalu lintas dengan kepadatan sedang, tidak lebih. Setelah semua ekspetasiku dan energiku yang kupakai untuk bisa sampai di tempat ini, aku kesal, sungguh.



“Tempat apa ini, Nda?” Tanyaku dengan nada yang kuusahakan terdengar biasa karena aku sedang mencoba untuk tidak marah. Mungkin dia melihatku sebagai orang yang tidak mudah terpancing emosi, tapi kalau dipermainkan seperti ini, rasanya tetap menyesakkan.



“Memangnya kau tidak ingat?” Dengan santainya dia bertanya seperti itu. Kekesalanku sudah hampir di batas, namun aku masih ingin berusaha menahannya karena aku masih yakin dia tidak sedang membercandaiku.



“Ingat apa?” Nada bicaraku sudah agak meninggi karena kekesalan yang sudah kutahan-tahan sedikit demi sedikit meluap.



“Dua tahun lalu. Di sini, di tempat kita sekarang berdiri. Kau tidak ingat?”



“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Nda.”



Namun tiba-tiba, sekelebat ingatan muncul yang membuatku sontak tertegun. Kesal dalam dadaku pun dibuat lenyap tidak bersisa.



Aku baru teringat, kalau aku pernah menyelamatkan seorang gadis yang hampir tertabrak motor di tempat ini karena menyeberang dengan ceroboh. Kemudian, aku terserempet dan kakiku terluka karena menolongnya tanpa berhati-hati, dan di titik aku dan Amanda berdiri ini adalah tempatku setelah dipindahkan dari jalan. Ya, aku sudah ingat semuanya sekarang.



Tapi tunggu sebentar .... “Kau, bagaimana kau bisa tahu soal ini, Nda?” Tanyaku. Sungguh, aku tidak ingat pernah menceritakan tentang ini padanya.



Alih-alih menjawabku, Amanda justru tersenyum yang membuatku semakin bingung. Namun tiba-tiba sesuatu memasuki kepalaku, membuatku tersentak karena tersadar akan sesuatu. Gadis yang kuselamatkan itu ... apa mungkin dia ... tidak, tidak mungkin!



“T-Tunggu ... jangan bilang kalau gadis yang kuselamatkan itu—”



“Ya. Gadis yang kau selamatkan itu adalah aku.”




Amanda bergerak maju selangkah sehingga dia benar-benar berada sangat dekat di hadapanku, menatapku sesaat, kemudian memelukku. Biasanya aku akan meminta dilepaskan, namun kali ini aku hanya diam karena masih terlalu terkejut dengan pengakuannya.



“Terima kasih, sudah menyelamatkan hidupku,” katanya dengan nada yang lembut.



“Y-Ya ... sama-sama, Nda,” kataku begitu saja yang membuatnya tertawa kecil.



Cukup lama dia memelukku, sampai hampir semua pasang mata di tempat ini tertuju kepadaku. Namun aku tetap diam, karena yang kualami sekarang terlalu sulit untukku kupercaya.



“Kau tadi marah, ya? Karena aku membawamu ke tempat ini?” Amanda berceletuk diiringi kekehan.



“A-Aku mohon, jangan membahas itu ...,” pintaku.



Amanda tertawa kecil lagi sebelum melepas pelukannya. Lalu, dia kembali menggandeng tanganku dan membawaku pergi dengan wajah berseri-seri, entah ke mana.



***



“Kopi satu, jus jeruknya satu terus ... sama roti bakarnya dua, yah?” Dengan segala keramahannya, pelayan wanita itu memastikan kembali pesananku dan Amanda yang telah dicatatnya.



“Ya, Mbak,” Amanda membenarkan semua pesanan yang disebutkan tadi.



“Oke, deh! Tunggu sebentar, ya? Kalau begitu, saya permisi dulu.”



Si pelayan pun pergi setelah memberi senyum kepada aku dan Amanda. Lalu sekali lagi, aku menunduk dan mendengus karena canggung sebab Amanda mengambil tempat tepat di sebelahku.



“Maaf, ya? Aku membuatmu merasa tidak nyaman,” katanya.



Aku menggeleng, meski dadaku beredebar-debar tidak karuan. “Tidak apa-apa, Nda. Lagian, kau bisa duduk di manapun kau suka.”



Amanda hanya terkekeh, dan akhirnya membiarkanku sendiri dengan pikiranku. Aku ingin merasa tenang sejenak, dan aku bersyukur karena kafe ini kebetulan sedang sepi pengunjung.



Kucoba untuk memandang menembus dinding kaca yang menjadi pembatas antara aku dan dunia luar. Melihat lalu lintas di jalan raya sana mengingatkanku kembali dengan momen ketika aku menyelamatkan Amanda.

__ADS_1



Kala itu aku tidak pernah mengira kalau hariku yang damai berubah menegangkan saat aku melihat seorang gadis berlari menyeberang jalan begitu saja. Tindakan konyolnya membuatku langsung berlari mengejarnya, dan syukurlah aku masih sempat menyelamatkannya meski kakiku harus terluka.



Setelah kejadian itu aku tidak pernah lagi memikirkannya, hanya menganggapnya sebagai masa lalu yang tidak begitu penting. Namun aku salah. Aku lupa kalau hidup kadang bisa menjadi aneh.



Dua tahun berlalu, dan aku bahkan hampir benar-benar melupakannya. Namun, sepertinya takdirku sudah terhubung dengannya sejak saat itu, karena kemudian aku jatuh cinta pada seorang gadis bernama Amanda. Gadis yang sama dengan yang kuselamatkan dulu, yang sudah nyaris kulupakan keberadaannya.



Sekarang, di dalam hati, aku bersyukur karena Tuhan tetap menjaganya dengan baik di dalam ingatanku selama ini. Walaupun ada banyak hal lama yang telah terlupakan dan hal baru yang singgah di dalam memoriku.



“Pesanan datang! Maaf sudah membuat menunggu!” Lamunanku terpecah oleh suara gembira dari si pelayan wanita yang sama. Satu persatu, dia menurunkan pesananku dan Amanda ke meja. “Selamat menikmati!” Ucapnya setelah menyelesaikan tugasnya, kemudian memberi senyum lagi kepada kami berdua lalu pergi.



“Ini, punyamu.” Amanda mendekatkan cangkir kopi dan porsi roti bakarku padaku.



“Terima kasih,” kataku dan kemudian langsung menyesap sedikit kopi susu yang manis ini. Karena sering diajak Chandra minum kopi, aku jadi menyukai minuman ini.



“Aku tidak tahu kau suka minum kopi,” Amanda berceletuk.



Aku tersenyum. “S-Sebenarnya memang tidak terlalu suka, tapi karena Chandra sering mengajakku minum kopi, aku jadi menyukainya.”



“Jadi begitu,” timpalnya. Lalu, dia memakan sepotong roti bakarnya. “Roti bakarnya enak, kau harus mencobanya,” katanya setelah menelan makanannya.



“B-Benarkah?” Dengan garpu plastik kecil yang disediakan, kuambil sepotong roti bakar bertabur parutan keju ini dan kumakan. Benar, rasa manis dari selai nanas bercampur dengan sedikit rasa asin dari kejunya. Rotinya juga enak, tidak begitu kering seperti yang biasa kurasakan dari penjual roti bakar di pinggir jalan.



“Bagaimana, enak?” Tanya Amanda.



“Ya, Nda. Enak.”



Amanda tersenyum mendengar jawabanku. Mengherankan, karena dia kelihatan begitu senang padahal makanan ini bukan dia yang membuat.



Ah, atau mungkin, dia merasa gembira karena melihatku senang? Dia sangat perhatian padaku ..., batinku.



“Amanda,” kupanggil dia yang tengah menyedot jus jeruknya.



“Ya? Ada apa?” Dia mengerlingku.



“Saat itu, kau berlari menyeberang jalan dengan ceroboh sampai nyaris ditabrak pemotor. Apa aku boleh tahu mengapa kau melakukan itu?”



Ucapanku membuatnya langsung berhenti menikmati minumannya dan memandangku dengan raut datar sebagai gantinya. Namun sesaat kemudian, dia justru menundukkan wajahnya yang kini berubah sedih.



“Kau ingat mantan pacarku yang di taman bermain waktu itu, kan?” Tanyanya dengan suara pelan. Melihatnya begitu membuatku jadi merasa kalau aku seharusnya tidak pernah menanyakan soal itu padanya.



“Ya, aku ingat,” jawabku. “Apa dia yang jadi alasanmu melakukan itu?”



Amanda mengangguk pelan. “Suatu ketika dia datang menemuiku dan bilang kalau dia menyukaiku. Aku senang sekali, tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama.



“Sewaktu hari ulang tahunnya tiba, aku berniat untuk memberinya hadiah, namun yang kudapat justru diluar dugaanku. Aku mendapati dia tengah bermesraan dengan gadis lain dan menyatakan perasaannya pada gadis itu.



“Hatiku sangat sakit melihat yang dilakukannya. Lalu aku berlari menjauh darinya sambil menangis, tidak pernah terbayang kalau dia akan mengkhianatiku seperti itu. Aku terus berlari tanpa mempedulikan apapun karena emosi sudah menguasaiku, hingga seperti yang kau tahu, aku hampir mati ditabrak pemotor dan akhirnya diselamatkan olehmu.”



Amanda lantas menghela napas dan tidak mengatakan apapun lagi. Mendengar semua ceritanya membuatku kesal, dan juga sekali lagi, membuatku menyesal karena tidak memukul wajah mantan pacarnya itu sewaktu di taman bermain. Fakta bahwa Amanda masih merasa sedih ketika mengungkit tentangnya lagi, sudah cukup bagiku untuk ikut membencinya karena pastinya, dia sudah benar-benar melukai perasaan Amanda.



“Namun meski begitu, aku bersyukur.” Tiba-tiba Amanda kembali memandangku dengan senyuman yang membuatku tertegun. “Karena pada akhirnya, Tuhan mempertemukanku denganmu. Laki-laki yang baik, laki-laki yang menjadi obat bagi hatiku. Laki-laki manis bernama Aldi.”



Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, dan hawa panas merambah wajahku yang sontak kutundukkan dan kututup dengan kedua tangan. Pada akhirnya, aku berubah menjadi bahan tertawaannya.



“Jangan tertawa, aku mohon,” pintaku.



“Habisnya, kau lucu kalau sedang tersipu,” katanya. “Lihat, mukamu merah banget.”



“S-Sudah, Nda. Aku mohon ....”



“Baiklah, aku akan berhenti tertawa. Tapi, lihatlah aku dulu.”



Aku menuruti apa yang dia minta. Kuturunkan kedua tanganku, lalu menatapnya. Senyuman kecil manisnya menyambutku. “A-Ada apa, Nda?” Tanyaku gugup.



Namun, dia hanya terkekeh. Sampai tiba-tiba, dia mengejutkanku dengan cara menggenggam tangan kananku. “Sekali lagi, terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Aku mencintaimu, Aldi.”

__ADS_1


__ADS_2