
“Kamu jangan keras kepala, Amanda! Kamu masih lemah, jangan coba menguji kesabaran kakak!” Matanya menyorotku tajam, dan tentu saja, dia mengatakannya dengan sedikit membentak. Begitu kira-kira reaksi Kak Dian setelah berdebat singkat denganku karena melihatku keluar dari kamar menggunakan seragam sekolah.
“Ada apa, sih?! Pagi-pagi sudah ribut?!” Potong ibuku yang datang dari arah dapur sebelum aku sempat menanggapi Kak Dian.
“Lihat, Bu.” Kak Dian menunjukku sehingga perhatian ibu berpindah padaku. “Amanda itu masih belum sembuh benar, dan sekarang dia memaksa berangkat sekolah.”
“Amanda sudah baikan kok, Bu,” kataku pada ibu sebelum dia sempat menanggapi kakak. “Lagian, Amanda bosan di rumah.”
Kak Dian yang sepertinya sudah hilang kesabaran langsung menyerobot. “Tapi kamu—”
“Sudah, sudah! Berhenti berdebat!” Perintah ibuku, membuat kakakku langsung diam. “Kalau Amanda memang yakin tidak apa-apa, ya sudah, biarkan saja.”
“Tapi, Bu, kalau Amanda nanti kenapa-kenapa bagaimana?” Kak Dian berusaha meyakinkan ibu.
“Amanda tidak akan kenapa-kenapa kok, Kak,” kuyakinkan kakakku, tidak lupa juga kupasang senyum. “Amanda mohon, kakak percaya sama Amanda, ya? Sekali ini saja.”
Kak Dian terlihat ragu. “Tapi—”
Kukedipkan mata kananku padanya yang membuatnya sontak tertegun. Itu adalah sinyal yang berisi alasanku untuk kembali ke sekolah meski tubuhku masih terasa lemah.
Aku ingin menemuinya, orang yang kucintai.
Awalnya dia terlihat bingung sampai alisnya berkerut, namun dia lantas mengerjap. Kelihatannya dia sudah mengerti isyaratku.
“Ya sudah, kakak percaya sama kamu.” Kak Dian tersenyum, meski masih bisa kudengar sedikit cemas dalam nada bicaranya. “Tapi kakak minta kamu hati-hati, ya? Kalau butuh sesuatu, minta bantuan sama teman-teman kamu. Jangan memaksakan diri.”
“Ya, Kak. Amanda janji,” timpalku. “Kalau begitu, Amanda berangkat dulu, ya?”
“Ya sudah, hati-hati,” kata ibuku berbarengan dengan anggukan kakak.
Aku bersalaman dengan ibu, lalu kakak yang tangannya sempat membelai kepalaku dan merapikan sedikit kardigan yang kupakai. Setelah saling memberi senyum pada mereka berdua, aku pun berangkat.
***
“Amanda!” Dari belakang, Sarah menyeruku tepat ketika aku memasuki area lobi. Aku berhenti untuk berbalik dan menyambutnya.
Aku tersenyum, melihatnya berlari menyusulku dengan wajah berseri. Setibanya di hadapanku, dia langsung memelukku.
“Syukurlah kau sudah sembuh,” katanya begitu bahagia.
“Terima kasih, Sar,” balasku.
Sarah pun melepaskan dekapannya.
“Oh, ya. Bagaimana kabarmu, Sar?” Tanyaku.
“Aku baik-baik saja, kok,” jawabnya. “Ayo, Nda. Kita langsung ke kelas saja,” ajaknya yang kuiyakan dengan anggukan.
Sewaktu menaiki tangga, aku melakukannya dengan perlahan karena kakiku yang masih terasa lemas untuk berpijak. Sementara itu, detak jantungku mulai bertambah seiring berkurangnya jarak antara aku dan kelas, namun begitu aku tiba di sana, aku terhenti.
Aldi tidak ada di tempatnya.
“Kenapa, Nda?” Tanya Sarah yang berhenti berjalan begitu menyadari aku tidak lagi di sampingnya.
“O-Oh, tidak, kok. Tidak ada apa-apa. Aku hanya masih merasa lemas,” kilahku dengan tawa kecil yang kubuat-buat.
“Aduh, Nda, Nda. Kalau memang begitu harusnya kau tidak usah masuk dulu,” kata Sarah memandangku serius. “Ayo, kuantar ke tempatmu.”
Dia pun menuntunku menuju tempatku duduk. “Terima kasih, ya?” Kataku.
“Sama-sama, Nda,” balasnya dengan senyum. “Kalau butuh sesuatu, bilang aku, ya?” Pintanya.
“Ya. Sekali lagi terima kasih, Sar.”
“Ya sudah, Nda. Aku mau ke ruang OSIS dulu, ya? Kau di sini saja, jangan banyak bergerak dulu.”
Sarah pun lantas meninggalkan kelas setelah anggukanku. Kuhela napas, lalu kualihkan perhatianku ke tempat duduknya Aldi yang kini kosong. “Kau ke mana?” Tanyaku.
Kutidurkan kepalaku di meja setelah semangatku lenyap tidak bersisa. Kupejamkan mata, berharap dia ada di sana ketika kubuka mataku. Namun harapan hanyalah harapan, karena saat kubuka mataku lagi, dia tetap tidak ada di sana.
“Apa mungkin dia sakit setelah kehujanan kemarin?” Kupejamkan lagi mataku. Aku cemas.
Namun kuenyahkan pikiran itu segera. Aku yakin dia akan datang, aku yakin dia tidak akan membuatku berharap palsu. Pasti, dirinya bisa mendengar perasaanku, tidak peduli di manapun dirinya berada.
Namun, menit demi menit berlalu, dan dia tidak juga datang. Kubuka mataku lagi dan kutatap kecewa ke tempat duduknya.
__ADS_1
Aku tidak marah. Pun bukan salahnya dia tidak hadir. Namun semakin kupikirkan alasannya tidak datang ke sekolah, hatiku justru memanas. Akhirnya, aku marah juga. Bukan kepadanya, tapi pada kecerobohannya kemarin sehingga dia harus terbaring sakit dan membuatku tidak bisa bertemu dengannya.
“Nanti aku akan izin pulang saja.” Kupejamkan mata kembali. Sudah tidak ada sedikit pun hasrat yang tersisa dalam diriku untuk menjalani sekolah hari ini. Aku akan pulang, lalu tidur.
Bel tanda dimulainya pelajaran menggema. Gaduh dari teman-temanku yang hendak kembali ke posisi mereka masing-masing memenuhi telinga. Meskipun terasa sudah tidak mungkin, kuharap salah satu suara ribut itu berasal dari Aldi.
Namun hingga semuanya tenang, tidak kudengar ada langkah yang mengarah ke tempat duduknya Aldi. Sudahlah, aku akan izin dan pulang.
“Hei, tumben terlambat?!” Seru seorang temanku pada murid yang datang paling belakang itu diiringi sedikit tawa.
“Ya, aku mendapat masalah di jalan tadi.”
Sontak kubangunkan diriku ketika mendengar jawabannya. Itu suara Aldi!
Perasaan meletup-letup langsung membanjiri hatiku begitu mata ini melihatnya. Tidak lama kemudian, pandangan kami pun bertemu.
Matanya membulat, seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya. Kemudian senyumannya yang manis mengembang di bibirnya, yang langsung kubalas dengan senyum yang sama. Namun, tatapannya dia palingkan ketika berjalan ke tempatnya duduk meski senyumannya tetap dipertahankannya. Ah, aku tahu, dia tidak mau yang lain menyadari kalau kini dia sudah menjadi pacarku.
“Selamat pagi ...,” sapaku padanya tanpa memandangnya ketika dia duduk.
“Selamat pagi juga, Nda,” balasnya dengan nada bahagia yang tertahan.
***
“Kau baik-baik saja, kan, Nda?” Aldi bertanya cemas padaku ketika aku beranjak dari bangku dengan sedikit mendengus menahan lemas saat waktu istirahat pagi tiba. Sebetulnya dia sempat ingin berdiri dan membantuku, namun kuisyaratkan dia agar tetap di tempatnya.
Kuberikan senyumku padanya. Senang sekali melihatnya begitu perhatian padaku. “Aku tidak apa-apa, kok. Cuma masih sedikit lemas saja.”
Namun, cemas yang menghiasi wajahnya masih tidak berubah. “Harusnya kau tidak usah masuk dulu, Nda,” katanya.
“Habis ... aku tidak sabar ingin bertemu denganmu, Di.”
Aldi tersentak, lalu memalingkan wajahnya. Melihat betapa manisnya dia ketika tersipu membuatku tertawa kecil.
“K-Kau mau ke mana?” Tanyanya dengan masih menyembunyikan wajah manisnya.
“Aku mau ke kantin,” jawabku. “Mungkin setelah makan lemasku akan hilang.”
“M-Mau aku temani?”
Aldi langsung berdiri setelah mendengar jawabanku. “Ayo, Nda.” Dia melirikku, lalu berjalan lebih dulu. Kuikuti dia tidak terlalu jauh dari belakang. Ah, kuharap aku bisa berjalan di sampingnya, seperti pasangan kekasih lain pada umumnya.
Namun sesampainya di tangga, Aldi berhenti. “Kenapa?” Tanyaku heran.
“Kau duluan, Nda,” pintanya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Seperti ... dia mau melakukan sesuatu tapi ragu.
Namun kupilih untuk mengesampingkan itu dan kuturuti dia tanpa berpikir lagi. Begitu kaki kiriku berpijak di anak tangga pertama ....
“A-Aldi?” Aku terkejut ketika dia tiba-tiba memegang tangan kananku.
“K-Kau kan masih lemas jadi ... b-biarkan aku membantu ...,” ucapnya dengan terbata-bata. “T-Tenang saja, tidak ada yang akan melihat. Sampai di ujung tangga saja, boleh, kan?”
“Umm ...,” aku hanya menggumam pelan kemudian menundukkan wajahku yang menghangat. Entah mengapa aku merasa berdebar-debar padahal tadi aku berharap bisa berjalan di sampingnya.
Kami pun melangkah bersamaan, berjalan perlahan. Dalam benak, aku berharap dapat melakukannya lebih lama namun seperti yang dikatakannya, dia melepas tanganku sesampainya di anak tangga terakhir.
Setelahnya kami hanya berjalan tanpa ada bicara lagi. Aku terlalu canggung untuk sekadar membuka suara, dan sepertinya dia juga. Kucoba untuk meliriknya dan kudapati mukanya sudah memerah.
Tidak terasa kami sudah tiba di kantin. “K-Kau ... tidak apa-apa kutinggal sendiri?” Tanyanya setelah kami berdua berhenti, masih tanpa saling menatap.
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa. Terima kasih, ya, sudah mau mengantarku.”
“K-Kalau begitu, aku permisi dulu, Nda.”
Dia pun berjalan menuju meja di pojokan kantin, yang sudah menunggu Chandra serta Eko dan Sandi. Kemudian aku pergi ke salah satu meja di sudut lain dan duduk di sana, sendirian. Kuhela napas, kuharap Sarah datang.
“Nda!” Namaku dipanggil oleh orang yang telah kuharapkan kehadirannya dari arah pintu kantin. Kutoleh, Sarah menyusulku dengan setengah berlari, juga tidak lupa dengan senyuman.
“Loh, kau tidak makan, Nda?” Tanyanya sesampainya di hadapanku.
“Aku ingin, Sar. Tapi entah mengapa aku tiba-tiba jadi tidak berselera,” jawabku.
“Kau bilang masih merasa lemas, kan? Nah, berarti kau harus makan, Nda.”
“Ya, aku tahu tapi—”
__ADS_1
“Aku pesankan, ya? Kau mau apa? Bakso?”
Aku tidak langsung menanggapi dia karena bimbang apa yang harus kulakukan. Aku memang sedang tidak berselera, tapi pun aku juga tidak bisa mementahkan kepeduliannya padaku begitu saja.
“Ya, bakso saja.” Pada akhirnya aku tidak memiliki pilihan.
Sarah pun langsung semringah. “Oke, deh! Tunggu, ya? Aku pesankan makananmu.”
Sarah pun pergi menuju penjual bakso setelah anggukanku. Selagi menunggu, kucoba mengalihkan perhatianku ke sudut di seberang sana, tempat Aldi sekarang berada.
Bersama ketiga temannya, dia mengobrol asyik diiringi tawa sesekali. Melihatnya membuatku tersenyum senang, juga sedih. Kuharap aku bisa seperti itu bersamanya, di sini.
Lalu tanpa sengaja mata kami bertemu. Senyuman kecil manisnya kembali dia tunjukkan sebelum Chandra menegurnya dan membuat perhatiannya kembali teralih.
Kutaruh kedua tanganku di meja dan kulipat, lalu merenung. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak mau seperti ini terus, aku ingin bebas menunjukkan cintaku padanya di depan semua orang, tidak seperti sekarang. Berpacaran diam-diam karena takut malu kalau ketahuan.
“Tapi ... aku tidak yakin dia akan setuju denganku,” gumamku.
“Setuju apa, Nda?” Celetukan Sarah menyentakku, yang membuatku kelabakan dan langsung berusaha kuluruskan.
“T-Tidak! M-maksudku, aku hanya bicara sendiri saja!” Aku panik, hingga membuat Sarah yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku sampai mengernyitkan alis.
Sarah pun mendesah. “Nda, Nda. Kau itu dari dulu masih saja aneh.” Lalu dia meletakkan dua mangkuk bakso di tangannya dan duduk di bangku di sisi seberang meja setelahnya. “Ini baksomu.” Dia mendorong salah satu mangkuk baksonya padaku.
“T-Terima kasih,” kataku dengan menunduk.
Sarah hanya menanggapi dengan kekehan, lalu selanjutnya kami hanya saling diam. Sementara itu, kudengar Sarah mulai mengaduk-aduk baksonya.
“Kau kenapa, Nda? Kau merasa sakit lagi?” Tanyanya kemudian dengan tiba-tiba.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawabku.
“Ada sesuatu, kah? Cerita sama aku, Nda.”
“Tidak ada, Sar. Aku baik-baik saja,” kilahku seraya kembali memandangnya dengan senyum, berharap dia percaya.
“Ya sudah, deh,” katanya santai, meski ada sedikit kekecewaan di wajahnya.
“Maaf, Sar.” Sekali lagi kutundukkan pandanganku. “Bukannya aku tidak percaya padamu, hanya saja aku—”
“Sudah, Nda.” Kuangkat lagi pandanganku mendengar tanggapan santainya, mendapatinya kini tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku mengerti, kok.”
“Terima kasih, sudah mau mengerti,” balasku dengan senyum juga.
“Oh ya, Nda. Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Aldi?” Tanyanya lalu menyuapkan makanannya ke mulutnya.
Aku mengerjap karena pertanyaannya, yang hanya kujawab dengan sedikit senyum sebelum kupalingkan wajahku. Aku ingin mengakui tentang hubunganku dengan Aldi tapi ... aku ragu.
“Jangan bilang kalau kau masih begitu-begitu saja dengannya,” lanjutnya.
Awalnya aku berniat berbohong seperti biasa, namun tidak dengan perasaanku. Aku ingin bebas, tidak mau lagi sembunyi-sembunyi. Aku harus mengatakannya, tidak bisa tidak.
Kuputuskan untuk mengatakannya sekarang.
“Sebenarnya, Sar ... aku ... aku sudah berpacaran dengan Aldi.”
Seketika itu juga Sarah terbatuk-batuk. Dia tersedak.
Kulihat dia berlari menuju dispenser yang ada tidak jauh di sebelahku. Disambarnya satu gelas plastik yang tersedia di meja kosong di samping dispenser, menuangkan airnya dengan terburu-buru dan langsung menenggak semua airnya hingga tertumpah-tumpah dari mulutnya, membasahi sedikit kemejanya.
Kemudian, dia menghampiriku lagi dengan setengah berlari. Wajahnya semringah. “Mengapa kau tidak cerita padaku?!” Tanyanya heboh dengan kedua tangan menggenggam bahuku.
“A-Anu ... aku malu, Sar,” jawabku seraya kembali menyembunyikan wajahku dengan menunduk.
“Kenapa harus malu, Nda?!” Dia semakin heboh.
Sebelum sempat kujawab, dia meninggalkanku dan ketika kulihat ternyata dia pergi ke tempatnya Aldi. Di sana, Sarah berbicara dengan Aldi yang membuat pacarku itu sangat terkejut hingga mukanya memerah.
“Cieeee!” Ketiga temannya berseru heboh lalu mulai merangkul-rangkulnya dan mengacak-acak rambutnya. Bahkan hingga hampir semua orang teralih perhatiannya kepada mereka.
Tanpa sengaja, pandangan kami bertemu lagi, namun dia langsung memindahkan tatapannya dariku. Lalu kulihat Sarah menunjukku yang membuat perhatian teman-temannya Aldi ikut berpindah padaku. Chandra bertepuk tangan, Sandi mengacungkan kedua jempolnya sementara Eko bersiul nyaring.
Aku hanya menanggapi dengan senyum, sebelum kembali tertunduk sipu. Walaupun terasa memalukan, tapi aku senang sebab setelah ini, aku tidak perlu lagi ragu menunjukkan cintaku pada Aldi ke semua orang.
Kuharap nanti dia tidak marah padaku ....
__ADS_1