
Malamnya di kamarku ....
“Aaaahhh! What happen aya naon kumaha damang ini teh akang, euy?!”
Aku ... kenapa aku bisa jadi keren begitu, sih?! Maksudku, ingat saat di taman tadi?
Daripada kita memikirkan kalau salah satu dari kita meninggal dan saling mengenang sampai tujuh puluh tahun, lebih baik kita berdoa dan menjaga diri supaya kita bisa tetap bersama sampai tujuh puluh tahun ke depan.
Aku, bagaimana bisa aku mengatakan sesuatu yang indah seperti itu?!
Sambil menjambak rambut sendiri, aku berguling-guling di kasur seraya mengerang seperti orang gila. Sekali lagi, bagaimana bisa orang rendahan sepertiku mendadak keren dan bijak begitu?
Aku harus apa saat bertemu Aldi di sekolah nanti? Terus, bagaimana kalau dia cerita ke yang lain kalau aku bilang aku suka padanya beserta segala tingkahku kemarin lalu Sarah menempel beritanya di mading?
Aaaaahhhh!
Apakah aku harus membolos seumur hidup? Tapi tidak mungkin! Juga, aku pun tidak bisa pergi ke sekolah dengan kepala tertutup kotak sereal atau menghalangi mukaku dengan foto wajah Pangeran Charles! Sebodoh-bodohnya orang, pasti akan tahu kalau itu aku dan aku pun sama bodohnya karena berpikir untuk menyamarkan diri sebagai seorang pangeran.
Aku pun berhenti berguling-guling dan telungkup dengan kepala berada di bawah bantal yang kutekan dengan kedua tangan. “Aku tidak tahu engkau rohnya siapa tapi, mengapa engkau masuk ke tubuhku segala, sih?” Rutukku.
Kuakui ketika aku mengucapkan semua kalimat surgawi itu pada Aldi, aku merasa seperti bukan diriku. Seolah, ada sesuatu yang merasukiku dan mengendalikan segala yang kulakukan. Semua kegugupan dan malu-malu yang selalu kualami kalau berada dekat dengannya bahkan tidak kurasakan sama sekali.
Aku sempat berpikir, apakah mungkin roh bijak yang merasukiku itu memang ingin membantuku, atau dia cuma sekadar iseng masuk ke tubuh orang tanpa permisi? Tapi siapapun dia dan apapun motivasinya, aku berterima kasih sekali.
“Andai aku bisa melihatnya ....”
***
Dengan jantung berdebar dan status siaga satu, aku memasuki sekolah seperti pencuri. Berjalan perlahan dan celingukan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikanku dengan cermat, karena jika begitu berarti tanda bahwa yang kulakukan kemarin sudah bocor.
Padahal pagi ini cerah, tapi jari-jari tanganku terasa dingin. Aku pun mencapai tangga ke lantai atas dan semuanya berjalan dengan baik. Tidak ada yang menaruh perhatian padaku secara berlebihan.
Dan, aku pun tiba pada hal yang terberat. Masuk ke kelas sendiri.
Saat aku sudah tiba di anak tangga terakhir, semakin aku mendekat ke pintu kelas, hawa dingin di telapak tanganku yang kini berkeringat kian bertambah, dan jantungku pun seolah ingin meledak karena berdetak terlalu cepat. Langkah kian berat dan aku semakin ingin pulang. Tapi, aku terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan.
“Tidak akan ada yang tahu, aku yakin!” Gumamku menyemangati diri.
Namun saat aku sudah lebih tenang dan tinggal melangkah melewati ambang pintu dan menang, aku berpapasan dengan Aldi yang hendak keluar. Saking kagetnya sehingga aku sampai sedikit berteriak.
“A-Aldi?!” Kataku spontan hingga membuatnya mengerjap karena kaget.
“Oh, h-hei, Nda. Baru sampai?” Sapanya kemudian namun dengan sedikit keanehan. Dia mengalihkan tatapannya dariku.
Ini tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi padanya?
__ADS_1
“Y-Ya, aku baru sampai,” jawabku.
“Oh, begitu.” Dia tersenyum kecut. “Kalau begitu aku permisi, Nda.”
Lantas dia pergi meninggalkanku dengan langkah yang cepat.
Aku terus memperhatikan dia sampai akhirnya dia menghilang dari pandangan ketika menuruni tangga. Dengan tanda tanya besar yang tertanam di kepalaku, aku pun segera menuju ke tempatku duduk.
“Kenapa dia?” Gumamku ketika duduk sembari meletakkan tasku di bawah meja seraya tetap menaruh pandanganku ke ambang pintu.
Sesaat kemudian, Sarah muncul dari arah tangga dan sempat berhenti sejenak sembari terus memandang ke asal dia datang. Lantas, dia menatapku dengan alis mengerut dan mengangkat kedua bahunya sebelum beranjak mendekatiku.
“Kau kenapa?” Tanyaku heran setelah dia tiba di hadapanku.
“Anu, si Aldi,” katanya sambil kembali menengok ke ambang pintu. “Dia kok kelihatan aneh, ya?”
“Hah? Aneh bagaimana?”
“Tadi aku bertemu dengannya, dan dia kayak seolah eh ... kikuk atau semacam itulah. Biasanya kan dia kalem. Kau kan dekat dengannya, kau tahu kenapa dia begitu?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tadi aku juga sempat bicara dengannya tapi ya ... dia seperti yang kau bilang tadi.”
“Atau jangan-jangan, dia juga punya rasa sama kau, Nda.”
“M-Maksudmu bagaimana?” Tanyaku.
Sarah tersenyum sampai terlihat gigi depannya yang putih sekali. “Maksudku, awalnya dia biasa saja tapi saat aku menyebut namamu, dia jadi aneh dan kemudian pergi dengan terburu-buru. Dari sini saja kau sudah tahu maksudku, kan?”
“Maksudmu, dia ... suka padaku?”
“Ya.”
“Tapi ... rasanya tidak mungkin, deh.”
Sarah lantas menepuk bahu kananku seraya tersenyum penuh keyakinan.
“Aku sudah bilang padamu, kan? Jangan cepat menyerah begitu,” katanya santai namun menggugah.
Aku pun ikut tersenyum. Dia benar, aku harus terus yakin dengan perasaanku. Aku sudah bilang pada diri sendiri bahwa aku yang akan memilikinya, jadi tidak ada alasan bagiku untuk ragu dan takut.
Lantas, Sarah mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik, “kalau kalian benar-benar jadi, jangan lupa ajak aku makan-makan, ya?”
Seketika itu juga kupingku jadi panas. Namun sebelum sempat aku bertindak, dia sudah keburu kabur ke tempat duduknya dan menatapku sambil cengengesan. Dasar, jadi selama ini dia terus menyemangatiku karena ada maunya.
__ADS_1
“Dasar bandit! Kau mau membantu atau mau memerasku?” Gerutuku padanya.
“Dua-duanya!” Sahutnya yang lantas disusul dengan cekikikan yang menyebalkan.
***
Lima menit setelah kami semua merapat ke kelas usai istirahat siang selesai, wali kelasku datang dan berkata bahwa guru mata pelajaran yang bertugas berhalangan hadir sehingga kami di harapkan untuk belajar sendiri dan yang paling penting, tidak memancing perkara. Setelah beberapa pesan singkat, beliau pun pergi.
Namun, imbauan hanyalah angin lewat bagi anak muda seperti kami. Bahkan tidak sampai sepuluh detik kelasku mendadak gaduh. Beberapa siswi segera membentuk klub gosip mereka sementara yang siswa, kalau tidak tidur di sudut terpojok, ya itu ... membuka bioskop dadakan.
Harusnya aku senang dengan kesempatan ini, karena aku bisa bersantai setelah beberapa saat yang membuat saraf tegang. Namun yang terjadi aku malah bingung harus apa.
Kulihat sahabatku Sarah, dia tengah sibuk membaca buku berjudul ‘Antic Order: Origin' dan kalau sudah begitu dia tidak bisa diganggu. Seorang jenius memang beda.
Kupindahkan pandangan ke sebelah kiri, aku mendapati Aldi terlamun menatap ke luar jendela dengan telinga tertutup earphone. Aku jadi penasaran, dia suka musik jenis apa. Tapi, tampaknya dia sedang sangat menikmati waktu pribadinya, jadi aku enggan buat mengganggunya.
Aku pun menidurkan kepala di meja dan mendengus kesal. Aku harus apa? Masa aku harus tidur lagi?
“Aku bosan ...,” keluhku.
Kupejamkan mata sesaat dan kubuka lagi. Entah mengapa, melihat Aldi dalam posisi seperti ini, membuatnya jadi tampak lebih manis.
Perasaanku yang bergetar membuat hati terasa hangat. Apalagi saat aku teringat perkataan Sarah tadi pagi kalau mungkin saja, Aldi juga menyukaiku, membuatku ingin duduk di dekatnya. Namun, aku ragu maksudku, apa benar dia suka padaku?
Lalu tiba-tiba dia menolehku. Aku kaget hingga aku hampir membelokkan pandangan, namun dia sudah lebih dulu melakukannya sebelum aku.
Sebenarnya ada apa, sih?
Tapi terlepas dari pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab itu, tingkahnya yang lucu membuatku bisa terhibur sedikit. Mengundang kekehan kecilku. Sosok yang tenang sepertinya, tidak kusangka bisa merasa canggung juga.
Apalagi melihat sepasang mata cerah dibalik kacamata tadi, membuat hati serasa meleleh.
“Hei, Di! Ke sini, deh!” Seru seseorang dari belakang memanggil Aldi. Dari suaranya, aku tahu itu Sandi.
“A-Ah, ya. Sebentar!” Sahut Aldi seraya melepas dan memasukkan earphone miliknya ke saku kemeja dengan terburu-buru lalu beranjak pergi menyusul Sandi dengan hampir terjatuh karena kakinya tersandung kursi sendiri.
Kami sempat saling bertukar pandang lagi, namun dia cepat-cepat mengalihkannya dan berlari kecil menuju ke tempat Sandi berada. Aku bahkan sampai tertawa karena melihat raut wajahnya yang lucu ketika panik.
Bagi orang lain, mungkin itu terlihat memalukan. Tapi buatku, itu adalah alasan yang membuat cintaku padanya semakin besar.
Entah apa yang dia lakukan dengan si botak mesum Sandi, karena jujur saja, aku tidak rela orang yang kusuka jadi terkontaminasi ajaran sekte sesat manusia amoral itu. Namun aku yakin, Aldi bukanlah sosok yang mudah terpengaruh dengan hal-hal nista seperti itu.
Ah, semua pemandangan indah tadi membuatku mengantuk. Lagi, kupejamkan mata dan tidak perlu lama bagiku untuk bisa sampai ke alam mimpi.
__ADS_1
Kuharap aku bisa bertemu dengannya di sana.