
Keinginanku untuk menemuinya memudar, berganti dengan hasrat untuk menjauh. Kuturuni lagi tangga, melarikan diri darinya dengan membawa hawa panas di hati.
Aku berhenti di samping gedung, duduk bersandar di pelataran. Sendirian, dengan hati yang kini berubah kelabu.
Kurengkuh kedua lututku, dan kupendam wajahku di atasnya. Ternyata benar, dia tidak bahagia bersamaku.
“Benar, kan? Aku membosankan,” cercaku pada diri sendiri.
Membosankan karena selalu canggung, sampai-sampai dia tidak mau kuajak berkencan waktu itu. Pasti, itulah alasannya. Bahkan, tidak ada kesan kalau dia peduli padaku sejak berangkat hingga sampai di tempat ini. Gadis itu, Nadira ... mengapa harus bersama yang membosankan kalau ada yang menyenangkan? Aku benar, kan?
Perlahan tapi pasti, sesak di dadaku berubah menjadi air mata yang terus menumpuk di mataku dan akhirnya menetes satu demi satu. Pada akhirnya, aku tetaplah gadis yang menyedihkan.
“Amanda!” Seruan Aldi menyentakku. Buru-buru kuseka semua air mataku sebelum dia melihatnya lalu kutatap dia seolah tidak terjadi apapun.
Langkahnya kian mendekat. Detak jantungku semakin bertambah seiring berkurangnya jarak antara aku dan dia. Akhirnya, dia tiba di hadapanku.
“Kau ... menangis, Nda?” Tanyanya.
Aku ketahuan.
“Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Tadi temanku bilang dia melihat seorang gadis yang melihat ke arahku lalu pergi begitu saja. Kupikir itu kau jadi aku mencarimu dan menemukanmu di sini,” jawabnya.
“Oh.”
“Kau menangis, kan? Kenapa?”
Kugelengkan kepala lalu menunduk. Mengakuinya pun tidak akan ada gunanya.
“Ada apa, cerita padaku, Nda,” desaknya.
Aku menggeleng.
“Aku memaksa,” desaknya lagi dengan tegas.
Aku tetap diam. Namun, sisi lembutku terus mendesakku untuk bercerita kepadanya agar masalah ini tidak berubah menjadi perkara serius. Akhirnya setelah pertempuran singkat, kupilih untuk mengalah.
“Aku ... aku membosankan, ya?” Kataku seraya memalingkan wajahku.
“Membosankan, apa maksudmu?” Tanyanya.
“Kau, waktu itu kau tidak menanggapi ajakan kencanku karena aku ini membosankan, kan? M-Maksudku, aku selalu canggung kalau bersamamu sehingga kau tidak mau.”
Tidak ada jawaban darinya. Kueratkan rengkuhanku pada lutut. Kurasa aku sudah membuatnya marah.
Namun yang terjadi melenceng jauh sekali. Dia justru tertawa. “Hanya itu?” Tanyanya seraya berusaha menahan tawanya.
Aku mengangguk.
“Lihat aku, Nda,” pintanya dengan lembut.
Kulakukan permintaannya. Dia lantas duduk di sebelahku, memandang lurus ke depan dengan senyum manis tipisnya. “Sebenarnya ... aku, emmm ... aku tidak menjawab ajakanmu itu karena aku malu, Nda. M-Maaf, ya?”
Aku mengerjap, dan seketika itu juga sekujur wajahku serasa terbakar. Jadi dari semua pikiran negatifku tentangnya, pada akhirnya hanya salah paham saja?
Kupendam lagi wajahku ke lutut. Sungguh, aku ingin sekali mencari tebing di sekitar sini lalu melompat dan mati.
“L-Lantas, mengapa kau diam saja?! Mengapa kau tidak memberitahuku apapun?!” Sergahku, berusaha mengalihkan malu yang tidak terbendung ini.
“I-Itu karena ... aku takut kau tersinggung, Nda.”
Jawaban macam apa itu? Setelah peristiwa yang membuatku hampir tidak bisa tersenyum selama sepekan bahkan sampai membuatku menangis ketakutan, hanya itu yang kudapat?
Ya Tuhan, aku sadar diriku bodoh, tapi mengapa tidak tertolong seperti ini, sih?!
“Jujur saja, Nda. A-Aku, aku belum siap untuk itu,” ucapnya lagi. “Sekali lagi, maafkan aku karena sudah membuatmu sedih.”
__ADS_1
“Aku maafkan!” Balasku. Lalu kuangkat wajahku dan kutatap dia. “Tapi, jelaskan dulu padaku soal Nadira.”
Dia sontak menolehku dengan mata membulat. “Kau, kenal dengannya?”
Sadarku pun kembali, dan sekali lagi, wajahku memanas dan yang pasti merah seperti tomat. Kupalingkan muka ke arah berlawanan sebelum menjawab pertanyaannya. “Y-Ya, cuma namanya saja.”
“Dia teman sekelasku dulu sebelum aku pindah,” jawabnya santai. “Memangnya kenapa, Nda?”
“A-Aku ... aku tidak suka ada gadis lain yang dekat-dekat denganmu,” jawabku dengan nada yang makin lirih di setiap katanya.
Berawal dari kekehan, lalu berubah menjadi tawa yang membuat hawa panas di wajahku menjalar hingga telinga. “Aku tidak menyangka, kalau dirimu ternyata mudah cemburu,” katanya.
“Berisik!” Sergahku.
Lantas, tawanya terhenti oleh suara dering panjang dari ponsel miliknya. “Halo? Ya, Ndra? Ada apa? Oh, oke. Aku ke sana sekarang,” katanya pada seseorang di telepon.
“Ada apa?” Tanyaku masih tanpa memandangnya.
“Chandra bilang kalau sebentar lagi kita akan pulang dan semuanya diminta untuk kembali. Ayo, Nda.”
Aku mengangguk lalu berdiri mengiyakan ajakannya dengan masih tertunduk. Sebelum dia melangkahkan kakinya, kuraih tangan kirinya dan kujalin jari-jariku dengan jarinya.
Dia pun sontak berusaha melepaskan tanganku darinya. “Nda, a-apa yang kau—”
“Memastikan tidak akan ada lagi gadis lain yang mendekatimu.”
“T-Tapi, i-ini memalukan.”
“Aku tidak mau tahu. Anggap saja ini hukuman buatmu karena dekat-dekat dengan Nadira.”
Kueratkan jalinan jari-jariku, isyarat bahwa aku tidak akan melepaskannya sekeras apapun dia berusaha. Akhirnya, dia pun berjalan bersamaku tanpa ada bicara lagi. Syukurlah dia memahaminya.
Tentu saja, begitu aku kembali memasuki keramaian, aku dapat mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang memperhatikan kami. Aku tidak peduli meskipun itu membuat mukaku panas dan merah hingga berasap, karena yang terpenting, Aldi tetap bersamaku.
Aku mengerjap ketika Aldi tiba-tiba melepaskan tangannya dariku. Waktu kulihat, dia tengah menoleh ke beranda museum yang merupakan asal dari seruan tadi. Di sana, berdiri Nadira yang tersenyum seraya melambai ke arah kami, bersama rombongan murid-murid yang sebelumnya bersama Aldi.
Mereka lantas berjalan mendekati kami. “Hei, mau pulang juga?” Tanya Nadira pada Aldi. Melihat gadis itu tersenyum padanya membuat darahku terasa mendidih.
“Y-Ya, kami mau pulang juga,” jawab Aldi dengan tawa canggung.
“Sayang, ya. Padahal kita bisa bertemu lagi seperti ini, jarang-jarang sekali,” timpal murid lelaki di belakang Nadira.
Aldi hanya terkekeh sambil mengusap belakang kepalanya. “Ya, padahal aku harap aku bisa lebih lama bersama kalian,” tambahnya kemudian.
Lantas gadis menyebalkan itu menolehku. “Temanmu, Di?”
Aku terperanjat. T-Teman?!
“A-Ah, perkenalkan, namanya Amanda,” Aldi memperkenalkanku padanya. “S-Sebenarnya, dia ... dia pacarku.”
Mereka semua sontak terdiam dengan mata membulat dan mulut ternganga. Tiba-tiba saja perhatian mereka semua mengarah padaku, yang sontak membuatku langsung menunduk menyembunyikan wajahku.
“Kau yang benar, Di?!” Nadira terdengar tidak percaya.
“Ya, benar. Kalau bercanda jangan kelewatan kenapa?” Timpal murid laki-laki yang tadi. “Pacarmu kebangetan cantiknya, Di, tidak mungkin kayaknya, deh.”
Dan ucapan-ucapan serupa dari yang lainnya menyusul memberondong Aldi tanpa henti.
“A-Aku tahu ini sulit dipercaya tapi ... kalian bisa bertanya langsung padanya,” ujar Aldi.
Aaaahh! Mengapa kau malah mengalihkannya padaku?!
“Amanda,” Nadira memanggilku.
“Y-Ya? A-Ada apa?” Tanyaku seraya tersenyum canggung padanya.
__ADS_1
Dia tersenyum kecil. “Jaga Aldi baik-baik, ya?”
Aku tidak menjawab, melainkan hanya ikut tersenyum lalu menunduk lagi.
“Oh, ya! Sebelum pergi, mengapa kita tidak berfoto dulu?” Usul Nadira, yang langsung disambut dengan antusias oleh teman-temannya. “Bagaimana, Di? Buat kenang-kenangan.”
“Boleh, kok. Boleh saja,” kata Aldi.
“Amanda, ayo. Kita foto bersama,” ajak Nadira padaku.
“Eh?” Buru-buru kutolak ajakannya. “Kupikir ini reuni kalian, jadi, kurasa aku tidak usah.”
“Eitts! Jangan begitu! Kau itu pacarnya Aldi jadi kau sudah menjadi bagian dari kami.”
“K-Kalau memang begitu, ya sudah. Aku ikut.”
Kemudian Nadira mengarahkan kami semua ke tangga beranda museum. Selagi dia dan seorang temannya mempersiapkan ponsel dan tongkat narsisnya, kami mulai membentuk posisi.
Aku berdampingan dengan Aldi di paling depan dan setelah siap, Nadira mengambil posisi di sampingku. Menggunakan tongkat narsisnya, Nadira mulai membidik kami semua.
“Semuanya berpose!” Seru Nadira sambil membentuk peace di tangan kanannya. Karena canggung, jadi aku memilih untuk tersenyum saja, sama seperti Aldi.
Kemudian, dia pun mulai menghitung mundur. “Tiga, dua, satu ....”
Kami semua selesai diabadikan di dalam ponselnya.
“Lagi!” Serunya kemudian. Semuanya berganti pose, kecuali aku dan Aldi yang tetap sama.
Nadira dan teman-temannya tertawa setelah selesai mengabadikan kami untuk yang kedua kali.
“Baiklah, kurasa kita harus kembali sekarang,” kata Nadira seraya menyerahkan tongkat narsis beserta ponselnya ke gadis di belakangnya.
Sesaat, kulihat raut sedih di wajahnya sebelum kembali tersenyum seperti semula. Lantas, dipimpin olehnya, kami pergi menuju lapangan parkir.
Setibanya di sana, kami berpisah dari kelompoknya Nadira. Namun sebelum pergi, dia menghampiri kami berdua.
“Hei, Di. Bolehkah aku meminta kontakmu?” Pintanya pada Aldi.
“Ah, tentu. Tunggu sebentar.” Aldi mengambil ponselnya lalu menyerahkannya pada Nadira.
Dengan semringah, dia melakukan sesuatu di ponselnya Aldi. Oh, aku paham. Pasti dia sedang memasukkan kontaknya ke ponsel Aldi, lalu mengirim nomornya Aldi ke miliknya. Sungguh, aku merasa sangat ingin mencekiknya.
“Baiklah, sudah.” Dia mengembalikan ponselnya Aldi. “Kalau begitu ya sudah, Di, Nda, sampai jumpa lagi.”
“Sama-sama,” balasku bersamaan dengan Aldi ketika Nadira pergi menyusul kelompoknya yang sudah menunggu seraya melambaikan tangan kanannya pada kami. “Berhati-hatilah!” Aldi menambahkan seruan padanya.
Bagus, pergilah sana yang jauh! Pekikku dalam hati.
Senyum tipis dilontarkan gadis itu sebagai balasan, lalu kami pun pergi menyusul teman-teman yang lain.
***
Sepanjang perjalanan pulang, suasana dalam bus begitu tenang. Tidak ada yang bersuara selain mesin. Mungkin semua yang ada di dalam bus ini terlalu lelah setelah seharian bersenang-senang.
Kuperhatikan depan, samping kanan, dan belakang. Rata-rata, teman-temanku tertidur pulas di bangku mereka, termasuk Sarah yang ada tepat di belakangku. Meski ada beberapa dari mereka yang mengobrol kecil dan sibuk dengan ponselnya sambil cekikikan sendiri.
Kutoleh Aldi yang sekarang duduk di sebelahku dekat jendela. Menatap sayu layar ponselnya.
Kuintip, rupanya dia tengah melihat foto-foto yang tadi Nadira ambil di museum. Melihatnya membuat hatiku sedih. Pasti dia rindu sekali dengan mereka.
Kupandang dia lagi, bermaksud menghiburnya. Namun kuurungkan niatku dan memilih kembali memandang dunia yang sudah mulai malam dari jendela depan.
Aku tersentak, ketika sesuatu tiba-tiba jatuh di bahu kiriku. Begitu kutoleh, ternyata kepalanya Aldi. Dia tertidur dengan ponselnya yang masih menampilkan foto-foto dari Nadira di tangannya. Dari raut wajahnya, tergambar jelas betapa lelahnya dia.
Apa yang kusaksikan ini membuatku tersenyum, karena ini adalah pertama kalinya bagiku melihatnya tertidur. Wajah lugunya ketika terlelap, ya Tuhan, sungguh manis.
__ADS_1
Aku terkekeh. “Kau manis banget sih, Di?” Gumamku seraya membelai lembut kepalanya.