Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 43: Bagian Spesial, Aldi


__ADS_3

“Amanda?” Tidak ada jawaban darinya ketika kupanggil. Aku baru saja kembali dari membeli suguhan untuk Chandra, Sarah, dan Rina yang kuundang ke mari untuk melakukan perayaan kecil atas kehamilannya Amanda sekalian juga bertemu sapa karena sudah lumayan lama aku tidak bertemu dengan mereka semua.



“Amanda?” Panggilku sekali lagi berharap tanggapan darinya, namun sekali lagi hanya hening yang menjawabku. “Apa mungkin dia ada di kamar, ya?” Aku menebak-nebak keberadaannya.



Rumah ini sudah cukup sepi karena hanya ada kami berdua yang tinggal, dan sekarang makin bertambah sunyi dengan istriku yang tiba-tiba jadi pendiam. Aku yakin dia tidak tidur karena sekarang masih pagi, pun dia juga sedang berbahagia, harusnya. Ah, daripada menduga-duga, lebih baik aku mencari tahu langsung.



Kutaruh bungkusan berisi suguhan untuk tamu-tamuku yang baru kubeli di meja ruang tamu, lalu masuk menghampiri kamar yang kuyakin ada Amanda di dalamnya. Tanpa mengetuk terlebih dulu aku langsung membuka pintunya dan benar saja, kudapati dia tengah duduk termenung di tepian ranjang, menatapku dengan wajah sendu yang tidak kumengerti.



“Sudah beli makanannya?” Tanyanya.



“Sudah.” Lantas aku duduk di sampingnya. “Kenapa? Kok sedih?” Tanyaku.



Amanda tidak menjawabku, melainkan mengusap-usap pelan perutnya. “Kenapa?” Tanyaku lagi. Kubelai kepalanya, mungkin bisa membuatnya lebih nyaman.



“Aku takut ...,” jawabnya lirih.



“Takut? Takut kenapa?” Aku semakin tidak mengerti dengannya, sungguh.



“Anak kita ... ketika dia lahir nanti, aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya.”



Mendengar jawabannya, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali terkekeh. “Nda, Nda. Belum juga mengalami, masa sudah takut?” Kataku menyemangati.



Bukannya bersemangat, dia malah mendengus pasrah. Apakah semua perempuan memang seperti ini di kehamilan pertamanya, ya?

__ADS_1



“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Daripada bersedih hati begitu, sini, aku peluk.” Kucoba untuk membercandainya, barangkali dia terhibur.



Syukurnya, usahaku berhasil karena Amanda lantas tersenyum meski kecil dan kemudian melakukan bercandaanku. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku, dan membiarkanku memeluknya. “Nah, begitu,” kataku. Aku suka kalau dia bermanja-manja padaku seperti ini.



“Terima kasih sudah menghiburku, Sayang,” ucapnya.



“Ya, sama-sama. Soal anak kita nanti, kau tidak perlu takut. Kan ada ibuku, ibumu, dan Kak Dian yang nanti pasti akan mengajarimu bagaimana menjadi ibu yang baik. Lagian, aku yakin kok, kau pasti akan menjadi ibu yang baik buat anak kita karena sekarang pun, kau sudah menjadi istri yang baik buatku.”



“Terima kasih, ya?”



“Sudah, tidak perlu, Nda. Kau istriku, sudah menjadi keharusan buatku untuk terus membuatmu bahagia.”




“Aku? Perempuan saja, deh,” jawabku. “Supaya nanti cantik dan anggun sepertimu.”



“Kalau begitu aku maunya laki-laki,” timpalnya. “Supaya nanti manis dan tampan sepertimu.”



Kami pun tertawa bersama. Meski menyenangkan dan terdengar indah, aku tidak terlalu berharap kalau yang kami katakan barusan akan menjadi kenyataan karena faktanya, anak perempuan lebih sering mengikut ke ayahnya dan begitu pula sebaliknya. Aku sendiri adalah contohnya.



“Sebentar lagi kau akan jadi gendut, Nda,” kataku bercanda dan dia pun tertawa.



“Semua perempuan hamil perutnya memang akan membesar. Huh, dasar. Dari dulu bercandaanmu garing, tahu tidak?”

__ADS_1



“Tapi kau tertawa, kan? Berarti bercandaanku tidak garing.”



“Ya, deh. Aku mengalah ...”



Kami pun tertawa lagi.



“Aku mencintaimu ...,” katanya kemudian.



“Aku mencintaimu juga ...,” balasku. “Aku sudah tidak sabar menantikan kehadiran anak kita.”



“Aku juga.”



Lalu kulepaskan dia dari dekapanku, dan sebagai gantinya kuraih kepalanya lalu kukecup keningnya, yang kemudian dibalasnya dengan mengecup pipiku yang lantas kubalas dengan membawanya lagi ke dalam pelukanku. Namun sayang, kebersamaan yang hangat ini harus berhenti ketika pintu rumah kami diketuk. “Permisi!” Ah, dari suaranya itu pasti Chandra.



“Itu pasti mereka,” kataku. “Ayo, kita sambut mereka, Sayang.”



“Ayo. Aku kangen banget dengan mereka.”



Kami pun beranjak dari kamar untuk menemui tamu-tamu spesial yang telah menunggu di luar. Kurangkul Amanda, tidak sabar untuk menunjukkan istri tercintaku pada mereka.



Kubuka pintu, dan kami berdua pun disambut oleh senyum bahagia teman-teman lamaku yang begitu kurindukan.


__ADS_1


“Kalian semua, selamat datang,” sambutku dengan menumpahkan semua kegembiraan di hatiku.


__ADS_2