
Setelah menikmati kudapan di kafe, aku memutuskan untuk mengajak Aldi pulang karena sudah tengah hari. Aku sadar kencan pertamaku dengannya berlangsung singkat, sangat malah. Lagian, aku memang tidak punya rencana khusus selain mengajaknya ke tempat saat dia menyelamatkan hidupku dua tahun lalu. Pun, aku sudah puas, dan dari wajah manisnya yang berseri sepanjang perjalanan pulang, aku yakin dia juga merasa begitu.
Sekarang, aku berada di rumahnya Aldi. Duduk di salah satu sofa ruang tamu. Aku belum sempat bertemu dengan ibunya Aldi karena sejak kami tiba, beliau sudah tidak ada di rumah.
Selagi menunggu Aldi melakukan sesuatu di dalam, kutebar pandangan ke seluruh ruangan ini. Di langit-langit, tergantung sebuah lampu kristal mini yang indah.
Sementara itu, tidak banyak perabot atau benda lain di ruangan ini, hanya ada dua sofa panjang yang salah satunya kududuki. Lalu di tengah ada meja kaca oval ukuran sedang berhias vas berisi mawar imitasi. Hanya itu saja yang menjadi penghias ruangan ini.
Namun begitu, aku menyukai suasana rumah ini. Entah bagaimana mendeskripsikannya tapi, tempat ini terasa damai, dipenuhi kehangatan, juga cinta dan kasih sayang. Begitu nyaman, hingga aku yang hanya tamu saja sampai dibuat merasa sebagai bagian dari keluarga ini.
Aku beranjak dan berjalan menuju ruang tengah, mengintip lebih dalam rumah ini. Di sisi kanan, terdapat dua ruangan yang kuduga adalah kamar tidur. Salah satu kamar, yang ada di dekatku, pintunya terbuka setengah. Yang satu lagi tertutup rapat.
Kemudian aku masuk lebih jauh, dan berhenti tepat di tengah-tengah ruangan ini. Di ujung, terdapat satu ruang lagi yang aku yakin adalah dapur. Kemudian, terdengar suara-suara samar sesuatu sedang diaduk. Itu pasti Aldi, dan tebakanku tentang ruangan itu ternyata benar.
Aku tersenyum, terkesan dengan hawa penuh cinta yang kurasakan di ruangan ini yang lebih terasa kuat dibanding di ruang depan. Pasti, di ruang inilah Aldi dan keluarganya berkumpul, saling berbagi cinta dan kasih sayang.
“Aku jadi mau tinggal di rumah ini,” gumamku.
Lalu, perhatianku kembali ke kamar yang pintunya terbuka tadi. Karena penasaran, aku mencoba mengintip ke dalam. Ternyata benar, ruangan ini adalah kamar tidur.
Sekali lagi aku terkesan karena kamar ini begitu rapi. Semuanya tertata dengan baik, bersih, dan terlihat seperti sebuah surga. Andai aku tidak punya malu, aku pasti akan langsung melompat ke ranjang empuk di dalam sana.
“Ada apa, Nda?” Aku tersentak sampai setengah berteriak ketika Aldi tiba-tiba menegurku dari belakang, membuat jantungku sampai mau lepas. Kubalikkan badan, dia berdiri menatapku aneh seraya melirik-lirik kamar yang kuintip. Di tangannya, dia membawa nampan berisi cangkir dan piring kecil berisi potongan-potongan kue lapis legit.
“K-Kamarnya bagus, punya siapa?” Aku langsung mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya begitu.
Aldi lantas tersenyum. “Itu kamarku, Nda. Kalau ingin melihat-lihat, masuk saja, tidak apa-apa.”
“Eh? T-Tidak, terima kasih. Tidak usah.” Aku langsung menolak tanpa berpikir lagi. Tidak mau aku menimbulkan hal-hal aneh karena memasuki kamar lelaki.
“Ya sudah kalau begitu.” Aldi terkekeh. “Omong-omong, mau di sini saja atau di ruang depan?”
“Ruang depan saja, deh,” jawabku walau aku sangat ingin dijamu di ruang tengah yang nyaman ini. Kalian tahu, tetangga.
“Ya sudah kalau memang kau maunya begitu,” kata Aldi.
Kemudian Aldi berjalan lebih dulu ke ruang depan, lalu aku. Perkiraanku soal tetangga pun menjadi kenyataan, karena aku melihat seseorang di luar gerbang rumah memperhatikanku beberapa saat sebelum akhirnya berlalu.
Keputusan Aldi untuk tetap membiarkan pintu depan terbuka lebar ternyata tepat. Aku tidak mau ada bisik-bisik tetangga yang mungkin timbul karena kehadiranku di rumah ini. Sebagai tamu, apalagi sebagai pacarnya, aku harus menjaga nama baiknya, juga keluarganya.
Aku dan Aldi duduk bersebelahan di sofa yang ada di dekat jendela. Kugeser sedikit tirainya supaya ruangan ini bisa tampak dari luar, agar semua yang ada di ruangan tidak ada yang perlu dicurigai.
Sementara itu, di meja, sudah tersaji secangkir teh hangat dan kue yang tadi Aldi bawa. “Makan, Nda,” pintanya dengan ramah.
“Terima kasih, ya? Maaf, jadi merepotkanmu,” kataku sungkan.
Aldi hanya menanggapi dengan kekehan. Kemudian dia beranjak dan berdiri diam di ambang pintu. “Ibu ke mana, ya?” Gumamnya.
“Aldi,” kupanggil dia. Sembari menunggu ibunya datang, aku ingin menanyakan soal sesuatu, sekalian mengobrol sedikit.
“Ya, Nda? Ada apa?”
“Seingatku sewaktu kau menyelamatkanku, kulitmu lebih putih tapi sekarang kulitmu jadi agak kecoklatan. Aku hanya penasaran mengapa kau bisa berubah begitu.”
Perkataanku sempat membuatnya tertegun, tapi kemudian dia tersenyum.
“Oh, soal itu,” katanya. “Saat pertama masuk SMA, aku sempat aktif di ekstrakurikuler sepak bola jadinya aku sering panas-panasan. Pun di tempat tinggalku sebelum aku pindah ke mari teman-temanku sering mengajakku bermain sepak bola jadi ya ... seperti yang bisa kau lihat.”
“Berarti kau mahir dalam sepak bola, dong?” Tanyaku. “Terus, mengapa kau tidak bergabung lagi dengan ekstrakurikuler yang sama di sekolah yang sekarang?”
“Aku tidak begitu mahir, kok.” Aldi mencoba merendah. “Aku tidak bergabung lagi karena aku ingin lebih banyak di rumah setelah pulang sekolah, menemani ibuku karena ayahku bekerja di luar kota supaya dia tidak kesepian.”
“Oh, jadi begitu, ya? Padahal kalau melihatmu sedang bermain sepak bola, kau pasti keren.”
Aldi mengerjap lalu tersenyum sipu seraya mengalihkan pandangannya ke luar. Sejujurnya, aku memang benar-benar ingin dapat melihatnya beraksi di lapangan, tapi yah, tetap berada di rumah adalah pilihannya. Pun dengan suasana penuh cinta di rumah ini, tidak heran dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama ibunya.
Selagi membiarkannya sendiri, aku mencoba mencicipi teh buatannya, lalu memakan sepotong kue lapis legitnya. Teh hangat manis, di tambah kue yang lembut memang tiada duanya.
“Nda, aku mau ke dalam sebentar, ya? Ada sesuatu yang harus kulakukan.” Aldi mohon izin untuk meninggalkanku.
“Ya sudah. Tidak apa-apa,” kataku.
Dia pun meninggalkanku ke dalam dan kudengar pintu ditutup, pasti dia masuk ke kamarnya. Berganti pakaian kurasa.
__ADS_1
Sambil menunggu, kucoba menyesap lagi tehnya. Namun tidak lama kemudian, terdengar gerbang rumah dibuka yang sontak membuatku menoleh ke sana lewat jendela, dan kudapati seorang wanita berjalan masuk. “Itu pasti ibunya Aldi,” aku bergumam.
“Kok pintunya dibiarkan terbuka, sih?” Dia bergumam ketika menapakkan kaki di lantai beranda, dan tiba-tiba, dia menatapku. Membuatku kaget dan langsung kupalingkan pandanganku.
Jantungku berdebar, tidak siap menemuinya. “Wah, ada tamu!” Aku sontak berdiri karena celetukannya, kemudian mencoba menyambutnya dengan sedikit menundukkan kepala dan senyum.
“S-Selamat siang, Tante,” sapaku kaku.
Namun, dia justru tertegun, membuatku bingung sekaligus takut telah melakukan sesuatu yang salah. Tapi kemudian, dia tersenyum gembira. “Kamu Amanda, ya?”
Aku mengerjap kaget. “T-Tante kenal saya?”
“Kenal, dong!” Katanya heboh. “Aldi kan sudah memberi tahu saya.”
Beliau lantas tertawa lalu membuatku kaget lagi dengan tiba-tiba memelukku. “T-Tante?!”
“Saya geregetan kalau melihat anak manis kayak kamu!” Katanya sambil tertawa-tawa gemas.
“Ibu?” Panggilan Aldi yang tiba-tiba sontak mengalihkan perhatianku dan ibunya kepadanya yang tengah memandang kami berdua dengan tatapan bingung.
“Kenapa, Sayang? Hmm?” Ibunya bertanya padanya tanpa melepaskanku terlebih dulu.
“A-Ah, tidak ada. Lupakan saja,” dia bergumam seraya mengibaskan pelan tangannya di depan wajah.
Sepertinya dia bingung dengan tingkah ibunya sendiri ..., batinku.
Lantas ibunya Aldi melepaskanku dari pelukannya, memberikan senyum dan usapan di kepalaku lalu mendekati anaknya dan tanpa permisi langsung mengecup keningnya yang membuat Aldi sampai melonjak kaget. Mukanya langsung merah dan sesaat dia sempat melirikku sebelum memalingkan wajahnya.
Menyaksikan itu membuatku tersenyum. Tidak kusangka kalau seseorang yang terlihat keren saat di luar rumah ternyata adalah ‘anak mama'. Sampai dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ pula, bahkan aku saja yang bisa dikatakan anak kesayangan jarang sekali dipanggil begitu oleh orang tuaku.
“Kamu kenapa, Sayang? Kok kelihatan malu-malu begitu?” Tanya ibunya bingung. Aku tidak tahu apakah Tante benar-benar tidak menyadari kalau anaknya sampai begitu berkat yang barusan dilakukannya atau cuma berpura-pura polos, tapi itu lucu. Membuatku sampai terkekeh.
“H-Habisnya ... ibu mengecup Aldi di depan Amanda ...,” jawab Aldi dengan suara yang begitu pelan.
Tante mengerjap, mengerlingku sesaat, lalu tertawa. Merah di wajahnya Aldi semakin bertambah dan mungkin saking malunya, sampai ditundukkan. “Malu kenapa? Orang tua yang mengecup anaknya sendiri itu wajar,” kata Tante. “Jadi, mengapa harus malu? Saya benar kan, Amanda?” Tiba-tiba dia bertanya padaku.
“Ya, Tante,” jawabku sambil berusaha untuk tidak ikut tertawa karena takutnya Aldi akan lari karena tidak kuat menahan malu.
Tante lalu mengusap-usap kepala anaknya. “Ayo kalian, duduk. Saya mau mengobrol sama kalian.” Dengan ramah, dia mempersilakanku duduk.
“Ah, saya lupa memperkenalkan diri sama kamu. Saya Maya, panggil saja Tante Maya, ibu juga boleh, kok,” Tante memperkenalkan dirinya dengan begitu ramah. Apalagi senyumannya, mirip sekali dengan Aldi, sama-sama manis. “Oh, ya. Omong-omong, nama lengkap kamu apa?”
“Amanda Karlina Putri, Tante,” jawabku agak gugup.
“Wah, namanya bagus. Omong-omong, saya boleh panggil kamu Karlina tidak?” Aku langsung mengerjap mendengar pertanyaannya karena dilema sebab aku selalu merasa kurang suka nama tengahku dipakai untuk memanggilku. “Soalnya kedengarannya lebih imut.”
Aku berpikir sejenak, bimbang. “Ummm ... b-boleh kok, Tante,” akhirnya kuputuskan untuk membolehkannya.
“Wah, benarkah? Asyik!” Begitu gembiranya beliau hingga matanya berbinar-binar.
Kembali dia memelukku gemas. Sementara itu, kulirik Aldi yang masih berusaha menyembunyikan muka memerahnya. Aku bingung dengan perlakuan Tante Maya padaku, karena dia memperlakukanku seperti aku adalah anaknya sampai aku bertanya-tanya dalam benak: yang jadi tamu, aku atau Aldi sebenarnya, sih?
Tapi meski begitu, rasanya menghangatkan karena Tante Maya tidak ragu memperlakukanku layaknya anaknya sendiri walaupun baru pertama kali mengenalku. Tidak heran kalau rumah ini penuh dengan suasana cinta karena sifat lembut dan penuh kasih sayang-nya Tante Maya.
“Tante?” Aku memanggilnya.
“Ya, Sayang?” Lagi-lagi dia membuatku terkejut dengan memanggilku ‘sayang’. Sungguh, aku sudah merasa kalau aku benar-benar putrinya.
“Tante memang benar-benar suka peluk-peluk orang, ya?” Tanyaku bercanda.
Tante Maya terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku, pun begitu dengan anaknya yang sewaktu kulirik ikut memperhatikanku. Tapi kemudian, Tante Maya tertawa kecil.
“Ya, soalnya saya suka kalau ada anak manis kayak kamu, bawaannya geregetan, mau peluk-peluk terus,” jawabnya. “Tapi, alasan saya memeluk kamu sekarang juga karena sewaktu baru menikah dulu, saya ingin punya anak perempuan, namun ayahnya Aldi maunya laki-laki dan ternyata harapannya dia yang terkabul. Jadi mumpung ada kamu, ya sudah deh, dilampiaskannya ke kamu saja.”
“Berarti ibu lebih sayang sama Amanda daripada Aldi?” Aldi berceletuk, mengalihkan perhatianku dan Tante Maya kepadanya yang tengah tersenyum-senyum.
“Tidak begitu, kok. Ibu sayang sama kalian berdua,” meskipun Aldi bercanda, namun Tante Maya tetap memberi penjelasan dengan lembut seolah Aldi benar-benar serius mengatakannya. Bahkan dia bilang juga sayang padaku meski aku bukan anaknya. Aku jadi ragu kalau Tante Maya adalah manusia karena hatinya terlalu baik.
Aldi lalu tertawa, yang kemudian disusul oleh tawa ibunya. Sambil tersenyum-senyum, kuperhatikan anak dan ibu ini bercanda. Ketika aku membandingkan mereka, aku menyadari kalau wajahnya Aldi mirip dengan ibunya. Lalu aku ganti melirik Tante Maya.
Aku yakin usia Tante Maya sudah hampir mencapai empat puluh, tapi penampilan fisiknya masih tidak jauh beda dengan kakakku yang berusia dua puluh. Kulitnya putih bersih, dan yang paling kusukai dari beliau adalah tatapan matanya yang menarik hati dan penuh kasih sayang. Senyumannya juga, sungguh manis. Tidak heran kalau anaknya memiliki paras dan senyum serupa karena mewarisinya dari ibunya yang cantik. Pun juga tidak mengherankan beliau bisa awet muda karena kepribadian lembutnya dan anaknya yang selalu memberinya kebahagiaan.
Namun, sifat mereka berdua begitu berbeda. Aldi, dia pendiam sedangkan ibunya lebih ekspresif. Mungkin kalau soal kepribadian Aldi lebih mirip ayahnya, tapi entahlah.
__ADS_1
“Oh, ya. Omong-omong, kok kalian sebentar banget kencannya?” Celetuk Tante Maya yang membuatku lantas bertukar pandang dengan Aldi.
“Amanda saja yang menjelaskan,” baru saja aku mau mengatakan hal serupa pada Aldi tapi aku kalah cepat. Ya sudahlah.
“A-Anu Tante ... ummm tidak apa-apa, kok. Sudah siang, panas, jadi ya ... saya dan Aldi memutuskan untuk pulang saja,” ujarku pada Tante Maya.
“Oh, begitu.” Tante Maya mengangguk-angguk paham. “Harusnya kalian pergi ke suatu tempat yang bagus dulu, terus bermesraan, deh.” Tante Maya tertawa setelah menyelesaikan ucapannya.
Aku dan Aldi hanya senyum-senyum saja menanggapi Tante Maya. “Sudah kok, Bu,” kata Aldi meneruskan.
Tante Maya tampak gembira mendengarnya. “Oh ya? Di mana tempatnya? Barangkali ibu dan ayah nanti bisa ke sana juga.”
Sontak aku dan Aldi saling bertukar pandang bingung. Suara dalam benakku dan caranya menatapku, menanyakan hal yang sama: apa yang harus aku katakan? Satu hal lagi ... sampai kapan Tante Maya akan memelukku?
“Loh, kok kalian malah diam? Kenapa?” Tante Maya bertanya penasaran seraya memandang kami bergantian.
“Tempat itu sebenarnya ... tempat spesial hanya untuk kami berdua,” akhirnya kuputuskan untuk memberitahu Tante Maya. “Maksud saya, bukannya hendak melarang atau bagaimana tapi, tempat itu, tidak ada sesuatu pun yang bisa dinikmati.” Aku memberi penjelasan begitu karena takut Tante Maya salah memahami perkataanku yang sebelumnya.
“Begitu, ya?” Tante Maya tersenyum. Kurasa dia memahami maksud penjelasanku, syukurlah. “Tapi kalau boleh tahu, apa yang menjadikan tempat itu spesial bagi kalian?”
“Ibu ingat tidak sewaktu Aldi diserempet motor dulu karena menyelamatkan seseorang yang hampir ditabrak?” Aldi tiba-tiba ikut bicara dan mengalihkan perhatian ibunya kembali kepadanya.
“Itu? Ibu ingat, memangnya kenapa?”
Aldi pun mengerlingku. “Sebenarnya orang yang Aldi selamatkan itu ... adalah yang sedang ibu peluk sekarang.”
Tante Maya sontak mengerjap dan langsung menatapku dengan penuh keterkejutan. “Ya, Tante.” Aku tersenyum. “Saya adalah orang yang diselamatkan Aldi waktu itu.”
Seketika itu juga senyum lebar mengembang di bibir beliau, matanya yang membulat berbinar-binar. Pelukannya padaku semakin erat, namun kemudian aku dibuat kaget sampai terdiam sama sekali karena dia mengecup keningku, sebelum berlari kecil menjemput Aldi dan melakukan hal yang sama padanya—mengecup keningnya dan memeluknya erat.
“Saya senang, senang banget! Karena saya dikaruniai anak yang baik, dan diperkenalkan dengan gadis manis yang baik pula!” Tante Maya terlihat begitu bahagia.
Sementara beliau sibuk dengan anaknya, kuraba-raba dahiku. Aku masih tidak percaya dengan yang barusan kualami. Dulu, Aldi menyentuh keningku saat baru pindah karena mengira aku sakit dan sekarang, ibunya mengecupku. Apakah ini pertanda bahwa hubunganku dengannya akan tetap terjalin di masa depan dan berlanjut hinga ke tingkat yang selanjutnya? Meski terdengar seperti mimpi di siang bolong, aku sungguh berharap itu menjadi kenyataan.
“Omong-omong, nanti malam ada festival ulang tahun kota di taman kota, loh,” celetuk Tante Maya yang kembali menyadarkanku dari angan. “Kalian mau datang ke sana?”
“Festival?” Tanyaku. Kok bisa aku tidak tahu soal itu?
Tante Maya mengangguk. “Kalian kan tadi baru sebentar jalan-jalannya, datang saja ke sana. Taman kota tidak jauh, dan pasti di sana akan ada teman-teman kalian yang lain. Pasti menyenangkan.”
“S-Sebenarnya Aldi mau saja tapi ... bukannya kau tidak boleh keluar malam-malam, Nda?” Aldi ikut bergabung.
“Ya, aku tidak boleh keluar malam,” jawabku lalu menunduk sedih. Aku lupa soal itu.
Dari tepi pandangku, aku melihat Tante Maya kembali mendekatiku dan duduk di sebelahku. “Kamu tidak perlu bersedih, Sayang. Lagi pula, memang kurang bagus sebetulnya bagi anak perempuan keluar malam-malam,” katanya seraya mengelus kepalaku. “Itu tandanya orang tua kamu peduli dan sayang sama kamu.”
Caranya menasihatiku selayaknya ibuku sendiri, membuatku merasa lebih baik, bahkan tersenyum. Menyaksikan semua kelembutannya, membuatku berharap bisa sepertinya jika aku menjadi seorang ibu kelak. “Terima kasih, Tante,” kataku.
“Sama-sama, Sayang,” dia tersenyum padaku. “Oh ya, kalian sudah makan siang belum?”
“Belum, Bu,” Aldi menjawab. “Tadi cuma makan camilan saja di kafe sama Amanda.”
“Kalau begitu ya sudah, ayo kita makan. Ayo, Karlina,” ajak Tante Maya.
“T-Tapi Tante ... apa tidak merepotkan?” Aku mencoba menolak dengan halus, sungkan.
“Eiitss, jangan begitu. Anggap saja kamu anak saya,” katanya membercandaiku.
“Tidak apa-apa, Nda,” Aldi ikut meyakinkanku.
Melihat senyum tulus anak dan ibu yang baik ini, membuatku jadi tidak punya lagi alasan untuk menolak ajakan mereka. “Ya sudah, deh. K-Kalau Tante sama Aldi maunya begitu ....”
Tante Maya tersenyum girang. “Pokoknya ibu akan masak yang enaaaak banget buat kalian. Ayo, kita ke dalam,” serunya lagi.
Setelah mengiyakan ajakannya, Tante Maya pun menuntun aku dan Aldi ke dalam. Sementara itu di dalam hati, aku masih berharap bisa mengajak Aldi pergi ke festival nanti malam. Meski tidak yakin, semoga saja kakak dan ibuku akan mengizinkanku pergi.
Semoga saja ....
“Biar saya bantu, Tante,” kutawarkan bantuan untuk memasak pada Tante Maya.
“Memangnya kau bisa masak, Nda?” Tanya Aldi.
“Bisa,” jawabku.
__ADS_1
“Waaaah ... anak ibu beruntung, masih semuda ini tapi sudah dapat calon istri idaman,” celetuk Tante Maya.