
“Sudah hampir tengah malam ...,” gumamku setelah melihat jam di layar ponselku menunjuk jam dua belas kurang sepuluh menit.
Aku tidak bisa tidur. Entah sudah berapa kali aku berguling ke kiri dan kanan bahkan bolak-balik keluar masuk kamar sampai ibuku terbangun dan menegurku, kantuk tetap tidak menghampiriku.
Semua ini karena perasaan yang meletup-letup dalam dadaku yang belum juga surut sejak aku kembali dari wisata hari ini. Perasaan hangat yang membuatku begitu bersemangat hingga membuatku tidak bisa sabar, sabar untuk bertemu Amanda.
Kuletakkan tangan kananku di dada kiri. Berdegup cepat. “Jadi seperti ini ya, rasanya cinta ...,” gumamku seraya membangunkan sedikit senyum.
Kutoleh ponselku yang ada di sebelah bantal, aku ingin menghubunginya. Tapi mengingat waktu sekarang, pasti dia sudah terlelap.
Lalu kuangkat tangan kiriku di depan wajah. Kuperhatikan lekat-lekat jari-jariku. Aku masih tidak percaya, kalau aku bisa bergandeng tangan dengannya.
Aku tertawa mengingat kejadian itu karena aku juga jadi teringat dengan Amanda yang ternyata adalah gadis yang mudah cemburu. Melihat dia sampai menangis dan marah hanya karena aku dekat dengan Nadira bahkan hingga berpikir kalau aku mengira dia membosankan.
Apalagi saat aku ikut teringat dengan momen di bus tadi, sewaktu dalam perjalanan pulang, ketika aku tertidur dan menyadari kalau aku terlelap di bahunya kala terbangun. Membuatku makin tidak sabar untuk bertemu lagi dengannya.
Aku tersentak, ketika ponselku berdering panjang. Kuraih lalu kududukkan diriku. “Nadira?” Aku terkejut melihat namanya tertera di layar ponselku dan tanpa menunggu lagi kujawab panggilannya. “Halo?”
“Halo, Di?” Balasnya. “Maafkan aku menghubungimu tengah malam begini.” Dia tertawa pelan.
“Tidak apa kok, Nad.” Aku tersenyum. “Kebetulan aku sedang tidak bisa tidur.”
“Oh, ya? Benarkah? Kalau begitu kita sama, dong?” Dia terdengar senang. “Omong-omong, Di, kau tidak bisa tidur karena memikirkan Amanda, ya? Cieee!”
Aku terkekeh menanggapi tebakan sembarang tapi benar itu. “Kau sendiri? Apa sama sepertiku, memikirkan seseorang?”
“Ya, ada.”
“Siapa?”
“Kau.”
Aku sontak bergeming. Mencoba percaya pada apa yang barusan kudengar.
“T-Tunggu, apa maksudmu?” Tanyaku memastikan.
Alih-alih menjawab, Nadira justru tertawa cukup geli. “Maaf, maaf. Aku pasti membuatmu kaget, ya? Bukan, bukan seperti itu maksudku.”
“Lantas?”
“Ya, aku memang memikirkanmu. Tapi, ehh ... bagaimana menjelaskannya, ya? Ah, mungkin ... tentang sebuah pengakuan.”
“Pengakuan?”
“Ya. Sebenarnya ... aku .... aku pernah menyukaimu.”
Aku mengerjap. Nadira pernah menyukaiku? “B-Benarkah itu, Nad? Tapi ... kapan?” Tanyaku.
“Aku serius. Sewaktu kita masih jadi teman sekelas dulu,” jawabnya santai. “Kau tahu, aku kesal sekali waktu itu karena kau tidak bisa menyadari perasaanku padamu. Bahkan saat ini pun aku kesal karena faktanya kau tetap tidak menyadarinya sampai kuberi tahu. Dasar.”
Aku memilih diam. Kuhela napas, tidak tahu bagaimana harus menanggapi pengakuannya, selain karena perasaan bersalah yang sudah hinggap di hatiku. Walaupun dia terdengar seolah tidak ada apa-apa, aku yakin, aku telah membuatnya sedih.
“Kau pasti sadar kan kalau aku sangat menempel padamu dulu?” Lanjutnya, kuiyakan pertanyaannya dalam benak. “Itu kulakukan bukan karena semata-mata kita berteman, tapi karena aku jatuh cinta padamu.
“Sampai suatu ketika aku mendengar berita kepindahanmu, untuk pertama kalinya aku menangisi orang lain. Saat itu aku berharap untuk bisa bertemu lagi denganmu. Namun yah, karena terlalu lama dan harapanku pun terkikis bersama dengan cintaku padamu seiring berjalannya waktu.”
“Aku minta maaf sudah membuatmu sedih,” mohonku. Sungguh, aku benci ketika ada orang merasa sedih karenaku.
Nadira terkekeh. “Sudah, lupakan saja, Di. Itu adalah masa lalu, sudah seharusnya kita tinggalkan. Lagi pula, sudah ada Amanda, kan? Yah, jujur saja ketika aku bertemu lagi denganmu hari ini, harapan dan cintaku sempat bangkit lagi namun begitu aku tahu Amanda adalah pacarmu, sekali lagi cinta dan harapanku sirna.
“Namun meskipun menyedihkan, setidaknya aku masih bisa berhubungan denganmu dalam status teman. Kau mau berteman denganku kan, Di?”
“Tentu saja, Nad,” balasku dengan sedikit senyum. “Begitu juga dengan yang lain, mereka semua masih temanku.”
“Benarkah? Terima kasih,” ucapnya lega.
“Sama-sama. Ah ya,” celetukku ketika aku mengingat sesuatu tentangnya, “bukankah Liandi suka padamu? Mengapa kau tidak menerimanya saja?” Liandi adalah teman sebangkuku dulu, dan dia pernah cerita padaku kalau dia jatuh hati pada Nadira meski kabar tentang perasaannya selalu ditanggapi dingin oleh gadis itu.
“A-Ah, sudah dulu ya, Di?” Nadira langsung menimpali ucapanku. “Ibuku tadi menyuruhku untuk tidur. Salam untuk Amanda, ya? Daah!”
“Hei, tunggu—”
Panggilan terputus.
“Kenapa dengannya?” Gumamku seraya menertawainya.
***
“Kenapa, Bu?” Tanyaku pada ibu yang memandangku dengan wajah berseri ketika aku hendak menjemur handuk seusai mandi.
Namun alih-alih menjawabku, dia malah menunjuk ponselku yang kutaruh di meja makan. Penasaran ada apa, kuambil ponselku dan kuperiksa kalau-kalau ada sesuatu.
Sontak aku terbelalak, melihat panggilan masuk tidak terjawab dari Amanda.
“Cieee!” Celetuk ibu.
__ADS_1
Dalam sekejap sekujur wajahku menghangat yang sontak kutundukkan. Bagaimana aku bisa selalai ini?
“D-Dia, dia teman Aldi. Bukan siapa-siapa!” Kilahku segera.
“Teman? Kalau cuma teman, mengapa kamu gugup begitu?”
Aku tersentak menyadari betapa bodohnya diriku.
“A-Aldi mau menjemur handuk dulu,” elakku. Namun belum sempat aku melangkah, ibu menangkap tanganku.
“Ceritakan sama ibu,” katanya. “Kalau tidak, ibu tidak akan melepaskan kamu.”
Aku mendesah pasrah, karena kalau sudah begini, aku tidak bisa lari lagi.
“T-Terserah ibu sajalah ...,” gumamku.
Dia lantas menuntunku ke ruang tengah dan duduk bersamaku di sofa. “Kok kamu tidak cerita sama ibu kalau kamu sudah punya pacar?” Tanyanya sembari mengelus kepalaku.
“Aldi malu,” jawabku.
Sontak dia tertawa kecil. “Aldi, Aldi. Ini ibu, Sayang. Masa cerita begitu saja malu, sih? Lagian, ibu kan juga mau tahu kisah cinta anak satu-satunya ibu.”
“Aldi tahu, tapi tetap saja, memalukan.”
“Ya sudah, deh, kalau anak ibu malu,” ucapnya dengan nada merajuk yang dibuat-buat. “Tapi ibu mau lihat Amanda, boleh, kan?” Pintanya kemudian dengan penuh harap.
Menceritakan soal Amanda saja aku tidak mau apalagi menunjukannya? Tapi ... ya sudahlah. Aku mengalah saja. “Y-Ya, Aldi tunjukkan.”
Kucari foto yang diambil Nadira di museum kemarin. Begitu ketemu, kuserahkan ponselku pada ibu yang sudah begitu semringah.
“A-Amanda yang ini.” Kutunjuk gadis yang mengenakan kardigan merah muda yang berdiri di paling depan, di antara aku dan Nadira.
“Manis banget!” Ucapnya heboh. Kututup wajahku dengan kedua tangan dan menggeleng menahan sensasi terbakar di wajahku. “Tunggu, dia satu sekolah dengan kamu?” Tanyanya kemudian.
“Dia sekelas dengan Aldi, malah.”
“Benarkah?! Waah, ternyata anak ibu hebat bisa dapat gadis yang cantik banget!”
“S-Sudah, Bu. Aldi malu.”
“Ajak dia ke sini, dong! Ibu mau berkenalan dengannya!”
“Tidak mungkin.”
“Amanda ... d-dia pemalu.”
“Justru ibu malah suka dengan gadis yang malu-malu seperti dia karena jadi ada imut-imutnya. Ya, bawa dia ke sini, ya, ya?”
Sungguh, jika diizinkan, aku akan pergi ke sungai di ujung perumahan lalu lompat dan membiarkan diri hanyut dan tidak pernah lagi ditemukan daripada harus mempertemukan Amanda dengan ibuku. Tapi ... ya Tuhan, mengapa aku harus menanggung malu sampai seperti ini?
“Ya? Mau ya?” Bahkan dia semakin membujukku.
“Y-Ya, nanti Aldi akan sampaikan ke dia.” Aku tidak punya pilihan lain ....
Lantas dia tertawa girang, lalu merengkuh dan mengusap kepalaku. “Kamu manis banget sih, Di,” gumamnya gemas.
Sudahlah, aku pasrah.
***
Sudah lewat tengah hari, dan aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengisi akhir pekanku. Kalaupun ada, yang dapat kulakukan cuma duduk sendirian di beranda sambil melamun, seperti saat ini.
“Aku harus apa?” Kuacak-acak rambutku karena hawa panas di kepala yang hampir tidak dapat kutahan.
Kuhembuskan napas, lalu menaik-turunkan antarmuka ponselku tanpa tujuan. “Siapa yang mau aku hubungi?”
Rina? Berkat masalah antara aku dan dia waktu itu, aku jadi agak enggan untuk menghubungi atau mengunjunginya. Chandra? Apa yang mau kubicarakan? Pun, rumahnya terlalu jauh untuk kukunjungi. Apa mungkin ... aku harus menghubungi Amanda?
Kuletakkan tanganku di wajah lalu menggeleng. Aku mau sebenarnya meneleponnya tapi ... apa yang akan kubicarakan? Soal obrolanku dengan ibu tadi pagi? “Tapi tidak mungkin.”
Mendadak ponselku berdering panjang, memecah lamunan tidak berujungku. “Amanda?” Seketika itu juga senyumku terbangun, menghangatkan hati dan mengenyahkan jenuh yang sejak tadi memenuhi kepalaku melihat namanya terpampang di layar ponselku. “Halo, Nda?” Sapaku, tidak sabar ingin segera bicara dengannya.
“Halo, Di? Apa kabar?” Balasnya dengan suara lemah.
Senyum dan perasaan hangat di hatiku pun lenyap, berganti dengan cemas. “Kau sakit, Nda?”
Dia terkekeh sebelum menjawabku. “Aku cuma tidak enak badan saja, kok. Kurasa aku kelelahan setelah kegiatan kemarin. Oh ya, tadi pagi aku menghubungimu tapi tidak dijawab. Kenapa?”
“S-Soal itu ... aku sedang mandi jadi tidak tahu. Maaf, ya? Ah, apakah aku harus menjengukmu?”
“Begitu, ya?” Dia kembali terkekeh. “Tidak usah, kok. Aku tidak apa-apa, paling besok juga sudah sembuh. Terima kasih sudah peduli padaku.”
Mendengarnya melegakan. “Ya sudah kalau memang begitu. Cepatlah sem—”
Aku terhenti ketika teringat sesuatu, ucapan Amanda sewaktu aku menceritakan masalahku dengan Rina padanya di taman. Saat itu dia bertanya padaku, apakah aku akan mengenangnya sampai tujuh puluh tahun ke depan jika di masa depan nanti dirinya terkena penyakit parah dan meninggal.
__ADS_1
“Ada apa, Di?” Tanyanya heran.
“A-Ah, tidak ada apa-apa, kok,” kilahku. “Aku cuma sedang memikirkan sesuatu.”
“Oh, ya? Soal apa?”
Tidak, pasti ini cuma perasaan berlebihanku saja, batinku. “Soal—”
Kembali aku terhenti sewaktu teringat hal lain lagi. Sebelum di taman itu, aku ingat kalau Chandra menyampaikan kabar padaku kalau Amanda sakit, yang padahal di hari sebelumnya masih segar-segar saja. Sekarang, dia pun mengalami hal yang sama.
Cemas yang tadi sempat hilang kembali lagi. Kutelan ludah, ketika cemas itu mulai berubah menjadi rasa takut yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Amanda ... tidak mungkin dia ....
“Di?” Tegurnya lagi.
“Nda,” timpalku langsung.
“Ya, ada apa?”
“Kau, benar-benar baik-baik saja, kan?”
“M-Maksudmu? Tunggu, mengapa kau mendadak terburu-buru begitu?”
“Soal ucapanmu di taman waktu itu. Saat kau bertanya apakah aku akan mengenangmu jika di masa depan nanti kau terkena penyakit parah dan meninggal. Katakan padaku, kau tidak sungguhan, kan? M-Maksudku, kau mendadak sakit, kau tidak seperti yang kau katakan waktu itu, kan?”
Setelah semua ucapanku itu, hanya hening yang menjawabku. Jantungku mulai meningkatkan detaknya dan dingin pun telah terasa di telapak tanganku. Amanda pasti baik-baik saja, kugumamkan berkali-kali dalam benakku.
Akhirnya setelah jeda yang cukup lama, terdengar tawa kecil darinya. “Soal itu ... aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.”
Saat itu juga, jantungku serasa berhenti. Sekujur badanku lemas, hingga bibir dan suaraku bahkan bergetar. “Kau, kau bercanda, kan?”
Sekali lagi terjadi jeda. Cukup lama. Selama menunggu, aku terus mencoba mengelak dari kenyataan meski sesak dalam dadaku terus bertambah bahkan hingga membuat ingin menangis.
Namun balasan darinya datang di luar dugaanku. Dia tertawa, begitu geli, membuatku terdiam sama sekali “Aku cuma bercanda, Di! Aku baik-baik saja, kok. Tunggu, jangan bilang kau percaya ucapanku.”
Segera setelah dia selesai berucap, hawa panas membanjiri hatiku. “Tidak lucu, Nda!” Sergahku langsung.
“Eh?” Dia terdengar begitu kaget. “Kau marah?”
“Ya, aku marah,” jawabku tegas.
“Memangnya kenapa, Di?” Tanyanya santai.
“Karena aku takut itu benar-benar terjadi.”
“Kau tidak perlu takut, Di,” balasnya setelah tertawa singkat. “Lagi pula, sampai sekarang pun aku masih baik-baik saja, kan? Yah, sekalipun ucapanku itu menjadi kenyataan, setidaknya aku sudah sempat singgah di hatimu.”
“Aku sudah bilang, aku marah, Nda. Jadi tolong, jangan lagi mengucapkan sesuatu yang seperti itu lagi,” tandasku.
Sekali lagi obrolan kami terhenti. Apa mungkin aku telah membuatnya marah karena aku sudah bersikap keras padanya? Tapi tidak, kurasa. Aku begitu karena peduli padanya, dan aku yakin dia memahaminya.
“Di,” akhirnya dia kembali memulai pembicaraan.
“Ya?”
“Aku mencintaimu.”
Aku mengerjap mendengar ucapan yang tidak terduga itu. Lantas, aku tersenyum lalu berkata, “aku juga, Nda.”
Kami berdua pun tertawa.
“Hei, Nda,” kulanjutkan lagi karena aku memiliki sesuatu yang ingin kusampaikan padanya.
“Ya? Ada apa?”
“B-Begini, tadi pagi, ibuku bilang padaku ... kalau dia mau bertemu denganmu. Jadi aku mau tanya padamu, k-kau ... kau mau tidak kuajak ke rumahku?”
“Aku mau, kok.”
Jawabannya membuatku terkejut karena tidak kukira dia mengatakannya dengan begitu yakin. Apa mungkin sakitnya sekarang sudah mempengaruhi isi kepalanya?
“Kau ... tidak ragu, Nda?” Aku tahu konyol bertanya seperti itu karena harusnya aku senang, tapi aku penasaran.
“Tidak,” jawabnya masih seyakin sebelumnya.
“Kalau boleh aku tahu, kenapa?”
“Karena itu caraku untuk menunjukkan kalau aku bersungguh-sungguh mencintaimu.”
Senyumku kembali bangun mendengar jawaban yang begitu meresap dalam hati. Walau di saat bersamaan, aku juga merasa payah karena kenyataannya, aku belum benar-benar mengetahui seperti apa sesungguhnya dirinya.
“Nda.”
“Ya?”
“Aku mencintaimu.”
__ADS_1