
“Dia belum bisa hadir, ya?” Gumamku seraya memandang lemas ke tempat duduk Amanda yang kosong.
Aku mendesah, berusaha mengurangi cemas dalam benakku. Kualihkan perhatianku ke luar jendela yang menampakkan langit biru cerah serta pancaran hangat dari matahari pagi. Kuharap suasana hatiku bisa seindah mereka.
Memikirkan keadaan Amanda membuatku kembali teringat dengan kata-katanya di taman kala itu. Aku tahu dia sudah menyangkalnya sendiri kemarin tapi ... entah mengapa aku masih belum bisa benar-benar percaya padanya.
Lantas kugelengkan kepala. Aku yakin, ucapannya itu sungguh-sungguh hanya guyonan saja, tidak nyata dan tidak akan jadi kenyataan.
“Hei, Di.” Aku menoleh ketika Sarah menyapaku dari belakang.
“Oh, hei,” balasku. “Ada apa, Sar?”
Lantas dia tersenyum, lalu duduk menghadapku di tempatnya Amanda. “Kenapa sih, Di? Pagi-pagi sudah murung begitu?” Tanyanya dengan senyum.
“Ah, tidak ada, kok.” Kukibaskan tangan kananku di depan wajah sambil ikut tersenyum. “Aku cuma agak bosan saja.”
“Oh ... kukira ada apa.” Dia tertawa kecil. “Oh ya, Di,” lanjutnya. “Nanti sore aku mau menjenguk Amanda, kau mau ikut tidak? Aku mengajak Chandra juga.”
Aku bergeming. Sejujurnya aku senang mendengar ajakannya tapi entah mengapa aku ragu buat mengiyakannya.
“Bagaimana? Mau tidak?” Tanyanya memastikan.
“Y-Ya, aku ikut,” jawabku dengan senyum yang kupaksakan.
“Baiklah kalau begitu, nanti kutunggu saat pulang sekolah. Ya sudah, aku mau pergi dulu, ya?”
“Oh, oke.”
Sarah pun beranjak pergi keluar kelas, lalu kualihkan lagi perhatianku ke luar jendela. Aku tersenyum, ketika aku menyadari kalau kunjunganku nanti bisa kujadikan kejutan untuknya.
***
“Permisi!” Seru Sarah kepada penghuni rumah ketika kami beserta Chandra tiba di depan gerbang rumahnya Amanda.
Tidak lama berselang, pintu rumah terbuka dan muncul kakaknya Amanda. Wajahnya semringah begitu melihat kami dan lantas berlari kecil untuk membukakan gerbang.
“Biar saya tebak, mau menjenguk Amanda, kan?” Tanyanya sembari menatap kami bergantian mulai dari aku.
“Ya, kami mau menjenguk Amanda,” kata Sarah. “Oh ya, saya Sarah teman sekelasnya Amanda. Ini Chandra dan ini—”
“Ah, kalau Aldi mah saya kenal!”
Seketika itu juga langsung kutundukkan wajahku sementara Kak Dian tertawa sendiri. Jantungku berdebar, khawatir hubunganku dan Amanda akan ketahuan.
“Ah, ya sudah. Kita di dalam saja bicaranya. Ayo,” seru Kak Dian.
Begitu kami tiba di beranda dan melepas sepatu, Sarah dan Chandra menatapku dengan ekspresi seolah tidak mempercayai yang barusan mereka dengar dari Kak Dian ditambah seringai jahil. Namun aku tetap bungkam sembari berharap kalau rahasiaku dengan Amanda tidak bocor.
Lantas kami pun memasuki rumah Amanda. Melewati ruang tengah, kami menaiki tangga menuju lantai atas dan berhenti di depan pintu satu-satunya ruangan di lantai ini. Jantungku kembali berdegup kencang, bukan hanya karena ini kamarnya Amanda, tapi ini sekaligus pengalaman pertamaku memasuki ruangan pribadi seorang gadis.
Kak Dian pun membuka pintunya dan masuk lebih dulu diikuti Sarah, Chandra, dan aku yang terakhir. Kakiku disambut oleh karpet beludru merah yang begitu lembut ketika aku menjejakkan langkah pertamaku di dalam.
Perhatianku pun langsung mengarah ke seorang gadis yang tengah terlelap di ranjang di ujung ruangan dekat jendela. Gadis yang kucintai, Amanda.
“Aduh, maaf ya? Kalian duduknya lesehan,” kata Kak Dian ketika duduk di tepian ranjang.
“Tidak apa-apa, Mbak,” kata Chandra. “Lesehan lebih asyik.”
__ADS_1
Kak Dian pun tertawa lalu mempersilakan kami duduk.
“Sayang, ya. Amanda malah tidur,” kata Kak Dian lagi sembari tertawa kecil kepada adiknya.
“Tidak apa-apa kok, Kak,” kata Sarah. “Lagian, kami juga tidak lama.”
Kemudian suasana pun kembali hening. Bergantian kupandang Sarah dan Chandra. Harusnya mereka bisa mencairkan suasana yang terasa canggung ini, tapi mungkin karena mereka baru mengenal Kak Dian sehingga merasa sungkan untuk bicara.
Kemudian kualihkan perhatianku pada Amanda lagi. Rasanya sedih, melihat dia yang biasanya bersemangat kini terbaring lemah dengan wajah pucat.
Namun apa yang kusaksikan sekarang membangunkan senyumku. Wajah polosnya ketika terlelap ... sungguh manis.
“Amanda sejak kapan sakitnya, Mbak?” Tanya Chandra kembali memecah suasana.
“Sejak sabtu kemarin,” jawab Kak Dian. “Pulang dari wisata, eh, dia malah jadi begini.”
“Tapi,” aku ikut dalam pembicaraan karena penasaran akan sesuatu, “perasaan waktu itu dia sehat-sehat saja?”
Perhatian Kak Dian pun mengarah padaku. “Memang sih, dia sehat-sehat saja. Tapi Amanda itu tidak bisa terlalu lelah.”
“Begitu, ya?” Gumamku sembari kulirik lagi Amanda. Andai saja aku tahu soal itu, pasti akan kutemani dia ketika wisata kemarin sehingga dia tidak perlu sakit seperti sekarang.
“Jadi, Amanda tidak bisa melakukan sesuatu yang berat-berat, ya?” Tanya Sarah penasaran.
“Begitu, deh. Amanda kalau terlalu capek, dia bakal langsung K.O,” jawab Kak Dian yang memicu tawa Sarah dan Chandra, juga senyumku.
Kemudian Sarah melepas ranselnya, membawanya ke pangkuannya lalu mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna putih berisi buah-buahan yang sengaja kami beli tadi untuk Amanda. Lalu, dia beranjak mendekati Kak Dian dan menyerahkan bungkusannya padanya. “Ini, Kak. Dari kami buat Amanda.”
“Wah! Terima kasih, ya?” Kak Dian semringah ketika bungkusan itu berada di tangannya. “Nanti saya sampaikan ke Amanda kalau dia sudah bangun.”
Kak Dian sontak berdiri. “Eh? Loh? Kok buru-buru begitu? Nanti dulu. Minum-minum dulu sama saya, baru pulang.”
“Ah, tidak usah, Mbak. Terima kasih” Chandra pun ikut beranjak, yang kemudian kuikuti. “Tidak usah repot-repot.”
Kak Dian berusaha membujuk. “Loh, tapi kan ... Aldi.” Dia menolehku. “Bujuk mereka supaya di sini dulu,” pintanya padaku.
“K-Kenapa harus saya?” Kutunjuk diriku sendiri sambil celingukan.
Mungkin karena merasa aku tidak bisa diandalkan, Kak Dian kembali membujuk langsung kedua temanku. “Ya? Sebentar saja. Ya? Mau, ya?”
Sarah dan Chandra pun saling bertukar pandang beberapa saat sebelum Chandra mengangguk kecil padanya.
“Ya sudah, deh, kalau kakak maunya begitu. Kami mau,” kata Sarah pada Kak Dian.
“Asyik! Nah, begitu!” Kak Dian kegirangan. “Ayo, kita ke bawah. Kita pesta!”
Kak Dian pun berjalan keluar sembari merangkul Sarah dan membicarakan sesuatu, lalu Chandra, dan aku yang paling terakhir. Namun sebelum aku pergi, kutengok Amanda dan kuberi senyum.
“Aku pulang dulu, Nda,” gumamku lalu kembali berjalan.
“Aldi?” Seketika aku berhenti ketika mendengar panggilan lirih dari balik punggungku. Aku berbalik, dan mendapati Amanda memandangku sambil tersenyum lemah. “Sudah mau pulang, ya? Sayang sekali.”
“Ya, Nda, aku mau pulang,” jawabku seraya membalas senyumannya. “Omong-omong, Sarah dan Chandra juga ikut. Mereka ada di bawah bersama kakakmu.”
“Begitu, ya? Kalau begitu, sampaikan terima kasihku pada mereka, ya?”
“Ya, nanti akan kusampaikan. Kau beristirahatlah lagi, cepatlah sembuh.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
“Ya sudah, aku pamit, Nda.”
Aku pun keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Namun sebelum aku sempat merapatkan pintunya ....
“Aldi,” panggilnya lagi.
“Ya, Nda? Ada apa?”
“Kemarilah.”
Aku tidak langsung melakukan permintaannya, melainkan tertegun sesaat. Bertanya-tanya apa yang ingin dia lakukan, namun akhirnya kuputuskan untuk menghampirinya.
Selagi aku berjalan, Amanda mendudukkan dirinya dan menyandarkan badannya ke sandaran ranjang dengan terbatuk-batuk. Aku berlutut di sampingnya karena merasa dia akan mengatakan sesuatu padaku.
Baru saja aku akan menanyakan maksud dari memanggilku, tiba-tiba dia memelukku, membuat jantungku langsung terasa copot dari tempatnya. “Nda, kenapa ini?!” Langsung aku berusaha melepaskan diri darinya.
“Nyaman ...,” gumamnya dengan santainya.
“Nda, lepaskan aku,” pintaku. “Bagaimana kalau kakakmu dan yang lain melihat—”
“Sudah kubilang, kan? Dirimu rasanya nyaman.”
Awalnya aku tidak mengerti maksud perkataannya namun begitu aku menyadarinya, aku pun berhenti berusaha. Dia sudah tidak bisa dilawan.
“S-Sampai kapan kau akan melakukan ini?” Tanyaku.
“Selamanya ....”
“Kau tidak bersungguh-sungguh, kan?”
“Aku bersungguh-sungguh. Tapi aku tahu aku tidak bisa melakukannya.”
“Kalau begitu lepaskan aku.”
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena dirimu rasaya nyaman.”
Dia pun tertawa kecil yang membangunkan senyumku. Kemudian dia melepaskanku, memandangku dengan wajah sayunya yang pucat. Meski begitu, senyum kecil yang mengembang di bibirnya yang kering tetap terlihat manis.
“Setelah aku sembuh nanti, ayo, kita berkencan,” celetuknya yang membuatku tersentak.
“B-Berkencan?” Tanyaku memastikan kalau aku tidaklah salah mendengar.
“Ya, kau berutang kencan yang tidak kau tanggapi waktu itu. Kali ini aku tidak menerima penolakan.”
Sempat aku tertegun mendengar penegasannya pada kalimat terakhir. Namun begitu, sikapnya itu menimbulkan rasa gemas dalam benakku. “Tidak, Nda. Aku tidak akan menolak kali ini.”
“Benarkah? Terima kasih.”
Kami pun kembali saling bertukar senyum dan lantas dia kembali memelukku.
“Nyaman ...,” gumamnya lagi. Melihat semua yang dilakukannya padaku, aku merasa kalau sakitnya sudah mempengaruhi isi kepalanya ....
__ADS_1