Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 7: Amanda


__ADS_3

Di sudut ranjang, aku duduk merengkuh ponselku dengan harap-harap cemas karena beberapa waktu lalu, aku mencoba untuk mengontak Aldi lewat WhatsApp. Rasanya deg-degan banget, antara takut tidak dibalas dan senang karena akhirnya aku bisa menghubunginya.



“Dibalas tidak, ya?” Gumamku cemas. “Aduh, aku gugup banget!”



Nngggg ....



Ponselku bergetar!



Secepat kilat kutatap layar ponselku yang menampilkan notifikasi pesan masuk dari Aldi. Namun aku tidak kuasa membukanya, walau sudah berkali-kali kuyakinkan diriku aku tetap tidak mampu melakukannya.



“Aku payah banget.” Kuhela napas, kesal pada diri sendiri.



Pada akhirnya, yang terjadi selanjutnya aku malah merutuki diriku sendiri dalam hati. Kujatuhkan tubuhku ke kasur sambil memandang pasrah ke ponselku yang berada tepat di ujung hidungku.



Aku kenapa, sih?



Bukankah berbicara dengannya adalah hal yang sangat kau inginkan?



Bukankah bertemu dengannya adalah hal yang paling kau impikan?



Tanya hatiku sendiri padaku. Aku tahu aku sangat ingin bicara dengannya tapi ... melakukan tidak segampang membayangkan. Bagaimana jika dia sebenarnya tidak ingin mengobrol denganku? Ah, aku bingung!



Tapi mau bagaimana lagi? Aku yang memulai maka aku jugalah yang harus mengakhiri. Dengan lesu kuraih ponselku dan membuka pesan balasan darinya.



[Selamat malam.]



[Halo juga. Oh, jadi ini nomormu, Nda? Ada apa?]



Setelah semua praduga aneh-aneh tadi, membaca pesannya jadi terasa hambar. Malah, aku jadi enggan meneruskan dan condong memilih untuk mengabaikannya saja. Bahkan aku pun tidak punya ide untuk dijadikan balasan.



Ah, padahal aku berharap bisa seperti para tokoh di kisah-kisah romansa remaja. Saling berbalas pesan dengan orang yang kusukai sambil canggung-canggungan, dan membahas hal-hal indah dengan kata-kata manis yang membuat diri terhipnotis sampai lupa diri dan tidak sadar kalau dompet baru pindah saku dengan santai.



Namun ... yah, yang bisa aku lakukan cuma berangan-angan saja seperti seorang prajurit yang lari dari medan tempur dengan celana kedodoran. Ya Tuhan, andai saja aku bisa lebih berani ... urusannya pasti tidak akan runyam begini.



Akhirnya, aku memilih untuk tidak melanjutkan obrolanku dengannya. Masih dalam keadaan berbaring, kuhela napas beberapa kali, mencoba sabar pada diri sendiri lalu bergelung layaknya kucing sakit.



“Aku harus bilang apa besok kalau ketemu dia dan ditanya?”



Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dengan kakakku yang kemudian masuk dan menutup pintunya begitu saja. Jujur saja aku kesal ruang dan waktu pribadiku diagresi oleh penyusup tidak diundang, namun karena suasana hatiku lagi kacau, jadi kubiarkan saja dia.



“Kenapa lagi?” Tanyaku tanpa memandangnya.



“Tidak ada, kok. Cuma mau main saja,” jawabnya. Dasar, padahal umurnya sudah dua puluh tahun tapi tingkahnya masih saja seperti remaja puber.



Aku mendengus saat tanpa sengaja melihat jam dinding di atas daun pintu yang sudah menunjuk pukul setengah sepuluh. Aku lupa kalau keluargaku menerapkan jam malam khusus untukku di mana aku dilarang beraktivitas setelah lewat jam sembilan malam, dan sepertinya Kak Dian akan mendisiplinkanku lagi seperti sebelum-sebelumnya. Sial! Aku apes banget, sih?

__ADS_1



“Kok, kamu belum tidur?” Kak Dian bertanya dengan raut muka dan nada tegas. Aku sendiri memilih untuk menggunakan hak tutup mulut daripada aku harus terlibat debat kusir dengannya.



Tidak ada apapun lagi yang terjadi di antara kami, sampai akhirnya Kak Dian dengan ekspresi masamnya yang langka, berjalan mendekatiku, duduk di tepian ranjang dan menatapku cukup lama sebelum matanya mengerling ponselku. Aku melihat kalau dia mencurigai sesuatu dari rekan elektronikku itu tapi tidak lama dan kemudian perhatiannya kembali lagi padaku.



Tatapannya padaku, aku paham. Itu adalah isyarat bagiku untuk segera tidur, atau sesuatu yang menyebalkan akan terjadi padaku. Kalau sudah begini, dia tidak bisa dilawan dan jadilah aku seperti ternak yang menuruti setiap keinginan tuanku. Kuubah posisiku seperti orang normal tidur pada umumnya.



Karena aku terlentang, jadinya aku melihat ketika dia mengambil ponselku dan meletakkannya di meja belajarku yang posisinya berdampingan dengan ranjang.



Ini buruk, karena sepertinya aku telah membuat kakakku marah. Dan sebelum dia mulai melakukan apapun, kumiringkan badanku berlawanan dengannya sehingga aku tidak perlu menatapnya langsung. Aku takut.



Akhirnya, dia memulai ocehannya, “kakak sudah sering bilang kan, kamu tidak boleh tidur sampai larut? Kenapa sih kamu susah diberi tahu, Nda?”



Susah diberi tahu? Lucu banget!



Tampaknya dia tidak sadar kalau yang sebenarnya jadi masalah adalah dia sendiri. Dia terlalu lebay, maksudku, jam setengan sepuluh di bilang larut? Yang benar saja?



Hatiku panas. Sungguh, aku sangat ingin membalikkan celotehannya tapi aku bersyukur karena Tuhan menciptakanku ke dunia dengan kesabaran yang sedikit lebih banyak dari orang kebanyakan sehingga aku bisa terhindar dari banyak masalah sepanjang hidupku. Meski kuakui aku kadang terpancing juga.



“Kakak tidak mau kamu seperti waktu itu lagi, Nda. Jadi tolong dengarkan kakak,” lanjutnya lagi dengan penekanan yang lebih.



Aku sih cuma bisa mendengus pelan. Entah apa yang dia pikirkan, tapi aku tidak mengerti mengapa dia masih dan selalu mengungkit itu.



Lalu semuanya hening dan kudengar suara seprei bergeser. Aku tidak tahu pasti, namun tampaknya kakakku masuk ke mode melankolisnya lagi atau mungkin dia kembali berkubang dalam kekecewaan kepada adiknya sendiri.




Semuanya bermula ketika aku masih berada di bangku SMP. Saat itu aku telah tiba di waktu-waktu terakhirku mengenakan seragam putih biru dan tidak lama setelah aku bertemu dengan Aldi. Seperti teman-temanku, aku pun ikut fokus untuk meningkatkan prestasi supaya bisa masuk ke sekolah yang bagus.



Aku mengerahkan segala daya dan upayaku demi beberapa digit angka di ijazah yang kemudian kusadari tidak bisa menjadi jaminan untuk masa depanku kelak. Pagi, siang, sore, dan malam. Semua waktuku kuhabiskan untuk berkutat dengan buku-buku.



Itu adalah satu-satunya saat di mana Aldi hilang dari ingatanku. Entah setan apa yang sudah merasukiku, aku seperti bukan diriku. Belajar dan terus belajar, bahkan sampai lupa makan dan tidur layaknya robot.



Segala nasihat dari keluarga dan teman-temanku pun kuabaikan seperti sampah. Bahkan masih segar dalam ingatanku saat aku selesai belajar pukul empat pagi dan sudah kembali sekolah tiga jam kemudian. Dan sepulangnya dari sekolah, aku melakukan hal yang sama tanpa jeda tidur lebih dulu.



Namun sayang, tubuhku tidak bisa menahan nafsuku akan prestasi yang terlewat gila. Suatu hari di sekolah, aku pingsan dan kupikir itu adalah pengalaman nyaris mati kedua setelah sebelumnya aku diselamatkan Aldi. Kubilang hampir mati karena ketika aku siuman, oh ya Tuhan, badanku rasanya seperti habis digebuki orang satu kampung bahkan lebih buruk. Untuk sekedar merintih saja rasanya begitu menyiksa.



Aku terbaring sakit entah berapa lama, aku lupa, tapi mungkin lewat dari seminggu. Beruntung urusannya tidak sampai di rumah sakit tapi itu membuat keluargaku panik, bahkan ayahku yang ada di luar kota sampai harus pulang demi diriku.



Dan konyolnya, aku bahkan masih ingin meneruskan kebiasaan yang hampir membunuhku itu dengan kondisiku yang sedemikian parah. Saat itulah, aku melihat bagaimana seramnya Kak Dian kalau sudah benar-benar marah.



Dia mencecarku dengan bentakan tanpa ampun. Kedua tangannya mengepal erat, yang sampai sekarang aku yakin kalau aku bukan adiknya, pasti salah satu atau mungkin kedua tinju itu sudah mendarat di wajahku. Sambil berlinang air mata, dia bahkan mengancamku tidak akan mengakuiku sebagai adiknya kalau aku tetap ingin memaksakan diri.



Beruntung aku sembuh tepat sebelum ujian kelulusan dimulai. Namun karena kondisiku yang belum pulih sepenuhnya, aku tidak bisa fokus dan pada akhirnya nilaiku hanya pas-pasan.



Setelah semua yang kulakukan, pada akhirnya aku cuma mendapat dua hal: penyakit dan penyesalan.

__ADS_1



Kejadian itulah yang membuat keluargaku, utamanya kakakku, sangat ketat padaku. Bahkan dia pernah berencana—entah sungguhan atau cuma konyol-konyolan saja—memasang kamera pengintai di kamarku untuk memastikan aku tidak melakukan pembangkangan.



Meski kelam, namun berkat itu jugalah aku jadi tercerahkan bahwa mengejar apapun secara berlebihan membawa bencana. Sarah sendiri saja ketika kuceritakan soal ini, menyebut kalau diriku bodohnya tidak bisa dibandingkan dengan apapun bahkan keledai.



Hanya saja sebagai konsekuensinya, aku malah berubah jadi gadis yang senang bersantai dan menunda-nunda, bahkan aku tidak peduli dengan prestasi. Intinya, bagus syukur, jelek ya sudah. Selama aku bisa naik kelas dan lulus, eh ... begitulah, persetan dengan nilai.



“Hihi ... lucu banget!”



Eh, tunggu sebentar. Kakakku cekikikan? Kok, aku merasa ada yang aneh, ya?



Tapi kayaknya tidak mungkin, deh. Aku kenal banget kakakku. Kalau sedang murung begitu, jangankan tertawa, ditanya saja kadang ogah jawab.



Tunggu ... jangan-jangan dia ....



“Kakak!” Aku bangkit dan ternyata, dia sedang asyik dengan ponselku!



Sambil tertawa-tawa, dia menoleh padaku. “Cieee! Jadi Aldi namanya?”



Tubuhku langsung seperti di sambar petir. Jadi, selama aku mendongeng kalian dan menaruh kagum padanya, diam-diam dia membaca pesan WhatsApp milikku? Bagaimana bisa aku dikadali dengan telak begini?



“Berikan! Berikan ponselnya!” Tanpa menunggu lagi aku mencoba merebut kembali ponselku. Astaga! Bagaimana ini?



Panas menjalar di sekujur mukaku. Aku bahkan tidak berani menunjukkan wajah selama usahaku untuk merebut kembali apa yang jadi milikku.



Namun memang dasar sial, entah aku yang kebangetan lemah atau dia terlalu kuat, aku gagal terus. Dan akhirnya, jadilah aku bahan tertawaan untuknya.



“Maaf saja, Nda. Kamu tidak akan bisa menyembunyikan rahasia apapun dari kakakmu ini,” katanya dengan seringai kemenangan yang menyebalkan.



“Berisik! Kemarikan ponsel Amanda!” Sergahku.



Bukannya dikembalikan, dia malah menyembunyikannya di balik punggung sembari menggoyangkan telunjuk kanannya.



“Tapi kamu harus janji, setelah ini kamu langsung tidur,” pintanya. “Kalau setelah lewat jam sepuluh nanti kakak masih lihat kamu belum tidur, ponsel kamu kakak sita.”



Kesepakatan konyol macam apa itu? Tapi ya sudahlah, aku menurut saja. Daripada ponselku tidak balik.



“Ya, ya, Amanda janji! Sini kembalikan!” Aku langsung setuju tanpa pikir panjang. Dasar, dilihat dari mana pun tidak ada adil-adilnya perjanjian ini.



Sesuai yang telah disepakati, dia menyerahkan lagi ponselku dan setelah mencubit pipi kiriku yang cukup terasa sakit, dia beranjak pergi dari kamarku.



Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, dia sempat berbalik. “Cieee! Nanti ketemu Aldi di dalam mimpi, dong?”



Kuambil bantal dan kulempar padanya, sayang dia keburu menutup pintunya. Tawa kemenangannya bisa kudengar samar-samar, membuat dendamku padanya semakin dalam.


__ADS_1


Aku bersumpah, akan kubalas dia lebih parah dari ini!


__ADS_2