
Bertahun-tahun sudah berlalu sejak masa terbaik dalam hidupku berakhir—masa SMA. Sekarang, aku sudah menjelma menjadi seorang freelancer yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak yang bisa dikatakan cukup punya nama. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang mengincarku agar mau menggoreskan tanda tangan di lembar kontrak kerja mereka. Namun, semuanya kutolak karena aku lebih memilih kebebasan dengan penghasilan secukupnya dibandingkan harus terkekang meski dengan imbalan yang membuat liur menetes.
Pagi ini di sebuah kafe, ditemani ponsel, kopi yang nikmat dan internet gratis, kuhabiskan waktu santaiku. Memandangi layar ponsel yang menampilkan antarmuka media sosial yang tengah kugunakan dengan segala jenis status dan beragam foto yang dipublikasikan oleh teman-temanku.
Ponselku tiba-tiba berdering pendek. Satu pesan WhatsApp dari karibku saat masih sekolah dulu, Aldi.
Kubuka pesannya, dan saat itu juga senyumku terbangun karena gembira. [Ndra, Amanda hamil!] Begitu bunyi pesannya.
“Amanda hamil?” Sungguh sulit dipercaya, karena sebentar lagi karibku akan menjadi seorang ayah. [Whoaa! Selamat, ya? Nanti aku kasih kado, deh,] balasku.
[Terima kasih, Ndra. Oh ya, datanglah ke rumahku, sudah lumayan lama kita tidak bertemu,] balasnya tidak lama kemudian.
“Ya, nanti aku akan datang,” kataku sambil mengetikkan ucapanku untuk dijadikan balasan.
[Aku senang kau mau datang. Akan kutunggu kedatanganmu,] balasnya.
Setelah membaca pesan terakhirnya, kutaruh ponselku ke meja lalu kusandarkan punggungku ke sandaran kursi seraya memandang hari cerah di balik dinding kaca kafe ini. Merenungkan kembali semua yang sudah kulalui selama ini.
Terakhir kali aku bertemu Aldi sekitar tiga bulan lalu, ketika aku menghadiri acara pernikahannya dengan Amanda. Sungguh, sampai sekarang rasanya masih sulit untuk dipercaya kalau murid baru yang kelak menjadi karibku itu akan menikah dengan gadis populer sewaktu SMA dulu.
Masih segar dalam ingatanku, ketika Aldi terus membantah saat aku bilang kalau Amanda suka padanya. Dia selalu mengelak dengan mengatakan kalau gadis seperti Amanda tidak akan mungkin bisa suka padanya. Akhirnya, dia suka juga dengan Amanda dan sekarang pun mereka sudah menikah, malah Amanda sendiri tengah mengandung calon anak yang dalam sembilan bulan akan hadir dalam hidup mereka.
Mendengar kabar baik dari karibku membuatku semakin merasa kalah dengan mereka, teman-teman masa sekolahku dulu. Karena kalau dibandingkan dengan pencapaian mereka, aku lah yang paling tertinggal.
Aldi dan Amanda, mereka berhasil membangun bisnis pakaian anak yang namanya sudah cukup dikenal di kota. Ditambah dengan kehamilan istrinya, lengkap sudah hidup sahabatku itu.
Di tempat lain, ada Sarah yang kini adalah seorang penulis karya fiksi tersohor di negeri ini yang telah diakui bahkan oleh senior-seniornya. Karya-karya ciptaanya tidak pernah absen dari jajaran top seller, malah beberapa diantaranya dilirik oleh para produser-produser film untuk mereka adaptasikan ke layar lebar. Namanya pun hampir selalu ada dalam daftar tamu undangan kampus-kampus atau pihak lain yang menginginkan dia untuk mengisi acara yang mereka selenggarakan.
Itu belum termasuk dengan laki-laki tunangannya yang juga penulis dengan prestasi yang tidak kalah hebat darinya. Seminggu lalu aku mendapat kabar dari Amanda kalau tiga bulan lagi, Sarah dan tunangannya akan melangsungkan pernikahan.
Sementara dua temanku yang lain, Eko dan Sandi, mereka pulang ke kampung halaman. Eko menjadi juragan beras sementara Sandi menjadi penerus usaha orang tuanya. Mereka berdua pun telah memberiku kabar kalau mereka juga akan menikah.
Sedangkan aku, cuma menjadi pekerja lepas dengan pendapatan biasa-biasa saja. Pacar? Aku belum pernah memilikinya. Entah kapan aku akan bertemu dengan gadis yang bisa membuatku jatuh cinta. Pun, aku juga tidak terlalu memikirkannya.
“Yah, syukuri sajalah ...,” gumamku.
“Permisi, bolehkah aku duduk di sini?” Perhatianku teralih kepada seorang gadis yang meminta izin padaku untuk duduk semeja denganku.
“Oh, tentu saja. Silakan.” Dengan senang hati aku mempersilakannya yang sontak membuatnya tersenyum senang. Barangkali dia bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan.
“Terima kasih.” Dia ambil tempat di kursi seberang sehingga kami berhadapan.
Tidak lama berselang pelayan kafe menghampirinya, mencatat pesanannya yang sama sepertiku, kopi, dan dalam waktu singkat pesanannya sudah tersaji. Setelah pelayan pergi, dia mengambil ponsel dari saku dan sibuk dengannya. Ah, kukira dia bisa kujadikan teman mengobrol, tapi ya sudahlah, bukan salahnya juga karena kami memang tidak saling mengenal.
__ADS_1
Sesekali dia tersenyum-senyum, mungkin dia sedang saling berbalas pesan dengan pacarnya, atau mungkin suaminya. Tapi kalau suami rasanya masih belum, karena kalau dilihat dari penampilannya kutaksir umurnya sepantar denganku. Namun bisa saja sih, Aldi contohnya. Dia sebaya denganku dan sudah beristri.
Tapi kalau diperhatikan baik-baik, dia kelihatan manis. Apalagi rambutnya yang dikepang dua itu, membuatnya memiliki kesan imut yang lebih.
Eh tunggu, mengapa aku jadi memperhatikannya?
“Amanda hamil?!” Tiba-tiba dia berucap girang dengan wajah berseri.
Dia kenal dengan Amanda? “Maaf, kau kenal dengan Amanda?” Tanyaku yang sontak langsung membuatnya memandangku.
“Kenal,” jawabnya dengan ekspresi terkejut juga. “Omong-omong, kau kenal juga dengannya?”
“Amana Karlina Putri, kan?” Tanyaku lagi memastikan kalau Amanda itu adalah Amanda istrinya Aldi.
“Ya. Kau benar kenal?” Dia sekarang mulai menunjukkan ekspresi ketertarikan yang besar padaku.
“Dia teman SMA-ku dulu. Berarti, kau juga kenal dengan suaminya?”
“Aldi? Ya, tentu saja aku kenal. Aldi adalah teman masa kecilku, begitu juga dengan Amanda.”
“Oh, teman masa kecil, ya? Eh, sebentar. Teman masa kecil ... tunggu, kau Rina, ya?”
“K-Kau tahu namaku?” Ternyata tebakanku benar.
“Aldi pernah menceritakan tentangmu padaku. Dulu, sudah lama sekali,” jawabku dengan sedikit kekehan, mencoba mencairkan suasana. “Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Aku Chandra.”
“B-Begitu, ya? Tidak heran. Tapi omong-omong, dia bercerita soal apa padamu tentangku? Boleh aku tahu? Oh maaf, senang bisa mengenalmu.”
Aku hanya tersenyum, ragu buat memberitahukannya, karena aku yakin yang diceritakan oleh Aldi itu pasti masih membekas di hatinya Rina. Aku tidak mau membangkitkan luka lama yang mungkin masih ada di benaknya, tapi masalahnya ... dia sekarang menatapku penuh harap. Ah, sial! Bagaimana ini?
“Kalau tidak mau tidak apa-apa, kok.” Rina mencoba membuatku merasa mudah dengan tersenyum yang memunculkan lesung di pipinya.
“Sebelumnya aku minta maaf kalau ini mungkin akan membuatmu sedih soalnya ... waktu itu Aldi menceritakan kalau dia menolak perasaanmu,” kujelaskan pada akhirnya walau dengan tertahan-tahan karena takut Rina bersedih.
“Oh, soal itu.” Aku terkejut karena dia justru tertawa. “Tidak apa-apa, lagian itu sudah dulu sekali. Pun sekarang dia sudah menikah dengan Amanda, kan?”
“Begitukah? Syukurlah kalau begitu,” kataku lega.
Lalu sambil tertawa-tawa kecil, Rina mengetikkan pesan balasan untuk Aldi entah Amanda dengan penuh semangat. Entah mengapa, melihatnya membuatku kagum dengannya. Maksudku, dia pernah punya perasaan pada Aldi, meskipun sudah lama sekali tapi aku yakin perasaan itu masih tersisa sedikit di hatinya. Namun begitu, dia tampak begitu bergembira ketika mengetahui laki-laki yang pernah disukainya dulu tengah berbahagia bersama pasangannya. Kalau perempuan lain pasti akan merasakan sedikit kesedihan, tapi Rina tidak menampakkan itu sama sekali.
Kegembiraan yang kini tergambar di wajahnya begitu tulus, tidak dibuat-buat. Baru mengenalnya sebentar seperti ini saja sudah cukup bagiku untuk mengetahui kalau dia adalah gadis yang hebat.
__ADS_1
“Oh ya, Chandra, setelah ini aku ingin datang ke rumahnya Aldi. Apa kau mau ikut?” Ajaknya tiba-tiba.
“Wah, kebetulan sekali aku juga ingin ke sana. Aku ikut.” Dengan senang hati aku akan pergi bersamanya.
“Umm ... sekarang saja, deh. Bagaimana?”
“Sekarang? Boleh saja.”
“Kalau begitu, ayo. Kita berangkat.”
Seperti yang sudah diputuskan, kami pun berangkat menuju rumahnya Aldi untuk memberi selamat atas kehamilan istrinya, setelah menghabiskan masing-masing minuman kami. Sepanjang jalan, aku masih memikirkan soal Rina karena bagaimanapun, dia pernah punya rasa pada Aldi.
Namun segera kuenyahkan pikiran itu. Sebagai gantinya, kuperhatikan wajah manisnya dalam diam.
Walaupun baru kenal, tapi aku sudah merasa nyaman bersamanya. Bahkan dalam hatiku, aku meraskan sebuah perasaan gembira yang belum pernah kualami sebelumnya.
Ah, apa mungkin ....
Buru-buru kugelengkan kepala, mencoba mengenyahkan tebakan sembaranganku itu. Tidak, tidak mungkin. Itu tidak akan terjadi.
Namun sesuatu tiba-tiba memasuki kepalaku, menyadarkanku akan sesuatu.
Dulu, karibku juga seperti ini. Bersikeras kalau dia tidak akan pernah menyukai Amanda yang sekarang jadi istrinya, dan sebaliknya. Sekarang, aku juga sedang mengalami hal serupa.
Jadi begitu, ya? Aku tersenyum. Kurasa aku memang harus mengakuinya ... mengakui kalau sepertinya aku menyukai Rina ....
“Rina,” kupanggil dia.
“Hmm? Ada apa?” Tanyanya penasaran.
“Kau sudah punya pasangan?”
“Pasangan?” Dia terkejut. Namun kemudian dia tersenyum. “Belum kok. Kau sendiri?”
“Sama. Ah omong-omong, maaf aku sudah menanyakan yang tidak-tidak padamu.”
“Tidak apa-apa, lagian aku senang kok mengobrol denganmu.”
“Benarkah? Aku senang mendengarnya.”
Rina mengangguk, betapa senang hatiku mengetahui kalau dia juga suka mengobrol denganku. Selanjutnya tidak ada lagi kata di antara kami, entah bagaimana dengan dia, namun aku menyibukkan diriku dengan sesekali memperhatikan paras manisnya. Perasaanku bilang kalau Rina juga suka padaku, namun aku tidak mau cepat percaya.
__ADS_1
Apa yang disampaikan oleh perasaaanku akan terus kusimpan. Sampai kelak aku mengetahuinya sendiri langsung dari Rina ... nanti saat aku menyatakan perasaanku padanya.